Aku Tahu, Aku Orang yang Kuat

Salah satu naskah Challenge ke-3 NarasiPost.Com dalam rubrik True Story yang mendapatkan nilai cukup bagus juga.


Oleh: Lia Anggrini

NarasiPost.Com-Aku duduk di sebuah kursi sambil menikmati hawa sejuk di pagi hari. Kusandarkan punggung demi mencari posisi ternyaman saat ini, menatap sebuah benda persegi, yang dipenuhi berbagai aplikasi. Kupersiapkan diriku, untuk mengingat kembali masa-masa itu.

Jari-jari cantikku mulai mengetik kata demi kata, untuk menghasilkan sebuah cerita. Kali ini, aku tak perlu bersusah payah untuk berimajinasi karena ini adalah kisah lama dari hidupku sendiri.

Kisah ini adalah awal dimana pemikiran bodoh itu muncul. Masalah yang kualami seakan mengatakan bahwa akulah manusia yang memiliki masalah paling berat di dunia, berpikiran untuk menyudahi hidup agar terbebas dari masalah yang ada. Padahal aku tahu, saat itu aku hanya ingin melepas semua masalah, bukan membiarkan nyawa ini hilang.

Aku belajar berpikir dewasa, meski usiaku masih muda. Masalah ini membuatku yakin, bahwa ini sebuah pelajaran hidup yang penting untukku, yang mengajariku bagaimana proses menjadi gadis yang kuat.

Masalah itu berawal ketika perselingkuhan ayahku terbongkar. Sosok lelaki yang menjadi panutanku, telah mencoreng namanya sendiri dan mengkhianati orang yang menyayanginya. Aku turut andil dalam pengkhianatan itu. Aku tahu perselingkuhan itu lebih awal di antara yang lainnya. Hanya aku, yang tahu semua itu. Aku berusah payah menyembunyikannya karena tidak ingin keluargaku yang harmonis menjadi hancur disebabkan karena sosok yang mengatakan bahwa dirinya adalah, ‘Kepala Keluarga yang Baik’.

Aku mengetahuinya ketika mendengar percakapan antara ayah dan wanita itu. Aku juga melihat beberapa foto romantis mereka. Sungguh, aku tidak dapat menahan tangis ketika melihatnya. Aku benci ketika ayah tanpa rasa bersalah membuat senyum di bibirnya. Wanita itu tahu bahwa ayah sudah memiliki istri dan anak dan jangan lupakan dirinya adalah orang tua tunggal.

Tidakkah terpikir olehnya, bagaimana rasanya dikhianati? Ini bukan hanya tentang rasa cinta seorang pasangan, tetapi juga tentang perasaan anaknya jika tahu ayah yang dipuja-pujanya berkhianat. Padahal, dirinya juga seorang wanita. Dia wanita yang menyakiti wanita.

 Saat aku mengetahui semuanya, aku enggan membuka pagar ketika ayah datang, menolak ketika dirinya meminta pelukan hangat. Jelas, aku tidak ingin memeluk tubuh kotor bekas wanita selain ibuku. Tingkah ayah seakan menyayangi kami.

"Aktingnya sangat handal," pikirku.

Saat itu, ayahku hidup tanpa rasa bersalah. Sedangkan aku, selalu merasa bersalah karena berbohong pada keluarga lainnya. Aku menangis di malam hari, mengingat apa yang sebenarnya terjadi di keluargaku.

Ketika menatap ibu, aku merasa bahwa aku adalah anak yang jahat, terlebih saat melihat senyum lebar ibu, tawanya yang saat itu belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Senyum lebar dan tawa yang selalu setia hinggap di wajah ibu kini hilang seketika. Hal itu disebabkan karena terbongkarnya perselingkuhan ayah. Saat itu, ibu divonis mengidap kanker vagina. Ibuku menangis tersedu-sedu di hadapan ayah, memberikan rasa kecewanya. Ibu berteriak, dirinya kalut dalam emosi dan kesedihan.

Saudariku menangis melihat orang tua kami bertengkar. Aku memeluk tubuh mungil adikku yang hanya diam tidak mengerti, menatap orang-orang di depan-nya. Aku mendekatkan kepala mungilnya kepundakku, bermaksud agar dirinya tak melihat hal yang tak harus dilihat anak kecil seusianya.

Anak sekecil itu dihadapkan pada masalah yang berat. Masa sekolah dasar yang harusnya dilalui dengan bahagia, kini menjadi suram akibat tingkah ayah. Aku menutup mulutku erat agar tak mengeluarkan isakan. Aku tak ingin adikku mendengarnya. Biarkan aku menangis dalam diam, meskipun sakit, asal adik tidak ikut merasakan kesedihan itu.

Tidak sampai di situ. Keluarga kami bangkrut. Ayah di-PHK akibat kehadirannya dalam bekerja yang jarang. Sakit hati, keputusasaan benar-benar kami alami saat itu.

Ketika makan, kami hanya bisa membagi satu telur untuk enam orang. Kami hanya bisa makan nasi yang mengeluarkan aroma tidak enak dan keras, itu pun pemberian dari saudara ibu.

Aku sangat ingat, ketika ingin makan, aku menangis karena bau dan rasa dari nasi tersebut. Kami sekeluarga hanya bisa makan seadanya, bahkan kami berpuasa ketika dirasa uang yang ada tidak bisa membeli makanan untuk hari itu.

Kami hampir lupa bagaimana rasanya lapar karena kami terlalu sering mengalaminya, hingga merasa, kelaparan adalah hal yang biasa.

Tidak ada lagi yang namanya tulang punggung keluarga. Ibu berjualan ayam keliling. Dia membawa adik jika berjualan di siang hari. Cuaca panas dan terik matahari diabaikannya dan memilih tetap berjualan.

Malamnya, ibu bekerja menjadi seorang asisten rumah tangga. Terkadang, jika rumah tempat ibu bekerja memiliki makanan sisa, ia membungkusnya dan membawa pulang agar kami sekeluarga dapat makan malam.

Ayah yang telah menyesali perbuatannya dan memilih mengakhiri hubungan dengan wanita itu, kini bekerja serabutan. Apa pun pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, akan ayahku lakukan, entah itu kuli bangunan atau tukang ojek.

Kakak pertamaku hampir berhenti kuliah karena tidak ingin membebani keluarga. Namun, kami berusaha keras meyakinkan padanya bahwa sekarang pedidikan hal yang penting.

Kakak ke dua dan aku sendiri seorang siswa sekolah menengah pertama dan dasar. Kadang aku menggambar sebuah tokoh kartun yang siap diwarnai, kujual pada teman-temanku. Hasilnya memang tak seberapa. Namun, setidaknya aku bisa membeli mie untuk makan kami sekeluarga.

Hal itu selalu terulang, hingga ekonomi keluarga kami membaik. Kami sekeluarga dapat kembali seperti awal, dimana hidup dengan kecukupan. Tak pernah kusangka bahwa kami sekeluarga dapat melewati masalah itu. Tak kusangka, keluarga kami masih berada di rumah yang sama dengan orang yang sama. Maksud hati ingin membuka sebuah kisah baru pada sebuah buku kosong yang baru dibeli.

Setiap hari, ibu berkata, “Apa pun keadaan kita, sesulit apa pun ekonomi kita, kalian, anak-anak ibu harus sekolah yang rajin, biar nanti kalau sudah dewasa, tidak merasakan apa yang ibu alami,” tuturnya dengan senyum cantik itu.

Dari sanalah aku belajar giat. Bukan hanya aku. Saudariku yang lain juga melakukan hal yang sama. Kami berempat tidak ingin mengecewakan ibu.

Jadikan ini sebuah pelajaran. Maafkan Ayah kalian dulu. Tapi, Ayah janji akan membahagiakan kalian lebih dari dulu.” Ayahku menambahi.

Aku sudahi ketikkan itu, ketikan yang berisi kisah penuh pilu dan haru. Aku menatap jam yang saat itu menunjukkan pukul tujuh malam. Ingatan masa lalu kembali terulang, dimana ingatan yang aku harap dapat hilang. Namun, aku sadar, hal itu tak perlu dihilangkan, karena di sanalah, aku mendapat makna dari kata menyerah.

Menyerah bukan untuk mengakhiri, tetapi untuk menyudahi kisah buruk demi kisah baru itu sendiri, belajar dari sebuah kejadian yang membuatku kuat dalam menghadapi kesusahan. Kuikhlaskan Tuhan memberiku sebuah cobaan, karena aku seseorang yang kuat, bukan? Aku yakin, Tuhan selalu memberiku kekuatan.

Aku bersiap mengakhiri sebuah kisah dengan penuh pelajaran yang bisa dipetik, titik.[]


photo : pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Tuhan, Jangan Ambil Agamaku
Next
Mewujudkan Kehidupan Baru Pasca Ramadhan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram