Bagaimana Cara Melindungi Anak dari Racun Moderasi Beragama?

"Pemenang kedua naskah Challenge ke-4 NarasiPost.Com dalam rubrik Parenting"

Oleh: Renita
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Saat ini, banyak pemikiran rusak yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai orang tua, kita tentu khawatir jika pemikiran tersebut akan meracuni anak-anak kita. Salah satunya adalah moderasi beragama atau moderasi Islam. Moderasi Islam adalah pemikiran yang dicetuskan oleh kafir Barat untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam kafah.

Gelombang moderasi yang semakin intens diaruskan membuat sebagian umat Islam mengadopsi pemikiran ini dan menganggapnya sebagai ajaran Islam. Padahal, moderasi Islam ini merupakan ajaran kufur yang mengajak umat Islam untuk bersikap moderat, yakni sikap kompromi atau jalan tengah. Sedangkan Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memiliki seperangkat aturan hidup yang digunakan untuk memecahkan seluruh problematika kehidupan.

Dengan gagasannya ini, umat Islam diharuskan untuk mengakui kebenaran semua agama (pluralisme), memberikan ucapan hari raya kepada pemeluk agama lain, saling mengunjungi tempat ibadah antarumat beragama serta ikut terlibat dalam acara keagamaan pemeluk agama lain. Bahkan, beberapa waktu lalu, para pemangku jabatan di negeri ini melarang sekolah-sekolah negeri untuk menetapkan seragam muslimah bagi para siswinya. Hal ini bertolak belakang ketika ada orang yang tidak mau bersikap moderat, menjalankan ajaran agama dengan benar, bahkan memperjuangkan Islam kafah, maka ia akan dicap sebagai radikalis/ekstremis.

Demikianlah, atas nama moderasi dan toleransi, umat Islam dipaksa untuk berkompromi dengan ajaran kufur. Padahal, ini saja sama dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Perbuatan ini jelas dilarang oleh Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 42 yang artinya, “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

Moderasi Islam, Berbahaya!

Moderasi Islam dapat meracuni anak melalui acara televisi yang dibungkus dalam bentuk film, acara anak-anak, sinetron dan sebagainya. Bisa juga melalui buku bacaan atau buku sekolah anak. Begitu pun gadget bisa menjadi perantara masuknya pemikiran kufur ini, apalagi dengan adanya pandemi membuat anak lebih dekat dengan gadget lantaran adanya pembelajaran jarak jauh.

Adanya moderasi beragama akan membuat anak berkarakter moderat, yaitu sekuler, toleran dan inklusif. Anak yang inklusif tidak akan mau untuk menampakkan identitas keislamannya, karena hal itu akan membuatnya berbeda dengan teman-temannya. Jika berkerudung, dia tidak akan menutup aurat sesuai ajaran Islam tetapi memilih berkerudung seperti yang dikenakan teman-temannya.
Anak yang moderat juga akan memaklumi bahkan bersikap tidak peduli ketika ada kemaksiatan terpampang di depan matanya. Bisa jadi ia anak yang taat beribadah dan rajin salat, tetapi ketika ada temannya yang tidak salat, dia akan membiarkan temannya untuk melanggar syariat. Sebab, menurutnya semua orang berhak untuk memilih apa yang akan dilakukannya, termasuk perkara salat, bukan sesuatu yang patut dipermasalahkan.

Selain itu, anak yang moderat akan mengambil sebagian ajaran Islam dan menolak sebagian lainnya. Bisa jadi ia adalah anak yang taat dalam ibadah seperti salat, puasa, menghiasi diri dengan akhlak yang baik. Namun, ia akan menolak mentah-mentah ajaran Islam yang berkaitan dengan politik, ekonomi, pergaulan dan sebagainya. Alhasil, mereka terjerumus ke dalam pemikiran kufur dan menjadi agen moderasi. Lebih parah dari itu, mereka akan menjadi penghalang kebangkitan Islam dan sangat menolak perjuangan syariah kafah.

Melindungi Anak dari Paparan Moderasi Beragama

Sebagai orang tua, tentu kita wajib menjaga anak-anak kita dari pemikiran moderasi yang jelas-jelas berbahaya dan sangat jauh dari tuntunan Islam. Untuk melindungi anak dari paparan moderasi beragama, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, di antaranya ;
Pertama, mengokohkan akidah anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman bahwa Islam adalah agama yang sempurna, bukan hanya mengatur masalah ibadah ritual tetapi juga merupakan sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridai Allah Swt.
Siapa saja yang mencari agama selain Islam, maka amalnya akan sia-sia dan dia termasuk orang yang merugi di akhirat. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 85 yang artinya, “Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”

Kedua, mengajak anak untuk mempelajari Islam sebagai pandangan hidup. Allah Swt. memerintahkan umatnya untuk terikat dengan syariat Islam secara keseluruhan. Menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dalam setiap aktivitas yang akan dilakukannya. Menilai baik-buruk sesuatu hanya berdasarkan ajaran Islam. Sehingga, mereka akan mampu menjaga dirinya dari moderasi Islam maupun pemikiran merusak lainnya.

Ketiga, menjadikan anak sebagai pejuang Islam kafah. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah menyadarkan anak akan pentingnya dakwah untuk menyampaikan Islam, melibatkan anak dalam agenda dakwah, melatih anak untuk berani mengeluarkan pendapatnya, memupuk keimanannya sehingga terbentuk rasa kepedulianya. Dengan demikian, anak tidak akan berdiam diri ketika melihat kemaksiatan, sebaliknya dia akan terdorong untuk menyampaikan dakwah sekalipun itu membuatnya dijauhi atau tidak disukai oleh teman-temannya. Ajarkan anak untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang baik tanpa menggurui.

Keempat, mengawasi media digital dan buku bacaan anak. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendampingi anak saat menonton baik itu di televisi atau gadget, memilihkan tontonan yang baik, menyeleksi buku-buku bacaan anak, serta mengawasi penggunaan gadget pada anak.

Kelima, memilih sekolah yang menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan memasukkan anak ke sekolah Islam, setidaknya peluang untuk masuknya pemikiran moderat akan lebih kecil jika dibandingkan dengan sekolah umum. Tetapi, tak menutup kemungkinan sekolah Islam juga menjadi pintu masuk moderasi beragama, sebab pada kenyataannya saat ini moderasi kurikulum beragama telah banyak diterapkan di sekolah madrasah. Namun, tak ada salahnya kita lebih selektif untuk memilih lembaga pendidikan yang akan diikuti oleh anak.

Moderasi Islam merupakan racun yang berbahaya, maka dari itu kita sebagai orang tua harus menyelamatkan anak kita dari pemikiran ini. Sebab, anak adalah amanah dari Allah yang wajib kita asuh dan kita didik dengan syariat Islam. Maka dari itu, kita wajib membentengi anak-anak kita dari pemikiran yang dapat merusak jati dirinya sebagai seorang muslim. Wa’allahu A’lam Bish-Shawwab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim Redaksi NarasiPost.Com
Renita Tim Redaksi NarasiPost.Com
Previous
Apa Pentingnya Migrasi TV ? Kebijakan Nirempati di Tengah Pandemi
Next
Tuan, Oh Tuan!
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram