Fenomena Mandi Lumpur, Alerta Pengayoman yang Kabur

"Bagaimanapun, konten sampah semisal mandi lumpur ini merupakan alerta bahwa masyarakat tengah sakit dalam sistem yang salah. Negara seharusnya menyelesaikan problem kemiskinan dari akar masalah, sehingga tak terjadi konten/hal yang merendahkan manusia."

Oleh. Dewi Fitratul Hasanah
(Tim Voice Over NarasiPost.Com dan Pegiat Literasi)

NarasiPost.Com-Publik dihebohkan oleh beberapa live streaming di TikTok, yang memperlihatkan seseorang mengguyur lumpur ke tubuhnya untuk menarik perhatian penonton. Ada yang mandi berendam di kolam lumpur, ada juga yang melumuri sekujur tubuhnya dengan lumpur kental dari ujung kaki hingga wajahnya, seperti sedang menggunakan lulur. Tak tanggung-tanggung, aksi mandi lumpur itu dilakukan berulang-ulang, bahkan dengan durasi live berjam-jam. Ditengarai dilakukan agar kontennya menduduki posisi For Your Page (FYP), yang dengannya dapat menghasilkan cuan.

Tak salah, bila kita menamai aksi tersebut sebagai perbuatan mengemis online. Pelakunya beragam, mulai dari remaja, suami-istri, bahkan para lansia pun turut diajak melakukannya. Mirisnya, konten mandi lumpur ini acap didominasi oleh para kakek dan para nenek dengan fisiknya yang lemah dan renta. Seakan sengaja diniatkan dengan tujuan meraup banyak simpati pemirsa.

Para remaja seharusnya tekun belajar dan meningkatkan prestasi pendidikannya. Pasutri seharusnya menjalankan tugas rumah tangga di mana sang istri mengurus anak dan rumah, sedang suami bekerja mencari nafkah dengan pekerjaan yang baik pula. Para kakek-nenek yang berusia senja pun seharusnya menyibukkan diri untuk memperbanyak ibadah dan lebih mendekat diri kepada Allah. Namun, justru mereka tenggelam dalam konten tidak mendidik dan bermanfaat sama sekali. Padahal, konten seperti ini justru berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebenarnya apa yang membuat fenomena mandi lumpur ini terjadi? Benarkah semata mencari hiburan dan mengikuti kemajuan zaman? Atau murni mencari cuan?

Menilik sistem kapitalisme-sekularisme yang diemban negeri ini, maka hal tersebut wajar dilakukan. Sebab karakter dari sistem ini memang menuhankan uang. Apa pun akan rela dilakukan, bila itu dapat menghasilkan cuan. Tidak peduli apakah mandi lumpur tersebut berdampak buruk, merendahkan harkat dan martabat, berdosa ataupun tidak? Sama sekali tidak pernah dipertimbangkan. Apa pun dimanfaatkan demi meraih keuntungan materi. Sampai-sampai, melalui kemajuan telekomunikasi, kemiskinan dan kebodohan pun getol dipertontonkan. Sebab yang ada dalam benak adalah uang, uang, dan uang.

Terlebih hari ini, semua kebutuhan hidup seperti biaya pendidikan, kesehatan, pangan, dan lain-lain amatlah mahal. Ditambah dengan lapangan pekerjaan yang sangat sulit didapatkan. Diperparah pula oleh arus perkembangan teknologi dan informasi, namun minim edukasi. Semua itu menjadi faktor penyebab mewabahnya kelakuan mandi lumpur semacam ini. Lantas apa yang akan terjadi jika hal ini dibiarkan saja?

Fenomena mandi lumpur ini harus diatasi seluruh pihak. Bukan hanya memojokkan pihak pelaku, penonton yang mendukung, ataupun platform media aplikasi. Akan tetapi, negara dalam hal ini pemerintah sebagai pengayom rakyat sekaligus penyelenggara kebijakan publik, harus lebih terdepan menangani.

Dikutip detiknews.com (15/01/2023), Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini, menyikapi fenomena "Mengemis online/ mandi lumpur". Risma bakal surati pemda. Risma mengaku akan mencari rujukan undang-undang untuk melarang hal itu. Ia mengimbau bahwa perbuatan mandi lumpur itu memang tidak boleh. Risma menyatakan akan menindaklanjuti pelaku mandi lumpur, jika masih melakukan dan melanjutkan kontennya.

Namun apakah ini efektif dan mampu menumpas konten-konten semacam ini? Mungkin bisa saja konten mandi lumpur ini hilang, akan tetapi tidak menutup kemungkinan akan berganti dengan kemunculan model konten sampah baru dengan tujuan serupa, yakni seperti mengemis online.

Sepintas, apa yang dilakukan sang Mensos terasa melegakan publik yang resah. Namun bila berpikir lebih dalam, tentu solusi tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah sampai ke akarnya. Bagaimanapun, konten sampai semisal mandi lumpur ini merupakan alerta bahwa masyarakat tengah sakit dalam sistem yang salah.

Negara seharusnya menyelesaikan problem kemiskinan dari akar masalah, sehingga tak terjadi konten/hal yang merendahkan manusia. Solusi tuntas persoalan ini membutuhkan kerjasama semua pihak. Mulai dari individu yang memiliki kesadaran untuk menjaga kemuliaan sebagai manusia, masyarakat yang memberikan kontrol, juga negara yang menjamin hidup rakyat dan memberikan asas yang tepat dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa dan kebaikan umat manusia.

Islam bukan hanya sebagai agama ritual. Namun, Islam adalah agama sekaligus sebagai ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Termasuk, menjalankan pemerintahan sebuah negara.

Sistem pemerintahan Islam tidak akan bergerak setelah kejadian atau timbul kemudaratan. Namun jauh sebelum terjadi, Islam mencegah adanya konten sampah maupun semua konten yang tidak berfaedah yang notabene memburu rupiah. Sebab, Islam telah menjamin kebutuhan pokok setiap individu tercukupi.

Adapun teknisnya, Islam melalui pemerintahannya akan mengelola semua sumber daya alam yang telah Allah karuniakan dengan sangat melimpah ini, tanpa sedikit pun memperbolehkan campur tangan asing, apalagi menyerahkannya pada mereka. Dari sanalah, hasil pengelolaan akan diberikan dan diperuntukkan untuk kemaslahatan rakyat. Sehingga, apabila rakyat hidup makmur dan tercukupi, maka tidak akan tebersit di benak untuk melakukan mandi lumpur itu. Demikian pula platform media juga akan ditertibkan untuk tidak menyebarkan konten-konten sampah.

Islam memberikan jaminan pangan, kesehatan, pendidikan, dan lapangan pekerjaan kepada rakyatnya. Islam juga membina dan mengupayakan rakyat untuk selalu berada dalam ketakwaan. Menyadarkan rakyat bahwa pada hakikatnya, hidup manusia di dunia adalah untuk beribadah. Rakyat akan menyadari bahwa mandi lumpur ataupun men- support konten mandi lumpur ini sebagai sebuah tindakan zalim, yang merendahkan dan membahayakan kesehatan seseorang.

Pun, Islam memandang perbuatan mengemis/meminta-minta (kecuali dalam keadaan terpaksa) adalah haram. Sebab orang yang meminta-minta sebenarnya meninggalkan kewajiban berikhtiar yang diperintahkan Allah.
Dalam suatu hadis diungkapkan bahwa orang yang suka meminta-minta, di akhirat nanti daging di wajahnya akan rontok, sehingga tinggal kulit dan tulang, “Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, Nabi saw. bersabda: Sebagian orang selalu meminta-minta hingga ketika sampai di hari kiamat, tidak ada sedikit pun daging di wajahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Peminta-minta/pengemis di negeri ini dari tahun ketahun kian eksis. Bahkan, mengemis bukan lagi dianggap sebagai ketidakberdayaan ataupun keterpaksaan. Tetapi, telah dianggap sebagai sebuah pilihan pekerjaan. Ini semua menunjukkan gagalnya sistem pemerintahan dalam me- ri'ayah dan mengayomi rakyat.

Sungguh, hanya dengan sistem pemerintahan Islamlah perkara ini tuntas teratasi. Tak sedikit pun rakyat sudi untuk melumuri diri dan harga diri mereka dengan lumpur yang kotor. Sebaliknya, jiwa mereka terdorong untuk menebar konten berfaedah dalam atmosfer kehidupan yang makmur dan penuh rasa syukur. Wallahu a'lam[]

Jangan Ada Komersialisasi pada Jaminan Halal

"Di sistem sekuler saat ini justru rakyat (pengusaha) harus mengurus segala keperluan sertifikasi dan masih harus membayar biaya sertifikasi. Lagi-lagi di sistem sekarang ini, rakyat terpaksa ‘pasrah’ untuk menerima kebijakan seperti ini, karena itu jalan satu-satunya agar mereka tetap dapat meneruskan usahanya."

Oleh. Pipit NS
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal dan thoyib. Hal ini termuat dalam QS. Al Baqarah ayat 168, "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu…" (TQS. Al-Baqarah: 168)

Setiap orang memiliki kewajiban untuk menjaga kehalalan makanannya dan tidak mengandung zat yang diharamkan oleh Allah. Seharusnya mudah dilakukan. Tetapi di era industrialisasi saat ini, banyak produsen menyediakan berbagai macam makanan yang prosesnya sangat kompleks, sehingga seseorang sulit untuk memastikan apakah makanan yang ia konsumsi seratus persen terbuat dari bahan yang halal ataukah tidak. Terlebih lagi, era globalisasi juga menyebabkan berbagai jenis makanan dari berbagai wilayah di dunia yang memiliki komposisi dari bahan-bahan nonhalal mudah masuk ke negeri muslim. Tentu saja, ini menjadi titik kritis kewaspadaaan kita sebagai konsumen muslim.

Dalam tingkatan kompleksitas proses produksi seperti saat ini, menjadikan individu sulit untuk memastikan bahwa apa yang dia makan termasuk makanan halal. Oleh karena itu, diperlukan peran negara untuk memastikan setiap makanan yang beredar di masyarakat merupakan produk halal. Terlebih lagi karena negara kita mayoritas adalah muslim

Per tahun 2024, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementrian agama Republik Indonesia (Kemenag RI) mewajibkan seluruh produsen di Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi halal produknya. Kebijakan ini berlaku pada makanan dan minuman; bahan baku, bahan tambahan pangan, dan bahan penolong untuk produk makanan minuman; serta produk hasil sembelihan dan jasa penyembelihan. Jika produk-produk di atas belum mendapatkan sertifikat halal oleh BPJPH, maka produk tersebut akan dicabut peredarannya di masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenag BPJPH meluncurkan program sertifikasi halal gratis untuk satu juta pelaku usaha.

Kebijakan di atas seolah-olah dapat menyelesaikan masalah untuk jaminan produk halal. Tapi nyatanya untuk mendapatkan sertifikat halal harus melalui proses yang panjang. Banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi, di antaranya adalah bahan baku, sarana, dan proses yang halal. Selain itu untuk mendapatkan sertifikasi halal, setiap pengusaha harus membayar. Inikah yang ditarget oleh pemerintah? Mengingat, data ASEAN Investment Report, Indonesia menempati jumlah UMKM tertinggi dengan 65,46 juta UMKM. Padahal sertifikasi halal harusnya menjadi bagian dari tanggung jawab penuh pemerintah kepada rakyat. Di sistem sekuler saat ini justru rakyat (pengusaha) harus mengurus segala keperluan sertifikasi dan masih harus membayar biaya sertifikasi. Lagi-lagi di sistem sekarang ini, rakyat terpaksa ‘pasrah’ untuk menerima kebijakan seperti ini, karena itu jalan satu-satunya agar mereka tetap dapat meneruskan usahanya. Posisi pemerintah vs rakyat layaknya seperti produsen vs konsumen akan tetap terjadi selama kita masih berada di sistem kapitalisme ini. Paradigma pemerintah yang menjadi pelayan rakyat tak akan pernah terjadi, sehingga rakyat harus selalu terpaksa ‘mandiri’ untuk tetap hidup. Banyaknya produk yang beredar di masyarakat dengan menerapkan regulasi wajib sertifikasi halal pada tiap produknya justru akan menyulitkan pelaku usaha itu sendiri.

Hal ini tak akan pernah terjadi pada sistem Islam. Hubungan pemerintah dengan rakyat layaknya induk terhadap anaknya. Pemerintah tak akan meminta timbal balik mengenai tugasnya untuk melayani rakyat. Selain itu, proses yang dilakukan tidak akan serumit seperti sekarang. Pemerintahan Islam melakukan upaya agar pelayanan dan regulasi dibuat sesederhana dan semudah mungkin. Pemerintah Islam lah yang akan berupaya mengawasi setiap produk yang beredar di masyarakat. Melarang peredaran produk nonhalal di kalangan muslim, dan hanya memperbolehkannya beredar di kalangan nonmuslim saja. Qadhi hisbah akan ditugaskan khalifah untuk mengawasi jalannya jual beli agar rakyat sama-sama mendapatkan hak-haknya, termasuk mendapatkan produk yang halal.

Jaminan halal yang mudah atas segala produk yang beredar di kalangan kaum muslimin ini memang tidak akan pernah terwujud jika kita masih berada di dalam sistem kapitalisme. Hanya sistem pemerintahan yang berlandaskan akidah Islam yang akan membuat jaminan halal ini mudah dan rakyat merasa aman atas segala produk yang beredar. Wallahu a’lam bishawab.[]

Islam, Totalitas dalam Melindungi Perempuan dan Anak

"Belum lagi, akibat penerapan sistem sekuler ini merusak kepribadian manusia. Bayangkan saja, ketika manusia makin tak kenal agama, perilaku makin tak ada batasan, gampang saja melakukan kejahatan."

Oleh. Astuti Rahayu Putri
(Kontributor NarasiPost.Com, Ibu Rumah Tangga dan Pemerhati Sosial)

NarasiPost.Com-Seakan tak ada habisnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak terus saja terjadi. Hal ini tentu menjadikan posisi perempuan dan anak saat ini, berada dalam posisi yang tidak aman dan terancam bahaya. Tak heran, jika melihat sistem sekarang yang masih belum totalitas membendung kasus kekerasan dan kejahatan terhadap perempuan dan anak. Lalu, adakah sistem yang totalitas mampu melindungi perempuan dan anak?

Jika meninjau data dari Simfoni PPA, sepanjang 2022, berdasarkan tahun kejadian yang diakses pada 12 Juli 2022, menunjukkan jumlah Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) 3.131 kasus dengan korban sebanyak 3.238 orang. Korban Kekerasan Seksual (KS) terhadap perempuan sebanyak 542 orang, atau 16,7% korban KtP adalah korban KS. Adapun Kekerasan terhadap Anak (KtA) sebanyak 4.148 kasus dengan korban sebanyak 4.526 orang. Korban KS terhadap anak sebanyak 2.436 orang, hal ini berarti 53,8% korban KtA adalah korban kekerasan seksual (polri.go.id, 5/10/2022).

Jumlah yang tidak sedikit, menjadikan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini butuh perhatian yang serius. Apalagi, kejadian yang baru-baru ini terungkap pun kian mengerikan.
Seperti kasus mutilasi yang menimpa seorang wanita, mantan aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) di Bekasi. Awal mulanya, korban dinyatakan hilang oleh pihak keluarga sejak Juni 2019. Kemudian, ditemukan pada 30 Desember 2022 dalam kondisi termutilasi dalam boks plastik di sebuah kontrakan di kawasan Tambun, Bekasi. Sadisnya, pelaku mengaku telah membunuh kemudian memutilasi korban sejak November 2021, dan menyimpan jasad korban selama setahun lebih di kontrakan tersebut. Penyelidikan sementara adanya motif perselingkuhan terhadap kasus pembunuhan tersebut (beritasatu.com, 7/01/2023).

Kemudian kasus penculikan terhadap anak perempuan berusia 6 tahun di Jakarta Pusat. Dari rekaman CCTV saat kejadian, korban terlihat tanpa ada paksaan dibawa pelaku pergi dengan bajaj. Diketahui memang korban dan pelaku sebelumnya telah saling mengenal. Selama 26 hari korban dibawa pelaku melakukan aktivitas sehari-harinya, yaitu memulung. Setelah diselidiki, ternyata pelaku sebelumnya pernah ditahan karena kasus pencabulan terhadap anak (cnnindonesia.com, 3/01/2023).

Miris, melihat aksi kekerasan seakan tiada henti terus menyasar perempuan dan anak. Aksinya pun kian beragam, yang terkadang membuat kita mengelus dada terhadap sadisnya aksi sang pelaku. Bahkan, kian memprihatinkannya lagi, fenomena ini ternyata bagaikan gunung es. Artinya, yang terungkap baru sebagian kecil saja, sedangkan masih banyak kasus-kasus lainnya yang masih tersembunyi.

Tentu menjadi pertanyaan di benak kita, bagaimana bisa kondisi perempuan saat ini begitu membahayakan, padahal negeri ini berlandaskan hukum? Kenyataannya, berharap terhadap perlindungan hukum saat ini, rasanya tak banyak yang bisa diharapkan. Mengingat, masih lemahnya sistem hukum saat ini. Misalnya saja, tak sedikit pelaku yang pernah ditahan sebelumnya ternyata melakukan aksi kejahatan serupa, bahkan lebih keji setelah mereka dibebaskan. Artinya, hukuman yang diberikan belum memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan.

Berbicara mengenai tindakan pencegahan pun masih sangat minim. Misalnya saja, beberapa kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak disebabkan karena faktor kemiskinan. Akan tetapi, garis kemiskinan di tanah air terus saja merangkak naik.
Di sini kita bisa lihat, adanya disharmonisasi antara kepentingan, kesejahteraan, dan kebijakan yang diberikan. Di satu sisi keberlangsungan ekomoni yang baik sangat menentukan kesejahteraan perempuan dan anak. Namun, di sisi lain kebijakan yang diberikan malah menyengsarakan rakyat, yang berimbas pada kemiskinan kian merajalela. Tak heran, jika aksi kekerasan marak terjadi terhadap perempuan dan anak.

Berangkat dari fakta melonjaknya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, perlindungan hukum masih sangat lemah, kemudian pencegahannya pun masih sangat minim. Ini mengindikasikan bahwa sistem perlindungan terhadap mereka sedang tidak baik-baik saja. Sehingga, butuh perbaikan secara totalitas.

Agar mencapai perbaikan yang totalitas, harusnya dimulai dengan memperbaiki akar permasalahannya terlebih dahulu. Yaitu, dengan memperbaiki sistem kehidupan. Hal ini disebabkan, penerapan sistem kehidupan yang tidak sesuai akan memberikan dampak rusaknya keberlangsungan hidup manusia, seperti yang sudah kita rasakan bersama.

Sekularisme merupakan sistem kehidupan yang telah lama mewarnai kehidupan kita saat ini. Tandanya adalah makin dijauhkannya pandangan agama terhadap persoalan hidup. Karena, memang prinsip dasar sistem sekuler adalah memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga, solusi dari berbagai persoalan hidup pun berasal dari pemikiran manusia yang lemah.

Belum lagi, akibat penerapan sistem sekuler ini merusak kepribadian manusia. Bayangkan saja, ketika manusia makin tak kenal agama, perilaku makin tak ada batasan, gampang saja melakukan kejahatan. Jelas, bahwa kerusakan-kerusakan yang kita rasakan merupakan imbas dari penerapan sistem sekuler yang berasal dari pemikiran manusia.

Beda halnya dengan sistem yang berasal dari pencipta, yaitu sistem Islam. Tentu pengaturannya akan sempurna. Sehingga, dapat menghadirkan solusi terbaik dari persoalan hidup manusia.

Apalagi dalam surah Al-Maidah ayat 3 Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu …”

Selain itu, melalui catatan sejarah dapat kita temui bagaimana sistem Islam totalitas dalam memberikan perlindungan terhadap perempuan. Seperti halnya pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Mutashim Billah, ia membela seorang budak muslimah yang dilecehkan. Budak muslimah dari Bani Hasyim tersebut dilecehkan ketika sedang berbelanja di pasar oleh orang Romawi. Kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya. Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mutashim Billah, "Di mana kau Mutashim? Tolonglah aku!"

Setelah mendapat laporan mengenai pelecehan ini, maka sang khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Kota Ammuriah (Turki). Karena besarnya pasukan, seseorang meriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di Kota Baghdad hingga Kota Ammuriah (Turki).

Begitulah karakteristik kepemimpinan dalam sistem Islam, yang betul-betul menjalankan sabda Rasulullah saw.,
"Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya." (HR. Bukhari)

Sehingga, tak mungkin main-main memberikan perlindungan terhadap rakyatnya, khususnya bagi perempuan dan anak.

Wallahu a'lam bish-shawab[]

Solusi Mengakar "Pengemis Online" yang Viral

”Dalam sistem kapitalis ini uang menjadi segalanya, sehingga tak heran banyak orang melakukan berbagai cara untuk meraihnya, tak terkecuali dengan sikap yang tidak menjaga kehormatan dan tanpa rasa malu sedikit pun.”


Oleh. Siti Aisyah, S.Pd.I
(Kontributor NarasiPost.Com dan Guru RA di Rancaekek)

NarasiPost.Com-Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh aksi beberapa orang yang membuat konten di akun TikToknya, yakni “ngemis online”. Mulai dari mengguyur diri sendiri dengan air sampai mandi lumpur mereka tayangkan langsung di masing-masing akun TikToknya dengan durasi yang tak sebentar. Yang lebih miris, yang melakukan hal tersebut salah satunya adalah seorang nenek. Dia harus bertahan mengguyur dirinya dengan air selama berjam-jam sesuai dengan jumlah "gift" yang diterimanya. Semakin banyak "gift" yang diterimanya dari penonton siaran langsung TikToknya, semakin banyak juga air yang ia guyurkan ke badannya tanpa memerhatikan kesehatannya sama sekali.

Maka seakan mengikuti perkembangan zaman, mereka menggunakan alat digital untuk meraup cuan. Perilaku yang memalukan ini sampai mendapatkan respons dari menteri sosial, dilansir dari Kompas.com (15/1/2023) - Menteri Sosial Tri Rismaharini mengaku akan menyurati Pemda untuk menindak orang-orang yang melakukan fenomena "ngemis online" di platform media sosial TikTok. Fenomena mengemis, baik online maupun offline memang tidak diperbolehkan karena sudah ada Perppu dan Perda yang mengatur, tegasnya saat ditemui di Desa Lambang Sari, Bekasi oleh para wartawan.

Dari perilaku yang tidak menjaga kehormatan dan rasa malu itu, pertanyaannya adalah apakah yang menyebabkan perilaku ngemis online ini banyak terjadi di masyarakat saat ini?

Dalam sistem kapitalis ini uang menjadi segalanya, sehingga tak heran banyak orang melakukan berbagai cara untuk meraihnya, tak terkecuali dengan sikap yang tidak menjaga kehormatan dan tanpa rasa malu sedikit pun.

Dalam sistem kapitalis yang rusak ini pun, semua bisa dimanfaatkan demi meraih keuntungan materi semata. Tak terkecuali dengan kemiskinan. Kemiskinan dieksploitasi menggunakan kemajuan teknologi, meski hal tersebut justru merendahkan harkat serta martabat diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, banyak orang yang dengan sukarela melakukannya hanya demi memenuhi tuntutan gaya hidup masa kini yang begitu melangit.

Namun, nyatanya hal tersebut tidak bisa langsung ditindak tegas oleh pihak berwenang karena menurut Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Usman Kansong, konten yang dilarang itu di antaranya hanya yang mengandung unsur perjudian, pornografi, radikalisme, hoaks, terorisme, prostitusi, atau kekerasan terhadap anak. (Cnnindonesia.com, 11/1).

Fenomena ini menggambarkan betapa sakitnya masyarakat yang hidup di tengah sistem rusak, yang tak mampu menyejahterakan rakyatnya.

Lalu bagaimana upaya untuk menyelesaikan perkara ini? Kalau kita lihat upaya yang harus dilakukan tidak cukup hanya dengan menegur individu yang melakukannya, tetapi kita lihat negara pun punya andil besar dalam perkara ini. Negara seyogianya harus menyelesaikan problem kemiskinan dari akar masalah sehingga tidak terjadi hal yang merendahkan manusia dan mencegah agar tidak ada mafia yang memanfaatkan kemiskinan rakyat demi meraih keuntungan pribadi. Artinya bagaimana cara negara membangun mental masyarakatnya ketika tidak memiliki harta dengan menggunakan berbagai cara yang terhormat untuk meraihnya. Termasuk memberikan kesempatan kerja agar kebutuhan rakyatnya bisa terpenuhi, juga mengondisikan terciptanya masyarakat yang memiliki kepribadian Islam.

Maka solusi mengakar persoalan ini membutuhkan kerja sama semua pihak. Mulai dari individu yang memiliki kesadaran untuk menjaga kemuliaan sebagai manusia, masyarakat yang memberikan kontrol, negara yang menjamin hidup rakyatnya, juga memberikan asas yang tepat dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa dan kebaikan umat manusia.

Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang meminta-minta padahal ia tidak fakir maka seakan-seakan ia memakan bara api”. (HR Ahmad).

"Sungguh, seorang yang bekerja memikul seikat kayu bakar di punggungnya, itu lebih baik dari pada ia meminta-minta kepada orang lain, apakah orang itu memberinya atau tidak memberinya." (HR Bukhari dan Muslim).

Dari dua hadis di atas jelas betapa perilaku meminta-minta adalah perilaku yang negatif, yang tak seharusnya menjadi kepribadian seorang muslim karena Rasulullah saw. memberikan celaan terhadap perilaku tersebut. Hadis yang kedua juga seharusnya bisa menjadi penguat bahwasanya bekerja dengan seikat kayu itu lebih baik daripada meminta-minta, sehingga jika seorang muslim memahami dengan benar dalil di atas dia tidak akan menggadaikan kehormatannya hanya demi mendapatkan uang.

Semoga dengan hadis ini bisa menjadikan kita muslim yang bersikap sesuai perintah Allah dan Rasulnya. Aamiin. Allahu 'alam bishowab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Menata Hati, Menjaga Niat

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju. (Bukhari Muslim)"

Oleh. Tina El Haq
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Niat itu ibarat alamat surat. Apabila alamatnya benar niscaya suratnya akan sampai ke tujuan dengan selamat. Namun, jika alamatnya salah, maka bisa dipastikan surat pun akan sampai di tempat yang salah pula. Apalagi jika surat yang dikirimkan tanpa disertai alamat, maka bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan surat tersebut. Jadilah pengirimnya telah mengirim surat dengan sia-sia.

Bagi setiap muslim, niat menjadi perkara yang sangat penting untuk memulai suatu aktivitas. Sebab, niat akan menjadi penentu apakah aktivitas yang dilakukan bernilai pahala ataupun dosa. Sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim yang artinya, "Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju."

Makna Niat

Sejatinya aktivitas apa pun yang akan dilakukan seseorang pasti didahului oleh niat. Jadi, apa sesungguhnya makna dari niat? Secara bahasa, niat dapat diartikan sebagai al qashdu (maksud) dan al iradah (keinginan). Atau dapat dikatakan bahwa niat adalah qashdul quluub wa iraadatuhu (yakni maksud dan keinginan hati). Sedangkan menurut Syekh Abdurrahman bin Nashir as Sa'di, niat adalah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., serta mencari rida dan pahala-Nya. (Bahjah Quluubil Abraar wa Qurratu 'Uyuunil Akhyaar Syarah Jawaa'mi'ul Akhyar, hal. 5)

Lantas, jika muncul pertanyaan dari sebagian orang, apakah niat harus dilafazkan atau diucapkan? Nah, perlu diketahui, niat itu tempatnya di dalam hati. Artinya, jika ada seseorang yang telah berniat di dalam hatinya, maka niatnya tersebut sudah dianggap sah meskipun tanpa dilafazkan dengan lisannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Dengan demikian, niat tidak wajib diucapkan dengan lisan.

Fungsi Niat

Tak cukup bagi seorang muslim dengan mengetahui makna niat semata. Seorang muslim juga selayaknya mengetahui fungsi dari niat. Beberapa fungsi utama dari niat antara lain:

Pertama, untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya. Contohnya, dalam Islam ada ibadah yang hukumnya fardu ain, ada pula yang fardu kifayah. Maka, niat akan menjadi pembeda di antara keduanya. Juga pada ibadah salat misalnya, ada niat untuk salat fardu, rawatib, witir, hingga hanya sekadar salat sunah saja (salat sunah mutlak).

Kedua, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan. Contohnya adalah puasa. Saat seseorang berpuasa, dia akan meninggalkan semua makanan, minuman, dan segala hal yang dapat membatalkan puasa. Aktivitas meninggalkan makan dan minum tersebut adalah dalam rangka ibadah. Namun, adakalanya seseorang meninggalkan makan dan minum karena kebiasaan tanpa ada niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ketiga, untuk membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Adakalanya setiap orang berbeda-beda motivasinya saat beribadah. Ada yang beribadah dalam rangka mengharap rida Allah semata, tetapi ada pula yang beribadah untuk selain Allah (misalnya mengharapkan pujian manusia). Dan niatlah yang menjadi pembeda di antara keduanya. Tentu saja hanya Allah dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui maksud dari niat tersebut, apakah untuk Allah atau justru untuk selain-Nya.

Saking pentingnya niat dalam rangka mengharap rida Allah Swt. sampai-sampai Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut, "Segala sesuatu yang tidak didasari niat karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal." (Dar-ut Ta'arudh Al 'Aql wan Naql, 2: 188)

Luruskan Niat

Sebagai seorang muslim yang menginginkan setiap ibadahnya diterima dan mendapat keridaan Allah, tentu harus terus mempelajari dan membarui niat. Bagi yang berniat menempuh pendidikan misalnya, maka niatkanlah semata-mata karena Allah Swt., bukan karena ingin memperoleh pekerjaan mentereng, mengharap gelar, maupun pujian manusia. Jika diniatkan karena Allah, niscaya ilmunya akan berkah dan bermanfaat. Demikian juga bagi mereka yang berniat untuk berhijrah, menikah, berdakwah, dan lainnya, maka niatkanlah semua hal tersebut karena Allah Swt. semata.

Begitu mulianya Islam sampai-sampai jika seseorang baru berniat melakukan kebaikan, maka Allah sudah mencatatkan satu kebaikan untuk dia. Meski demikian, tidaklah cukup jika seseorang hanya berniat, tetapi tidak pernah direalisasikan dalam perbuatan.

Jika baru berniat melakukan kebaikan sudah ditulis satu pahala, lantas bagaimana jika niatnya melakukan keburukan lalu meninggalkannya, apakah sudah ditulis satu dosa? Terkait hal ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Qur'an al-Adzhim, bahwa orang yang meninggalkan perbuatan buruk dari niatnya terbagi menjadi tiga kriteria:

  1. Orang yang berniat melakukan keburukan lalu ia meninggalkannya atas dasar Allah Swt., maka hal itu tidak terhitung sebagai dosa baginya. Justru dia akan mendapatkan satu pahala kebaikan karena telah berhasil menangkal niat buruknya.
  2. Orang yang telah berniat melakukan keburukan tetapi batal dilakukan karena dia lupa mengerjakannya, maka dia tidak mendapatkan dosa juga tidak memperoleh pahala.
  3. Orang yang meninggalkan keburukan karena telah gagal mewujudkan keburukan tersebut, maka bagi orang itu tetap dianggap telah melakukan keburukan. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Muslim:

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ ».

Artinya : Dari Abi Bakrah Nufai' ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: "Jika ada dua orang muslim berhadapan dengan membawa pedang masing-masing (hendak saling membunuh), maka yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka."

Dalam hadis tersebut jelas dinyatakan bahwa orang yang membunuh maupun yang dibunuh akan ditempatkan di neraka. Sebabnya, kedua orang tersebut sama-sama memiliki niat untuk saling membunuh. Apa pun hasilnya dalam merealisasikan niat tersebut, pada dasarnya keduanya memiliki niat yang sama buruknya.

Khatimah

Setiap muslim hendaknya terus mempelajari dan meluruskan niat jika tidak ingin terjerumus dalam kesia-siaan. Sebabnya, niat akan lebih dahulu sampai di sisi Allah Swt. daripada amalan. Tidakkah kita sering menyaksikan betapa banyak manusia melakukan amalan yang sama, baik saat di awal, pertengahan, sampai akhir? Namun, terkadang hasil akhirnya sangat jauh berbeda seperti langit dan bumi.

Tahukah kita mengapa bisa seperti itu? Sejatinya hal itu terjadi karena perbedaan niatnya. Ada seseorang yang memiliki niat yang nilainya tinggi, tetapi ada pula yang memiliki niat yang rendah. Karena itu, patutlah kita merenungi ucapan dari Mutharrif bin Abdullah, bahwa baiknya hati adalah dengan baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung dengan baiknya niat.

Wallahu a'lam[]

Generasi Muda Darurat Zina, Butuh Penerapan Islam Secara Sempurna

"Derasnya arus kapitalisme dan sekularisme menciptakan generasi bersifat liberal, yakni merasa bebas dan tak ingin terikat dengan aturan agama."

Oleh. Reni Adelina
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Geger sekaligus menyedihkan. Bagaimana tidak, terdapat ratusan pelajar tingkat sekolah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur telah hamil di luar nikah. Hal ini diketahui karena pada sebelumnya, diberitakan ada ratusan pelajar jenjang SMP dan SMA di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, telah mengajukan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama (PA) setempat. (Harian Haluan, 15/1/2023)

Menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Anwar Solikin, dari sekian banyak pengajuan dispensasi nikah bagi anak-anak, sekitar 70 persennya disebabkan karena mereka telah hamil terlebih dahulu.
Sungguh memprihatinkan, itu baru Ponorogo yang terpublikasi. Bisa jadi, kejadian serupa marak di daerah atau kabupaten lainnya. Sungguh menyedihkan, dengan kondisi generasi muda saat ini.

Akar Masalahnya

Menikah adalah ibadah yang tujuan utamanya adalah meraih rida Allah. Namun, jika pernikahan diawali dengan perzinaan, justru yang ada bukan rida-Nya, melainkan azab dan kesulitan hidup yang didapatkan.

Permasalahan dispensasi nikah karena hamil terlebih dahulu pada ratusan pelajar di Ponorogo dan di beberapa daerah lainnya, tidak bisa dianggap remeh. Ini masalah serius yang butuh penyelesaian secara tuntas hingga ke akar-akarnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pelajar adalah sosok generasi masa depan. Jika rusak generasinya hari ini, maka rusaklah estafet peradaban yang akan datang.

Banyak faktor pemicu mengapa ini semua bisa terjadi. Bisa berasal dari faktor dari keluarga, lingkungan, hingga pada sistem kehidupan. Permasalahan ini juga bisa disebabkan karena kurangnya peran dari orang tua. Kita bisa melihat, bagaimana keberadaan orang tua dalam mengayomi anak-anaknya. Dalam rumah tangga, ada yang kondisi keluarganya harmonis dan ada juga yang berantakan.

Lalu diperparah dengan kesibukan orang tua mencari nafkah, karena tuntutan hidup yang makin sempit. Akhirnya, para orang tua digiring untuk tidak memiliki waktu membersamai anak-anak mereka. Alhasil, hanya disibukkan dengan memenuhi kebutuhan materi, namun lupa mengisi hati dan pikiran anak-anaknya dengan cahaya iman dan Islam. Begitu pun dengan faktor lingkungan dan pengaruh teman sekitarnya.

Derasnya arus kapitalisme dan sekularisme menciptakan generasi bersifat liberal, yakni merasa bebas dan tak ingin terikat dengan aturan agama. Seperti budaya pacaran yang menjadi tren dan batasan pergaulan yang makin tidak karuan. Ditambah banyaknya rangsangan dari luar, membuat ghorizah nau' makin menggebu. Seperti konten-konten porno, film yang mencontohkan perzinaan, hingga benda-benda yang mendorong ke arah zina juga bebas dipasarkan pada era modern ini.

Sebenarnya peristiwa ini juga menjadi tamparan bagi dunia pendidikan. Tujuan pendidikan sudah seharusnya mencetak generasi yang unggul dan bertakwa serta berkepribadian Islam. Namun, saat ini orientasi pendidikan sudah kehilangan arah. Yang dikejar hanya nilai akademik semata dan materi apa yang bisa diraup setelah selesai mengenyam pendidikan.

Sejatinya, ini adalah tanggung jawab kita semua. Artinya, butuh evaluasi di dunia pendidikan demi terciptanya generasi yang unggul, bertakwa, dan cemerlang. Butuh sinergi alias kerjasama antara orang tua, guru, hingga negara.

Islam Memberikan Solusi Menyelamatkan Generasi

Islam telah memberikan solusi terbaik untuk seluruh permasalahan kehidupan. Bukan hanya bersifat solutif, namun juga preventif atau pencegahan. Allah Swt., juga telah berpesan dalam kalam-Nya QS. Al-Isra ayat 32 untuk menjauhi perbuatan zina,"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk."

Mendekatinya saja diharamkan, apalagi melakukannya. Perbuatan zina dapat merusak sendi-sendi kehidupan, yakni merusak garis keturunan (nasab) dan kemuliaan manusia, terutama kaum wanita.

Islam sebenarnya sudah memberikan solusi preventif, salah satunya dengan mengatur sistem pergaulan antara laki laki dan perempuan. Ada batasannya ketika berinteraksi. Dalam hal berinteraksi, Islam melarang perempuan berbicara mendayu-dayu dengan niat menarik simpati dan perhatian lawan jenisnya. Tidak dibenarkan khalwat atau campur baur antara laki-laki dan perempuan, dengan alasan yang tidak dibenarkan syariat. Apalagi, berdua-duaan bagi yang bukan mahramnya. Ini berlaku di dunia nyata maupun di dunia sosial. Jelas ada aturan dan batasannya.

Boleh berinteraksi untuk alasan yang dibenarkan syariat, misalnya dalam hal transaksi jual beli yang dihalalkan, pendidikan, kesehatan, dan penggunaan transportasi umum. Namun tetap ada batasannya. Sebagai contoh, tetap menutup aurat, berbicara seperlunya, menjaga pandangan, tidak tabarujj atau berdandan berlebihan. Wajib hukumnya memperhatikan adab-adab dalam pergaulan.

Alangkah baiknya, jika sistem pergaulan berasaskan Islam diterapkan dalam kehidupan individu dan didukung adanya peran negara. Niscaya akan menciptakan generasi yang berakhlak mulia serta dekat dengan nilai-nilai agama. Jadi, permasalahan generasi hari ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Maka, untuk mengubah kondisi buruk saat ini adalah dengan adanya dakwah Islam. Bersama-sama menyadarkan umat tentang penerapan Islam secara sempurna. Mengubah pemikiran generasi yang liberal menjadi generasi yang beriman dan taat kepada aturan Allah Swt.. Untuk itu, perlu adanya upaya sadar dari semua pihak, agar terciptanya masyarakat Islam dan sistem kehidupan Islam.

Wallahua'alam[]

Marriage by Accident Menggila, Inikah Wajah Remaja Indonesia?

"Selain itu, hak asasi juga membuat setiap orang bebas bergaul. Laki-laki dan perempuan pun bebas berbusana, bahkan bebas menyalurkan naluri seksnya. Di mana, seks menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi, tanpa memedulikan halal haram."

Oleh. Erdiya Indrarini
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sungguh merisaukan hati. Ratusan remaja berbondong-bondong mengajukan dispensasi nikah dini. Mirisnya, alasan mereka telah hamil sebelum nikah dan melahirkan. Bukankah remaja itu harapan bangsa di masa depan? Lantas, mengapa mereka justru bagai buah yang telah rusak sebelum masak?

Dilansir dari detikjatim.com (13/1/2023), setidaknya ada 191 permohonan dispensasi nikah dini yang diajukan ke Pengadilan Agama (PA), Ponorogo, selama tahun 2022. Alasan mereka adalah 115 orang karena telah hamil tanpa pernikahan, dan 10 orang karena telah melahirkan. Selebihnya, karena sudah berpacaran dan memutuskan berhenti sekolah untuk menikah. Data menyebutkan 184 pemohon berumur 15-19 tahun, sedangkan 7 lainnya berusia di bawah 15 tahun.

Kasus di Ponorogo ternyata tergolong sedikit. Berdasarkan catatan Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur, bahwa sepanjang 2022 ada 15.881 dispensasi nikah yang dikeluarkan untuk anak di bawah usia 19 tahun. Kabid Urais Binsyar Kemenag Jatim, Misbahul Munir menjelaskan bahwa data tersebut dikumpulkan dari seluruh Pengadilan Agama di seluruh daerah di Jatim. Lumajang tercatat sebagai daerah terbanyak, yang mengeluarkan dispensasi nikah, yaitu mencapai 2.223. (republika.co.id, 17/1/2013)

Fenomena serupa juga menimpa kota-kota lain. Seperti di Yogyakarta, selama 2022 ada 556 orang pemohon dispensasi nikah. Mereka beralasan sama, yakni sudah hamil tanpa pernikahan. Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kementerian Agama DIY, Jauhar Mustofa pun mengatakan bahwa kebanyakan dispensasi pernikahan diberikan karena hamil di luar nikah. Dari jumlah tersebut, Sleman memiliki kasus terbanyak, yaitu 190 orang, lalu Gunung Kidul 141 orang, selanjutnya Bantul 137 orang, kemudian Kulon Progo 46 orang, dan dari Kota Yogyakarta ada 42 orang. (Harianjogja.com, 10/1/2023)

Solusi Pemerintah Tidak Menyentuh Akar Masalah

Untuk menghalau terjadinya pernikahan dini, sebelumnya pemerintah telah mengubah Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974. Dalam UU ini, pasangan dapat melangsungkan pernikahan dengan usia minimal 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki. Namun, kebijakan tersebut direvisi dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 yang menetapkan batas usia minimal untuk melangsungkan pernikahan adalah 19 tahun berlaku bagi laki-laki maupun perempuan.

Kebijakan menunda usia pernikahan itu nyatanya tidak mampu mencegah pernikahan dini dan pergaulan bebas. Justru kasus tersebut makin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa solusi yang pemerintah tawarkan tidak solutif. Terang saja, karena kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan akar masalah yang sebenarnya. Artinya, pemerintah tidak mampu mencermati masalah mendasar pada remaja yang merupakan generasi harapan bangsa.

Akar Masalah Sebenarnya

Begitu banyak kebebasan yang diberikan pemerintahan demokrasi, sehingga marak hamil di luar nikah. Pertama, adanya paham liberalisme juga ide hak asasi manusia (HAM) yang tak bisa dipisahkan dari sistem demokrasi. Liberalisme atau kebebasan menjadikan orang bebas berkehendak hanya berdasarkan keinginan. Selain itu, hak asasi juga membuat setiap orang bebas bergaul. Laki-laki dan perempuan pun bebas berbusana, bahkan bebas menyalurkan naluri seksnya. Di mana, seks menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi, tanpa memedulikan halal haram.

Dengan liberalisme, pemerintahan demokrasi membebaskan konten-konten porno membanjiri generasi. Bahkan, membiarkan industri atau perusahaan berbisnis pornografi. Kita bisa melihat, betapa banyaknya media massa baik cetak maupun digital, seperti iklan, film, atau tontonan lainnya. Semua itu tak ada larangan untuk diperdagangkan apa-apa yang berbau seks, baik aurat maupun cerita seks. Akibatnya, banyak generasi muda yang mudah terangsang seksualitasnya, dan terjerumus dalam pergaulan bebas serta seks terlarang alias zina.

Padahal zina termasuk perbuatan keji dan dosa besar. Sebagaimana Allah berfirman :
"Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu tindakan keji dan jalan yang buruk." (QS. Al-Isra’ : 32)

Rasulullah pun bersabda :
"Tidak ada dosa yang lebih besar di sisi Allah setelah syirik, kecuali dosa seorang lelaki yang menumpahkan spermanya dalam rahim wanita yang tidak halal bagi dirinya." (HR. Ibnu Abi ad-Dunya’)

Kedua, tidak adanya sanksi tegas bagi para pelaku zina, penjahat seks, maupun penyebar konten-konten seksual. Sehingga, generasi terus dicekoki dengan seksualitas. Sementara, seks bersifat adiktif sebagaimana narkoba, bahkan lebih bahaya dari efek adiktifnya narkoba.

Ketiga, minimnya pendidikan agama di sekolah. Sehingga, anak-anak tidak memahami bagaimana bergaul yang benar sesuai syariat Islam. Hal ini tentu berkaitan dengan paham sekularisme yang selalu menyertai sistem demokrasi. Sekularisme yang satu produk dengan demokrasi, mengharuskan agama dijauhkan dari seluruh aspek kehidupan. Maka, selama negara masih menerapkan demokrasi beserta sekularismenya, syariat Islam akan selalu dipandang sebelah mata, bahkan dimusuhi. Akibatnya, rusaklah segala tatanan kehidupan, termasuk pergaulan pemudanya.

Keempat, faktor kemiskinan. Ideologi kapitalisme yang merupakan ibu kandung dari demokrasi, liberalisme, dan sekularisme, menciptakan kesenjangan ekonomi yang tinggi pada masyarakat. Yang kaya makin kaya, yang miskin kian tak berdaya. Sehingga, golongan miskin memilih untuk tidak sekolah. Parahnya, mereka justru asyik dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Seperti, menikmati hiburan atau konten berbau porno. Hal ini yang mengakibatkan mereka mudah terjerumus dalam pergaulan bebas dan seks terlarang.

Islam Memberikan Solusi Tuntas

Islam mengatur naluri seks secara fitrah sesuai tempat dan peruntukannya. Dalam Islam, pemenuhan seks tidak ditempatkan di area publik, tapi di wilayah privat. Kegiatan itu hanya boleh dilakukan suami istri, dan tujuan utama untuk mendapat keturunan. Tidak dibenarkan ada perbincangan atau adegan berbau seks di tempat umum. Sehingga, baik di perkantoran, pasar, jalan umum, maupun tempat rekreasi, dilarang adanya gambar maupun aksi yang berkonotasi seks.

Berkenaan dengan itu, Islam menjelaskan secara lengkap bagaimana bergaul dan berinteraksi antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya, pergaulan laki-laki dan perempuan itu terpisah. Keduanya boleh berinteraksi hanya jika ada kepentingan yang dibolehkan syariat. Seperti, jual beli, menuntut ilmu, urusan kesehatan, beribadah, dan aktivitas lain yang dibolehkan.

Walau demikian, dalam interaksi harus mematuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan. Di antaranya harus senantiasa menundukkan pandangan, menghindari ber- khalwat, serta menutup aurat dengan sempurna. Ketentuan-ketentuan tersebut sebagaimana yang telah Allah perintahkan dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 30-31, maupun Al-Ahzab ayat 59. Allah Swt. mengatur sedemikian rupa tentu punya maksud. Di antaranya agar terhindar dari hal-hal yang merusak pergaulan, dan menjerumuskan ke dalam dosa. Sebaliknya, jika dipatuhi akan mendatangkan kemuliaan dan keberkahan, baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.

Selain mengatur pergaulan, sistem Islam juga menerapkan kurikulum pendidikan yang berlandaskan akidah Islam. Sehingga, setiap generasi akan dibekali dengan pemahaman Islam. Mereka dipahamkan bahwa Islam tidak sekadar agama, tapi merupakan sistem kehidupan yang pasti kesempurnaannya. Karena sistem Islam berasal dari Ilahi, Allah Swt., bukan dari ide manusia. Dengan memahami agamanya, setiap remaja akan menerapkan di setiap aspek kehidupannya, termasuk bagaimana menjaga pergaulan dengan cara yang benar sesuai syariat Islam.

Bersamaan dengan itu, jika ada yang melanggar, negara bersistem pemerintahan Islam akan memberikan sanksi. Seperti pada pembuat maupun penyebar konten pornografi. Juga ketika ada yang ber- khalwat, terlebih jika sampai ada yang melakukan zina. Pelaku zina akan dicambuk 100 kali. Bahkan, akan dirajam sampai mati jika pelakunya orang yang sudah menikah. Maka jika syariat Islam diterapkan, niscaya orang akan terjaga dari melakukan dosa. Sehingga, akan selamat baik di dunia maupun di akhirat. Akhirnya, keberkahan dan kemuliaan tentu Allah turunkan dari langit maupun dari bumi, sebagaimana yang telah Allah janjikan.

Demikianlah, solusi dalam Islam terhadap maraknya marriage by accident dan rusaknya generasi remaja. Perlu disadari bahwa, langkah-langkah ini harus dijalankan dengan sinergitas antara keluarga, sekolah, juga negara.

Wallahua'lam bish shawab[]