Cinta di 14 Februari

(Salah satu naskah sastra/cerpen yang mengikuti Challenge ke-2 NarasiPost yang bertemakan "Valentine dalam Perspektif Islam}

Oleh : Ummu Hanan

NarasiPost.Com-Hari itu aku terjaga lebih awal. Kulirik jam di kamar, masih menunjukkan pukul 02.37. Masih terlalu dini pikirku untuk membuka kembali buku grammar.

Pagi ini akan ada ujian akhir semester yang harus kulalui dengan sungguh-sungguh, karena sejujurnya aku tak terlalu paham dengan mata kuliahnya. Mungkin sudah nasib memilih mata kuliah ber-genre sastra, dengan spesialisasi Bahasa Inggris.
Seandainya bisa, akan kusulap hari tanpa ada Rabu sehingga aku tak harus UAS grammar.

Kupaksa diri untuk bangkit mengambil air wudhu. Salat malam menurutku adalah jalan terbaik untuk menyingkirkan segala penat dan galau akan grammar. Setelah itu, kucoba memutar ulang memori tentang penjelasan dosen dan mencocokkannya dengan catatan kuliah, berharap upaya tersebut sanggup mengumpulkan sedikit pemahaman ketika mengerjakan soal UAS nanti.

Seketika mataku terbelalak begitu menemukan selembar kertas sederhana bertuliskan, [Aku tunggu di musala ba’da salat Zuhur] Begitu isinya.

Meski tanpa nama, aku tahu siapa pengirimnya. Tapi mengapa Iwan tidak langsung berbicara saja padaku dan lebih memilih untuk menyelipkan pesan di secarik kertas?

Nanti saja kupikirkan lebih lanjut. Yang lebih penting saat ini adalah bagaimana aku bisa melewati jam pertama UAS dengan baik alias tanpa lirik kanan kiri. Bismillah, kulahap pembahasan soal latihan grammar halaman per halaman. Kumohon kepada Allah agar memberikan kemudahan menjalani hari ini.

Teeeett … teeettt ….
Kurang lebih seperti itu suara bel tanda UAS berakhir. Alhamdulillah, meski dipenuhi peluh, kuharap hasil UAS hari ini tak begitu mengecewakan.

Segera kuingat adanya pesan dari Iwan yang ingin aku menemuinya di musala siang ini.BBenar saja, tidak sampai lima menit, sosok pria tambun itu segera menghampiriku. Dengan sedikit terengah, Iwan langsung menyodorkan selembar pamflet.

“Kajian Subuh bersama Ustaz Subhan, Ky,” ujar Iwan.

Aku harus datang. Aku tidak pernah melewatkan setiap kesempatan jika Ustaz Subhan mengisi taklim. Pemaparannya yang sederhana, namun mengena, selalu membekas dalam benakku.

Kajian subuh yang akan diadakan besok mengangkat judul 'Cinta Palestina Rindu Khilafah', semakin menguatkan keinginanku untuk hadir. Pasti akan banyak pembahasan tentang Palestina, tanah yang diberkahi. Kusematkan doa kiranya Allah memudahkanku hadir esok subuh.

Keesokan harinya, di waktu subuh,
alhamdulillah aku sudah berada di kisaran shaf depan jamaah taklim Ustaz Subhan. Tetiba tepukan semi keras mendarat di pundakku.

Ricky! Ternyata kamu sudah lebih dulu datang tadi, ya?” Iwan memaksaku untuk berpindah duduk disebelahnya.

Jangan sampai terlewat yang begini, Wan. It’s too good to be missed,” ujarku.

“Iya, so good so nice,” canda Iwan sambil menyindir salah satu iklan produk makanan.

Jamaah taklim yang hadir subuh itu cukup banyak. Ada sekitar seratus orang. Nampak Ustaz Subhan mulai bersiap memaparkan materi, sangat santun dan tertata tutur bahasa beliau. Raut muka yang serius dengan sesekali diselingi canda menjadikan suasana kajian begitu hidup. Ustaz Subhan mengajak para jamaah untuk melihat bagaimana kehidupan kaum muslimin di negeri yang sedang terjajah seperti Palestina.

Digambarkan bahwa Palestina tidak akan seperti sekarang sekiranya umat Islam mau bersatu untuk menolong mereka. Adapun kondisi negeri muslim hari ini, tersekat oleh ikatan yang batil yakni nasionalisme. Ikatan inilah yang telah menciptakan batas imajiner antara satu wilayah dengan lainnya. Padahal, muslim hanya akan kuat saat mereka disatukan oleh ikatan yang sahih, ikatan aqidah Islam.

Tidak hanya Palestina, tetapi ada Rohingya, Suriah, Srilanka, Pakistan, Uighur dan banyak lagi saudara muslim kita lainnya yang sedang teraniaya.

Kita ada di sekitar mereka, namun, seolah-olah tak punya daya meskipun sedikit untuk menolong. Kita memiliki angkatan bersenjata, namun, bagai macan ompong yang tak punya nyali untuk mengarahkan moncong senapan ke arah agresor.

Padahal Rasulullah saw. telah mengibaratkan kaum muslimin bagai satu tubuh. Ketika ada anggota tubuh yang sakit, maka yang lainnya akan ikut merasakan sakit dengan demam dan tidak bisa tidur.

Aku semakin hanyut dengan penjelasan Ustaz Subhan.
Ustaz melanjutkan, kondisi umat Islam tidak seharusnya terpuruk sebagaimana saat ini. Umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menjadi yang terdepan dalam melakukan amar makruf nahi mungkar.

'Lalu apa kaitan ini semua dengan judul kajian Ustaz 'Cinta Palestina Rindu Khilafah'?" batinku.

Sepertinya Ustaz Subhan dapat membaca suara hatiku. Tak lama setelah itu, beliau pun menjelaskan apa yang menjadi sebab mendasar kemunduran umat Islam. Mengapa hari ini begitu banyak darah yang ditumpahkan di berbagai belahan negeri muslim? Mengapa Al-Aqsa yang mati-matian diperjuangkan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab, Shalahudin Al Ayubi hingga Sultan Abdul Hamid kini dengan mudah berpindah ke tangan Yahudi laknatulah? Mengapa Indonesia dengan populasi muslim terbesar di dunia bungkam atas segala bentuk kebiadan ini?

Jawabannya adalah karena umat tidak berada pada satu kepemimpinan politik. Umat terjebak pada paradigma sekuler kapitalistik yang telah menjadikan mereka diam dan merasa cukup dengan keruwetan konflik internal dalam negeri. Padahal, umat Islam sangat membutuhkan keberadaan institusi politik yang akan menaungi mereka dalam kekuatan sebuah ideologi, itulah Khilafah Islamiyyah.

Seketika jamaah yang hadir memekikkan takbir, "Allahu Akbarr …!”

Sungguh sebuah pemaparan yang bernas. Aku suka sekali dengan pembahasan ini. Baru kusadari akan penting dan butuhnya umat terhadap Khilafah. Namun, mengapa hari ini tidak sedikit pihak yang mencibirnya, menyinyir, bahkan mempertanyakan realitasnya?

Ternyata Khilafah bukan sekadar bahasan yang ada dalam kitab kuning atau masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah Islam. Namun Khilafah adalah bagian dari kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita sebagai umat-Nya dan bisyarah atau kabar gembira dari Rasulullah saw.

Aku semakin yakin akan datangnya pertolongan Allah atas rakyat Palestina dan negeri muslim lainnya yang terzalimi. Setiap apa yang Allah perintahkan, pasti akan mengantarkan manusia pada kebaikan hidup, termasuk dalam perkara menegakkan kembali Khilafah.

Sedikit kurasakan bulu romaku merinding tanda aku harus melibatkan diri dalam perjuangan ini.

Tak akan kutunda lagi.
Selesai mengikuti taklim, kusampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Iwan. Seandainya bukan melalui perantara Iwan, mungkin sanubariku tidak akan tercerahkan dengan pemahaman Islam seperti hari ini. Kupeluk Iwan sembari meminta doa padanya agar mengajakku untuk dapat menjadi bagian dalam perjuangan dakwah Islam. Aku ingin menjadi pejuang Khilafah, meski aku sadar begitu banyak kekuranganku.

Takkan kulupa hari ini, tanggal 14 Februari, tanggal di saat para muda-mudi di luar sana hanyut dalam syahwat hari kasih sayang, aku justru seperti baru menemukan cinta pertama. Mungkin ini yang dikatakan sebagai tanda saat seseorang telah merasakan manisnya iman.

Masyaallah, begitu indah rasanya, cinta karena ingin menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan syariat-Nya, aamin yaa Mujibas sailin.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Ummu Hanan Kontributor NarasiPost.com
Previous
Buanglah Demokrasi pada Tempatnya
Next
Moderate Behaviour Sang Penakluk Madinah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram