Dunia Tanpa Denting

”Jika memang kali ini Engkau kirimkan dunia tanpa denting untuk telinga kiriku, masih bolehkah aku berharap agar Engkau pertajam pendengaranku di telinga kananku sehingga aku masih bisa menghasilkan karya-karya video semata untuk dakwahku.”

Oleh. Andrea Aussie
(Pemred NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Kuterbangun dalam keheningan malam. Kutengok jam dinding menunjukkan pada angka 02.30 am. Seperti hari-hari biasa tubuhku selalu terbangun untuk segera mandi dan menuju ke haribaan-Nya. Menyerahkan diri pada Sang Pemilik di sepertiga malam. Bukankah Islam senantiasa mengingatkan umatnya.

“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (TQS. Al-Isra’: 79).

Bahkan Rasulullah saw. pun menganjurkan dalam sabdanya, “Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, ‘Siapa yang memanjatkan doa pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Aku merasakan ada hal aneh pada tubuhku saat kuterbangun tadi. Tubuhku serasa menggigil hebat, namun suhu tubuhku mencapai 39 celcius. Dan hatiku tersentak saat kurasakan ada cairan merah kehitam-hitaman yang mulai mengering sekitar telinga kiriku. Semula kupikir itu bercak darah dari batukku yang tak sempat kubersihkan.

Ya, lebih dari 2 minggu aku mengalami batuk dan flu yang berkepanjangan setiap kali musim dingin datang. Selain batuk dan flu, kulit tubuhku juga sering mengalami bercak merah yang hampir mengelupas di bagian tertentu. Perih dan gatal dan harus terus diolesi dengan krim. Biasanya aku akan mengalaminya paling lama 1 bulan sepanjang musim dingin tiba.

Aku berusaha tidak menangis dalam tahajudku. Berusaha menerima apa yang terjadi pada telingaku. Sudah sering tangisanku mewarnai tahajudku seolah protes akan kehendak-Nya. Namun kali ini aku mencoba menerima dalam kelapangan hatiku. Aku yakin bahwa Allah Swt. memberikan rasa sakit semata ingin menempa diriku sejauh mana keimanan dan keikhlasanku menerima ujian-Nya. Allah Swt. ingin membuatku makin dewasa dalam menghadapi kehidupan yang keras ini.
Bukankah Allah Swt. pernah berfirman dalam surah Al-Imran ayat 139 “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman?”

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada umatnya dalam hadis Bukhari: ”Tidak ada seorang muslim pun yang ditusuk oleh duri atau lebih dari itu kecuali Allah pasti akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.”

Seperti hari biasanya aku selalu mem- publish naskah-naskah para penulis ideologis untuk media dakwah www.NarasiPost.Com setelah tahajudku atau saat makan siang. Tetapi terkadang aku mencoba publish seharian jika waktu liburku tiba atau ada waktu senggang.

Berulang kali aku mencoba mencari orang yang bisa membantuku publish naskah di website NarasiPost.Com namun nyatanya sampai kini tak ada seorang pun yang mampu menggantikanku.

Ada yang bisa edit naskah di website, namun dia tidak mampu untuk desain image untuk naskahnya. Ada juga bagian desain yang memiliki kemanpuan desain image namun nyatanya dia hanya sanggup untuk desain flyer ataupun cover buku. Ada juga yang bersedia desain images untuk naskah publish tapi dia hanya sanggup membuat 2 image setiap harinya itu pun minta bayaran cukup tinggi. Jujur saja aku menolaknya karena bagaimana pun NarasiPost.Com media dakwah bukan perusahaan yang mampu menggaji di atas 2 juta rupiah untuk seorang designer. Kadang aku heran kenapa banyak orang selalu memandang bahwa NarasiPost.Com gudangnya duit untuk siapa pun yang berkontribusi sebagai timnya? Tidak adakah jiwa semata untuk berdakwah via media literasi?

Akhirnya aku tetap turun tangan untuk meng- handle naskah-naskah yang publish dengan keterbatasan mata kananku yang mulai buta, rasa sakit yang luar biasa dari ketidaksempurnaan gigi-gigiku dan sekarang telinga kiriku yang mulai terasa tuli.

Kepalaku berdenyut hebat. Percikan darah dari batukku tiada henti dan sumbatan di hidungku terasa sesak untuk sekadar menghirup udara. Saat kucoba bersihkan sumbatan hidungku dengan tisu, kurasakan daerah kupingku berdengung hebat seolah katupan genderang telinga terbuka dan tanpa terasa tetesan darah mengalir lagi dari telingaku. Aku mencoba bertahan walau tetesan bening mulai mengambang di pelopak mataku dan berucap: ”Ya Allah, berikan kekuatanku untuk menyelesaikan amanah di NarasiPost.Com ini. Beri aku waktu untuk tetap berdakwah menyebarluaskan lagi tulisan para penulis ideologis yang tetap mengibarkan panji-Mu dalam dunia literasi ini. Jangan biarkan tetesan air mata menghalangi pandangan mataku yang tidak sempurna ini.”

Dunia tanpa denting…
Inilah yang kini kurasakan. Vonis dokter sempat membuatku tertegun lemas walaupun memang aku sudah memprediksinya sebelumnya. Butiran dan cairan obat-obatan yang diberikannya menambah deretan jamuan obat yang harus kukonsumsi setiap waktu. Seolah ragaku ini menjadi tempat sampah zat-zat kimia itu.

Kutatap tubuhku di depan cermin. Terasa sembilu menghunjam jantungku hingga bibirku terkatup rapat dan hanya mampu membiarkan deraian air mataku mengalir deras.
Kupijit lembut area telinga kiriku. Telinga yang tak mampu mendengar bisingnya dentingan kehidupan apalagi suara lembut semilir angin. Pendengaranku hanya terpaku pada telinga kananku.

Kuusap mata kananku yang sudah berbulan-bulan mengalami penurunan fungsi penglihatan menuju kebutaan sejak peristiwa jatuh dari tangga lantai 3 dan terkena cipatran zat kimia yang keras. Kubuka mulutku yang terpasang alat canggih semata agar aku bisa makan dan minum. Alat canggih yang tertanam dalam gusiku dan menggantikan gigi-gigi asliku yang dicabut paksa demi menghindari kebutaan dua mataku. Syaraf-syaraf daerah gigiku banyak yang rusak akibat penyiksaan keluargaku saat aku masih kecil dulu.

Kuacungkan telapak tangan kiriku. Lengkap ada 5 jari walaupun ibu jariku tidak bisa digerakan secara normal. Selama puluhan tahun aku hanya mempergunakan 9 jariku. Ibu jemari yang bengkok karena terpotong mesin gergaji. Peristiwa yang terjadi setelah beberapa bulan rumah dan kebunku dihancurkan oleh saudara-saudaraku yang sangat iri atas harta kekayaanku. Sebesar apa pun aku membantu perekonomian mereka tetap saja tidak akan pernah memuaskan mereka. Mereka akan puas jika aku merangkak mengiba belas kasihan mereka. Sementara aku tipe orang yang lebih suka pergi mengalah dan membiarkan mereka menguasainya. Aku akan kembali dengan membawa keberhasilan lain sebagai pengganti kehilangan. Seperti halnya saat kolam ikan anakku yang dicuri, di jual oleh mereka maka aku menggantinya dengan membeli kolam baru 5 kali lebih luas dari kolam yang mereka rebut.

Mungkin aku terlalu egois. Tapi hatiku sudah bertekad, cukup sudah 20 tahun aku dihina dan dianiaya dengan kekejaman mereka. Penyiksaan yang memberi kecacatan fisikku dan derita batin yang tiada tara yang tak mungkin aku biarkan terulang lagi. Aku tidak pernah membalas kekejaman mereka dengan sikap sadis yang mereka lakukan dulu, tapi justru memberi bantuan ekonomi mereka yang mulai hancur setidaknya bisa menyadarkan mereka bahwa bagaimana pun aku adalah bagian dari mereka. Ya aku memaafkan mereka, walaupun sangat sulit menepis kenangan pahit atas kekejaman mereka. Lagipula Allah Swt. sudah membalas perbuatan mereka dengan peristiwa-peristiwa menyakitkan pada keluarga mereka.

Kuputar punggungku. Kuraba bagian tulang rusukku yang pernah patah akibat jatuh dari ketinggian 3 meter di Indonesia. Walaupun pernah dioperasi, namun sampai kini rasa sakit seperti tusukan pisau belati yang tajam cukup menyiksaku.Terlebih saat tubuhku benar-benar kelelahan akibat kerjaku.

Kupandangi tumpukan tisu yang penuh bercak darah dari batukku. Dengan tanganku yang bergetar kumasukan pada plastik sampah.

“Ya Allah, aku mencoba memahami dan menerima semua ujian-Mu. Engkau mengujiku dengan harta dan rasa sakit yang tiada henti. Aku tidak ingin mengeluh terus-terusan kepada-Mu. Kalau Engkau izinkan, kuatkan aku menerima semua ujian-Mu. Tambahkan lagi kesabaran dan ketabahanku mengatasinya. Jadikan aku wanita kuat yang mampu menyembunyikan tangisan kepedihan dengan ulasan senyuman. Jangan biarkan anakku meraba dan merasakan kepedihan hati ibunya sendiri. Biarkan mereka menatap masa depannya tanpa rasa khawatir akan rasa sakit ibunya. Izinkan aku tetap membersamai orang-orang yang masih ingin berdakwah dalam dunia literasi. Jika memang kali ini Engkau kirimkan dunia tanpa denting untuk telinga kiriku, masih bolehkah aku berharap agar Engkau pertajam pendengaranku di telinga kananku sehingga aku masih bisa menghasilkan karya-karya video semata untuk dakwahku. Maafkan aku ya Allah, terlalu banyak permintaanku kali ini dan seolah aku tidak sabar menerimanya, padahal Engkau berkali-kali mengingatkanku: ”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS. Al Baqarah [2]: 155)

Dunia tanpa denting…
Menemani hari-hariku bersama separuh dunia tanpa warna dalam bercak darah yang tiada henti. Namun, aku tidak boleh mengalah karena aku yakin suatu saat aku bisa sembuh. Aku juga tahu masih banyak orang di luar sana yang lebih parah daripada keadaanku, namun mereka tidak pernah menyerah menjalani kehidupannya.
Jika mereka bisa bertahan, lalu kenapa aku tidak bisa bertahan? So, biarkan aku menjadi wanita kuat yang bisa menginspirasi orang lain dan menjadi mentari yang bisa menyinari hidup orang banyak. Biarkan aku tetap menyemai benih kebaikan karena kuyakin kebaikan hanya akan didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta.
Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

Double Bay, 20 Mei 2023[]


Photo : Pribadi &google

Teknik Jitu Membuat Opini Bermutu

"Bagaimana agar tulisan kita bermutu? Pertama, tentukan inti pesan yang mau kita sampaikan, wujudkan dalam satu kalimat pendek. Kedua, buat anak tangga pemahaman, jangan ujug-ujug. Selama kita menulis sejak pembukaan hingga penutup, harus bermuara pada konklusi tersebut. Jangan bertentangan atau melebar ke mana-mana."

Oleh. Ragil Rahayu
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Jazakunnallah khairan atas kesempatan yang diberikan ke saya untuk sharing malam ini. Walaupun rasanya kayak "nguyahi segoro" karena di sini anggotanya penulis-penulis hebat semua.

Opini yang bermutu itu seperti apa, sih?
Kalau menurut saya, opini disebut bermutu jika pesan yang disampaikan penulis sampai ke pembaca secara tepat sasaran. Misalnya penulis ingin menyampaikan A, maka pembaca menerimanya juga A. Bukan A+, A-, atau malah B. Berarti, tidak boleh ada miss komunikasi (miskom) antara penulis dan pembaca.

Nah, dari mana kita tahu bahwa opini kita sudah tepat sasaran atau belum? Tentu saja dari pembaca. Pembaca itu bisa jadi teman kita yang kita minta untuk membaca naskah kita, atau redaktur media yang kita tuju. Jika teman, kita minta dia untuk memberi kritik dan saran. Jika redaktur media, dimuat atau tidaknya tulisan kita merupakan indikator mutu tulisan kita. Tapi, ketika tulisan kita enggak dimuat di media, belum tentu tulisan kita jelek, bisa jadi karena enggak bagus.

Bagaimana agar tulisan kita bermutu?

  1. Tentukan inti pesan yang mau kita sampaikan, wujudkan dalam satu kalimat pendek. Namun, ada juga media yang filternya longgar sehingga setiap tulisan yang masuk selalu dimuat. Ya enggak apa-apa, sih, itu kebijakan redaksi.

Namun, alhamdulillahnya, filter di NP rapet banget. Jadi, no baper-baper klub, ya. Kalau disuruh revisi, ayo saja! Itung-itung mengulang masa skripsi, biar terasa awet muda. Misalnya, sekarang lagi musim perselingkuhan, eh, selingkuh, kok, musim, sih? Lebih tepatnya sedang banyak kasus perselingkuhan. Nah, kita bisa membuat naskah dengan pesan inti:
Perselingkuhan marak terjadi karena gaya hidup bebas (liberalisme).

  1. Buat anak tangga pemahaman, jangan ujug-ujug.
    Nah, selama kita menulis sejak pembukaan hingga penutup, harus bermuara pada konklusi tersebut. Jangan bertentangan atau melebar ke mana-mana.
  2. Gunakan analisis yang tepat.
    Sebuah fakta memungkinkan dianalisis dengan berbagai cara, tergantung selera penulis. Misalnya, membahas perselingkuhan dari sudut pandang budaya, tata ruang, dsb. Namun, kita harus bisa menentukan analisis yang paling tepat sehingga bisa makjleb ke benak pembaca.

Pecahlah target mafhum keseluruhan tulisan yang sudah kita buat menjadi beberapa bagian.
Misalnya:

Masing-masing bagian tersebut bisa menjadi satu subbab dalam tulisan kita. Untuk dalil, selain berupa ayat Al-Qur'an dan hadis, bisa berupa qaul ulama. Jangan lupa dilengkapi nama kitab yang memuatnya.

  1. Perkuat dengan data dan dalil.
    Logika saja tidak cukup untuk menguatkan argumentasi kita dalam naskah. Namun, kita butuh pendukung berupa data dan dalil. Pastikan sumber data kita kredibel. Hindari menjadikan hasil screenshot sebagai referensi. Telusuri sumbernya hingga kita yakin memang sumber tersebut kredibel.
  2. Pastikan konstruksi pemikiran kita terjaga sejak awal hingga akhir tulisan. Tidak belok-belok, atau malah muter-muter. Dengan menjaga keutuhan konstruksi pemikiran, tulisan kita akan terasa sambung menyambung sehingga enak dibaca dan bisa menghasilkan satu kesimpulan yang kita harapkan.
  3. To the point.
    Tulisan kita, jika hendak tayang di media, terbatasi oleh jumlah karakter maksimal. Oleh karena itu, maksimalkan space yang ada. Sedot lemak-lemak kata yang menggelambir agar tulisan kita langsing dan singset.

Tanya Jawab

  1. Haifa Aiman

Pernyataan pemateri tentang hindari menjadikan hasil screenshot sebagai referensi. Maksudnya bagaimana? Mohon berikan contohnya.

Jawaban:

Kita sering, 'kan, baca berita di medsos (media sosial) seperti Facebook atau WhatsApp, berupa screenshot. Biasanya langsung ditanggapi begini dan begitu. Langsung heboh. Padahal, screenshot itu butuh dikonfirmasi dahulu sumbernya, diteliti tanggalnya, dll. sehingga klir bagi kita berita yang sebenarnya.

  1. Sartinah

Apa sudah cukup kalau tulisan kita misalnya hanya mengambil qaul ulama sebagai dalil tanpa hadis atau ayat?

Jawaban:

Tergantung kebutuhan. Mana dalil yang lebih menguatkan. Misalnya, kita membahas persoalan ijtihadiah, tidak cukup dengan ayat atau hadis, tetapi butuh qaul ulama yang kita adopsi. Misalnya, soal sanksi untuk orang-orang yang ada di lingkaran bisnis narkoba, itu dalilnya berupa qaul ulama, karena merupakan hasil ijtihad. Qaul ulama juga kita butuhkan untuk menunjukkan penyikapan ulama terhadap suatu hal. Misalnya, qaul ulama bahwa imam dalam hadis tertentu itu maksudnya khalifah, juga bahwa yang legal memberlakukan sanksi hudud adalah khalifah.

  1. Mariyatul Qibtiyah

Kalau saya memahami ini bukan dalil, tapi penjelasan dari dalil. Benarkah seperti itu?

Jawaban:

Yang saya maksud bukan dalil makna dalil syarak. Konteksnya adalah ketika menulis harus ada dalilnya.

Kuis
https://m.bisnis.com/kabar24/read/20230515/15/1655904/jk-prihatin-hanya-satu-muslim-yang-masuk-daftar-10-orang-terkaya-di-indonesia

Berdasarkan berita pada link tersebut, silakan membuat:

  1. Pesan inti yang hendak disampaikan (satu kalimat)
  2. Anak tangga pemahaman (beberapa sub bab)

Jawaban:

Sebenarnya tidak ada jawaban baku, karena menulis itu persoalan rasa juga. Apalagi angle tulisan juga macam-macam, dan itu diperbolehkan. Jadi satu tulisan bisa dibahas dari berbagai angle.

Nah, jawaban versi saya adalah:
Kalimat inti:
Muslim terpinggirkan secara ekonomi.

Jembatan pemahaman:

  1. Data hanya satu muslim yang masuk daftar 10 orang terkaya di Indonesia menunjukkan lemahnya kekuatan ekonomi umat.
  2. Mayoritas umat Islam terkategori miskin, ini menunjukkan peran ekonomi umat terpinggirkan dalam kapitalisme.
  3. Kondisi ini bertolak belakang dengan kondisi dalam khilafah, umat Islam adalah pelaku utama perekonomian sehingga terwujud kesejahteraan.
  4. Cara Islam mewujudkan ekonomi yang berkeadilan, didukung data sejarah.

Sekian dan terima kasih.[]

Kriteria Pemimpin Menurut Islam vs Mantan Koruptor

"Padahal seorang pemimpin itu mempunyai pengaruh yang mampu menggerakkan dan memengaruhi orang banyak. Jika pemimpinnya gemar bermaksiat, maka dikhawatirkan sifat buruknya tersebut akan ditiru kebanyakan orang, minimal para bawahannya sendiri."

Oleh. Muthiah Al Fath
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Belum 2024, namun gejolak politik dan gegap gempita pesta demokrasi sudah mulai dirasakan. Parpol dan elite politik gencar melakukan beragam manuver politik. Sosialisasi dan manipulasi politik dilakukan agar capres pilihannya terlihat baik di masyarakat, meskipun memiliki track record yang buruk.

Dilansir dari republika.co.id, eks napi kasus korupsi yang juga politikus PPP, Romahurmuziy (Romi), mengungkapkan kriteria calon presidennya.  Menurutnya, seorang pemimpin tidak perlu dilihat pada kualitas salat maupun kesalehannya, melainkan cukup dinilai integritasnya. Bahkan ia menjelaskan bahwa dalam kitab Al-Ahkam Sulthoniyah yang menjadi rujukan tata negara, seorang pemimpin ahli maksiat punya hak ditaati sepanjang dia tidak melarang kebebasan beragama. (11/5/2023)

Benarkah Pernyataan Romi Tersebut?

Saat yang berbeda, pernyataan Romi tersebut mendapat tanggapan dari Sastrawan Politik, Ahmad Khozinudin, S.H.. Ia menjelaskan, “Justru dalam kitab Al-Ahkam Sulthaniyah, Al-Mawardi mensyaratkan agar calon khalifah harus memenuhi syarat in’ikad (syarat wajib), yaitu muslim, laki-laki, adil, berakal, dewasa, merdeka, memiliki kemampuan untuk mengemban amanah kekuasaan, dan harus dari suku Quraisy. Syarat yang ditulis Al-Mawardi tersebut sama dengan yang disepakati oleh para ulama, kecuali masalah “suku Quraisy” hanya sebagai syarat afdhaliyah (syarat keutamaan) dan bukan syarat akad.”

Sehingga, tidak ada satu pun isi kitab Al-Ahkam yang menyatakan, "Seorang pemimpin ahli maksiat harus ditaati sepanjang dia tidak melarang kebebasan beragama”. Sebaliknya, pernyataan Romi tersebut jelas mungkar dan bertentangan dengan hadis Bukhari no.7257, “Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, ketaatan itu hanya dalam perkara yang makruf”.

Kitab Al-Ahkam sebenarnya membahas ilmu politik dalam Islam, yang ditulis berdasarkan permintaan Khalifah Al-Qa’im bi-Amrillah (422-467 H). Sayangnya, kitab tersebut tercoreng akibat pernyataan nyeleneh Rohmamurrozy. Dapat disimpulkan bahwa Romi telah berdusta atas nama Imam Al-Mawardi, agar umat Islam membenarkan pernyataannya dan memberikan dukungan kepada capres yang terkenal suka bermaksiat.

Diketahui terdapat seorang capres yang gemar menonton video porno, bahkan merasa bangga dan mempertanyakan di mana letak kesalahannya. Sehingga publik menyimpulkan bahwa pernyataan Romi tersebut seolah mewakili PPP mendeklarasikan dukungannya terhadap capres tersebut.

Dalam sistem demokrasi seseorang bebas berdusta bahkan mengungkapkan pernyataannya yang jelas-jelas bertentangan dengan agama. Kebebasan berpendapat ini dimanfaatkan oleh beberapa elite politik untuk mengelabui dan mengaburkan umat bagaimana karakter pemimpin dambaan yang sesuai dengan syariat Islam.

Perlu Kita Cermati!

Jika kita merujuk pada UU Nomor 7 Tahun 2017, Pasal 169 huruf a, menyebutkan bahwa salah satu syarat menjadi capres adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari sini saja telah jelas bahwa pernyataan Romi tersebut begitu paradoks. Bukankah makna takwa adalah memelihara diri untuk tetap melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya? Lantas bagaimana jadinya jika seorang pemimpin yang menjadi orang nomor satu tersebut ternyata gemar bermaksiat dan bangga dengan kemaksiatannya?

Bukankah iman dan takwa itu harus dibuktikan dengan amal perbuatan? Tak bisa dimungkiri, Jika seseorang tidak memiliki rasa takut kepada Allah Swt., maka ia tidak merasa malu lagi untuk bermaksiat bahkan bangga akan dosanya. Coba pikirkan, kepada Tuhannya saja ia tidak mau taat, apalagi pada aturan dan hukum buatan manusia. Artinya, selama hukum tidak mampu menjerat dan menjerumuskannya, maka ia akan berbuat seenaknya, termasuk mengabaikan amanahnya sebagai seorang pemimpin.

Padahal seorang pemimpin itu mempunyai pengaruh yang mampu menggerakkan dan memengaruhi orang banyak. Jika pemimpinnya gemar bermaksiat, maka dikhawatirkan sifat buruknya tersebut akan ditiru kebanyakan orang, minimal para bawahannya sendiri. Misalnya, pemimpin yang mendukung para koruptor, jelas akan didukung oleh pejabat yang memiliki jiwa korupsi juga. Sebab pemimpin akan menjadi teladan karena posisinya yang menonjol dan penting dalam sebuah negara.

Memang tidak dimungkiri, jika seseorang memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam memilih pemimpin. Ada yang memilih pemimpin demi dunia dan materi, dan ada beberapa orang memilih pemimpin dengan niat untuk agama dan akhiratnya. Keragaman motivasi dan latar belakang niat seseorang dapat terlihat dari sikap dan pernyataannya. Sehingga biasanya orang yang berhati-hati akan mencari tahu track record dari setiap capres sebelum ia menjatuhkan pilihannya.

Tidak Cukup dengan Pergantian Rezim

Beberapa elite politik ada yang ingin menghilangkan identitas Islam sebagai kriteria calon pemimpin dan berdalih seolah itu adalah ajaran Islam. Melihat potensi suara umat Islam yang besar, mereka pun menggunakan simbol-simbol Islam untuk meraih kemenangan politik. Terkadang capres yang memiliki representasi dari identitas Islam justru dihadapkan dengan kecaman.

Memang kondisi politik di negeri ini tidak baik-baik saja. Namun dengan berbagai krisis dan problem yang melanda hampir di semua lini kehidupan ini, publik masih menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah sekadar masalah kepemimpinan. Masyarakat pun berharap dengan mengganti pemimpin maka keadaan akan menjadi lebih baik. Padahal, telah terbukti bahwa keadaan negeri ini makin memburuk meskipun telah beberapa kali mengganti pemimpin.

Sebenarnya kondisi politik dalam demokrasi telah kritis, jika dipertahankan maka rakyat akan terjerumus kembali dalam optimisme buta. Sebab Pemilu 2024 sejatinya tidak berbeda dengan pemilu sebelumnya, di mana hanya menjadi wahana pertarungan oligarki untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, kontrol, dan dominasinya. Dalam demokrasi, capres dan partai yang didukung oligarki akan diberi kekuatan uang. Dari situlah mereka akan mudah melakukan money politic dan manipulasi di berbagai media sosial demi memudahkan segala urusannya untuk memenangkan pilpres. Jelas, rakyat akan kembali dirugikan karena tidak akan pernah lepas dari penjajahan oligarki.

Masalah Politik Adalah Masalah Umat

Realitasnya, negeri-negeri muslim saat ini menerapkan sistem kufur dan terkadang dipimpin oleh munafik bahkan kaum kafir. Namun, kebanyakan umat Islam tidak memahami bahwa masalah tersebut merupakan masalah vital.
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Nabi Muhammad saw. telah mengajarkan kepada umatnya agar Islam diterapkan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam berpolitik, memilih pemimpin, bahkan bernegara. Politik Islam tidak pernah menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, apalagi sampai harus berdusta. Hal ini karena Allah Swt. memerintahkan kaum muslim menegakkan negara dan memilih pemimpin semata-mata untuk menerapkan aturan berdasarkan hukum-hukum Islam. Sehingga, haram bagi umat Islam untuk memilih seorang kafir untuk dijadikan pemimpin. Sebab ia tidak mungkin menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.

Secara umum, pemerintahan adalah kekuasaan untuk menerapkan aturan-aturan yang diwajibkan oleh syariat kepada umat Islam dan digunakan untuk mencegah kelaliman, serta menyelesaikan perselisihan. Dengan demikian, pemerintahan adalah bentuk nyata dari upaya mengurusi kepentingan umat.

Untuk itu, sifat-sifat yang diutamakan bagi seorang pemimpin adalah kekuatan, ketakwaan, kebaikannya terhadap warga negara, serta tidak bersikap menakutkan. Seorang pemimpin harus kuat sebab orang yang lemah tidak pantas menjadi pemimpin. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan kepribadian, yaitu pola pikir dan pola jiwanya harus menyatu dengan kepemimpinannya. Sifat itulah yang membuat seorang pemimpin dapat memahami berbagai masalah dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kenegaraan.

Nafsiyah (kepribadian) seorang pemimpin harus terpadu dengan kepemimpinannya agar ia dapat mengendalikan kecenderungannya (muyul). Karena itu, seorang pemimpin harus memiliki kualitas yang mampu menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh buruk yang bertentangan dengan syariat Islam. Artinya, ia harus memiliki ketakwaan, baik secara pribadi maupun dalam hubungannya dengan tugas mengurus umat.

Bila seorang pemimpin memiliki ketakwaan, maka ia akan merasa selalu diawasi Allah Swt. (muraqabah) baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Dengan adanya iman dan takwa tersebut diharapkan ia akan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Otomatis seorang pemimpin tersebut secara zahir akan terlihat saleh, misalnya melaksanakan salat dan mewajibkan istrinya untuk berhijab.

Islam tak pernah terpisahkan dari urusan politik. Sebagaimana Rasulullah pernah menolak tawaran Suku Quraisy saat diminta untuk menjadi pemimpin mereka karena saat itu Makkah masih menerapkan sistem kufur. Rasulullah lebih memilih untuk melanjutkan dakwahnya demi penerapan Islam kaffah. Hingga Allah Swt. memperkenankan Islam tegak di Madinah.

Untuk itu, umat Islam seharusnya mempunyai agenda sendiri menuju kebangkitan hakiki, yakni dengan meneladani Rasulullah saw. melalui dakwah. Dengan begitu, umat akan memahami Islam dengan benar, menyadari kerusakan sistem sekularisme, dan tidak terjebak pada pemikiran yang salah. Alhasil, umat tidak lagi ikut-ikutan membela dan mendukung mati-matian capres tertentu, apalagi sampai harus menyerang capres lain. Sebab semua itu hanya akan menimbulkan kekecewaan, baik karena kekalahan maupun pengkhianatan. Sebaliknya, umat Islam harus menguatkan ikatan akidah dan ukhuwah agar tidak mudah diadu domba maupun terpecah-belah oleh musuh-musuh Islam.

Khatimah

Seharusnya kita sadar bahwa dalam sistem sekularisme, Islam hanya dijadikan sebagai objek permainan oleh para elite politik. Ironisnya, sistem sekularisme dibiarkan mengatur negeri ini, sedangkan syariat Islam dilarang dan didiskriminasi. Padahal, umat Islam merupakan mayoritas (87,8%) di negara ini. Di bawah demokrasi, mereka menghalalkan segala cara, melakukan pembodohan dengan berdusta membawa-bawa atribut dan syariat Islam hanya untuk memenangkan pertarungan politik.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Akan datang kepada kalian tahun-tahun penuh tipu daya; orang-orang akan memercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Mereka memercayai para pengkhianat dan tidak memercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, ruwaibidhah akan berbicara. Mereka bertanya, ‘Lalu apa itu ruwaibidhah?’ Rasulullah berkata, ‘Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh, (yang berbicara) tentang urusan umat.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Wallahu a’lam bishawwab.[]

Jangan Begitu, Karena Kamu

"Genta tertegun. Lelaki itu melirik kalung salib yang kini menunjukkan eksistensinya lalu memperhatikan sosok Gea yang berkerudung. "Tuhan kita yang berbeda. gumamnya kemudian"

Oleh. Hafida N.
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-13 Mei, seminggu sebelum kejadian …
Pukul 20.30, Resto Chain Food

"Terima kasih untuk kalian yang telah bekerja dengan giat. Untuk perayaan ulang tahun Resto Chain yang juga perayaan ulang tahun saya, saya akan memberikan kenaikan gaji sebanyak 30%. Dan mulai besok akan ada perpanjangan kontrak selama 5 tahun ke depan."

Ucapan pria berumur 36 tahun itu disambut pekikan girang para karyawannya. "Kenaikan gaji dan perpanjangan kontrak akan bertambah persentase dan waktunya jika kalian memenuhi persyaratan yang telah saya buat dan saya kirimkan secara pribadi ke nomor WhatsApp kalian masing-masing."

Semua karyawan segera menyalakan ponsel, membuka notif pesan dari bos mereka. Lima detik kemudian mereka terperangah, tak menyangka dengan syarat yang dibuat oleh si bos.

Si bos menyeringai, menikmati raut pucat para karyawannya. "Baik, kalian boleh pulang sekarang. Hati-hati di jalan" katanya, lalu melangkah santai menuju ruangannya.

"Bos gila" umpat seorang barista. Namanya Gea, mahasiswi semester 3. Dirinya baru bekerja di Resto Chain selama 4 bulan. "Kak, apa setiap kenaikan gaji kalian harus melakukan ini?" tanya Gea kepada para seniornya.

"Mau gimana lagi? Udah tuntutan hidup, Ge" jawab karyawan paling senior, seorang koki berusia 30 tahun.

Perempuan di sampingnya, seorang kasir mengangguk, "Toh itu buat perpanjang masa kerja kita dan cuma liburan bareng bos kok."

Gea menggeleng tak percaya. Semurah itukah harga diri seorang gadis di abad ke-21 ini? "Apa karena itu saat aku ngelamar buat kerja di sini, ada S&K pelamar kerja harus masih lajang?" tanya Gea yang diangguki oleh semua karyawan.

Terus gue harus gimana? Batin Gea ketakutan. Walau dirinya pacaran dan otaknya juga tak sepolos anak kecil, Gea selalu menjunjung tinggi pemahaman bahwa mahkota seorang gadis tak boleh dirusak kecuali setelah terikat di tali yang sah.

"Gue mau ke ruangan bos dulu." Pamit Jola, seorang resepsionis. Gea memandang kepergian temannya itu nanar. Dirinya ingin mencegah, namun tak punya daya. Apalagi saat mendengar ucapan karyawan lain soal Jola.

"Jangan heran Ge, dia emang yang paling deket sama si bos" kata karyawan perempuan yang paling senior.

"Dengan muka cantik terus tubuh mendukung gitu, gak heranlah si bos juga kepincut. Bahkan seminggu sebelum lo kerja di sini ya Ge, si bos kasih kejutan ulang tahun ke Jola. Hadiahnya cincin berlian plus liburan ke Bali selama 5 hari" cerita karyawan kedua, seorang dishwasher.

Gea membulatkan mata. Cincin berlian? Liburan ke Bali? Udah sejauh apa mereka? Batinnya sambil bergidik ngeri.

Karyawan di sampingnya mendengus, "Otak gue langsung gak bisa pikir positif waktu si bos sama Jola cuma liburan berdua. Bayangin mereka ngapain aja selama 5 hari di sana berhasil bikin gue muak."

Gea terdiam, mengabaikan kedua karyawan yang kini saling gibah. "Aku pamit dulu Kak. Baru ingat ada tugas kuliah," katanya, sembari memakai jaket pink -nya.

"Oke! Hati-hati Ge!"

"Sampai jumpa besok!"

Udara di sekitar Gea terasa lega setelah dirinya keluar dari resto. Demi apa pun, dia gelisah. Membayangkan nasibnya akan seperti Jola, karyawan termuda kedua setelah dirinya.

Di antara hiruk-pikuk kota di malam hari, Gea melaju dengan motornya. Dirinya berusaha fokus mengendarai. Kejadian di resto barusan, berhasil membuat pikirannya kacau.


Jln. Perumahan No. 13, Rumah No. 491
Pukul 21.05, di tanggal yang sama.

"Foya-foya terus! Kamu kira uangnya ngalir kaya air sungai?"

"Loh? Aku cuma main. Itu juga karena bosen di rumah."

"Main katamu? Pikirin cicilan rumah, motor, belum lagi bayar air sama listrik."

"Tau ah! Males aku sama kamu!"

Baru saja Gea menginjakkan kakinya di halaman rumah, suara pertengkaran menyambut kepulangannya. "Yaelah, ribut lagi," dengusnya sebal. Terlalu terbiasa membuat Gea menganggap pertengkaran kedua orang tuanya adalah hal yang wajar.

"Assalamualaikum,"

"Gea, jual motor kamu!"

Hei, apa-apaan? Belum juga salamnya dibalas, sang ayah sudah mengucap kalimat yang membuatnya geram. "Apa maksud Ayah?"

"Jual motor kamu. Gaji Ayah dipotong 30%, kita belum bayar listrik, air, belum kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi," jawab ayah.

"Kenapa bukan motor ibu aja yang dikembaliin?" tanya Gea tak habis pikir. "Motor aku buat kuliah, Yah. Gak mungkin aku bolak-balik pakai bus" kata gadis itu.

Ibu yang mendengar bahwa dirinya dibawa-bawa, mendengus kesal. Berjalan ke arah putri bungsunya. "Ya mending motor kamulah! Motor Ibu buat belanja ke pasar."

Gea menggeleng, "Pasar 'kan dekat, Bu. Aku bisa anter-jemput Ibu ke pasar setiap gak ada kelas pagi."

Ibu mengangkat bahu, "Enggak bisa gitu dong. Ibu juga pengin main sama temen Ibu. Bosen di rumah terus. Kalau gak ada motor, masa iya Ibu kemana-mana naik bus atau ojek?"

"Udah-udah, pokoknya salah satu motor punya kalian harus ada yang dijual!" Putus ayah lalu masuk ke dalam kamar. Meninggalkan istrinya yang menatap anaknya tajam.

"Gea ke kamar dulu" pamit Gea, berjalan cepat ke kamarnya. Gadis itu mengacuhkan seruan ibu yang memanggil namanya. "Maaf, Bu, kali ini Gea mau jadi egois" bisiknya dibalik pintu kamar yang tertutup.


Di tanggal yang sama
Pukul 23.05, di sebuah kamar minimalis

Pak Bos:
Gimana? Kamu mau naik gaji seperti yang lain tidak?

Gea menatap nanar pesan itu. Kepalanya terasa pening. Kesal dan lelah bercampur. Banyak kejadian menyebalkan yang terjadi beruntun pada hari ini. Mulai dari harga buku-buku kuliah yang naik, kebutuhan rumah yang harus dibayar, dan juga syarat gila dari si bos.

Gea:
Kak, gimana kabarnya di sana? Keponakan aku sehat? Maaf, Kakak ada rezeki lebih? Kalo iya, tolong bantu Ayah sama Ibu. Aku gak tau harus minta tolong ke siapa lagi.

Pesan bulan lalu itu tak ada tanda-tanda dibaca apalagi dibalas. Gea tahu bahwa kakak perempuannya telah berkeluarga dan tentunya memiliki kebutuhan yang memakan biaya. Tetapi pada siapa Gea dapat meminta tolong selain pada kakaknya?

"Masa iya gue minta sama bos?" gumamnya, dengan dahi mengernyit. "Boleh gak ya kalau cuma tidur biasa?"

Gea:
Pak, cuma tidur 'kan? Gak ngapa-ngapain?

Jantung Gea berdebar kencang, gugup menunggu jawaban si bos.

Pak bos:
Hm. Kamu tertarik?

Gea:
Iya Pak. Tapi janji dulu jangan ngapa-ngapain ya.

Pak bos:
Besok ke ruangan saya. Kita bahas lebih dalam.

"Aduh, Gea ogeb!" Dahinya menjadi sasaran kekesalan. Gea menyesal telah menerima tawaran si bos. Apalagi saat notif pesan terbaru terpampang jelas di layar ponselnya.

Pak bos:
Kamu sudah setuju, kesepakatan tidak boleh dibatalkan atau kamu akan terima akibatnya.

"Motor kamu jadi dijual kan?"

Tiba-tiba di ambang pintu, sosok ibunya sedang bersedekap dada. Gea mengalihkan atensi, menggeleng tegas. "Enggak, Bu. Tapi aku jamin kita gak akan kekurangan uang selama beberapa waktu."

Tanpa bertanya lebih jauh, ibu mengangguk puas. "Bagus. Jadi motor ibu gak akan dijual."

Gea menatap nanar kepergian ibunya. Look! Bahkan sang ibu tak bertanya dari mana asal uang yang dirinya dapatkan. "Ibu, kalau Ibu tau aku ngorbanin sesuatu demi ekonomi yang lebih baik, apa Ibu bakal kecewa?"


21 Mei, seminggu setelah kejadian
Pukul 10.21, di sebuah Restoran Korea

"Huek …"

"Gea, kamu gak apa-apa?"

Dari luar pintu toilet, seseorang bertanya dengan nada cemas. Gea yang di dalam sibuk memuntahkan isi perutnya. Setelah yakin semuanya telah keluar, dia membersihkan mulut dan mencuci wajah. Gea menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah pucat dengan mata memerah tertera jelas di sana.

Kaki lemahnya Gea paksakan untuk melangkah. Alhasil, sesampainya keluar dari area toilet, tubuhnya meluruh. Hampir menghantam lantai andai saja tak ada yang sigap menahan tubuhnya.

"Kamu sakit?"

"Genta" panggil Gea dengan suara parau. Dirinya menjauh, merangkai jarak.

Seseorang yang tadi bertanya mengernyit, tak mengerti mengapa Gea menolak pshyical touch -nya.

"Ayo putus" kata Gea.

"Hah?"

"Ayo putus" kata Gea sekali lagi. Gadis itu berusaha berdiri dengan kaki gemetar.

Lelaki di hadapan Gea tertawa. "Kamu bercanda?"

Gea menggeleng. "Enggak. Gue serius. Kita berbeda" ucapnya sembari menatap sesuatu yang Genta sembunyikan di balik kaos putih yang lelaki itu kenakan.

"Terima kasih dan maaf untuk semuanya" pamitnya lalu pergi menjauh.

Genta tertegun. Lelaki itu melirik kalung salib yang kini menunjukkan eksistensinya lalu memperhatikan sosok Gea yang berkerudung. "Tuhan kita yang berbeda. gumamnya kemudian.


Gea yang telah keluar dari restoran mendudukkan dirinya di taman yang letaknya di samping restoran. Rasanya pundaknya terasa lega. Selama ini Gea merasa geraknya terbatas. Mungkin karena terikat tali bernama 'pacaran'? Entahlah.

"Kamu Gea alumni SMP 3 'kan?"

Di saat Gea sibuk berjibaku dengan pikiran yang kacau, ada seseorang yang menyapanya dengan ramah. Dirinya mendongak dan bertemu tatap dengan netra cokelat terang milik seseorang. "Damaira?" panggilnya sedikit ragu.

Seseorang dengan gamis abu-abu dan kerudung pasmina yang menutup dada itu mengacungkan ibu jari, "Tepat! 100 buat kamu" ujarnya dengan raut ceria. "Kamu sibuk, ya, Ge?"

Gea menggeleng. Mengusap wajahnya yang basah. "Kenapa? Kamu mau traktir aku karena ini pertama kali kita ketemu setelah bertahun-tahun?" tanyanya bercanda. Anggukan Damai membuat Gea tertawa, "Aku bercanda lo, Ai."

Damai menggeleng, "Enggak. Aku serius. Ayo makan, aku lapar habis mikir."

Keduanya berjalan beriringan menuju kedai seblak yang tak jauh dari taman. Itu rekomendasi Damai yang suka pedas, Gea yang pemakan segalanya pun setuju-setuju saja.

"Kamu kerja atau kuliah di mana Ai?" tanya Gea sembari menunggu pesanan.

"Aku kuliah di UT sambil jadi guru privat Bahasa Jepang." jawab Damai. "Kamu kuliah juga?"

Gea mengangguk, "Di US tapi sambil kerja di Restoran Chain Food, kamu tau 'kan?"

Damai ber-oh ria. "Yang selalu ramai itu? Yang cat restonya warna biru pastel?" tanyanya yang dibalas anggukan.

Percakapan mereka terhenti saat pesanan tiba. Keduanya fokus menikmati seblak. "Em, Damai kamu masih ikut kajian?" tanya Gea setelah seblaknya ludes. Dirinya menatap serius Damai yang sedang meminum es teh pesanannya.

"Kamu tertarik ikut?" tanya Damai dengan nada semangat. Gea bergeming membuat temannya itu tersenyum maklum. "Aku gak akan maksa kamu buat ikut kok."

Gea dapat menangkap nada tulus di kalimat Damai. "Aku mau tanya boleh?" tanya Gea setelah menimbang-nimbang. "Apa tanggapan kamu tentang cewek yang udah gak segel?" pertanyaan itu meluncur sedetik setelah Damai mengangguk.

"Kalau itu sama pasangan halalnya, itu gak perlu ditanyain. Tapi kalau sama 'people stranger' Damai mengutip dua kata terakhir, "Antara miris, iba, sama sedih. Harga diri cewek sekarang itu murah." jawab Damai sendu.

"Misalnya, yang lagi viral, tuh. Staycation sama bos. Alasannya karena ekonomi. Kalau pihak si bos bisa ngasih S&K yang berkualitas serta si karyawan memiliki akal serta iman yang tinggi, aku yakin staycation gak akan dijadikan budaya. Gak akan dijadikan tolok ukur kenaikan pangkat, kenaikan gaji, dan sebagainya."

"Apa ada dalilnya kalau staycation itu gak boleh?" tanya Gea.

Damai mengangguk, "Tentu ada. Dalam ranah pergaulan Islam, ada larangan untuk berdua-duaan dengan yang bukan mahram." Gadis itu menampilkan layar ponselnya, menunjukkan sebuah hadis kepada Gea.

"Jangan sekali-kali seorang laki-laki menyendiri (khalwat) dengan perempuan kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, Baihaqi, dan lainnya)

"Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah setan." (HR. At-Tirmidzi)

"Staycation itu termasuk zina. Hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah itu dicambuk 100 kali serta diasingkan selama 1 tahun. Kalau buat yang sudah nikah, hukumannya dirajam. Dikubur sampai sebatas leher, dilempari batu sampai meninggal dan ditonton sama masyarakat. Ngeri 'kan?"

Gea mengangguk menyetujui, "Ngeri banget. Kalau hukuman ini dijalankan, kasus zina akan berkurang atau bahkan menghilang ya."

Damai menjentikkan jarinya, "Yup. Sayang banget gak ada negara yang punya kewajiban menjalankan hukuman-hukuman ini."

Gea meremas tangannya yang bertaut. Hatinya berontak ingin memberitahukan Damai sesuatu. "Aku hampir aja udah gak segel Ai,"

Damai loading sejenak, setelah sadar dia segera menenangkan Gea.

"Siapa yang lakuin, Ge?" tanya Damai dengan suara serak. Entah mengapa tiba-tiba tenggorokannya terasa kering.

"Apa itu Genta?" Setahu Damai, kekasih Gea sedari SMP kelas 3 bernama Genta. Damai merupakan teman sekelas Gea yang menjadi saksi betapa bucinnya mereka berdua.

"Aku tadi baru aja putus sama dia." kata Gea disela tangisnya. "Bos aku yang hampir lakuin," jujur Gea. Tangisnya yang mereda kembali pecah. Seminggu lalu, saat si bos akan melakukan hal terlarang itu, Gea berhasil melarikan diri. Gea tak peduli akibat yang ditimbulkan karena dia kabur. Gea takut. Sungguh takut.

Damai hanya bisa menepuk-nepuk bahu temannya itu sampai tenang. "Astagfirullah …"

"Aku harus gimana, Ge? Aku hampir terjerumus, hiks–pasti Allah marah banget sama aku."

"Tobat nasuha. Sungguh-sungguh bertobat." kata Damai lembut. "Masalah dosa dan pahala, itu urusan Allah. Terpenting, jika kamu udah sadar dan menyesalinya, jangan coba-coba kembali ke dunia gelap itu lagi. Jangan begitu, karena kamu berharga. Dalam Islam, perempuan dijunjung tinggi kemuliaannya."

Gea mengusap pipinya, menatap Damai. "Aku mau keluar dari Resto Chain. Tetapi gimana? Aku gak punya pekerjaan nanti."

"Kamu jago Bahasa Jerman 'kan?" tanya Damai memastikan. Gea hanya mengangguk. "Tempat yang cariin aku kerja jadi guru privat buka lowongan ngajar bahasa itu. Syaratnya harus rajin, pengertian, sama punya sertifikat yang menunjang bahwa kemampuan Bahasa Jerman kamu bagus. Insyaallah nanti aku bantu kamu buat daftar di sana. Kalau kamu lulus dan dapet predikat A atau A+, kamu bisa langsung ngajar dan terima gaji di awal dan lebih banyak." ucap Damai dengan senyum menenangkan.

"Kenapa kamu baik banget, Ai?" tanya Gea.

"Karena kita teman. Kita saudara. Kita sahabat. Kita keluarga. Kepedulian, itu salah satu rasa yang selalu ditumbuhkan di kajian" jawab Damai jujur.

Gea menghela napas, "Aku mau coba ikut kajian. Tolong bimbing aku ke depannya."

Keputusannya sudah bulat, bahkan dirinya segera menghubungi pihak Resto Chain Food, meminta surat pengunduran diri dengan alasan ingin fokus kuliah dan ujian semakin dekat. Beruntung, pihak resto segera memenuhi permintaan Gea walau di awal ada pertanyaan, apa karena diajak staycation dirinya mengundurkan diri?

"Kita sama-sama belajar. Aku akan buat kamu terpesona dan makin cinta dengan Islam keseluruhan, Islam kaffah" kata Damai mengakhiri kisah ini.

Gea, yang hampir membuat kesalahan, hampir terpeleset ke jurang kegelapan dan dilema, telah memutuskan untuk berubah. Menutup kisah lamanya yang kelam nan muram karena terhanyut arus kebebasan. Membuka kisah baru yang Insyaallah berwarna nan ceria karena Islamlah segala permasalahan akan tuntas terselesaikan.

Lalu, bagaimana dengan kamu? Akankah mengikuti jejak Gea?

Selesai! []

Standar Kecantikan

"Kecantikan hakiki dalam Islam akan terlihat dari kepribadian seorang wanita itu sendiri. Misalnya, bagaimana seorang wanita menjaga keimanan, ketakwaan, akhlak, serta pola pikirnya agar sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunah. Juga seberapa besar semangatnya dalam manuntut ilmu dan mendakwahkannya kepada seluruh umat."

Oleh. Sartinah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Wanita dan kecantikan ibarat ibu jari dan telunjuk. Keduanya saling melekat satu sama lain di sepanjang waktu dan zaman. Ya, membicarakan kecantikan memang tak bisa dilepaskan dari makhluk bernama wanita. Tak heran pula jika banyak wanita yang selalu ingin tampil cantik hingga rela melakukan beragam cara demi menyempurnakan penampilan. Mulai dari menggunakan make up, perawatan di klinik kecantikan, hingga rutin memakai skincare. Hal ini tentu tidak mengherankan apalagi melihat fakta zaman sekarang, di mana semakin cantik seseorang, maka akan semakin dihargai.

Namun, jika berkaca pada fakta tersebut tentu akan memantik sebuah tanya, apa sebenarnya parameter untuk menentukan kecantikan seorang wanita? Bukankah sangat tidak adil jika kecantikan hanya diukur dari rupa dan fisik seseorang?

Berbeda Standar

Jika mau menyandarkan pada pendapat manusia, maka kecantikan atau keindahan itu subjektif dan sangat relatif. Artinya, bisa jadi seseorang menganggap si A cantik, tetapi orang lain melihatnya biasa saja. Pun, demikian sebaliknya. Karena itu, kecantikan akan memiliki standar yang berbeda-beda tergantung siapa yang melihatnya. Selain itu, standar tersebut juga dapat berbeda-beda di setiap desa, kota, bahkan negara lainnya.

Misalnya di beberapa wilayah, cantik itu disimbolkan dengan pinggul lebar. Sebab, wanita dengan pinggul lebar dipercaya memiliki kemampuan yang baik untuk melahirkan. Sedangkan di tempat lainnya, sebagian orang menganggap bahwa wanita dengan bobot besar adalah yang cantik. Sebab, orang dengan postur tubuh gemuk dianggap kaya dan mampu makan dengan baik.

Namun, di belahan wilayah lainnya standar kecantikan pun berbeda lagi. Mereka yang cantik adalah wanita yang memiliki ukuran wajah kecil dan berbentuk "V", hidung mancung, serta kulit putih tanpa noda. Ada juga yang menilai cantik adalah mereka yang memiliki body hourglass atau memiliki tubuh seperti jam pasir. Dan masih banyak lagi standar kecantikan setiap orang di berbagai wilayah lainnya.

Namun, standar kecantikan di atas nyaris seluruhnya tak jauh dari bentuk fisik dan wajah. Padahal sekali lagi, menilai kecantikan dari bentuk fisik dan wajah sangatlah tidak adil. Jika standarnya demikian, lantas bagaimana dengan mereka yang tak memiliki kesempurnaan fisik? Apakah mereka tak layak disebut cantik?

Jangan Fokus pada Fisik

Sesungguhnya Allah Swt. menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Karena itu, setiap perempuan hakikatnya adalah cantik. Jika ada anggapan bahwa si A cantik dan si B tidak cantik, maka yang salah adalah penilaian manusia. Karena itu, tidak patut bagi wanita yang diberikan kecantikan fisik merasa lebih baik dan lebih cantik dari yang lainnya.

Sebab, kecantikan fisik tidaklah abadi. Secantik apa pun seorang perempuan, sejatinya dia tidak akan mampu menolak tua. Karena itu, jika seseorang hanya fokus pada kecantikan fisiknya, tetapi lalai mempercantik akhlak dan hatinya, niscaya kecantikannya akan hilang tak tersisa. Lihat berapa banyak perempuan yang tiga puluh tahun lalu masih menjadi gadis cantik, tetapi saat ini kulit wajahnya mulai berkerut, fisiknya mulai rapuh, rambutnya perlahan memutih, ingatannya tak sekuat dahulu, bahkan penglihatannya pun mulai kabur.

Tak dimungkiri, banyak perempuan yang mampu menjaga kecantikannya dengan berbagai cara. Mulai dari memperbaiki wajah, sulam alis dan bibir, tanam bulu mata, hingga rela melakukan operasi demi menyempurnakan kecantikan. Namun, hal itu hanyalah memperlambat penuaan, bukan menghilangkannya. Di sisi lain, mempercantik diri dengan mengubah bentuk-bentuk fisik merupakan perbuatan terlarang dalam agama, utamanya Islam. Karenanya, wahai wanita, jangan hanya fokus memperbaiki penampilan fisik yang tidak dibawa mati.

Kecantikan Hakiki

Siapa saja yang ingin mempercantik penampilannya, maka cukuplah dia menyediakan dana yang besar, niscaya kecantikan fisik akan diperoleh dengan sangat memuaskan. Namun, siapa saja yang menginginkan kecantikan akhlak dan hati, maka hiasilah diri dengan berbagai amalan yang baik, niscaya cantikmu akan bersemayam di hati orang-orang yang melihatmu. Sebab, kecantikan hakiki tidak terbentuk dari polesan fisik semata, tetapi lahir dari baiknya akhlak.

Seorang wanita pun tak harus memiliki hidung mancung, wajah tirus, bulu mata lentik, kulit putih, dan tinggi badan semampai. Karena hal itu hanyalah standar yang dibuat oleh manusia, bukan Allah. Seorang wanita akan menjadi mulia bukan karena penampilan fisiknya tetapi karena akhlak yang terpuji. Sebab, tolok ukur keimanan seseorang adalah akhlak.

Karena itu, kecantikan hakiki dalam Islam akan terlihat dari kepribadian seorang wanita itu sendiri. Misalnya, bagaimana seorang wanita menjaga keimanan, ketakwaan, akhlak, serta pola pikirnya agar sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunah. Juga seberapa besar semangatnya dalam manuntut ilmu dan mendakwahkannya kepada seluruh umat.

Namun, bukan berarti seorang perempuan tidak boleh berdandan demi mempercantik fisiknya. Selama hal itu tidak melanggar syariat, maka sah-sah saja dilakukan. Meski demikian, sebagai seorang muslim yang menginginkan hidupnya tak sia-sia, maka memilih kecantikan akhlak adalah pilihan terbaik ketimbang penampilan fisik. Dan tak perlu mengerahkan seluruh energi untuk terlihat cantik di hadapan orang lain. Jika hanya mengandalkan kecantikan fisik, maka setiap mata pasti akan memandang yang lainnya, karena akan selalu ada yang lebih cantik dan menarik.

Begitu adilnya Allah, hingga penampilan fisik tak jadi standar untuk menilai hamba-hamba-Nya. Hal ini karena Allah Swt. hanya menilai ketakwaan seseorang. Takwa inilah yang membedakan antara satu muslim dengan muslim lainnya. Selain takwa, semua manusia hakikatnya adalah sama. Sebagaimana tertuang dalam hadis riwayat Muslim, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian."

Khatimah

Duhai wanita, ingatlah bahwa kecantikan fisik hanya dapat menyentuh mata, sedangkan kecantikan akhlak akan menyentuh hati. Kecantikan wajah akan hilang, tetapi kecantikan akhlak kekal abadi. Lihat saja akhlak wanita salihah masa lalu, seperti Maryam, Fatimah, Khadijah, dan Asiyah. Mereka adalah sosok-sosok wanita yang dikenal dengan kecantikan akhlak dan budi pekertinya yang luar biasa. Kecantikan akhlak mereka tetap tersimpan di sanubari setiap insan meski waktu telah lama berlalu dan zaman sudah berganti. Semoga kita menjadi wanita yang tetap fokus memoles kecantikan akhlak, daripada berburu kecantikan fisik. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Fatherless: Ayah, Antara Ada dan Tiada

"Andai ayah selalu berada di rumah pun, kehadirannya antara ada dan tiada untuk anak. Tak betah mengobrol lama dengan anak, lebih nyaman menyampaikan pesan untuk anak, lewat ibunya."

Oleh. Nurjanah Triani
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Apakah kamu sering mengobrol santai dengan ayahmu? Atau jangankan mengobrol, dengar suara batuknya saja kamu sudah panik duluan, dengar suara motornya dari kejauhan, kamu memilih kabur ke kamar, dan jika kamu perlu berbicara dengan ayahmu, kamu memilih menyampaikan pesan lewat ibu? Jika iya, mungkin kamu adalah salah satu realita anak Indonesia yang kekurangan figur ayah atau fatherless.

Sering kita melihat bahwa anak ketika di dalam rumah selalu bertanya kepada ibunya, sekali pun bertanya kepada ayah, mereka akan bertanya di mana keberadaan ibunya. Hal ini dianggap bukan hal yang istimewa, biasa saja atau memang begitu adanya. Namun, ternyata ini adalah salah satu ciri fatherless, atau kurangnya peran ayah.

Dalam kacamata masyarakat hari ini, peran seorang ayah adalah bekerja. Sedangkan anak menjadi urusan ibu sepenuhnya. Tak dapat ditampik, bahwa hal ini pulalah yang menganggap sistem masyarakat saat ini patriarki dan melahirkan kelompok feminis. Sebab, masyarakat memandang laki-laki porsinya hanya bekerja. Terlepas dari itu semua, seperti mengurus rumah, anak, melayani, dan lainnya merupakan tugas wajib seorang ibu. Tak heran, mengapa hal ini melahirkan pemikiran feminis untuk kesetaraan gender.

Andai ayah selalu berada di rumah pun, kehadirannya antara ada dan tiada untuk anak. Tak betah mengobrol lama dengan anak, lebih nyaman menyampaikan pesan untuk anak, lewat ibunya. Hal ini mengakibatkan anak berlaku demikian, ada atau tiada ayahnya di rumah, selama ada ibunya maka tidak apa-apa. Anak menjadi takut untuk berbicara kepada ayahnya.

Ironi Fatherless Country

Fatherless ialah kondisi di mana anak tidak memiliki sosok ayah dalam pola asuhnya. Kondisi ini dapat terjadi karena seorang anak sudah tidak memiliki ayah, atau ketika seorang anak memiliki ayah namun tak memiliki hubungan yang dekat dengan ayahnya karena berbagai alasan. Fatherless dalam hal ini bukanlah ketika anak kehilangan ayahnya karena meninggal dunia. Namun, merujuk pada ketiadaan peran ayah dalam perkembangan anak baik secara fisik ataupun emosional.

Pengasuhan anak sering dikaitkan menjadi tugas seorang ibu semata. Pandangan inilah yang mengakibatkan Indonesia berada di urutan ketiga fatherless country di dunia. Hal ini dapat kita lihat dengan kurangnya peran dan keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari anak di rumah. Salah satu penyebabnya adalah budaya dan stigma negatif di masyarakat terkait peran ayah dalam pengasuhan anak. Seperti pandangan bahwa ayah tidak mampu mengasuh anak atau tidak dapat mengurus rumah tangga. Padahal, pengasuhan anak juga tak bisa dibebankan hanya kepada ibu, sebab ayah tetap memiliki peranan penting dalam pengasuhan anak hingga terbentuk pola pengasuhan yang seimbang.

Dampak Fatherless

Peranan ayah dalam pengasuhan tak bisa digantikan oleh ibu. Ayah memiliki porsi tersendiri dalam pengasuhannya yang dibutuhkan oleh anak. Kehadiran sosok ayah dalam setiap fase tumbuh kembang anak akan membantu anak memiliki pengasuhan yang seimbang, tanpa ada ruang kosong yang hilang atau kurang dalam pendidikan anak.

Menurut Asosiasi Psikoterapi Anak, ayah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan emosional anak. Cara berinteraksi ayah dengan anaknya cenderung lebih komunikatif dengan penggunaan kosakata yang beragam. Pola pertanyaan 5W+1H yang sering ayah utarakan dapat membuat anak memiliki kemampuan berkomunikasi lebih bertanggung jawab dan logis.
Saat anak tidak mendapatkan peran ayah dalam perkembangannya, akan berdampak pada sifat dan sikap perilaku anak. Untuk anak laki-laki, ia akan kesulitan dalam membahas perihal perasaan. Ia akan lebih memilih memendam hal yang ia rasakan. Sebab sosok ayah yang ia temui sehari-hari tak pernah membicarakan hal apa pun dengannya. Ia akan merasa risih saat membahas perihal perasaan. Sementara untuk anak perempuan, ia akan mudah luluh dengan gombalan lawan jenis yang memberikannya perhatian. Meskipun hanya perhatian yang ringan, namun ia menganggapnya sebagai hal yang spesial. Sebab ia tak mendapatkan hal tersebut dari laki-laki di rumahnya, yakni ayah. Jadi, tatkala ada laki-laki asing yang dapat memberikan itu, ia akan mudah merasa nyaman. Hal ini dapat berakibat negatif tatkala sang anak mudah jatuh cinta pada laki-laki yang tidak seharusnya, dikarenakan sifat mudah "baper" yang ia miliki.

Ibu Sekolah, Ayah Kepala Sekolahnya

Al ummu warabatul bait memang disematkan untuk seorang ibu, yakni madrasah pertama seorang anak. Namun hal itu tak lantas membuat ayah angkat tangan dalam perihal pendidikan anak. Sebab, jika ibu sebuah madrasah, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Ialah yang perlu merancang kurikulum pendidikan dalam pengasuhan anak. Karena yang memiliki tanggung jawab atas apa yang ia pimpin adalah seorang kepala rumah tangga, yakni seorang ayah. Ayahlah yang diminta pertanggungjawabannya atas keluarga, begitupun pendidikan di dalamnya.

Pola asuh ayah yang baik yakni tegas namun tetap penuh perhatian. Ketegasan seorang ayah menggambarkan kewibawaan seorang laki-laki. Hal ini membentuk pola asuh ayah lebih logis dan komunikatif, sebab dalam situasi penting, ayah akan fokus pada pola pertanyaan 5W+1H. Manfaat hal tersebut dalam perkembangan anak ialah :

  1. Anak lebih sering berbicara dan mengungkapkan pendapat.
  2. Anak dapat lebih banyak menggunakan kosakata dan menghasilkan kalimat yang lebih panjang dan logis.
  3. Anak dapat berpikir lebih logis, karena perlu menyampaikan sesuatu agar dipahami oleh lawan bicara.

Bahkan, ketika ayah memiliki kedekatan khusus dengan anak, dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Kemampuan kognitif anak pada usia 6 bulan dapat lebih baik.
  2. Pada usia 1 tahun, kemampuan kognitif anak akan berkembang hingga memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik.
  3. Pada usia 3 tahun, IQ anak dapat lebih tinggi dibandingkan dengan anak seusianya yang tak memiliki peranan ayah dalam perkembangannya.

Telah jelas dalam Islam bagaimana pentingnya interaksi anak dengan ayahnya. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an, Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'.” (QS. Lukman: 13)

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Lukman berkata): 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui'” (QS. Lukman: 16)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Lukman: 17)

Percakapan lukman dengan anaknya adalah gambaran bahwasannya ayahlah yang perlu mendidik seorang anak. Ibu mengajarkan, namun pendidikannya tetap di tangan ayah sebagai kepala sekolahnya.

Allahua'lam bish shawwab.[]