Comment and Share

" Challenge mingguan bertema Comment & Share buat siapapun yang mengunjungi website NarasiPost.Com semata mengajak pembaca untuk jeli dan cerdas dalam menerima berita-berita yang tersaji atau membaca karya-karya penulis ideologis dalam rubrik-rubrik yang disediakannya "


Assalamualaikum

🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸

Hai… hai, para Konapers yang cute abiz, ada kabar gembira nih…? 🤭

Buat kamu yg doyan mejeng di medsos atau yang suka melenturkan jari-jemari sembari meraup pahala.

NP bakal mengapresiasi passion kamu itu lho 🥰.

Dapatkan reward senilai 250k untuk 10 orang yang paling banyak action -nya dengan ketentuan:

⚠️ SS komen di website NP

⚠️ Share sebanyak-banyaknya naskah teman-teman yg sudah publish

⚠️ Kirim bukti SS (komen dan share) ke salah satu admin Konapost

🍭Semakin banyak bukti SS-mu peluang menang semakin banyak. Mayan buat beli saldo 😅💪 Ye kaaannn. Wkwkwkwk

Spesial pemenang pertama dapat salah satu buku terbitan NarasiPost Media Publisher lho. Keren 'kan?
Yuk, segera eksekusi☺️

Sssst…pengumuman pemenang tiap seminggu sekali ya 🤫🤫

Don't forget!!! Action -nya lillah yaaa, luruskan niat untuk meraih pahala jariah… meski reward melipir di depan mata 🤭

Sekian dan terima kasih… 🤗

📌📌📌📌📌📌📌📌📌

Regard
Tim Redaksi NarasiPost.Com

Pabrik Hantu Akibat Tsunami PHK

"Sistem kapitalisme menyebabkan kekuatan oligarki melebihi negara, karena kepemilikan sumber daya alam beralih dari rakyat ke swasta. Padahal jika dikelola negara dapat digunakan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan rakyat. APBN pun lunglai, rakyat terus dibebani pajak termasuk pada kelompok miskin sekalipun."


Oleh. Novianti
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Di beberapa kawasan Jakarta, muncul area hantu dadakan. Bukan karena dihuni makhluk gaib, melainkan kawasan industri yang awalnya padat manusia menjadi kosong melompong. Sebagaimana diberitakan cnbcindonesia.com (26/05/2023), beberapa pemilik perusahaan telah memindahkan usahanya mengarah ke wilayah lain seperti Jawa Tengah atau Jawa Barat.

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia DKI Jakarta, Nurjaman mengungkapkan kondisi diakibatkan upah di wilayah Jakarta dan sekitarnya mengikuti biaya hidup yang semakin mahal. Upah untuk satu pegawai di Jakarta dapat digunakan membayar 2 pegawai di wilayah lain seperti Majalengka atau Jepara.

Menurut Anton J. Supit, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, kondisi ini sudah diprediksi sejak terjadi perang Rusia-Ukraina. Ekspor menurun karena permintaan berkurang terutama dari Amerika dan Uni Eropa. Ditambah daya beli dalam negeri juga melemah.

Ratusan ribu karyawan di-PHK dan sebagian besar dari mereka hanya berpendidikan SD atau SMP. Mereka tidak bisa mengisi kesempatan kerja dalam industri digital yang disebut membuka peluang pekerjaan baru sebagai dampak perkembangan teknologi. Seharusnya pemerintah membuat terobosan kebijakan karena fakta ini menimbulkan persoalan tidak hanya bagi industri tetapi juga bagi negara.

Potensi Masalah

Sebetulnya, sinyal badai PHK sudah diprediksi sejak 2022. Namun ketika itu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan bahwa kinerja industri dan manufaktur masih kuat. Terbukti, misal ekspor tekstil masih tinggi hingga kuartal III 2022. Dirilis Kompas.com (26/11/2022), Sri Mulyani beralasan setoran pajak karyawan atau PPh 21 hingga Oktober 2022 masih menunjukan tren pertumbuhan yang positif. Di sinilah ketidakpekaan pemerintah terhadap persoalan yang dampaknya jelas tidak main-main.

Banyaknya karyawan di PHK berimbas pada munculnya sederet masalah sosial. Naiknya jumlah kemiskinan karena masyarakat makin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Angka stunting bisa bertambah, jumlah anak putus sekolah bisa melonjak, bahkan keluarga juga bisa tercerai berai.

Kesempitan hidup bisa mendorong seseorang melakukan tindak kejahatan. Masyarakat menjadi resah karena harta bahkan nyawa jadi terancam. Selain itu pengangguran dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental. Kecemasan terhadap masa depan akan membayangi, terlebih di tengah situasi yang penuh dengan ketidakpastian.

Celakanya, kondisi ini tidak menjadi perhatian negara. Seolah-olah PHK adalah tanggung jawab masing-masing industri dan nasib yang harus diterima pegawainya. Padahal industri seperti industri garmen, sepatu merupakan industri padat karya. Sekali PHK, ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan. Di belakangnya ada orang tua, pasangan, anak, kerabat, saudara yang menggantungkan harapan.

Aktor Perusak

Apa yang terjadi sekarang akibat penerapan sistem kapitalisme, yang menyebabkan agama terdegradasi dari pengelolaan negara khususnya dalam sistem ekonomi. Kekayaan alam yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat dicaplok swasta. Indonesia terkooptasi oleh berbagai kepentingan. Sumber daya alam milik rakyat dikuras habis oleh para kapital yang meraup keuntungan besar.

Dalam mazhab pembangunan kapitalis, negara hanya berperan sebagai regulator dan fasilitator. Aktor pembangunan sesungguhnya adalah kaum oligarki yang pastinya mengutamakan keuntungan. Mereka memegang kemudi aset-aset strategis publik yang merupakan hajat hidup orang banyak. Semua itu dimonopoli sehingga tidak heran harga kebutuhan dasar seperti listrik, BBM, gas semakin mahal.

Otomatis kondisi ini memicu inflasi akibat kenaikan harga berbagai produk. Wajar pekerja menuntut kenaikan gaji dan Upah Minimum Regional (UMR). Bagi pengusaha, memenuhi tuntutan karyawan akan meningkatkan biaya operasional dan mengurangi keuntungan.

Sistem kapitalisme menyebabkan kekuatan oligarki melebihi negara, karena kepemilikan sumber daya alam beralih dari rakyat ke swasta. Padahal, jika dikelola negara dapat digunakan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan rakyat. APBN pun lunglai, rakyat terus dibebani pajak termasuk pada kelompok miskin sekalipun.

Pembangunan mengandalkan utang. Indonesia terus mengutang dan saat ini menjadi pengutang yang sangat besar. Indonesia menghabiskan sekitar Rp500 triliun tiap tahunnya untuk membayar cicilan pokok utang. Digabung dengan pembayaran bunganya, angkanya jadi berkisar Rp750-900 triliun. Sedang target pendapatan negara hanya Rp2463 triliun.

Kedudukan Industri dalam Islam

Penguasaan sumber daya alam oleh korporasi hari ini membuat mereka layaknya gurita yang mencengkeram negara di semua lini. Inilah yang akan dibenahi ketika sistem Islam berdiri kembali. Sumber-sumber strategis akan diambil alih negara untuk kepentingan rakyat.

Industri tetap dibutuhkan karena tidak dimungkiri memegang peranan penting. Namun industri yang dibangun dalam sistem Islam harus mampu menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat. Syarat lainnya yang harus dipenuhi adalah tidak menguasai SDA, tidak merusak kelestarian lingkungan, tidak menimbulkan dehumanisasi, menjadi mitra negara dalam memenuhi kebutuhan vital negara, membangun kemandirian negara dan tidak melanggar hukum syarak.

Industri tidak dibebaskan seperti dalam sistem kapitalis sehingga menjadi kekuatan penghancur yang melampaui dominasi negara. Salah satu penopang akselerasi perkembangan industri dalam sistem kapitalis adalah lembaga keuangan berbasis riba. Modal terakumulasi pada sekelompok kecil mendorong skala industri yang makin besar dengan penguasaan dari hulu hingga hilir.

Dalam syariat Islam, pendanaan industri swasta dilakukan dengan konsep syirkah dari individu atau sekelompok orang serta menggunakan uang riil. Industri tidak boleh meminjam dana yang mengandung riba. Dalil pelarangan riba sudah jelas dalam surah Al-Baqarah ayat 275 , “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Negara tidak akan memberikan celah sedikit pun berkembangnya praktik ribawi.

Sulitnya industri swasta berkembang menjadi industri besar dalam sistem ekonomi Islam bukanlah suatu kelemahan. Hal ini justru menjadi kelebihan. Industri yang tumbuh berskala relatif kecil namun jumlahnya sangat banyak serta masing-masing pemodalan bersifat independen. Pertumbuhan industrinya bukan didorong pada skala besarnya hingga memonopoli melainkan pada jumlah industri yang berkembang oleh individu atau sekelompok yang tetap berpegang pada hukum syarak.

Pengaturan Upah

Terkait pengaturan upah, di dalam Islam tidak mengenal UMR. Upah berdasarkan kesepakatan antara pekerja dan majikan yang besarannya memperhatikan pada manfaat yang diberikan pekerja kepada yang memberi pekerjaan. Tidak dilihat apakah upah tersebut memenuhi kebutuhan dasar atau tidak. Karena negara yang bertanggung jawab memenuhinya bukan pemberi kerja.

Negara memastikan pemberi kerja menunaikan haknya. Rasulullah saw. bersabda, "Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering," (HR. Ibnu Majah). Upah berlaku selama masa tertentu dan bisa dinegosiasikan kembali setelah habis masa akad.

Pendidikan, kesehatan, keamanan merupakan tanggung jawab negara yang diberikan kepada rakyat tanpa diskriminasi. Muslim atau kafir zimi, orang miskin atau kaya, tinggal di desa atau di kota akan mendapat pelayanan yang sama. Karena itulah, tidak ada kenaikan upah yang mengikuti kenaikan inflasi.

Demikianlah pengaturan sistem Islam terkait industri dan upah. Baik pekerja maupun pengusaha sama-sama memperoleh keberkahan dan keuntungan karena menjadikan hukum syarak sebagai landasan pengaturannya. Dengan penerapan Islam secara kaffah, negara memberikan ruang kondusif bagi siapa pun untuk tumbuh dengan kualitas terbaik.

Wallahu a'lam bish shawwab[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Bilateral Indonesia-Kanada, Akankah Memajukan Negeri?

”Hubungan bilateral yang dilandasi asas liberalisasi perdagangan barang dan jasa, sejatinya hanya akan menguntungkan para kapitalis yang notabene adalah negara-negara besar pengemban ideologi kapitalisme.”


Oleh. Firda Umayah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Pemerintah Indonesia saat ini sedang dalam perundingan untuk menjalin kerja sama ekonomi komprehensif bersama Kanada atau ICA-CEPA (Indonesia Canada - Comprehensive Economic Partnership Agreement). Perundingan yang telah diluncurkan sejak 21 Juni 2021 lalu, kini memasuki putaran kelima. Kedua negara berharap kerja sama tersebut akan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan investasi, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kedua negara tersebut. Pada perundingan ICA-CEPA putaran kelima, Indonesia-Kanada akan menyelesaikan perundingan tersebut pada pertemuan yang berlangsung di Otawa, Kanada, pada 29 Mei-2 Juni 2023 (rmol.id, 27/05/2023).

Antusiasme kedua negara dalam hubungan kerja sama ini lantas menyisakan pertanyaan, akankah kerja sama ini memajukan negeri?

Jalan Liku Perundingan ICA-CEPA

Pada peluncuran ICA-CEPA secara virtual, pemerintah menjelaskan bahwa perundingan ini merupakan langkah strategis untuk membuka peluang masuknya produk Indonesia di kawasan Amerika Utara. Karena Indonesia masih memiliki satu perjanjian dagang saja dengan negara di benua Amerika, yaitu Chile di Amerika Serikat (kemendag.go.id, 21/06/2021).

Pada putaran perundingan yang pertama tanggal 14-19 Maret 2022, pemerintah berharap perundingan ICA-CEPA menjadi pintu masuk produk ekspor Indonesia ke wilayah Amerika Utara. Hal ini karena Kanada memiliki perjanjian dagang dengan Amerika Serikat dan Meksiko yang ada di wilayah tersebut. Pada 2021, nilai impor Indonesia dari Kanada, jauh lebih besar daripada ekspor Indonesia ke Kanada. Hal ini bisa dilihat dari nilai ekspor senilai USD1,06 miliar dan nilai impor senilai USD2,05 miliar. Oleh karena itu, pemerintah menginginkan perluasan wilayah untuk produk ekspor Indonesia (katadata.co.id, 01/09/2022).

Pada perundingan putaran kedua, tepatnya 15-19 Agustus 2022, pembahasan perdagangan digital dan jasa, investasi, ketentuan asal barang, kepabeanan dan fasilitas perdagangan menjadi topik utamanya. Pada perundingan putaran ketiga, pada 31 Oktober-4 November 2022, pembahasan mengenai tingkat liberalisasi serta modalitas perdagangan barang yang akan digunakan dalam skema ICA-CEPA mendatang menjadi pembahasan utama (kemendag.go.id, 04/11/2022).

Hingga akhir tahun 2022, jumlah impor Kanada ternyata tetap jauh lebih besar daripada jumlah ekspor yang dilakukan Indonesia ke Kanada. Ekspor produk Indonesia yang mencapai USD1,27 miliar, hanyalah separuh dari impor Kanada ke Indonesia yang mencapai USD2,99 miliar. Sayangnya, meski sudah tampak defisit anggaran dari hasil kerja sama yang dilakukan, Indonesia masih melanjutkan perundingan hingga putaran keempat dan kelima.

Pada putaran perundingan keempat, pemerintah Indonesia melakukan tatap muka dengan Kanada pada 20-23 Februari 2023 dan membahas isu-isu penting agar proses negosiasi dapat segera diselesaikan. Isu-isu tersebut mencakup liberalisasi perdagangan barang dan jasa, kerja sama teknis, standar, isu kelembagaan, dan perdagangan nontradisional yang meliputi ketenagakerjaan, lingkungan, serta perdagangan inklusif (bisnis.com, 23/02/2023).

Pembahasan sertifikasi halal juga sempat disinggung Menteri Perdagangan Internasional Kanada Mary Ng. Ia berharap, agar segera mewujudkan komitmen kerja sama halal untuk produk-produk Kanada (antaranews.com, 28/05/2023). Berdasarkan data yang di atas, kondisi Indonesia sebelum dan ketika perundingan ICA-CEPA terjadi, selalu mengalami defisit anggaran dalam hubungan bilateral Indonesia-Kanada. Lantas, mengapa ini terus dijalankan?

Menguntungkan Kapitalis Semata

Hubungan bilateral yang dilandasi asas liberalisasi perdagangan barang dan jasa, sejatinya hanya akan menguntungkan para kapitalis yang notabene adalah negara-negara besar pengemban ideologi kapitalisme. Asas manfaat, di mana setiap hubungan yang terjalin harus mendapatkan keuntungan besar, selalu hadir dalam ideologi ini. Sehingga, negara pengekor hanya akan menjadi sasaran serbuan impor negara kapitalis.

Defisit anggaran, serbuan produk dan tenaga kerja asing, merupakan hal lazim dalam kerja sama antara dua negara yang tak berimbang kekuatan. Negara-negara besar dengan sistem ekonomi kapitalisme juga tak segan melakukan intervensi untuk memandu perilaku ekonomi demi mempercepat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Membuat aturan atau undang-undang yang seakan-akan menguntungkan negara, kerap menjadi alasan agar hubungan kedua negara tetap berjalan.

Faktanya, di balik kerja sama itu, rakyat tak pernah mendapatkan keuntungan seperti yang dijanjikan. Rakyat tetap sulit mendapatkan pekerjaan, membuka usaha dan mengembangkannya, bahkan hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Kerja sama atas nama rakyat hanyalah slogan untuk mendapatkan keuntungan materi secara individual bagi para pemangku kebijakan.

Tak kalah pentingnya, dalam sistem ekonomi kapitalisme yang serba bebas, negara juga sah saja ketika menjual komoditas apa pun termasuk komoditas strategis negara. Misalnya dengan mengeluarkan bahan pangan berlebih, barang industri, dan persenjataan negara yang sejatinya justru akan semakin merugikan rakyat dan negara tersebut.

Islam sebagai Landasan Hubungan Bilateral

Islam, sebagai agama yang paripurna memiliki aturan tersendiri terkait bilateral negara Islam dengan negara lain. Sehubungan dengan perdagangan, maka negara Islam memandang perdagangan terdiri dari perdagangan dalam negeri dan luar negeri.

Untuk perdagangan dalam negeri, di mana aktivitas jual beli yang dilakukan adalah antara dua individu rakyat. Hal ini tidak membutuhkan campur tangan negara secara langsung. Negara hanya mengarahkan secara umum agar setiap individu selalu terikat dengan syariat Islam dalam segala aktivitas, termasuk dalam jual beli. Jika terbukti melanggar syariat Islam yang telah ditetapkan negara, maka akan diberikan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya.

Sedangkan untuk perdagangan luar negeri, ini merupakan aktivitas jual beli yang terjadi antara dua bangsa atau lebih dengan umat. Termasuk adalah hubungan perdagangan antara dua individu yang berasal dari dua negara yang berbeda. Maka negara Islam akan ikut campur dalam mengurus masuk dan keluarnya komoditas barang, serta turut dalam menangani para pelaku bisnis yang berasal dari kafir.

Dalam Islam, prinsip dasar hubungan internasional adalah tidak boleh merugikan negara dan rakyat, serta tidak boleh mendukung keberadaan kaum kafir yang dapat memusuhi negara dan umat Islam. Untuk memahami konsep perdagangan dalam Islam, berikut ini poin-poin penting yang dapat diperhatikan.

Pertama, negara Islam hanya boleh menjalin hubungan kerja sama kepada empat kelompok. Yaitu, orang-orang muslim, orang-orang kafir yang terikat perjanjian dengan negara Islam, orang-orang kafir zimi dan harbi hukman.

Kedua, negara Islam tidak boleh membawa komoditas strategis keluar dari negara Islam dan dibawa ke negara kafir (ekspor) seperti persenjataan. Sebab, ini akan membahayakan negara Islam dan membantu musuh Allah untuk menguasai umat Islam. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 2 agar umat Islam hanya tolong menolong dalam kebaikan bukan dalam perbuatan dosa yang bertentangan dengan syariat Islam.

Ketiga, negara boleh melakukan impor komoditas yang dibutuhkan negara dan rakyat dari orang-orang kafir zimi dan harbi hukman. Kebolehan ini berdasarkan dalil pada Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 275 tentang kebolehan jual beli.

Ayat tersebut, merupakan dalil umum dalam aktivitas jual beli. Dalil ini tetap berlaku demikian, selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya.

Meskipun negara Islam boleh mengimpor komoditas dari luar, namun negara harus memperhatikan dan memfilter komoditas yang dibutuhkan untuk negara dan rakyatnya. Negara Islam juga tidak boleh terlibat dengan utang luar negeri yang mengandung riba.

Keempat, orang-orang kafir mu’ahid yang melakukan perdagangan luar negeri, akan diperlakukan sesuai dengan naskah perjanjian yang disepakati dengan mereka. Baik terkait dengan ekspor maupun impor. Negara kafir mu’ahid tetap tidak boleh membawa keluar persenjataan negara Islam. Hal ini karena statusnya bisa saja berubah menjadi musuh jika perjanjian itu dilanggar atau telah berakhir.

Allah Swt. berfirman,

"Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, tetapi Allah mengetahui." (QS. Al-Anfal: 60)

Kelima, bagi orang-orang kafir harbi hukman yang mengikat perdagangan luar negeri dengan negara Islam, maka tidak dibolehkan memasuki negara Islam, kecuali ada izin atau paspor khusus dari negara Islam. Ini juga berlaku kepada komoditas kafir harbi hukman yang akan masuk ke negara Islam. Tak hanya itu, untuk komoditas yang masuk, akan dikenai tarif bea cukai sebagaimana negara kafir tersebut memberlakukan bea cukai saat komoditas negara Islam masuk ke dalam negara mereka.

Keenam, bagi para pelaku bisnis perdagangan luar negeri yang tidak memiliki kesepakatan dengan negara Islam dan tidak memiliki izin untuk masuk, maka dianggap sebagai kafir harbi, yang darah dan hartanya tidak dapat dilindungi oleh negara Islam.

Ketujuh, bagi semua pelaku bisnis luar negeri yang merupakan warga negara Islam, baik muslim maupun kafir zimi, maka komoditas mereka tidak dikenakan beban apa pun, termasuk bea cukai. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah saw.,

"Tidak akan masuk surga orang yang memungut bea cukai, yakni sepersepuluh." (HR. Abu Ubaidah, Ahmad, dan Ad-Darimi)

Penutup

Dalam Islam, perdagangan luar negeri yang terjalin antara negara Islam dengan negara lain jelas tidak boleh merugikan dan mengganggu keamanan negara. Karena Allah Swt. telah melarang umat Islam untuk memberi jalan bagi kaum kafir dalam menguasai umat Islam. Oleh karena itu, keberadaan negara Islam yang menerapkan semua syariat Islam adalah kebutuhan umat Islam. Selain merupakan sebuah perintah dari Allah Swt. yang bersifat wajib kifayah. Wallahu a'lam bishawab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

RI Sulit Menjadi Negara Maju?

”Status negara maju dan berkembang hakikatnya hanya untuk memudahkan para kapitalis dunia dalam menjajah. Negara berkembang yang belum menguasai teknologi dan minim modal dengan mudah diarahkan oleh negara maju.”


Oleh. Mariyah Zawawi
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Indonesia mengalami penurunan status. Sejak tanggal 1 Juli 2021, negara kepulauan ini ditetapkan sebagai negara berpenghasilan menengah ke bawah atau lower middle income country oleh Bank Dunia. Padahal, pada tahun 2020, Indonesia telah ditetapkan sebagai negara maju. Dapat dikatakan bahwa Indonesia hanya satu tahun menjadi negara maju.

Turunnya status Indonesia ini disebabkan oleh penurunan GNI (Gross National Income) atau pendapatan nasional bruto. GNI merupakan gabungan dari PDB (Produk Domestik Bruto) dan pendapatan dari pembayaran yang dilakukan oleh negara lain, seperti bunga dan dividen. (Kompas.com, 4/8/2021)

Faktor Penghambat

Istilah middle income trap mulai diperkenalkan oleh Bank Dunia pada tahun 2007 dalam laporannya yang berjudul An East Asian Renaissance: Ideas for Economic Growth. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, middle income trap berarti jebakan pendapatan kelas menengah. Hal ini menunjukkan bahwa suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah. Namun, kondisi itu tidak berubah dalam jangka waktu yang lama. Akibatnya, negara itu tidak berhasil memperbaiki kondisinya menjadi negara maju.

Seperti yang terjadi pada Indonesia. Negara khatulistiwa ini telah menyandang predikat sebagai negara berkembang pada tahun 1980 bersama dengan beberapa negara di wilayah Asia. Saat itu, Indonesia berhasil menaikkan statusnya dari negara berpendapatan rendah menjadi berpendapatan menengah.

Namun, ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998, Indonesia kembali menjadi negara berpenghasilan rendah. Pada tahun 2002, Indonesia kembali berhasil menjadi negara berpendapatan menengah. Bahkan, termasuk negara berpenghasilan menengah ke atas. Pada tahun 2020, Indonesia mendapat predikat sebagai negara maju.

Sayangnya, pandemi Covid-19 menyebabkan posisi Indonesia kembali turun. Maka, selama 29 tahun, Indonesia bertahan menjadi negara berpenghasilan menengah. Dengan kata lain, Indonesia terkena middle income trap.

Karena itu, pemerintah berupaya untuk menaikkan status Indonesia agar kembali menjadi negara maju. Menurut Menkeu Sri Mulyani Indrawati, ada empat jurus yang dapat mengeluarkan Indonesia dari jebakan ini. Pertama, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). SDM yang berkualitas menjadi kunci utama, karena produktivitas dan inovasi berbanding lurus dengan kualitas SDM.

SDM yang berkualitas adalah SDM yang berpendidikan, sehat, serta terpenuhi gizinya. Karena itu, peningkatan kualitas SDM berarti juga harus meningkatkan pemenuhan hak dasar manusia dalam pendidikan, kesehatan, serta jaminan sosial. Maka, negara berkewajiban untuk menyediakan semua sarana dan prasarana agar semua lapisan masyarakat dapat mengaksesnya.

Kedua, membangun infrastruktur yang tepat dan berkualitas. Untuk melakukan hal ini, negara harus melibatkan swasta. Sebab, dana APBN terbatas. Sedangkan, untuk membangun infrastruktur dibutuhkan dana yang besar.

Ketiga, birokrasi yang sederhana. Hal ini didasarkan pada pengalaman 20 negara yang lolos dari middle income trap. Negara-negara ini memiliki birokrasi yang agile, efisien, serta tata kelola yang bagus. Keempat, melakukan transformasi ekonomi menjadi ekonomi berbasis digital.

Dengan jurus ini, Indonesia diperkirakan akan keluar dari middle income trap pada tahun 2030. Saat itu, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 300 juta. Seiring dengan itu, pendapatan negara akan naik tiga kali lipat menjadi 12.000 dolar AS.

Namun, Didin S. Damanhuri, ekonom senior Indef (Institute for Development and Economics Finance), menyatakan bahwa Indonesia sulit menjadi negara maju. Sebab, para pengusaha di sini merupakan pemburu rente. Mereka hanya fokus pada pengumpulan modal. Mereka tidak peduli dengan inovasi teknologi dan entrepreneurship.

Di samping itu, mereka juga terlibat dalam perpolitikan. Banyak dari mereka yang menjadi pengurus dan anggota parpol. Mereka juga membiayai setiap event politik. Mereka menjadi oligarki ekonomi, bisnis, bahkan politik. Hal ini menghalangi mereka dari fokus pada upaya industrialisasi.

Padahal, faktor utama untuk keluar dari posisi middle income trap adalah industrialisasi. Seperti yang dilakukan oleh Malaysia dan Korea Selatan yang melakukan industrialisasi sejak awal. Sedangkan Indonesia menjalankan strategi industrialisasi pada tahun 1980-1990. Setelah itu, tidak tampak lagi perspektif industrialisasi, grand design, blue print, dan peta jalan yang kongkrit.

Negara Maju dan Kemakmuran

Standar yang digunakan untuk menentukan apakah suatu negara termasuk negara maju atau berkembang adalah GNI. Standar yang dibuat oleh Bank Dunia dapat berubah. Sejak 1 Juli 2021, suatu negara disebut sebagai negara maju jika besarnya GNI per kapita antara 4.096-12.695 dolar AS. Standar yang ditetapkan sebelumnya adalah 4.046-12.535 dolar AS.

Adapun negara yang memiliki GNI per kapita antara 1.046-4.095 dolar AS disebut sebagai negara berpenghasilan menengah ke bawah. Ini merupakan standar per 1 Juli 2021. Sedangkan standar sebelumnya berkisar antara 4.046-12.535 dolar AS.

Pada tahun 2019, GNI Indonesia mencapai 4.050 dolar AS. Namun, pada tahun 2020, turun menjadi 3.870 dolar AS. Inilah yang menyebabkan status Indonesia kembali turun menjadi berpenghasilan menengah ke bawah. Penurunan status ini otomatis menjadikan Indonesia tidak lagi menjadi negara maju.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah status sebagai negara maju menandakan bahwa seluruh rakyat Indonesia itu makmur? Faktanya, tidaklah demikian. Pada tahun 2021, pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai 4,3 ribu dolar AS. Nilai itu jauh dari PDB pada tahun 2001 yang hanya sebesar Rp7,2 juta. Namun, distribusi pendapatan tersebut tidak merata, bahkan semakin melebar.

Hal ini berdasarkan data dari WIR (World Inequality Report) tahun 2022. Data tersebut menunjukkan bahwa sebesar 46,86% PDB disumbang hanya oleh 10% penduduk kelompok ekonomi teratas. Sedangkan 50% penduduk ekonomi bawah, hanya memberikan kontribusi sebesar 12,45%. Data ini tidak berubah sejak tahun 2018.

Sedangkan data dari BPS menunjukkan bahwa pendapatan kelompok ekonomi terbawah yang jumlahnya mencapai 50% populasi, hanya Rp22,6 juta per tahun. Artinya, pendapatan mereka per bulan hanya Rp1,8 juta. Angka ini jauh di bawah pendapatan kelompok 10% teratas yang mencapai Rp285,07 juta per tahun.

Jumlah penduduk miskin juga cukup besar. Padahal, kekayaan penduduk rata-rata meningkat empat kali lipat dalam dua dekade terakhir. Pada bulan September 2022, jumlah penduduk miskin mencapai 26,36 juta dengan ambang batas kemiskinan sebesar Rp535.547 Mayoritas berada di Pulau Jawa dan Sumatera. Padahal, ibukota negara terletak di Pulau Jawa. Per September 2022, jumlah penduduk miskin di Pulau Jawa mencapai 13,94 juta. Sebagian besar dari mereka tersebar di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Hal itu menunjukkan bahwa distribusi kekayaan tidak merata. Data berikut ini semakin memperkuat hal itu. Pada tahun 2021, kelompok 50% ekonomi terbawah hanya memiliki 5,46% kekayaan rumah tangga nasional. Sebaliknya, 60,2% kekayaan rumah tangga nasional dimiliki oleh kelompok 10% penduduk kaya. Fakta ini menunjukkan bahwa naiknya PDB tidak secara otomatis akan menaikkan kesejahteraan seluruh rakyat. (cnbcindonesia.com, 18/1/2023)

Negara Berkembang sebagai Jajahan Negara Maju

Status negara maju dan berkembang hakikatnya hanya untuk memudahkan para kapitalis dunia dalam menjajah. Negara berkembang yang belum menguasai teknologi dan minim modal dengan mudah diarahkan oleh negara maju. Hal itu dilakukan melalui perjanjian antarnegara, baik bilateral maupun multilateral. Setiap negara yang menandatangani perjanjian tersebut harus tunduk terhadap kesepakatan yang telah dibuat. Meskipun pada kenyataannya, negara berkembang hanya menjadi objek penderita.

Seperti yang terjadi pada Indonesia, saat melakukan pelarangan ekspor bijih nikel. Uni Eropa yang merasa dirugikan dengan adanya pelarangan ini, menggugat Indonesia ke WTO (World Trade Organization). WTO pun memenangkan Uni Eropa dengan alasan bahwa tindakan Indonesia melanggar ketentuan WTO.

Demikian pula saat Indonesia membatasi impor produk agrikultur. Lagi-lagi, Indonesia digugat ke WTO. Kali ini oleh Amerika Serikat dan Selandia Baru. Indonesia pun kalah.

Di samping melalui perjanjian, cara lain yang digunakan untuk mengendalikan negara berkembang adalah dengan memberikan pinjaman. Pinjaman berbasis riba itu akan terus menjerat negara berkembang. Maka, negara berkembang itu harus mau didikte oleh negara pemberi utang. Misalnya, harus mengurangi atau bahkan menghapus subsidi, melakukan privatisasi di berbagai sektor, dan sebagainya.

Maka, negara berkembang yang sebagian besar merupakan negeri-negeri Islam ini harus menggunakan aturan selain Islam. Mereka dipaksa untuk meninggalkan syariat Allah Swt. yang seharusnya mereka jalankan. Akibatnya, mereka ditimpa berbagai kesempitan hidup. Allah Swt. sebenarnya telah mengingatkan hal ini dalam surah Thaha [20]: 124,

ومن اعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة اعمى

"Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit dan akan Kami bangkitkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Sistem Ekonomi Islam Memakmurkan Rakyat

Sistem kapitalisme terbukti hanya memakmurkan sebagian kecil anggota masyarakat. Distribusi kekayaan yang tidak merata menyebabkan terjadinya ketimpangan ekonomi yang lebar. Karena itu, sistem ini tidak seharusnya dipertahankan.

Sistem ekonomi yang telah terbukti memakmurkan masyarakat adalah sistem ekonomi Islam. Sistem ini tidak hanya mengejar angka PDB yang tinggi. Demikian pula, tidak mengejar status sebagai negara maju.

Namun demikian, dalam sejarah peradaban Islam, sistem ekonomi Islam mampu mewujudkan negara yang maju. Negara yang mengembangkan riset, teknologi, serta manufaktur. Di samping itu juga mengadopsi teknologi untuk kemaslahatan umat.

Karenanya, pada masa itu banyak penemuan di bidang teknologi. Misalnya, penemuan kincir angin oleh Banu Musa bersaudara. Di samping itu juga ada banyak penemuan lain, seperti alat untuk memprediksi cuaca, ventilator pertambangan, dan lain-lain. Berbagai penemuan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan.

Kesejahteraan ini akan dinikmati oleh semua kalangan, jika distribusi kekayaan merata. Untuk ini, Islam telah mewajibkan zakat kepada orang-orang kaya yang dapat dibagikan kepada delapan golongan. Di samping itu, negara juga dapat memberikan harta kekayaan berupa modal, tanah, atau makanan secara gratis. Dengan cara seperti ini, akan tercipta negara maju dan makmur serta diridai oleh Allah Swt.
Wallaahu a'lam bi ash-shawaab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Bukan Pesawat Kertas

"Ingatlah, kita bukan sekadar pesawat kertas yang akan basah ketika terkena air dan terjun bebas ketika tiada angin. Maka bangkitlah kembali untuk menggapai harapan yang lebih tinggi. Menjadikan masalah sebagai alat bantu untuk kita berdiri gagah. Memperbanyak sabar dan tidak berputus asa dengan kasih sayang dan rahmat Allah. Karena Allah telah mengingatkan kita dalam surah Al-Baqarah ayat 153."


Oleh. Isty Da’iyah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sebuah lagu sederhana dengan lirik yang menarik beberapa hari yang lalu sempat mampir di telingaku. Untuk orang yang jarang mengikuti perkembangan musik atau mendengarkan lagu, ini lumayan enak didengar. Liriknya sederhana namun kalau dicermati penuh makna.

Salah satu bait yang diulang-ulang dalam lagu tersebut adalah:

Hidup bagaikan, pesawat kertas terbang dan pergi membawa impian, sekuat tenaga dengan embusan angin terus melaju terbang.

Jangan bandingkan terbangnya tapi bagaimana dan apa yang dilalui. Karena itulah satu hal yang penting yang selalu sesuai kata hati.

Hidup bagaikan pesawat kertas terbang membawa cinta kita semua. Sayap yang terbentang dengan percaya diri dilihat semua orang.

Walau tak tahu cara melipatnya suatu saat pasti akan berhasil, lalu terbang kekuatan harapan yang menerbangkannya, marilah nikmati.

Bait lagu itu menggambarkan betapa kehidupan ini bagaikan pesawat kertas. Di mana terbang mengikuti arah angin biar pun lemah ia punya sedikit tenaga dan harapan. Menikmati setiap embusan angin dalam kehidupan, agar hidup terasa lebih ringan.

Kita memang tidak ingin membahas sebuah lagu, namun terkadang lagu itu bisa menjadi sebuah renungan bagi seseorang. Kadang kala hidup tidak seindah yang diinginkan, tetapi kita harus tetap yakin janji Allah Swt.

Penting menjadi orang optimis, yang menggunakan cara pandang keyakinan bahwasanya Allah akan selalu memberikan kebaikan di setiap apa yang menimpa diri kita. Ujian bukan menjadikan kita lemah, namun karena ujianlah yang akan membuat kita makin kuat dan tidak mudah menyerah.

Kita boleh sejenak terperangah dengan apa yang kita alami. Tetapi bukan berarti diri kita menjadi lemah dan tidak bergairah dalam menghadapi apa yang terjadi. Kehidupan memang sangat keras, laksana deburan ombak yang memecah batu-batu karang. Namun, hal ini harus menjadikan kita sebagai penakluk kerasnya gelombang. Menjadi peselancar sejati yang bisa melewati derasnya arus kehidupan ini.

Boleh jadi Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai cara, namun kita harus memahami jika dengan ujian-Nya, Allah akan mendewasakan kita. Jika diuji dengan kegagalan, bukan berarti kegagalan akhir dari semuanya. Allah uji dengan musibah, namun mencari solusi dari akar masalah dan bersabar, akan menjadikan kita manusia yang pantang menyerah. Bukankah Allah Subhanahu Wa Taala telah mengingatkan kita dalam surah Al-Baqarah ayat 216 yang artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal Ia amat buruk bagimu Allah Maha Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

Sehingga untuk apa terus-menerus meratapi semua ujian dengan kesedihan. Selagi napas masih ada, selagi ada harapan, ruang, dan peluang untuk merubah keadaan, why not?

Ingatlah, kita bukan sekadar pesawat kertas yang akan basah ketika terkena air dan terjun bebas ketika tiada angin. Maka bangkitlah kembali untuk menggapai harapan yang lebih tinggi. Menjadikan masalah sebagai alat bantu untuk kita berdiri gagah. Memperbanyak sabar dan tidak berputus asa dengan kasih sayang dan rahmat Allah. Karena Allah telah mengingatkan kita dalam surah Al-Baqarah ayat 153 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Taala bersama orang orang yang sabar.”

Beginilah kebaikan dari seorang muslim. Jika ditimpa musibah dan masalah dia akan sabar. Demikian pula ketika mendapatkan nikmat ia akan bersyukur.

Menjadi manusia yang yakin akan pertolongan Allah akan membuat kita menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah cemas dan menjadi pribadi yang percaya diri. Jika ditimpa masalah dan musibah segeralah bangun dari keterpurukan. Membangun rasa syukur dan melihat sekelilingmu dengan mata hati yang bersih. Hidupmu adalah pemberian Allah, maka selayaknya kita bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita. Dengan hati yang bersih maka kita bisa mengubah pandangan kita terhadap kehidupan.

Memang tidak dapat dimungkiri sistem kapitalisme sekularisme telah banyak membuat sebagian besar dari kita sering melupakan hakikat sabar dan syukur. Sistem yang rusak telah melenakan manusia dengan gemerlapnya dunia yang segala sesuatunya dihitung dengan materi belaka. Padahal dunia dan segala yang ada adalah fatamorgana yang sifatnya sementara. Maka segeralah bangun dari keterpurukan ini. Kita bangun rasa syukur dan sabar kita.

Dengan hati yang bersih kita ubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Marilah kita mencari cara agar kita senantiasa bersabar dan bersyukur, di antaranya:

Pertama, jaga hati kita dengan memberi “makanan hati” dengan asupan yang bergizi. Yakni dengan mengikuti kajian, duduk dalam majelis ilmu, dan mempelajari agama Islam secara kaffah dan mendalam. Sebagaimana kita tahu Islam merupakan agama yang sempurna, dengan mempelajarinya maka kita akan mendapatkan petunjuk hidup dan jalan yang lurus menerapkannya dalam kehidupan akan mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan.

Kedua, mengkaji Islam dengan menadaburi Al-Qur'an dan As-Sunah. Jadikanlah ini sebagai buku panduan atau “manual book ” yang Allah turunkan untuk seluruh umat manusia. Karena Rasulullah telah berwasiat kepada umatnya tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedoman hidup. Sebagaimana beliau bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim yang artinya:

“Aku tinggalkan kepada kamu umatku dua perkara. Jika kamu berpegang teguh kepada keduanya maka niscaya kamu tidak akan tersesat untuk selama-lamanya. Perkara itu adalah Al-Qur'an dan As-Sunah.”

Ketiga, berkumpul dengan teman-teman yang saleh yang satu frekuensi dengan kita, baik pemikiran dan perasaan yang sama. Mencari teman yang memiliki satu visi dan misi dengan kita, sehingga dapat menjadi teman seperjuangan dalam mengkaji Islam. Demikian juga dalam mendakwahkannya, teman yang baik akan mengingatkan kita ketika kita berbuat salah.

Hidup di dunia hanya sekali, jangan sampai kita rugi. Selayaknya kita isi dengan pundi-pundi amal yang akan bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti. Hidup bukan pesawat kertas, ada amalan yang diperhitungkan di yaumil hisab. Wallahu a'lam bishawab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com