Roller Coaster 2020, Antara Keresahan dan Harapan

“Salah satu naskah untuk Challenge NarasiPost.Com dengan tema:
Refleksi tahun 2020 dalam pandangan Islam
Persepsi Islam dalam tahun 2021
(Naskah asli penulis/tanpa editan dari TIM NP)”

Oleh: Hana Rahmawati
(member kelas nulis Tangerang)

NarasiPost.com - “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-hasyr: 18).

Perputaran waktu dari hari ke hari, bulan ke bulan masih terus berlangsung selama dunia ini masih ada. Tugas seorang muslim bukan hanya terpaku pada putaran waktu yang tidak bisa kembali berulang. Lebih dari itu, ia harus berusaha untuk bisa selalu lebih baik dari hari sebelumnya. Maka, mengintrospeksi atau bermuhasabah atas kejadian sebelumnya adalah tindakan tepat agar bisa menyusun kembali rencana terbaik di kemudian hari.

Menilik kembali peristiwa yang pernah terjadi di sepanjang tahun 2020, mungkin akan menjadi tahun duka yang dirasakan oleh umat. Sejumlah peristiwa hingga kebijakan penguasa yang salah dalam meriayah rakyat mewarnai dinamika 'amul hazn tersebut.

Dahulu, Rasulullah pun pernah merasakan tahun penuh kesedihan. Yaitu saat istri dan pamannya kembali keharibaan Allah, Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Kedua orang tersebut adalah pembela agama Allah yang selalu berada di samping Rasulullah. Membela Nabi dan membersamai beliau di saat-saat sulit yang beliau hadapi. Khadijah, seorang istri yang rela berkorban apa saja untuk Allah dan RasulNya, menghibur Nabi saat beliau merasa kesulitan karena proses turunnya wahyu dari Allah. Tentu saja kenangan yang sempat dirasakan itu menorehkan kesedihan amat mendalam saat Rasulullah mengetahui bahwa Khadijah telah berpulang selamanya.

Begitupula dengan Abu Thalib. Paman Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wasallam. Seorang paman yang senantiasa menjaga keponakannya dari setiap rintangan yang menerjang. Abu Thalib sendiri yang pasang badan sebagai tameng Rasulullah saat Ia didatangi oleh pemuka kaum Quraisy yang menawarkan Rasulullah untuk ditukar dengan berbagai kesenangan, agar kemudian ajaran yang dibawa oleh Rasulullah bisa dibinasakan oleh kafir Quraisy tersebut. Namun, dengan tegas Abu Thalib menolak tawaran itu dan lebih memilih keponakan yang ia sayangi, Rasulullah SAW. Ia menjamin keselamatan Rasulullah dari gangguan kafir Quraisy tersebut. Dengan kedudukan Abu Thalib di kalangan Quraisy, maka penolakannya membuat utusan Quraisy saat itu harus pulang dengan tangan hampa tanpa mendapatkan apa yang mereka harapkan.

Kesedihan mendalam juga yang umat rasakan di tahun lalu. Jika kita refleksi ke tahun 2020 di mana awal tahun kita sudah disuguhkan pemberitaan mengkhawatirkan mengenai virus misterius yang menyerang negeri Wuhan. Desas desus virus ini menyerang Indonesia pun mulai santer terdengar. Hingga pada akhirnya diumumkanlah dua kasus pertama yang ditemukan terjangkit virus tersebut. Meski akhirnya mereka survive, namun banyak juga yang kemudian berguguran satu persatu hingga hari ini. Mulai dari pasien hingga perawat, dari rakyat biasa hingga pejabat. Nyatanya virus ini tidak pandang jabatan ataupun ketenaran, semua bisa terkena ganasnya serangan virus yang di kemudian hari disebut dengan nama covid-19.

Tidak hanya menyerang sistem ketahanan tubuh, virus covid-19 telah melumpuhkan bahkan hampir mematikan roda perekonomian dunia. Nyatanya ekonomi dunia yang berbasis kapitalis tidak cukup tangguh dalam menghadang serangan virus covid-19. Di Indonesia, resesi ekonomi mulai terlihat sejak kuartal-I diawal tahun 2020. Bisa dibilang ini diakibatkan karena perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat. Dampak perlambatan ekonomi mulai sangat jelas terlihat saat virus covid-19 melejit di Indonesia.

Dampak penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan perekonomian merosot. Hampir semua sektor industri terganggu, utilitas produksi menurun, dan menyebabkan omzet penjualan lesu. Tentunya rakyat tidak menginginkan peristiwa krisis moneter yang melanda Indonesia di tahun 1998 kembali terjadi. Peristiwa yang menyulitkan masyarakat pribumi kala itu.

Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar membuat sejumlah pihak harus beraktifitas dari rumah. Pekerjaan, sekolah, perkuliahan, semua berlangsung dari rumah masing-masing. Aktifitas daring para siswa nyatanya telah banyak melahirkan generasi-generasi mudah stress. Berbagai peristiwa pun telah mewarnai perjalanan daring dunia pendidikan kita di masa pandemi. Sungguh pola pendidikan yang hanya melahirkan generasi-generasi rapuh. Daring akhirnya bukanlah solusi ampuh untuk kegiatan belajar mengajar di masa wabah.

Berbagai peristiwa menyedihkan lainnya juga mengisi perputaran waktu di 2020 lalu. Korupsi yang kian tidak terkendali, perceraian meningkat tajam seiring lonjakan pandemi yang belum selesai, kasus KDRT yang masih menjadi sorotan, pajak yang tiba-tiba naik, Omnibuslaw Ciptaker muncul di tengah malam pekat, juga moderasi agama, mempersekusi ulama, dan mendiskriminasi aktivis dakwah hingga misteri tol yang belum terpecahkan. Ini semua problema nyata yang entah masih akan menjadi bahasan di 2021 atau akan ada tambahan draft peristiwa baru yang akan mencuat.

Tahun baru tidaklah lantas menjadikan permasalahan sistemik ini terselesaikan begitu saja. Mengapa? Karena selama seorang pemimpin tidak memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah, maka kesalahan demi kesalahan akan terus berulang dan sulit dikendalikan apalagi dihentikan.

Harus ada pola periayahan terbaik untuk masyarakat. Pola pembinaan dan pelayanan yang bersandar pada aturan hakiki, tidak pernah salah sepanjang zaman, tidak ada tambal sulam dalam setiap kebijakan, tidak ada perdebatan karena aturan tersebut adalah valid. Dengan aturan berkehidupan dan bernegara seperti ini, maka dipastikan tidak akan terjadi permasalahan yang memberatkan kehidupan masyarakat dalam negara. Setiap individunya terikat pada hukum syara yang sempurna dan paripurna.

Maka, harapan besar tersirat mengawali tahun 2021 ini yaitu diterapkannya aturan yang mampu melenyapkan keresahan yang dirasakan umat hari ini. Masalah pandemi, ekonomi, dunia pendidikan hingga kesehatan. Aturan yang menuntun umat selamat hidup saat di dunia dan bahagia saat kembali menuju akhirat.

Wallahu A'lam. []

Picture Source by Google

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Hana Rahmawati Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Refleksi Akhir Tahun dalam Dunia Literasi dengan Agama
Next
Tahun Berganti, Saatnya Menghisab Diri Hasilkan Karya Berarti
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram