Ilusi Negara Demokrasi

"Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak (demokrasi) dapat dengan mudah dipengaruhi oleh para demagog dan akhirnya akan merosot menjadi kediktatoran" (Aristoteles, Filosof Yunani Kuno).

"Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan" (Winston Churchill, Mantan PM Inggris).


Judul : ILUSI NEGARA DEMOKRASI
Penulis : Farid Wadjdi & Shiddiq Al-Jawi
Penerbit : Al-Azhar
Cetakan: Juli 2009
Tebal: 419 halaman
Peresensi: Maya Rohmah

Jika ada pertanyaan, apakah demokrasi berasal dari Islam?", maka jawabannya jelas, tidak.

Dari asal katanya sendiri, demokrasi berasal dari bahasa Latin: Demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan). Demokrasi selalu diasosiasikan sebagai suatu bentuk pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi dianggap sebagai sistem terbaik saat ini. Anggapan ini terutama muncul saat dihadapkan pada penderitaan rakyat di bawah sistem berdasarkan Fasisme, Komunisme dan paham anti-demokrasi lainnya pada beberapa dekade yang lalu.

Konon, demokrasi berakar dari peradaban bangsa Yunani Kuno pada 500 SM. Magna Charta yang lahir pada 1215 dianggap sebagai jalan pembuka munculnya kembali demokrasi di Barat. Ide demokrasi terus mengalir hingga ke Timur Tengah pada pertengahan abad ke-19, dibawa oleh para pemikir Islam yang mempelajari budaya Barat. Salah satunya adalah Muhammad Abduh (1848-1905), yang menekankan pentingnya umat Islam untuk mengadopsi hukum-hukum Barat secara selektif.

Secara teoritis dan substansi, demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Justru di sinilah akar masalah sekaligus yang menjadi cacat bawaan demokrasi. Pasalnya, rakyat adalah individu yang tidak lepas dari tarikan hawa nafsu dan godaan setan. Mereka memandang standar baik-buruk dan halal-haram sebagai suatu kesalahan fatal. Bahkan Aristoteles dan Plato—keduanya pemikir yang diagung-agungkan Barat–melancarkan kritik terhadap demokrasi.

Buku ini terdiri dari delapan bab. Perinciannya sebagai berikut: Bab I, Seputar demokrasi dalam tataran teori dan praktik; Bab Il, Seputar demokrasi, hubungannya dengan ideologi kapitalisme sebagai 'induk'-nya, yang kemudian dikaitkan dengan terjadinya kesenjangan kaya-miskin; Bab lll, Seputar demokrasi sebagai sistem politik yang problematis; Bab lV, Seputar demokrasi dan problem dunia pendidikan, khususnya terkait dengan sekularisasi dan kapitalisasi dunia pendidikan; Bab V, Seputar demokrasi dan penghancuran pranata sosial-budaya; Bab lV, Seputar ilusi negara demokrasi; Bab Vll, Seputar demokrasi dan kaitannya dengan Islam; dan Bab Vlll, Seputar keniscayaan negara syariah.

Sekarang pertanyaannya, sebutkan satu saja, negara manakah yang benar-benar menerapkan demokrasi? Jawabnya, tidak ada. Tipikal negara demokratis hanya ada dalam angan. Amerika, misalnya, yang dianggap sebagai 'kampiun demokrasi', tidak pernah menjadi contoh terbaik sebagai negara pengusung demokrasi. Bagaimana dengan Eropa? Faktanya sama saja.

Banyak penganut sekularisme memandang bahwa demokrasi akan membawa kesejahteraan bagi dunia. Hal ini sering dipropagandakan oleh negara-negara Barat kepada Dunia Ketiga agar mereka mau dan setia menerapkan sistem demokrasi, tentu saja termasuk dunia Islam. Kampanye demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang mereka lakukan mempunyai dua tujuan yaitu: (1) untuk melindungi keamanan Amerika; (2) meningkatkan kesejahteraan Amerika.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah pembahasan tentang bagaimana negara adidaya mengembangkan konsep cipil society (masyarakat sipil) untuk menciptakan para penguasa yang lemah di tiap-tiap negara. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) didorong untuk menjadi "pemerintah-pemerintah kecil" sehingga masyarakat dapat mengurus dirinya sendiri. Bahkan di Indonesia, pemerintah Amerika memberikan bantuan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengekspos segala tindak kekerasan sipil dan militer menurut standar mereka. Secara rutin pula, mereka mengeluarkan laporan tahunan mengenai pelaksanaan HAM di tiap negara, lagi-lagi dengan standar mereka (Halaman 64).

Buku ini menguak begitu banyak aib demokrasi dalam segala aspeknya. Paparannya lugas dan bernas, sarat dengan fakta-fakta yang valid dan faktual, yang menegaskan bahwa demokrasi ideal hanya ada dalam khayal, dan cita-cita mewujudkan negara demokrasi hanyalah sebuah ilusi![]


photo : google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Surat Bebas Covid-19 Palsu, Cermin Kegagalan Pemerintah Atasi Mudik
Next
Bahagia Seutuhnya
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram