Pengen Nikah (part 2)

Sesungguhnya, pertimbangan yang paling utama dalam pernikahan adalah untuk beribadah di jalan Allah, bagaimana pendamping hidup itu bisa memberikan motivasi dan support untuk menjalankan kehidupan dalam beribadah lebih baik lagi"

Oleh: Rita Handayani
Penulis dan Pemerhati Publik

NarasiPost.Com-Tepat pukul 08.00 WITA, iring-iringan pengantin sampai di tempat akad nikah. Kedatangan keluarga dari pihak mempelai laki-laki disambut hangat oleh keluarga mempelai perempuan.

Tahapan-tahapan acara prosesi nikah berjalan dengan sangat baik dan lancar. Pengantin perempuan baru dikeluarkan untuk penyerahan mahar dan menandatangani beberapa surat dari KUA.

Sedangkan Joko sendiri, sibuk mendampingi guru dan teman-teman dari komunitas mengajinya. Ia baru tersadar kalau acara sakral sepupunya di atas pelaminan telah selesai setelah Ustaz yang diminta untuk mengisi acara siraman rohani memulai tausiyahnya.

"Hadirin rahimakumullah, terutama para jomblowan dan jomblowati. Saya akan menceritakan kisah pencari kayu di hutan," sang Ustaz memulai tausiyahnya.

"Seorang laki-laki mendapat tugas mencari kayu di hutan. Aturannya adalah ia harus masuk ke dalam hutan kemudian keluar di bagian ujungnya. Di dalam hutan itu, ia harus mengambil satu buah kayu, hanya satu saja yang harus diambil. Ketika sudah mengambil satu kayu, ia tidak boleh lagi mengambil kayu yang lain," kata sang Ustaz

Ustaz melanjutkan tausiyahnya, "Aturan selanjutnya adalah ia tidak boleh mundur untuk kembali mengambil kayu yang sudah ditinggalkan. Jadi, ia harus tetap maju ke depan dan mengambil kayu yang paling bagus yang ia inginkan."

"Nah, akhirnya pemuda ini masuk ke hutan untuk mencari kayu yang paling bagus dan menemukannya. Namun dia berpikir, mungkin di depan ada kayu yang lebih bagus lagi. Dia meninggalkan kayu yang bentuknya bagus itu. Dia berjalan dan betul, dia mendapatkan kayu yang lebih bagus lagi, lebih mulus, dan lebih keras. Namun, ia berpikir mungkin di depan akan mendapatkan kayu yang lebih bagus dari ini.

Kemudian dia meninggalkan lagi kayu yang yang bagus itu dan mulai berjalan mencari kayu yang lain. Benar saja, dia mendapatkan kayu yang lebih bagus dari kayu-kayu sebelumnya, lebih putih, lebih kuat, dan lebih indah dilihat. Namun dia mulai berpikir lagi. Mungkin di depan masih ada kayu yang bagus, kemudian di depannya lebih bagus lagi. Lalu dia meninggalkan kayu itu dan mulai berjalan lagi, selalu seperti itu.

Ternyata dia mendapatkan kayu yang tidak sebagus sebelumnya. Dia berpikir, tidak apa-apa, toh masih ada waktu. Mungkin  ia akan mendapatkan kayu yang lebih bagus lagi di depan. Akhirnya, ia tinggalkan lagi kayu itu dan berjalan ke depan. Ternyata di depan dia mendapatkan kayu yang lebih buruk, lebih getas, lebih rapuh, basah dan tidak sesuai dengan idealisme yang sedang dicarinya. Kemudian ia meninggalkan kayu itu.

Akhirnya ia sampai di ujung hutan dan sudah tidak ada kayu yang bisa diambil. Maka dia keluar hutan tanpa mendapatkan satu batang kayu pun." Ustaz menjelaskan dengan antusias.

"Kisah pencari kayu di hutan ini bagaikan kisah seorang yang sedang mencari pendamping hidup. Dia memiliki banyak idealisme yang harus diraih tentang pasangan hidup. Dia punya kriteria ini dan itu. Nah, ketika tidak mendapatkannya saat ta'aruf, tetapi masih kukuh dengan idealisme ini, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa, seperti si pemuda pencari kayu di hutan tadi. Ia tidak mendapatkan pasangan hidup karena terlalu memilih. Ia tidak mempunyai target dan tujuan, untuk apa sebenarnya dia menikah." Ustaz memaparkan dengan jelas.

"Karena sesungguhnya, pertimbangan yang paling utama dalam pernikahan adalah untuk beribadah di jalan Allah, bagaimana pendamping hidup itu bisa memberikan motivasi dan support untuk menjalankan kehidupan dalam beribadah lebih baik lagi," kupas sang Ustaz.

"Jadi, jangan sampai ke depan kita menjadi orang yang penuh penyesalan karena angan-angan dan khayalan lebih tinggi daripada realitas yang kita temui dalam menggapai idealisme itu."Ustaz menjelaskan.

"Di sini, bukan berarti saya melarang antum mendapatkan pasangan hidup yang ideal, misalkan yang laki-laki tidak boleh mendapatkan pasangan hidup yang putih, cantik dan kaya dan yang lainnya, yang perempuan tidak boleh mendapatkan pasangan yang ganteng, yang putih, yang gagah, yang tajir, sukses dan yang lainnya. Boleh-boleh saja idealisme itu.

Namun, kita juga harus tahu batas ukurannya, kapan kita harus bertahan dengan idealisme terkait pasangan hidup itu dan kapan harus mengubah," kata sang Ustaz.

Untaian tausiyah yang disampaikan Ustaz tersebut telah menghujam ke dasar hati Joko. Karena itu, ia mulai berpikir untuk mengubah standar idealisme dalam mencari pasangan hidup.

"Benar juga yang dikatakan oleh Pak Ustaz. saya ingin menikah karena ingin menyempurnakan separuh agama dan untuk ibadah kepada Allah. Kesempurnaan fisik itu bukan sesuatu yang utama. Yang penting adalah salehah dan taat kepada Allah Swt. Maka dia pasti akan taat kepada saya sebagai suaminya. Dan bisa mendidik anak-anak saya kelak dengan pendidikan agama yang baik dan mendukung saya dalam dakwah."

Di meja bundar, Joko duduk bersama dengan guru dan teman-teman ngajinya. Joko diam termenung. Teman-teman ngajinya sudah menikah semua, bahkan ada yang sudah mempunyai anak. Jadi, hanya Joko yang belum menikah.

"Akhi, ini ada tawaran dari paman seorang gadis. Bapak dari gadis ini pendiri ponpes Hajar Aswad yang terkenal di Madiun. Namun, beliau sudah wafat. Ibu dari gadis ini juga sudah berpulang ke haribaan Allah Swt. Jadi, gadis ini yatim piatu. Sekarang ia ikut Pamannya. Paman gadis ini sedang mencarikan jodoh untuk kemenakannya. Jika antum minat, saya akan membantu untuk ta'aruf dengan gadis anak Pak kyai ini. Insyaallah agamanya baik, demikian juga dengan kailmuan terkait hafalan, hadis dan lainnya karena ia ikut menjadi pengajar di pesantren milik Bapaknya. Bagaimana akhi Joko?" Ustaz Irwan memaparkan.

"Bissmillah. InsyaAllah Taz, saya bersedia. Saya tidak mau seperti pemuda pencari kayu yang menyesali kesempatan yang Allah berikan dalam pencarian kayu di hutan, karena tidak memiliki tujuan yang benar. Insyallah, saya menikah karena Allah. Cukup bagiku agamanya baik, ketaatan kepada Rabb-nya menjadi jaminan bagi saya bisa hidup bahagia bersamanya, Taz," jawab Joko dengan mantap.

"Bagaimana kalau besok saya langsung meminangnya Taz, tentu saya berharap Ustaz bisa menemani. Saya akan bicarakan dengan keluarga," tandas Joko.

"InsyaAllah, saya dan Ustaz Rahmat akan menemani antum dan keluarga dalam acara lamaran tersebut," jawab Ustaz Irwan.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Rita Handayani Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Jagalah Malu!
Next
Mural dan Potret Antikritik Penguasa
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram