S&K Kematian

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim)

Oleh. Choirin Fitri
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sob, enggak ada satu manusia pun yang abadi di dunia ini. Pada akhirnya semua bakal mati. Ya, mati.

Ditambah lagi, mati itu enggak punya S&K. Kalau sudah jatah umurnya habis, pasti nyawa pun melayang. Enggak ada S&K harus sakit dulu baru mati. Nyatanya, banyak orang yang sehat tetiba mati kecelakaan. Enggak ada S&K tua dulu. Nyatanya, banyak yang muda bahkan bayi pun bisa mati.

Ini benar-benar terjadi di tetangga penulis. Dia masih belia, baru lulus SMA tahun kemarin. Dia pulang dari menjenguk kakeknya yang sakit. Eh, ternyata saat berkendara selepas pulang, ia kecelakaan. Tewas di tempat, Sob. Innalillahi wa innailaihi raajiiuun.

Syok? Jelas saja semua orang syok. Tentu yang paling syok adalah orang tua dan keluarganya.

Ini membuktikan bahwa nyawa bukan di tangan kita. Kakeknya yang tua dan sakit enggak mati. Eh, malah cucunya yang segar bugar, tewas kecelakaan. Innalillahi wa innailaihi raajiiuun.

Beberapa hari sebelumnya, penulis juga mendapatkan kabar sedih dari seorang teman yang putrinya meninggal. Anaknya ini masih duduk di bangku kelas 11 SMA. Hanya karena salah minum, membuat anak gadisnya yang baru menikmati sweet seventeen mengalami batuk, asmanya kambuh, dan meninggal dalam proses pengobatan di rumah sakit. Innalillahi wa innailaihi raajiiuun.

S&K kematian juga tidak berlaku saat bencana terjadi. Di penghujung tahun 2022 kemarin, gempa bumi yang cukup dahsyat terjadi. Gempa Cianjur menelan korban yang tidak sedikit. Tak peduli tua-muda, kaya-miskin, sehat atau sakit, jika Allah berkehendak mencabut nyawanya, mereka pun jadi korban. Innalillahi wa innailaihi raajiiuun.

Benarlah firman Allah yang menyatakan manusia tidak akan mampu memajukan dan mengundurkan usianya.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

"Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun." (QS. Al-A'raf: 34)

Lalu, apakah kita harus takut mati, Sob? Ya, kalau enggak punya bekal menghadap Allah sih, memang harus takut ya. Namun, jika kita punya bekal, enggak perlu takut.

Rasulullah sudah memberikan clue terbaik, agar kita bisa mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Tepatnya, ada tiga bekal yang kudu disiapkan.

Rasulullah bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh." (HR. Muslim)

Oke, kita bahas satu per satu ya, Sob!

Pertama, sedekah jariah.

Sedekah menggunakan uang alias harta tentunya. Peluang kita di pintu ini amat sedikit. Why? Karena, jika kamu masih sekolah dengan uang saku pas-pasan, tentu bakal susah sedekah bejibun. Namun, tetap ya, Sob sedekah itu penting buat kehidupan kita di akhirat kelak. Meski sedikit yang kita bisa sisihkan untuk sedekah, kamu tetap harus berupaya memberi pada mereka yang membutuhkan.

Kedua, ilmu yang dimanfaatkan.

Hmm…. peluang di bekal nomor dua ini amat besar lho, Sob. Kok bisa? Secara kamu masih muda. Banyak juga yang masih duduk di bangku sekolah. Berarti tiap hari nyari ilmu 'kan?

Nah, ilmu yang didapat itu jangan sampai hanya teronggok di buku cetak, buku tulis, makalah, atau tugas saja! Harus ada ilmu yang jadi amal dalam kehidupan. Sehingga, ilmu ini bermanfaat.

Terus, jangan hanya menuntut ilmu duniawi. Meski penting agar kita bisa eksis dan bermanfaat di dunia ini, ilmu akhirat juga amat sangat penting. Why? Cause, ilmu ini adalah bekal kematian kita. Ilmu yang akan mengantar kita meraih rida Allah dan surga-Nya.

Trus Sob, jangan sampai terjebak pada sekularisme ya! Itu lho paham yang menyatakan bahwa agama harus dijauhkan dari kehidupan. Paham rusak dan berbahaya ini bakal ngebuat kita terjerumus pada jurang yang salah. Kita bakal menjadikan ilmu dalam agama Islam hanya dikaji, bukan dijalani.

Padahal, ilmu dalam Islam bermakna wajib dikaji, diterapkan, dan didakwahkan, agar menjadi ilmu yang bermanfaat dan jadi bekal kematian.

Ketiga, doa anak yang saleh.

Nah, generasi muda saat ini benar-benar krisis saleh. Memang sih, jumlahnya besar dengan adanya bonus demografi sejak pertengahan tahun lalu, tetapi yang terkategori saleh minimal. Kok bisa?

Ya, karena generasi saat ini jauh dari agamanya. Meski muslim, mereka enggan dekat-dekat dengan agamanya. Takut dicap radikal, fanatik, bahkan teroris. Hmm…. ini sih tuduhan salah kaprah ala musuh-musuh Islam. Jangan dipercaya ya, Sob!

Mau enggak mau kamu kudu jadi pemuda muslim yang saleh. Mengapa? Karena, kamulah yang bakal mendoakan kedua orang tuamu agar keduanya masuk surga.

Jangan sampai jadi pemuda durhaka yang enggak ngerti cara mendoakan orang tuanya yang telah meninggal. Bahkan, ngerinya malah sibuk selfie di sisi mayat orang tuanya. Astagfirullah.

Padahal ya, Sob, kelak kita pun berharap punya keturunan yang saleh. Keturunan yang bisa mendoakan kita dan jadi investasi surga. Iya enggak?

Itu artinya harus dimulai dari diri kita sendiri dulu. Jadilah pemuda yang saleh dengan terus mengkaji Islam kaffah, menerapkannya dalam kehidupan, plus ikut menyebarluaskannya dengan dakwah.

Oke ya, Sob tiga bekal inilah yang segera kita eksekusi dalam rangka menyiapkan bekal kematian. Jangan ditunda-tunda ya, karena kematian enggak punya S&K! Bisa jadi malaikat pencabut nyawa telah berada di sisi kita. Bakalan ngeri kalau kita enggak punya bekal untuk menghadap Allah. Iya 'kan?

Batu, 5 Januari 2022[]

Sejumlah Negara Perketat Pelancong dari Cina, Bagaimana dengan Indonesia?

"Demi memenuhi permintaan para kapitalis, negara melonggarkan aturan yang diklaim menghambat lajunya sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini dapat dilihat dari ambisi para kapitalis yang menginginkan normalisasi di berbagai sektor. Seperti sektor pariwisata, ekspor- impor, bursa saham, dll. Padahal, sejumlah masalah kesehatan masih menyelimuti negeri ini."

Oleh. Firda Umayah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sejumlah negara melakukan pengawasan ketat dan pembatasan kedatangan para pelancong atau turis asal Cina. Hal ini dilakukan guna mencegah penularan kembali Covid-19 dari negara tersebut. Sejumlah negara itu adalah Amerika Serikat, Jepang, Italia, dan India. Pembatasan pelaku perjalanan bagi warga Cina di sejumlah negara tersebut membuat geram pemerintah Cina. Wang Wenbin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, mendesak negara-negara di dunia tak melakukan pembatasan masuknya pelancong dari negaranya. Wang Wenbin menyatakan tindakan pencegahan pandemi dari semua negara harus ilmiah dan sesuai. (cnniternasional.com, 31-12-2022)

Pengawasan Ketat vs Pelonggaran Kerumunan

Jika sejumlah negara di dunia lebih memilih untuk membatasi dan mengawasi ketat para pelancong dari Cina, hal sebaliknya justru terjadi di Indonesia. Pemerintah Indonesia resmi mencabut PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang berlaku sejak 30 Desember 2022 lalu. Pemerintah mengeklaim bahwa negara telah berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 dengan baik. (cnbcindonesia.com, 30-12-2022)

Pernyataan bahwa gencarnya vaksinasi telah membuat masyarakat kebal virus Covid-19 juga digadang-gadang sebagai salah satu alasan pencabutan PPKM. Padahal, virus Covid-19 adalah virus yang terus bermutasi, sehingga kemungkinan orang yang telah divaksin tertular Covid-19 adalah hal yang bisa terjadi.

Sungguh sangat disayangkan. Di saat sejumlah negara kembali memperketat jalan masuknya penyebaran virus Covid-19, pemerintah justru membuka jalan bagi penyebaran virus. Alih-alih mampu mendongkrak ekonomi negara, sebagian orang turut mendukung pencabutan PPKM. Inilah gambaran dari negara pengemban ideologi kapitalisme. Sebuah ideologi yang lebih mengutamakan kepentingan kapitalis daripada rakyatnya.

Demi memenuhi permintaan para kapitalis, negara melonggarkan aturan yang diklaim menghambat lajunya sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini dapat dilihat dari ambisi para kapitalis yang menginginkan normalisasi di berbagai sektor. Seperti sektor pariwisata, ekspor- impor, bursa saham, dll. Padahal, sejumlah masalah kesehatan masih menyelimuti negeri ini. Maraknya anak yang terkonfirmasi TBC di Bantul, dan gagal ginjal akut beberapa waktu lalu adalah buktinya.

Lebih dari itu, sistem pemerintahan demokrasi juga tidak menjamin pelayanan kesehatan yang murah bahkan gratis bagi semua rakyat. Sehingga rakyat tetap harus berjuang sendiri untuk menjaga kesehatan dan melakukan pengobatan. Kesehatan dan nyawa rakyat seakan tidak ada harganya. Karena dalam bidang kesehatan pun sarat akan bisnis dan industrialisasi.

Islam Menyelesaikan Penyebaran Wabah

Islam sebagai solusi atas semua masalah hidup manusia memandang bahwa negara memiliki peran besar dalam menyelesaikan penyebaran wabah. Negara juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan jaminan bagi kebutuhan hidup masyarakat, salah satunya adalah kesehatan. Islam memandang bahwa negara yang menerapkan ideologi Islam yang akan mampu melakukan itu semua. Negara Islam itu yakni Khilafah.

Khilafah sebagai pengurus dan penanggungjawab rakyat akan melakukan upaya perlindungan dan penyelesaian penyebaran wabah. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. saat wabah terjadi. Rasulullah melakukan lockdown atau penguncian area yang terkena wabah. Begitu juga dengan orang-orang yang berada dalam wabah tersebut. Maka, tidak dibolehkan untuk meninggalkan area wabah dan memasuki area lain.

Rasulullah saw. bersabda, "Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah masuk ke tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya." (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tindakan membiarkan orang-orang yang berasal dari wilayah wabah masuk ke dalam negeri merupakan sikap yang seharusnya tidak dilakukan. Selain bertentangan dengan syariat Islam, ini juga membawa risiko besar bagi kesehatan rakyat. Selanjutnya, Rasulullah saw. juga melakukan isolasi bagi rakyat yang sakit, serta memberikan pengobatan padanya hingga sembuh.

Negara Islam yakni Khilafah juga akan melakukan upaya pencegahan agar wabah tidak kembali hadir di tengah-tengah masyarakat. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan terhadap semua orang dengan gejala klinis dan berisiko terinfeksi. Khilafah juga memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan gratis kepada semua rakyat, sehingga rakyat dalam segera mengatasi setiap keluhan kesehatan yang ada.

Khilafah akan menunjang segala sarana prasarana kesehatan termasuk mendukung penelitian dan pendidikan kesehatan. Khilafah juga akan mengedukasi masyarakat tentang kesehatan dan mengontrol kepeduliannya dalam menjaga serta merespon kondisi kesehatan masyarakat. Begitulah gambaran umum Khilafah sebagai negara penerap hukum Islam yang akan mampu melindungi kesehatan dan keselamatan rakyat.

Penutup

Sungguh, hanya Islam yang memiliki penghargaan tertinggi terhadap nyawa manusia. Bahkan Allah Swt. juga memberikan pahala yang luar biasa bagi semua yang turut menjaga keberlangsungan hidup manusia.

Allah Swt. berfirman, "Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia." (TQS. Al-Maidah : 32)

Wallahu a'lam bishawab[]

Teuku dan Tsunami (Bagian 1)

“Kalah dan menang itu sudah biasa Nak, roda kehidupan memang akan selalu berputar, tapi pesan Bapak, teruslah semangat berlatih ya Teuku,” Pak Utsman menyemangati. Teuku merespons dengan menganggukkan kepala."

Oleh. R. Bilhaq
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Saatnya kuharus berlari kencang sekuat tenaga tanpa henti. Terus berlari dengan segala daya dan upaya yang kumiliki. Demikian juga dengan yang lainnya, mereka semua berlari dengan sangat cepat dan fokus tanpa ada tawa dan canda sedikit pun. Kami terus saja saling berlari tanpa menghiraukan orang lain yang ada di sekitar. Banyak orang-orang di sekitar berteriak menyebut nama kami mulai dari orang dewasa hingga anak-anak. Bukan bermaksud menyuruh kami agar berhenti dan menghampiri mereka, melainkan hanya untuk menyemangati kami agar terus berlari maju ke garis finish hingga menjadi pemenang.

“Ayo, Teuku, kamu bisa,” batin Teuku, pelajar berusia 14 tahun berbisik.

“Sedikit lagi, garis finish ada di depan,” sambungnya.

Bruk! seketika tubuhnya jatuh tergeletak dengan kedua mata terpejam masih dalam arena lintasan lari stadion Harapan Bangsa. Dia mengalami pingsan dan segera dibawa dengan tandu oleh petugas kesehatan yang berjaga.

Final lomba lari pun usai, kini beralih ke tahap acara selanjutnya yakni pengumuman para juara. Setelah nama-nama para juara disebutkan, mereka pun menaiki podium dan menerima apresiasi berupa hadiah dari panitia penyelenggara. Penutupan perlombaan pun telah usai dan para penonton yang memenuhi stadion pun mulai keluar untuk pulang. Begitu juga dengan para panitia, atlet, pelatih, dan sebagainya. Tak lama Teuku mulai membuka kedua matanya secara perlahan, tanda ia sadar dari pingsannya. Dilihat olehnya sekeliling tiada seorang pun yang tersisa, kecuali hanya dirinya sendiri berikut pelatihnya, Pak Utsman, yang setia menemani.

“Alhamdulillah sudah sadar, ini diminum dulu,” ujar Pak Utsman menyodorkan air botol mineral.

“Terima kasih Pak, bismillah," Teuku langsung meneguk air tersebut secara perlahan-lahan hingga menghabiskannya guna menghindari dehidrasi kembali.

Di kursi penonton, keduanya makan siang bersama dengan menu nasi box yang sempat diberikan panitia penyelenggara. Setelah keduanya selesai memenuhi hak perut, hujan lebat mengguyur seisi lapangan tanpa disertai tanda-tanda hujan sebelumnya. Harum khas tanah rerumputan yang baru dibasahi air hujan pun membuat keduanya merasa tenang.

“Pak, maafkan saya, tidak berhasil menang sebagai tuan rumah,” ujar Teuku merasa bersalah.

“Janganlah menjadi pemenang sebagai tuan rumah Nak, tapi, jadilah pemenang sebagai dirimu sendiri, kamu sudah berupaya, Bapak sudah bersyukur untuk itu, Nak,” Pak Utsman menepuk pundak Teuku.

“Kalah dan menang itu sudah biasa Nak, roda kehidupan memang akan selalu berputar, tapi pesan Bapak, teruslah semangat berlatih ya Teuku,” Pak Utsman menyemangati. Teuku merespons dengan menganggukkan kepala.

“Hujan sudah reda Nak, ayo kita salat dulu di masjid depan, khawatir hujan besar kembali datang,” Pak Utsman mulai berdiri.

Setelah salat Zuhur, keduanya pun langsung pulang bersama menaiki motor milik Pak Utsman. Sekitar sebelas menit sampailah keduanya di depan rumah Teuku, Teuku pun turun dari motor dan berpamitan dengan Pak Utsman. Masuklah Teuku ke dalam rumah disambut sang ibu tercinta, kemudian ia langsung membersihkan diri dan beristirahat.

“Sudah salat Ashar Nak?” tanya ibu pada Teuku.

“Sudah Bu, barusan di masjid,” jawab Teuku.

“Kamu jangan terlalu kecewa dengan hasil upayamu pagi ini ya Nak, itu kan hanya perlombaan saja,” ibu berusaha menghibur.

“Iya Bu, sepertinya Teuku harus banyak latihan lagi,” imbuh Teuku.

“Sudah istirahat dulu Nak, kamu juga harus jaga kondisi tubuhmu, Ibu khawatir kamu terus berlatih tapi lupa untuk beristirahat,” ibu mengingatkan.

“Baik Bu, Maafkan Teuku sudah membuat Ibu khawatir ya, Ibu, Teuku mau ke rumah Subhan dulu ya, Bu,” izinnya sambil mengecup tangan sang ibu.

Perjalanan menuju rumah Subhan memerlukan waktu sekitar delapan belas menit. Di perkarangan rumah Subhan, ia bertemu dengan Pak Ahmad, ayah dari Subhan yang sedang menyirami tanaman-tanaman miliknya. Sang ayah diketahui memiliki hobi tersebut sedari remaja. Tanpa malu-malu Teuku pun masuk menuju pekarangan rumah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” Pak Ahmad menoleh.

“Wa'alaikumussalam, ada Teuku di sini, sini Nak masuk,” sambung Pak Ahmad sambil mematikan keran dan menggulung selang panjangnya.

“Sudah selesai Pak siramnya?” tanya Teuku sambil mengecup tangan Pak Ahmad.

“Sudah Nak, alhamdulillah, sini duduk dulu sebentar, tadi lombanya gimana Teuku? coba cerita ke Bapak,” Pak Ahmad antusias.

“Saya tidak berhasil menang Pak, alias kalah,” Teuku menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa Nak, kamu mewakili Banda Aceh saja Bapak sudah ikut bangga,” Pak Ahmad menepuk-nepuk pundak Teuku.

“Iya, terima kasih Pak, oh iya Pak, Subhannya ada?”

“Itu dia ada di tepi laut Nak, akhir-akhir ini dia sering pergi ke sana,” Pak Ahmad menunjukkan keberadaan Subhan.

“Kalau gitu saya izin menyusulnya ya Pak,” pamit Teuku.

“Iya, hati-hati ya Nak.”

Dilihatnya dari kejauhan, Subhan dengan kursi rodanya termenung menatap riak-riak ombak kecil yang ada di hadapannya.

“Subhan!” Teuku berlari menghampiri sahabatnya.

“Assalamu’alaikum,” Teuku terengah-engah.

“Wa’alaikumussalam, wah, kamu Teuku,” Subhan semringah.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Teuku.

“Teuku, kamu ingat engga, dulu kita sering lomba lari di sini? seru banget ya? Jadi kangen masa-masa itu, tapi sekarang, aku udah engga bisa lari lagi,” Subhan tampak sedih.

“Jangan putus asa gitu dong, ayo semangat! kalo gitu aku ajak kamu lari bareng deh sekarang,” Teuku langsung mendorong cepat kursi rodanya hingga membuat Subhan tertawa.

Tanpa terasa, mereka berada di sana hingga dua puluh menit menjelang waktu Magrib, tanda Teuku harus segera pulang.

“Udah mau Magrib sebentar lagi, antar aku pulang ya Teuku,” pinta Subhan sambil sedikit tertawa.

“Siap! laksanakan Komandan!” jawab Teuku tersenyum dengan berlagak layaknya seorang prajurit.
Selama perjalanan pulang, keduanya berjalan sambil membicarakan sedikit kenangan dahulu. Tak lama keduanya pun sampai di perkarangan rumah Subhan.

“Maaf Subhan, aku juga harus cepat pulang nih, sampai sini engga apa-apa?” tanya Teuku.

“Iya engga apa-apa, aku bisa masuk rumah sendiri juga, makasih ya bantuannya,” syukur Subhan.

“Salam ya buat Ayah dan Ibumu, maaf aku engga mampir,” ucap Teuku langsung berlari cepat menuju rumah.

Bertepatan saat Teuku masuk ke dalam rumah, azan Magrib pun berkumandang. Ibu menyuruhnya agar segera ke masjid dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di depan rumah. Teuku mengganti bajunya dengan baju koko marun, sarung dan peci berwarna hitam. Tak lupa, ia juga membawa Al-Qur'an untuk mengaji bersama di masjid dekat rumah, masjid Raya Baiturrahman. Salat Maghrib pun dilaksanakan dengan tertib. Setelah salat usai, setiap insan berzikir dan berselawat kepada Baginda Rasulullah saw. Setelah itu barulah bacaan Al-Qur'an dimulai. Setelah empat puluh menit berlalu, azan Isya’ berkumandang disusul dengan iqomah sebagai tanda akan segera dimulainya salat. Para jemaah pun melaksaan salat Isya secara berjemaah.

Malam terasa semakin dingin. Teuku beserta teman-teman memilih pulang lebih awal dari biasanya. Di rumah tentu lebih hangat, mengingat pintu dan jendela tertutup rapat-rapat. Teuku masuk ke dalam rumah dengan salam dan dilihatnya sang ibu sedang bermunajat kepada Rabb Yang Maha Agung. Teuku beranjak ke dapur dan membuatkan dua gelas teh hangat manis untuk ibu dan juga dirinya.

“Sudah pulang ternyata kamu, Nak,” ucap sang Ibu.

“Sudah Bu, habis salat Isya' kami semua langsung pulang, udara di luar dingin sekali, Bu,” ujar Teuku sambil menyeruput teh hangatnya.

“Kabarnya Subhan gimana? dia sehat?” tanya ibu.

“Alhamdulillah sehat Bu, tadi dia sempat bilang rindu berlari lagi, Bu,” jawab Teuku.

“Padahal kondisi kakinya jadi begitu saat ia sedang lomba lari ya, tapi masih rindu juga ingin berlari,” sahut ibu. Teuku hanya mengangukkan kepalanya.

“Ibu jadi teringat almarhum Ayahmu dulu, Ayahmu juga hobi lari, ketika kamu berusia empat tahun, Ayah yang sedang tidak begitu bugar memaksakan diri ikut lomba lari maraton yang diadakan oleh bupati dulu.”

“Lalu Bu? apa yang terjadi dengan Ayah?” tanya Teuku penasaran.

“Ayahmu berhasil menyelesaikannya sampai garis finish, namun saat ia sedang beristirahat di pinggir trotoar bersama temannya, tiba-tiba Ayah pingsan dan tak lama meninggal di tempat, tapi ya memang itu sudah waktu ajalnya juga,” sang Ibu bercerita dengan tegar.

“Innalillahi, semoga Ayah husnul khotimah ya, Bu,” ujar Teuku.

“Makanya, Ibu juga khawatir kalau kamu terus berlatih tapi kurang istirahat, Ibu takut kamu kenapa-kenapa, Nak,” Ibu memegang erat tangan Teuku.

“Tenang aja Bu, Teuku akan ingat pesan Ibu, kalau gitu, Teuku pamit izin ke kamar dulu ya Bu, mau langsung tidur,” pamit Teuku yang mulai mengantuk.

“Iya Nak, istirahatlah,” ujar ibu yang masih duduk untuk menghabiskan teh hangatnya.

Happy Weekend

"Setelah tiga orang ibu-ibu itu pergi aku baru menghampiri warung untuk membeli kebutuhan. Sepanjang jalan pulang aku berjalan lunglai, pembicaraan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sebenarnya ini bukan kali pertama ada tuduhan negatif pada keluargaku, tapi aku masih belum terbiasa untuk tidak menghiraukannya."

Oleh. Raisha Nazneen
(Kontributor NarasiPost.Com dan Siswi STT Hagia Sophia IBS Sumedang)

NarasiPost.Com-Untuk menutup hari Sabtu ini aku berencana membuat kue bersama ummi. Meskipun ini bukan bulan Ramadan, tapi aku merindukan nastar enak buatannya. Aku berjalan keluar kamar menuju dapur. Dari ruang tamu terdengar anak-anak asuhan abah yang sedang melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Sudah dua tahun abah membuka les baca Al-Qur'an untuk anak SD dan SMP. Alhamdulillah terdapat sekitar 38 orang yang abah asuh, 21 orang anak SD dan 17 orang anak SMP.

Di dapur, aku sudah menemukan ummi yang sedang mengecek kelengkapan bahan untuk membuat kue, tapi sepertinya terlihat sedikit ada masalah.

“Kak, boleh minta tolong beliin gula sama mentega? Ini kayaknya kurang deh!”

Oalah, ternyata itu masalahnya. “Iya siap Ummi, mumpung belum Magrib.”

Ummi memberikan selembar uang seratus ribu dan aku langsung bergegas menuju warung yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Langit terlihat sudah berwarna jingga, indah sekali. Terlihat sekawanan burung terbang, mungkin mereka sedang menuju sarangnya, jalan pun agak sepi jadi aku bisa bebas berlari. Namun, saat mendekati warung, aku mendengar perbincangan tetanggaku.

“Nah iya, itu tuh ciri-cirinya orang radikal, makanya untung saya gak pernah ngizinin anak saya ikutan ngaji di situ, nanti diajarin yang aneh-aneh.”

“Iya kemarin juga anak saya udah berani lawan saya, dia nyuruh-nyuruh saya pake gamis kalo keluar rumah, dia mana tau ribetnya emak-emak kalo harus make gamis ke mana-mana.”

“Tapi itu bukannya bagus ya bu? Lagian yang saya lihat anak-anak pada baik kok, saleh-saleh…”

“Yeeuh bu Dina ini, ya itu tuh bisa jadi topeng aja. Di luar nya aja baik, kan nggak tau dalemnya.”

“Lah kalo gitu anak saya pura-pura saleh dong?!”

“Ya enggak gitu juga, coba aja berentiin ngajinya biar nanti keliatan aslinya.”

“Ah, ibu ini, sudah ah saya mau pulang.”

Mendengar itu aku bersembunyi di saung samping warung. Sakit sekali mendengar permbicaraan itu. Setelah tiga orang ibu-ibu itu pergi aku baru menghampiri warung untuk membeli kebutuhan. Sepanjang jalan pulang aku berjalan lunglai, pembicaraan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sebenarnya ini bukan kali pertama ada tuduhan negatif pada keluargaku, tapi aku masih belum terbiasa untuk tidak menghiraukannya.

“Aduh Kak… ummi tunggu dari tadi, kok lama, ummi kan khawatir.” aku tidak menyadari ternyata langkahku sudah menginjak halaman rumah. Sedari tadi aku berjalan sambil menunduk.

“Hehe.. iya Ummi maafin Amira ya.” ummi dan aku langsung menuju dapur dan memulai membuat kue. Mood-ku sudah turun, tidak se- exited sebelumnya. Tapi tidak mungkin aku meninggalkan ummi membuat kue sendirian.


Sinar matahari sudah mulai mencoba masuk dari sela-sela jendela yang masih tertutup gorden, aku menyingkap gorden itu dan membuka jendela untuk memudahkannya masuk ke dalam rumah. Sinarnya hangat dan semilir angin menerpa kulitku. Aku tidak akan menyia-nyiakan segarnya udara minggu pagi, aku memutuskan untuk jogging di taman sekitar komplek.

Selesai jogging aku membeli batagor untuk sarapan dan aku teringat pada anak-anak asuhan abah. Di hari minggu mereka belajar mengaji mulai pukul 9.00-11.00 a.m. Aku ingin memberi mereka reward dan membungkuskan batagor untuk mereka. Selesai makan aku langsung pulang dan bersih-bersih diri.

Di meja, ummi sudah menyiapkan banyak makanan, seketika perutku terasa lapar. Abah mengajakku untuk bergabung, dan tentu aku tidak akan melewatkannya.

“Lho Mi, ini kok batagor masih sisa? Nggak dibagiin semua?” di antara makanan-makanan itu terdapat sepiring batagor yang tadi pagi aku beli. Ummi memelototiku, mengarahkan matanya pada abah yang terdapat rona sedih dalam wajahnya.

“Tadi ada beberapa anak yang ditarik sama orang tuanya, katanya karena mereka sudah bisa baca Qur'an dan mereka juga sibuk sekolah, jadi udah nggak ngaji lagi." jawab abah. Aku mengerti mungkin hidangan makan yang banyak ini untuk menghibur abah.

“Mira, kalau ada apa-apa bilang aja sama Abah, maaf ya Abah kemarin tidak sengaja mendengar telponanmu sama Bang Ashim.” aku hanya tersenyum. Perbincangan tetanggaku kemarin sengaja tidak aku ceritakan pada ummi dan abah, karena takut membuat mereka sedih. Aku lebih memilih menghubungi kakakku yang sedang di luar kota.

“Abah, Amira boleh nanya sesuatu?” aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang sudah dari lama ingin aku tanyakan.

“Ya silakan…”

“Abah kenapa nggak tutup aja les ngajinya? Iya, Amira tahu niat abah baik tapi daripada banyak omongan buruk terus fitnah-fitnah jahat, terus juga capeknya Abah juga tidak mereka bayar kan.” aku sebenarnya takut bertanya, takut aku tidak bisa merangkai kata dengan baik, dan sepertinya memang aku melakukan sedikit kesalahan.

“Astagfirullah… iya iya, Abah tahu maksud kamu. Kamu tahu apa yang membuat abah bertahan?” tanya abah. Aku hanya menggeleng menunggu kelanjutan abah berbicara.

“Abah hanya ingin mendapatkan rida Allah. Dan karena mendapat rida Allah itu ada tantangannya, Abah siap dan ikhlas menerimanya.”

“Iya sih, Bah. Tapi kalau Amira ya, kadang kalau berbuat sesuatu Amira ikhlas banget cuma berharap Allah yang kasih balasannya, tapi Amira kadang nggak kuat kalo udah dinyinyirin orang. Hehe..”

“Amira, yang namanya ikhlas nggak sekadar amalan hati, ada juga perwujudan sikapnya, yaitu dengan tetap melakukannya meski tanpa atau dengan pujian atau cercaan dari orang, inget nih huruf-huruf ini E-G-P-Y-P-A-R.”

“Hah? Apaan itu Bah?”

“Emang Gue Pikirin? Yang Penting Allah Rida.”

“Hahaha… Abah ini bisa aja!” Sahut ummi, dan akhirnya meja itu dipenuhi tawa.

Terima kasih abah, nasihat abah sudah cukup untuk mengobati semua sakit hati dari tuduhan-tuduhan yang orang tujukan pada keluarga kita. Amira juga jadi tahu alasan selama ini abah bertahan. Mekipun sudah sering aku mendengar kalimat “Rida Allah” tapi ucapan abah kali ini terasa sangat masuk ke dalam hati. Aku akan terus berdoa semoga Allah selalu merahmati abah dan ummi.

Selesai.[]

Hijrah dan Istikamahlah

"Sungguh setan akan terus membuat tipu daya agar kaum muslim meninggalkan tobat. Bisa jadi dengan membuat kita berpikir bahwa tidak ada gunanya bertobat jika tetap melakukan maksiat dan mengulanginya."

Oleh. Aya Ummu Najwa
(Kontributor Narasipost.Com)

NarasiPost.Com-Tak ada manusia yang terbebas dari dosa. Semua manusia pernah salah. Setiap manusia pernah melakukan kemaksiatan, bahkan ada yang terus menerus, sering, kadang kala, atau sesekali. Ada yang tidak mau bertobat hingga akhir hayatnya. Ada yang ingin bertobat meski berat luar biasa. Ada sebentar bertobat namun kemudian mengulanginya. Ada yang bertobat dan terus berusaha istikamah dalam pertobatannya.

Sebaik-baik manusia yang berdosa adalah yang bertobat, dengan menyesali, dan berusaha meninggalkan perbuatan dosanya. Seberapapun besarnya dosa kita jangan pernah bosan untuk bertobat. Karena memang itu kewajiban seorang hamba, yaitu senantiasa memohon pengampunan dari Tuhannya, berusaha untuk tidak mengulanginya dan bertahan untuk istikamah dalam bertobat.

Banyak dari kita yang mengeluh kesulitan meninggalkan suatu dosa atau maksiat sehingga akan selalu ingin mengulanginya setelah bertobat. Maka kendati sulit, yang harus dilakukan adalah jangan pernah berhenti bertobat, meski dalam sehari melakukan seratus kali maksiat. Inilah hijrah, dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baru berupa ketaatan, meski sulit. Ingatlah betapa luasnya kasih sayang Allah kepada semua makhluk-Nya, sedang Allah akan melihat seberapa serius hamba-Nya dalam bertobat.

Sebab selama kita bersungguh-sungguh bertobat, walaupun kembali mengulanginya, Allah akan melihat kesungguhan kita dan kemudian membebaskan kita dari dosa. Bisa jadi hari ini, esok, lusa, bulan depan atau bulan-bulan berikutnya sesuai dengan kadar kesungguhan kita. Yang harus kita lakukan adalah jangan putus hubungan dengan-Nya.

Sungguh setan akan terus membuat tipu daya agar kaum muslim meninggalkan tobat. Bisa jadi dengan membuat kita berpikir bahwa tidak ada gunanya bertobat jika tetap melakukan maksiat dan mengulanginya. Setan akan membuat kita terlena dan merasa pemikiran kita itu adalah yang terbaik, sehingga kita akan terus terjerembab ke dalam lumpur kemaksiatan, dan akhirnya sulit tertolong lagi.

Meskipun suatu saat kita terperosok lagi, namun jangan pernah berhenti menyesal, bertobat dan meminta taufik dari Allah agar kita tidak mengulanginya lagi. Walaupun sulit, namun segeralah bertobat, karena Allah akan melihat kesungguhan hamba-Nya dalam pertobatannya. Sungguh, jika bersungguh-sungguh, maka Allah akan menguatkan diri kita serta membebaskan kita dari jurang kemaksiatan.

Ingatlah selalu firman Allah pada surah Ali-Imran ayat 135,

{ وَٱلَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ یُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمۡ یَعۡلَمُونَ }

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui."

Langkah selanjutnya setelah menyesal dan bertobat adalah dengan meninggalkan lingkungan yang dapat mendorong pada perbuatan dosa. Inilah arti hijrah secara harfiah, berpindah dari tempat penuh kemungkaran menuju tempat yang memudahkan kita melakukan ketaatan. Jauhkan diri kita dari teman, tempat, pekerjaan atau bahkan gadget yang mendekatkan kita pada maksiat. Jauhilah sesuai dengan kemampuan kita sembari terus memperkuat hubungan kita dengan Allah selamanya.

Hijrah fisik maupun hijrah secara maknawi sangat membutuhkan dukungan, baik lingkungan, sahabat, serta orang-orang yang saleh lagi muslih, yang akan memberi pengaruh positif terhadap kehidupan kita dengan kebaikan. Dengan begitu diharapkan lambat laun kita akan terlepas dari maksiat itu. Hijrah tak bisa instan. Hijrah butuh proses. Terjatuh, bangun lagi, terjatuh lagi, bangkit lagi. Begitulah proses hijrah. Karena kemaksiatan yang telah mengakar tak bisa sekali dibersihkan dengan perbuatan taat yang hanya sekali. Ketaatan ini harus dilakukan terus menerus, hingga kerak-kerak kemaksiatan itu terkelupas dan rontok, digantikan dengan kebiasaan yang berpahala.

Mintalah pertolongan kepada Allah, agar hijrah kita dimudahkan juga keistikamahan. Karena kadang kita berpikir bahwa pertolongan Allah itu hanya sebatas hal-hal duniawi. Contoh ketika kita sakit, kemudian Allah sembuhkan, maka itu pertolongan Allah, iya benar. Itu memang pertolongan Allah. Ketika kita akan menghadapi ujian di sekolah, apa yang kita pelajari ternyata keluar di dalam soal dan kita bisa menjawabnya, itu benar pertolongan Allah. Ketika kita tidak punya uang untuk membayar utang yang jatuh tempo, atau untuk membayar biaya sekolah anak, kemudian ada yang memberi kita uang, ya itu adalah pertolongan Allah.

Namun kita sering kali lupa, ada pertolongan Allah yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu pertolongan yang bernama taufik untuk melakukan ketaatan. Betapa banyak orang menganggap remeh hidayah taufik ini. Bagaimana tidak, ketika kita dimudahkan datang ke kajian, itu adalah pertolongan dari Allah bukan? Sedang di luar sana banyak saudara-saudara kita yang mudah pergi ke mal, jalan-jalan ke luar negeri, atau nongkrong di kafe, namun begitu berat datang ke kajian yang biasanya jaraknya tak jauh dari rumah kita. Atau ketika kita bisa melaksanakan salat witir, meski satu rakaat. Itu adalah pertolongan berupa taufik dari Allah, karena ternyata tak semua orang kuat untuk sekedar membuka matanya demi melaksanakan salat malam tersebut, padahal mereka biasa mengangkat barbel untuk pembentukan tubuh mereka.

Maka mintalah selalu pertolongan kepada Allah agar hijrah kita dimudahkan, dan hati kita ditetapkan dalam keistikamahan. Jangan mudah menyerah dalam hijrah. Memang benar hijrah itu mudah namun Istikamahlah yang susah. Maka itu, senantiasa mohonlah kepada Allah keistikamahan. Sungguh jika tidak ada masa lalu, maka tidak ada masa sekarang. Jika tidak ada kesalahan, maka tidak ada timbul penyesalan, untuk berbuat lebih baik. Hijrah sebenarnya mudah jika kita berdoa dan berazam dan bersungguh-sungguh. Sedang istikamah adalah mempertahankan segalanya dan hanya untuk Allah. Selagi kita masih diberi hidup, jangan pernah lelah untuk berubah menjadi lebih baik dan benar sesuai koridor syarak. Jangan pernah lelah untuk bertobat.
Tinggalkan apa yang dibenci Allah, dan lakukan segala yang disukai Allah.

Meskipun kita harus kehilangan sesuatu yang yang kita senangi, tapi bukankah yang baik di hadapan Allah jauh lebih penting dari apa yang baik menurut kita? Walaupun kerikil tajam mengadang, meski duri-duri menusuk, tetaplah semangat berhijrah dan istikamahlah.

Ingatlah sabda mulia beliau shalallahu'alaihi wasallam dalam hadis riwayat Imam Muslim nomor 2703, dari sahabat Abu Hurairah, "Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah pasti akan menerima tobatnya."

Selain itu berdoalah kepada Allah untuk keistikamahan kita di jalan hijrah sebagaimana dalam surah Al-Imran ayat 8,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

"Ya Allah Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami cenderung kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi karunia."

Wallahu a'lam[]

Najmu Asy Syabaab Harapan Umat

"Menjadi pemuda Najmu Asy Syabaab adalah tuntutan umat di seluruh dunia. Pemuda muslim yang bangkit dan merapatkan barisan dalam menerapkan syariat sesuai Al-Qur'an dan as-sunnah"

Oleh. Desi Wulan Sari, M.Si.
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sebuah generasi diciptakan agar mampu membangun sebuah peradaban yang didambakan seluruh umat manusia. Peran pemuda inilah yang menjadi pusat kemajuan bangsa. Berbagai upaya demi meningkatkan sebuah generasi, dalam hal ini dapat dilakukan melalui pembekalan perubahan lingkungan masyarakat. Dimulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga negara, menuju arah yang lebih baik di masa yang akan datang.

Melihat bagimana kondisi pemuda hari ini, tentu menjadi PR besar bagi kita semua. Sebagai seorang pendidik, orang tua, dan pendamping yang menaruh harapan besar kepada mereka agar mampu mandiri dengan bekal ketakwaan yang tinggi. Para pemuda kini tengah berada dalam gempuran sistem sekuler liberal, hantaman dan serangan masif yang dilakukan sangat menyesakkan dada. Sedikit demi sedikit kerusakan yang terjadi kian meluas hingga pada cara berpikir generasi muda yang kian jauh dari tuntunan kehidupan, yaitu syariat.

Kondisi tersebut dapat kita saksikan, di mana arus kerusakan generasi muda muslim sampai di berbagai kalangan, salah satunya dalam dunia pendidikan, seperti sekolah, kampus, bahkan pesantren sekalipun. Persoalan pemuda Islam kini terus terjadi disebabkan para pemuda muslim yang tidak lagi hidup dalam habitat yang semestinya.

Arus globalisasi kapitalisme yang muncul, kini membuat lingkungan yang dihadapi pemuda muslim semakin sulit hingga menenggerus akidah dan karakter Islam yang dimilikinya. Bahkan dunia pendidikan, termasuk di perguruan tinggi saat ini mengusungkan kebijakan makro yang menginfiltrasi kapitalisme yang didesain untuk menciptakan level buruh semata atau tenaga kerja di sektor perusahaan, baik nasional maupun multinasional. Meskipun bergaji tinggi, tetapi tetap statusnya sebagai pekerja atau pegawai saja. Maka, apa yang hendak dibanggakan para pemuda Islam kini? Mereka akan selalu berada dibalik bayang-bayang kapitalisme yang “merantai” gerak dan pikiran mereka agar selalu setia pada pemikiran rusak ini, bahkan untuk menjalankan syariat agamanya sendiri pun sulit dilakukan.

Melihat kondisi miris tersebut, tentu umat muslim tidak boleh berdiam diri saja, atau hanya menjadi penonton melihat kemunduran generasinya di depan mata, tanpa berbuat sesuatu pun untuk mengembalikan cahaya mereka sebagai pemuda Islam yang didambakan umat. Lantas, apakah yang harus dilakukan agar generasi Islam menjadi generasi dambaan umat yang kembali seperti pemuda gemilang sebelumnya?

Allah Swt. berfirman, dalam Surah Al-Baqarah, ayat 30 menyebutkan:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.' Mereka berkata: 'Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?' Tuhan berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Al-Baqarah: 30)

Sebagai umat muslim di muka bumi, dikatakan sebagai penjaga bumi dan seisinya. Allah menurunkan Al-Qur'an kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup saat menjalani kehidupan di bumi. Tanggung jawab umat terhadap generasinya merupakan kewajiban yang harus dilakukan, maka untuk hal tersebut umat harus berupaya menyadarkan semua kalangan untuk bergerak menyelamatkan pemuda muslim, dengan terus menggaungkan, merangkul mereka agar kembali mengabdikan hidupnya untuk Allah dan rasul-Nya, senantiasa memeluk kembali Al-Qur'an dan as-sunnah, dengan menggali serta mengetahui potensi dirinya dan menyadari posisinya menjadi sebuah keniscayaan. Karena di tangan generasi pemuda Islam inilah harapan kebangkitan Islam bisa terwujud kembali.

Menjadi pemuda Najmu Asy Syabaab adalah tuntutan umat di seluruh dunia. Pemuda muslim yang bangkit dan merapatkan barisan dalam menerapkan syariat sesuai Al-Qur'an dan as-sunnah, serta memerangi sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme yang jelas telah menghancurkan pemuda Islam hingga jauh dari kebenaran. Menyingkirkan seluruh pemikiran sekularisme, liberalisme, dan kapitalisme harus menjadi cita-cita yang mampu dicapai kelak agar kemaslahatan umat dapat terwujud.

Sosok pemuda Najmu Asy Syabaab, sebagai “Pemuda Bintang” semakin nyata dihadirkan di tengah-tengah umat. Menciptakan generasi muslim bervisi Islam dapat dimulai dalam dunia pendidikan. Pendidikan yang diberikan mulai dari orang tua, lingkungan keluarga, masyarakat, dan instansi pendidikan yang ada. Generasi pemuda bintang harus memiliki kapal besar yang mampu menyelamatkan dunia dan akhiratnya. Memperjuangkan Islam agar generasinya hidup dalam proses meraih mimpi-mimpi pasti bukan hanya sekadar ilusi, memperjuangkan Islam secara kaffah, hingga mampu menjadi pemuda bervisi Islam yang rahmatan lil’alalamiin hingga Islam mampu memimpin kembali umatnya. Visi generasi muslim adalah khalifah, pemimpin di muka bumi, bukan hanya sekadar menjadi buruh kapitalisme tanpa ada kepastian kemaslahatan di dalamnya. Jadilah pemuda bintang di mata Allah yang mampu beramar makruf nahi munkar dalam naungan Junnah pemimpin negaranya, sosok pemimpin negara yang amanah dan mampu meriayah rakyatnya. Di mana negara inilah sebagai instistusi sistem tertinggi yang ada mampu mewujudkan syariat Allah dengan kaffah. Wallahu a’lam bishawab.[]

Patgulipat, Gagal RUU Terbitlah Perppu

”Hal ini tampak dari statement pemerintah saat konferensi pers, bahwa penerbitan Perppu adalah kebutuhan untuk kepastian hukum bagi pengusaha, bukan demi kepentingan rakyat secara umum. Artinya, Perppu ini adalah demi investasi, liberalisasi, dan swastanisasi.”

Oleh. Sartinah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Pro kontra Undang-Undang Cipta Kerja kembali bergulir. UU "sapu jagat" yang sebelumnya dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh Mahkamah Konstitusi (MK), kini menjadi legal. Hal ini setelah Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (Ciptaker) pada Jumat, 30 Desember 2022 lalu. Walhasil, Perppu Ciptaker menjadi kado pahit di awal tahun 2023.

Pengesahan Perppu tersebut sekaligus menganulir keputusan MK yang menyatakan UU Ciptaker inkonstitusional bersyarat pada 25 November 2021. Inkonstitusional bersyarat dikabulkan MK melalui Putusan Nomor 91/PUU-XVIII/2020. Dalam putusan tersebut, MK meminta pemerintah dan DPR melakukan perbaikan terhadap UU Ciptaker paling lambat dua tahun setelah putusan dikeluarkan. Apabila dalam tenggang waktu tersebut tidak dilakukan perbaikan, maka UU Ciptaker dinyatakan inkonstitusional secara permanen atau tidak berlaku lagi.

Jika MK sudah memutuskan demikian, lantas mengapa Presiden Jokowi justru menerbitkan Perppu yang berarti menggugurkan status inkonstitusional yang dikeluarkan MK?

Kegentingan Mendesak?

Terkait dikeluarkannya Perppu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyatakan, terbitnya Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tersebut didasari oleh kebutuhan mendesak. Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat antisipasi terhadap kondisi global, baik terkait ekonomi seperti resesi global, peningkatan inflasi, dan ancaman stagflasi. Hal tersebut dikemukaan Airlangga dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, pada Jumat (30/12). (Kompas.com, 30/12/2022)

Namun, pendapat berbeda dikemukakan oleh mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Denny Indrayana. Denny justru menyentil keras tentang Perppu Ciptaker tersebut. Menurutnya, Presiden Jokowi tidak menghormati putusan MK dan terkesan memaksakan UU Ciptaker yang sudah dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh MK. Menurutnya lagi, alasan inkonstitusional bersyarat lantaran tidak hadirnya partisipasi publik dalam pembuatannya. (Cnnindonesia.com, 01/01/2023)

Tak Sesuai Klaim

Alasan paling utama pemerintah menerbitkan Perppu Ciptaker adalah untuk mengatasi kebutuhan mendesak terkait kemungkinan resesi sebagai dampak krisis ekonomi global. Namun, alasan tersebut justru tidak seiring sejalan dengan klaim pemerintah terkait ekonomi Indonesia. Pemerintah dalam banyak kesempatan selalu menyatakan bahwa ekonomi nasional tumbuh dengan baik di tengah ancaman resesi global. Bahkan, kondisi ekonomi dalam negeri diklaim baik-baik saja sejak terjadinya pandemi, perang Rusia-Ukraina, krisis harga minyak global, inflasi, dan stagflasi dunia.

Klaim tersebut dikuatkan dengan data pertumbuhan ekonomi dari pemerintah. Sebagaimana dikutip dari Kemenkeu.go.id (09/11/2022), pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,72 persen (yoy) pada triwulan III-2022. Fakta menguatnya ekonomi pun ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi Q3 2022 dibandingkan dengan Q2 2022 yang sebesar 1,8 persen. Dengan tingkat pertumbuhan tersebut, level PDB nasional secara kumulatif sampai dengan triwulan III-2022 berada pada 6,6 persen di atas level kumulatif I-III 2019.

Selain itu, data kinerja neraca perdagangan pun masih kuat. Hal ini terbukti dengan pertumbuhan ekspor yang terus meningkat, juga impor sebagai pendukung pasokan dalam negeri. Secara riil, ekspor tumbuh 21,6 persen (yoy) pada triwulan III-2022, sedangkan impor tumbuh sebesar 23,0 persen (yoy). Nilai ekspor pada periode tersebut mencapai US$24,12 miliar, sedangkan nilai impor sebesar US$18,96 miliar. Naiknya nilai ekspor berimbas pada surplus perdagangan barang sebesar US$5,6 miliar selama 31 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. (Tempo.co, 15/12/2022)

Berdasarkan catatan data yang dikeluarkan pemerintah tersebut, seharusnya ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap implikasi resesi global. Jika data pemerintah sudah menunjukkan demikian, lantas di mana letak keadaan darurat yang membuat pemerintah ngotot menerbitkan Perppu sebagai alasan mendesak secara ekonomi?

Menabrak Konstitusi

Menganulir UU Ciptaker yang sudah dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh MK adalah bentuk pembangkangan terhadap lembaga penjaga konstitusi (MK) bahkan melanggar UUD 1945. Ditambah lagi, dalam proses pengesahan Perppu, presiden tidak melakukan pembahasan di DPR, serta tidak mengajak masyarakat untuk berpartisipasi di dalamnya. Bukankah sikap penguasa jelas-jelas melanggar prinsip negara demokratis? Fakta tersebut juga mengisyaratkan bahwa penguasa sedang menunjukkan wajah otoritarianismenya.

Di sisi lsin, penerbitan Perppu tidak memenuhi unsur-unsur diterbitkannya sebuah Perppu. Misalnya saja, tidak terdapat kegentingan yang memaksa dan kekosongan hukum. Unsur-unsur tersebut tidaklah terpenuhi jika melihat fakta baiknya kondisi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah. Jika demikian, hanya satu alasan yang bisa diterima atas kukuhnya niat presiden menerbitkan Perppu, yakni demi memfasilitasi investor dan para pemodal. Hal ini tampak dari statement pemerintah saat konferensi pers, bahwa penerbitan Perppu adalah kebutuhan untuk kepastian hukum bagi pengusaha, bukan demi kepentingan rakyat secara umum. Artinya, Perppu ini adalah demi investasi, liberalisasi, dan swastanisasi.

Padahal jika alasannya karena investasi, pemerintah tak perlu sampai menerbitkan Perppu. Pasalnya, menurut data dari Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), data realisasi investasi sepanjang Januari-September 2022 sebesar Rp892,4 triliun. Namun perlu dicatat, aliran investasi sebesar itu terjadi tanpa diberlakukannya UU Ciptaker yang masih dinyatakan inkonstitusional oleh MK. Berikutnya pula, investasi yang masuk ke negeri ini terjadi sebelum diberlakukannya Perppu Ciptaker.

Sekali lagi, fakta tersebut tidak menunjukkan kepentingan mendesak hingga pemerintah harus mengeluarkan Perppu Ciptaker. Seharusnya pemerintah membatalkan Perppu tersebut karena mendapat banyak kritik dari masyarakat. Bukan justru bermain petak umpet dengan rakyat dan menerbitkan Perppu secara diam-diam.

Namun, inilah fakta sebuah negeri dalam balutan sistem demokrasi kapitalisme. Kebijakan hanya dibuat sesuai dengan kepentingan segelintir pihak, bukan demi mewujudkan kebaikan bagi seluruh rakyat. Tak heran jika UU sangat mudah direvisi, diganti, bahkan diacak-acak demi melegalkan perampasan aset negara atas nama investasi maupun liberalisasi. Fakta ini sekaligus membuktikan bahwa hukum buatan manusia sangat mudah diubah demi kepentingan segelintir orang. Hal ini berpangkal ketika hukum dibuat dengan merujuk pada akal manusia yang lemah dan terbatas. Padahal, siapa pun tahu bahwa segala sesuatu yang terbatas tidak mungkin mampu menghasilkan kesempurnaan.

Legislasi dalam Islam

Sistem demokrasi yang produk undang-undangnya hanya condong pada kesejahteraan segelintir orang tentu bertolak belakang dengan Islam. Dalam sistem Islam, legislasi akan menghasilkan produk hukum yang lengkap, adil, relevan dengan zaman, serta menjamin kepastian hukum. Satu hal yang pasti, hukum Islam akan membawa kebaikan dan kebahagiaan sejati bagi seluruh manusia. Hal ini karena produk hukum dalam Islam dibentuk dari unsur-unsur sebagai berikut:

Pertama, asas hukum Islam adalah akidah. Bagi seorang muslim, akidah menjadi kunci utama keselamatan di dunia dan akhirat. Akidah Islam telah mewajibkan setiap muslim untuk meyakini bahwa seluruh alam semesta beserta manusia adalah ciptaan Allah Swt. Manusia hanya diwajibkan untuk beribadah kepada Allah dan seluruh syariatnya, sebab akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Dari akidah Islam pula akan lahir berbagai sistem kehidupan, termasuk di antaranya adalah produk hukum. Hukum yang berasal dari Allah Swt. dipastikan mengandung kesempurnaan, kebaikan, dan keadilan bagi semua manusia.

Kedua, kejelasan sumber hukumnya. Sumber hukum Islam yang disepakati oleh para ulama adalah Al-Qur'an, As-Sunah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas Syar'i. Keempat sumber hukum Islam tersebut sangat jelas rujukannya, yakni wahyu Allah Swt. Dengan sumber rujukan yang jelas, maka hal ini akan menghindari terjadinya perselisihan di tengah masyarakat.

Dalam Islam, legislasi memiliki dua makna. Pertama, penyusunan hukum syariat dari awal. Sedari awal Islam telah menetapkan bahwa penyusunan hukum syariat adalah hak prerogatif Allah Swt. Ini artinya, manusia tidak boleh membuat aturan sendiri dan menentukan halal ataupun haram.

Kedua, pengadopsian dan penjelasan hukum yang digali dari syariat yang ada. Terkait hal ini, Allah Swt. sebagai pembuat hukum (Al-Hakim), telah mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunah untuk menggali hukum dan menjelaskannya. Sementara itu, pihak yang melegislasi hukum (yang menggali dan melahirkan hukum dari sumber syariat) adalah para mujtahid yang berasal dari kaum muslim. Dengan demikian, hukum Islam yang dilahirkan akan tetap kekinian dan selalu selaras dengan perkembangan zaman.

Ketiga, penjelasan tentang jarimah (kejahatan) dan sanksinya. Dalam Islam, kejahatan diartikan sebagai perbuatan yang melanggar syariat sehingga berimplikasi dosa dan layak mendapatkan sanksi (uqubat). Hukum Islam yang bersumber dari wahyu Allah Swt. sedari awal sudah menggambarkan mana saja perbuatan yang termasuk dalam kategori kejahatan sekaligus menetapkan jenis-jenis sanksinya.

Keempat, adanya jaminan kebaikan bagi seluruh manusia. Setiap muslim meyakini bahwa Allah Swt. telah mengutus Rasul-Nya untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Anbiya ayat 107 yang artinya, "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." Ayat di atas sekaligus menjadi jaminan bahwa syariat dan hukum yang dibawa oleh Rasulullah saw. akan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi umat manusia seluruhnya.

Kelima, tidak bisa diintervensi. Hukum Islam yang berasal dari Allah Swt. tidak bisa diintervensi maupun diutak-atik sesuai kepentingan. Sebab, dalam hukum Islam semua serba jelas, baik sumber hukumnya, jenis-jenis sanksinya, dan perbuatan apa saja yang merupakan pelanggaran. Di sisi lain, penguasa adalah pelaksana hukum syariat Islam sehingga kebijakan apa pun yang dikeluarkan semata-mata demi kemaslahatan rakyat.

Khatimah

Pengesahan Perppu yang masih inkonstitusional bersyarat menjadi preseden buruk bagi negeri ini yang telah mendeklarasikan diri sebagai negara hukum. Perppu ini hanyalah jalan mulus, aman, dan legal bagi para oligarki untuk menjerat negeri ini di balik dalih investasi. Walhasil, pengesahan Perppu tidak akan menjadi solusi bagi kebaikan negeri ini. Satu-satunya solusi adalah kembali pada hukum buatan Allah yang secara nyata melahirkan keadilan dan kebaikan hakiki. Wallahu a'lam.[]

Ketika Anak Terjerat Maksiat

"Bersekolah di sekolah Islam bahkan di pesantren, namun lingkungan liberal yang mengagungkan kebebasan merupakan magnet sangat kuat yang bisa memorak-porandakan fondasi yang sudah dibangun dalam keluarga."

Oleh. Novianti
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Seorang ibu menyampaikan kegundahannya dengan bercucuran air mata.

“Putri saya meminta izin melepaskan kerudungnya. Padahal sejak dari TK, saya masukkan di sekolah Islam sampai usia SMA. Kenapa begitu masuk perguruan tinggi, ia berubah?”

Lain lagi dengan cerita seorang ibu yang stres menghadapi tingkah putrinya yang menjalin hubungan dengan banyak pria tanpa pernikahan. Bahkan, putrinya menemui dokter kandungan untuk memasang alat KB sebagai pencegah kehamilan. Tujuannya mencari kepuasan. Itulah yang menjadi alasan kenapa berganti-ganti pasangan.

Kasus-kasus semacam ini banyak terungkap dalam parenting, kajian, atau ruang-ruang konsultasi psikolog. Wajah para orang tua demikian sedih karena kecewa harus menerima kenyataan, anaknya tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka telah melanggar batasan Allah sebagai pelaku kemaksiatan.

Potret Buram Generasi Muda

Keadaan generasi muda hari ini memang sangat mengakhawatirkan. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo yang dirilis oleh antaranews.com (07/01/2022) mengatakan, bahwa banyak anak-anak sudah melakukan hubungan seks sejak usia belasan tahun. Ada enam persen pada kelompok usia 11-14 tahun, sedang pada usia 15-19 tahun ada 74 persen laki-laki dan 59 persen perempuan sudah melakukan hal tersebut.

Muncul pula fenomena baru di masyarakat yaitu FWB, Friend With Benefits. Istilah yang menggambarkan hubungan lawan jenis, berawal dari pertemanan kemudian berkembang menjadi hubungan seksual tanpa pernikahan. Hubungan bisa putus kapan saja dan menurut para pelakunya tidak merugikan siapa pun karena sejak awal sepakat tidak ada komitmen harapan masa depan.

Ada lagi istilah jatah mantan. Menyerahkan kehormatan pada mantan, lelaki yang bukan calon suaminya pada hari menjelang pernikahan. Dan masih banyak kasus lain yang menunjukkan buramnya kondisi generasi muda. Padahal mereka adalah harapan masa depan, tetapi persoalan dirinya sendiri saja belum terselesaikan.

Keluarga dalam Kepungan Liberalisme

Pada beberapa kasus, pola pengasuhan menjadi salah satu penyebab, namun tidak sedikit anak muda yang 'nakal' berasal dari keluarga ‘baik-baik’. Bersekolah di sekolah Islam bahkan di pesantren, namun lingkungan liberal yang mengagungkan kebebasan merupakan magnet sangat kuat yang bisa memorak-porandakan fondasi yang sudah dibangun dalam keluarga.

Dalam paham liberalisme, setiap orang memiliki kebebasan berakidah, bisa keluar-masuk agama. Berbuat tanpa mempertimbangkan halal dan haram atau dosa dan pahala. Hawa nafsu menjadi guru besar, hasil eksperimen atau sains menjadi kitab sucinya.

Tak heran, pemikiran yang merusak dan kemunkaran merajalela karena gaya hidup liberal di-support negara. Media sosial menjadi akselerator sehingga berita seperti muslim murtad, muslimah lepas jilbab, menikah beda agama, menjalar dengan cepat.

Negara yang seharusnya menjadi pelindung, makin menambah berat tanggung jawab orang tua. Melalui kurikulum moderasi beragama, konsep agama dikaburkan. Identitas kemusliman dicerabut dari kalangan generasi muda.

Tidak sedikit orang tua putus asa, bingung tidak tahu harus melakukan apa. Ada yang memilih pasrah atau mengusir anak daripada harus menanggung malu. Tentunya keputusan ini akan memperburuk keadaan karena anak semakin terperosok dalam lubang dosa.

Sikap Orang tua

Anak adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Karenanya, meski mendidik dalam alam liberal tidak mudah, orang tua harus tetap optimis dan tidak putus harapan. Tidak menyerah dan membiarkan anaknya tetap dalam kemaksiatan. Jika keluarga tidak menerima, anak akan mencari kenyamanan dalam circle yang sefrekuensi.

Apa yang dapat dilakukan orang tua?

Pertama, orang tua harus introspeksi dan melakukan tobat nasuhah. Mereka mengevaluasi terutama dalam pendidikan iman. Keimanan anak tidak bisa diukur dari perilaku salat lima waktu atau berkerudung saja. Pola pikir anak yang menentukan cara pandang dan sikap terhadap sesuatu harus dipastikan tegak lurus dengan prinsip kebenaran Islam.

Liberalisme yang dibangun di atas akidah sekularisme, menempatkan Islam sebatas ibadah ritual, sementara kemaksiatan tetap dijalankan. Orang tua harus memahamkan konsep keimanan tidak dalam pandangan sempit. Anak diajak dialog atau ngobrol untuk menggali pandangannya terhadap sesuatu dan segera koreksi kekeliruannya.

Tanggung jawab ini merupakan perintah Allah sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 133 , “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, 'Apa yang kalian sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah sesembahanmu dan sesembahan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) tunduk kepada Dia.'”

Kedua, menyampaikan konsep Islam kaffah agar tergambarkan kesempurnaan Islam. Radar anak terhadap realita yang jauh dari Islam akan makin sensitif dan menyadari bahwa dirinya merupakan korban dari sebuah skenario global yang menyasar generasi muda muslim. Akan teridentifikasi siapa musuh-musuh Islam dan berbagai strategi yang dilakukan.

Ketiga, jadilah teladan bagi anak sebagai pejuang Islam kaffah. Ujian berat terkait anak tidak boleh menyurutkan semangat untuk menegakkan sistem Islam kaffah, karena inilah solusi tuntas bagi semua persoalan yang ada hari ini dan dapat menyelamatkan generasi. Menjadi pejuang Islam kaffah berarti menolong agama Allah, dan Allah berjanji dalam surah Muhammad ayat 7 , ”… Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Keempat, selalu berprasangka baik pada Allah. Ketika anak tergelincir dalam perbuatan dosa, tidak berarti hilang kesempatan meraih surga. Sampaikan motivasi seperti sabda Rasulullah saw. bahwa meski seorang manusia memiliki dosa-dosa setinggi langit lantas minta ampunan kepada Allah, niscaya akan diampuni. Bahkan dengan dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi pun, akan Allah ampuni selama tidak berbuat kesyirikan.

Pendampingan anak untuk kembali pada jalan yang benar tidaklah mudah terlebih untuk kasus-kasus berat seperti kecanduan pornografi atau narkoba. Membantu proses hijrahnya tidak selesai dalam waktu sehari atau dua hari. Bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Meminta bantuan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater yang memiliki pemikiran yang sama dapat dilakukan jika diperlukan. Tetapi orang tua tetap yang menjadi pemimpin dalam proyek penyelamatan anak.

Kelima, mendorong anak terlibat dalam komunitas seusia agar memperoleh pengalaman yang mengasah fitrah dalam dirinya. Anak dengan versi baru akan memiliki nilai dan prinsip sehingga tumbuh visi misi besar pada dirinya. Ia merasakan bahwa dirinya berharga dan paham makna berjuang. Hidup ini tak layak untuk diratapi lantas terpuruk dalam penyesalan. Selalu ada kesempatan bagi siapa pun yang ingin berubah dan kembali mendekat pada Allah.

Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat Allah. Tugas manusia terus berikhtiar. Fokus pada proses bukan pada hasil. Nikmati lelah dalam hijrah karena semua itu sepadan dengan tujuan sesurga di akhirat bersama keluarga.
Allahu a'lam[]

Tahun Baru, Resolusi Baru

"Kawan, sudah waktunya Islam bangkit. Tentukan posisi kita mau jadi istimewa dengan ikut berjuang, atau terhina karena diam dan apatisnya kita, ataukah malah ingin menjadi barisan penentang yang pasti binasa? Nauzubillah."

Oleh. Aya Ummu Najwa
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Tahun 2023 telah bertandang, tandanya waktu terus melenggang. Bersyukur kita masih diberi umur dan kesempatan, untuk bersyukur dan menambah ketaatan. Betapa karunia Allah itu begitu banyak meliputi hidup kita. Bahkan tanpa karunia-Nya kita tak akan ada di dunia ini. Tak mampu memandang indahnya ciptaan-Nya, tak mampu mencintai keluarga, dan tak mampu mensyukuri nikmat-Nya.

Selama Allah bersama kita, tak perlu khawatir dengan segala hiruk pikuk dunia. Tak perlu cemas dengan kegundahan dunia. Jika burung saja dipelihara dan dicukupi oleh-Nya setiap hari tanpa harus ada campur tangan manusia yang memeliharanya, mengapa kita harus resah dalam hidup ini? Bukankah kita adalah manusia, makhluk dengan derajat tertinggi, yang pastinya akan dipelihara oleh Sang Pencipta?

Kekhawatiran akan hidup sejatinya tak lain merupakan wujud keserakahan nafsu. Karena manusia senantiasa ingin terus mendapatkan yang lebih, ia terus didorong oleh rasa kurang puas setiap kali memperoleh sesuatu. Merasa dirinya akan terus ada di dunia ini, merasa hidup tak akan pernah berakhir. Dunia baginya adalah tujuan. Yang harus ia dapatkan dan ia genggam.

Dia akan merasa bahagia jika cita -cita dan ambisi dunianya terlaksana. Dia akan semakin bersemangat jika mendapatkan apa yang ia damba dalam urusan dunia, namun ia akan mudah patah jika impiannya luput darinya. Dirinya akan merasa hampa dan kosong. Tak punya gairah hidup, bahkan tak jarang merutuk dan mengutuk. Baginya pergantian tahun adalah tentang meningkatkan income, derajat dan kebanggaan status. Dengan optimisme tinggi, ia akan sibuk menyusun resolusi-resolusi duniawinya. Memutar otak bagaimana harta dan kehidupannya bertambah dan beranak pinak setiap tahun.

Sebaliknya bagi orang yang menyadari dunia hanya fatamorgana, ia tak akan mengejarnya sekuat tenaga. Ia yakin bahwa akhiratlah tempat kembali yang tak akan pernah berakhir, ia tahu kita akan hidup selamanya di sana. Ia akan menjaga dirinya selalu optimis dalam meraih kebahagiaan akhirat. Ia tahu bahwa orang yang optimis ialah orang yang mempunyai ketaatan dan menegakkan semua yang dituntut oleh keimanannya. Bahwa orang yang optimis adalah orang yang senantiasa berharap agar Allah menerima amalnya, meridainya, tidak memalingkannya, tidak menolaknya serta melipatgandakan pahalanya.

Dia selalu ingat akan firman Allah taala dalam surah Yunus ayat 107,

{ وَإِن یَمۡسَسۡكَ ٱللَّهُ بِضُرࣲّ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥۤ إِلَّا هُوَۖ وَإِن یُرِدۡكَ بِخَیۡرࣲ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضۡلِهِۦۚ یُصِیبُ بِهِۦ مَن یَشَاۤءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۚ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ }

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu maka tak ada yg dapat menolak karunia-Nya"

Ia akan terus mengingat ayat ini dalam dirinya. Dengan begitu ia akan melewati kegundahan dan keresahan. Karena ia yakin ada Allah bersamanya.

Sungguh ia tak akan pesimis dan merasa bimbang dengan segala permasalahan hidup. Karena ia sangat memahami bahwa sikap bimbangnya akan membawanya pada sikap tidak percaya diri, lemah, mudah patah, dan menyalahkan orang lain, bahkan tak jarang dapat mengurangi kadar keimanannya pada Allah subhanahuwataala.

Sungguh tak ada waktu untuk menerus menggerutu dengan apa yang dialami saat ini. Yang harus dilakukan adalah mensyukuri bahwa dirinya masih diberi kesempatan untuk hidup hingga memungkinkannya masih bisa tetap berjuang. Pergantian tahun adalah kesempatan yang Allah berikan untuk hamba melayakkan diri agar kelak dipandang oleh Allah, dengan ikut berjuang untuk agama-Nya. Karena dakwah memperjuangkan kehidupan Islam adalah satu-satunya jalan meraih kemuliaan di hadapan Allah.

Maka awal tahun 2023 ini, ia mengazamkan diri untuk ikut andil dalam perjuangan kebangkitan Islam. Ia tak takut kesusahan hidup karena dakwah, sebab ia yakin Allah yang menjamin rezekinya. Ia tak khawatir akan ancaman mahluk, karena ia tahu Allah yang Maha Menjaga. Ia hanya takut Allah akan murka jika ia berdiam diri saat agama-Nya dihina. Ia hanya khawatir azab Allah bagi mereka yang membiarkan kezaliman merajalela.

Kawan, sudah waktunya Islam bangkit. Tentukan posisi kita mau jadi istimewa dengan ikut berjuang, atau terhina karena diam dan apatisnya kita, ataukah malah ingin menjadi barisan penentang yang pasti binasa? Nauzubillah.

Senantiasalah berharap semoga Allah membimbing kita untuk selalu istikamah dalam kebaikan dan kebahagiaan hidup. Bahagia itu taat syariat, bukan pemuja dunia dan lupa akhirat, apalagi pendukung maksiat. Sudah waktunya move on dari gairah dunia. Dunia ini pasti hancur, untuk apa kita kejar hingga lembur. Resolusi pergantian tahun ini adalah harus menjadikan akhirat sebagai tujuan dan menjadi pengemban dakwah adalah cita-cita juga ambisi.

Mulailah kembali ke jalan ilahi. Cari kelompok dakwah yang ikhlas memperjuangkan Islam. Yang tak mudah tergiur dengan iming-iming dunia, apalagi euforia lima tahunan sekali. Bangkit itu secara komunal bukan individual. Jika sendiri akan banyak ancaman yang mudah menggoyahkan diri. Namun, jika bersama akan banyak dukungan dan aliran semangat yang menguatkan.

Wallahu a'lam[]

Membumikan Ide Kebangkitan Islam

”Semua kekayaan serta kesuksesan sebuah peradaban ditentukan oleh seberapa hebat pemikiran yang diusung masyarakat. Meski kekayaan material sebuah bangsa hancur tak bersisa, mereka akan segera mampu bangkit dengan cepat selama pemikiran masih terpelihara dalam benak mereka.”

Oleh. Vivin Indriani
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-“Sebuah ide yang relevan selalu punya kaki sendiri.” (Prof. Salim Said, Ph.D)

Ide kebangkitan Islam sebagai sebuah supremasi hukum dan institusi masih ramai diperbincangkan. Tak sedikit yang pro dan memiliki euforia tinggi untuk menyongsong janji kenabian yang banyak dituturkan dalam hadis-hadis. Namun banyak juga yang kontra dengan beragam alasan, baik alasan logis maupun sekadar demi memuaskan ego pribadi dan kelompoknya. Namun sebagai sebuah gagasan, ide kebangkitan kembali Islam ini cukup layak untuk diuji sebagai salah satu dari sekian banyak tawaran sistem pengganti atau setidaknya solusi fundamental bagi kerusakan negara dan dunia pada umumnya. Sebuah gagasan perubahan bagi bangsa yang terkatung-katung oleh ketidakpastian praktik penerapan kapitalisme liberalisme hari ini.

Bagi negara seluas Indonesia, dengan masyarakat yang fragmanted society -tidak punya kesamaan latar belakang baik sejarah maupun kesamaan jenis latar belakang lainnya- ide ini membutuhkan pergerakan yang tidak sekadarnya. Perlu upaya sungguh-sungguh untuk membumikan gagasannya. Gagasan ini juga harus mampu untuk menemukan relevansi pada kondisi yang mereka hadapi baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Yang paling menyedihkan adalah jika sebuah ide dan gagasan justru tidak menemukan makna di tengah masyarakat yang buta gagasan, buruk literasi serta memiliki kesulitan untuk menerjemahkan teks ke dalam konteks. Dalam arti, sebuah masyarakat yang rendah taraf berpikirnya. Inilah tantangan terberat yang dihadapi negeri ini.

Menguak Tabir Rendahnya Taraf Berpikir Umat

Sebuah masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang pemikiran dan individunya berporos pada gagasan atau ide. Sebaliknya, masyarakat yang sakit adalah masyarakat yang pemikiran dan individunya berporos pada materi atau kebendaan. Demikian buah pemikiran Dr. Majid Irsan Al Kilani dalam buku beliau Model Kebangkitan Umat Islam, Kemunculan Generasi Shalahudin dan Kembalinya Al-Aqsa Palestina. Masyarakat yang individunya lebih banyak menghabiskan waktu dalam rangka memenuhi sebanyak-banyaknya materi, serta masyarakat yang memandang bahwa sumber kebahagiaan mereka adalah terpenuhinya materi atau harta justru menunjukkan bahwa masyarakat tersebut berada pada level kehidupan yang rendah. Makin dibiarkan kondisinya akan makin lemah, kritis bahkan bisa mati, dalam arti masyarakat tersebut selangkah menuju kehancuran. Namun bagi masyarakat yang poros kehidupannya adalah gagasan, ide dan pemikiran, sesungguhnya kebangkitannya kian dekat. Juga masyarakat yang literasi dan keilmuan merupakan hal yang begitu diminati, serta masyarakat yang meletakkan penghormatan tinggi kepada aktivitas menuntut ilmu dan kepada para aktor keilmuan tersebut, maka masyarakat seperti inilah yang akan menjadi pangkal muasal kemajuan dan kebangkitan. Inilah masyarakat yang sehat.

Ketika Al-Quds jatuh ke tangan Pasukan Salib, butuh tiga generasi untuk mengambilnya kembali dari tangan musuh. Sepanjang 50 tahun periode kekalahan tersebut, para ulama dan para penguasa muslim berupaya mengembalikan kejayaan Al-Quds dengan membangkitkan pemikiran umat Islam. Pendidikan menjadi salah satu pilar untuk melahirkan generasi-generasi yang siap memanggul kebangkitan, mengalahkan musuh serta mengembalikan kemuliaan Al-Quds dengan cara menjadi penguasa tanah yang diberkati tersebut. Maka lahirlah kemudian generasi yang bangkit itu melalui sosok Shalahudin Al-Ayyubi, menaklukkan kembali Al-Quds dari tangan Pasukan Salib tanpa banyak menumpahkan darah. Tentu saja hadirnya generasi pembangkit ini adalah peran dari tingginya pemikiran Islam di tengah masyarakat.

Ketika kita berbicara tentang penaklukan Baitulmaqdis, kita tidak hanya sedang bicara tentang sosok di balik penaklukan itu. Baik oleh Umar bin Khaththab di tahun 638 H maupun oleh Shalahuddin Al-Ayyubi di tahun 1187 H. Keduanya hidup di era ketinggian tsaqafah dan pemikiran Islam. Dalam era ketika kekuasaan Islam menjadi institusi besar negara adidaya yang disegani dunia. Ada berjilid-jilid generasi di atas keduanya yang meletakkan dasar bagi bangunan pemikiran Islam. Ada para ulama yang menjaga fikrah Islam dan mewariskannya dalam sistem regenerasi yang sangat baik dan sempurna.

Kondisi sebaliknya justru menimpa kaum muslimin hari ini. Umat Islam hidup di masa ide dan gagasan Islam mulai surut. Pemikiran Islam terkalahkan, diganti dengan pemikiran dan tsaqafah Barat (Tsaqafah Gharbiyyah). Ajaran liberalisme, kebebasan berbuat sekehendak hati tanpa aturan menjadi panutan. Hedonisme, ajaran untuk mengejar sebanyak-banyaknya aneka kesenangan materi duniawi menjadi tuntunan. Umat Islam hidup dengan pandangan yang tertuju sepenuhnya pada sebesar-besarnya perolehan materi. Gelar, jabatan serta gelimang kekayaan menarik minat umat akhir zaman ini lebih besar dari minat kepada ketinggian gagasan dan pemikiran. Wajar jika saat ini kondisi mereka demikian mengenaskan.

Belajar dari Shalahuddin Al Ayyubi, Mencetak Generasi Penakluk

Belajar dari Sayyidah Sitkhotun, seorang wanita mulia. Tinggal di daerah pinggiran Kota Tikrit Irak. Wanita sederhana, namun bercita-cita tinggi dan mulia. Di masanya, Sitkhotun menjadikan Penaklukan Baitulmaqdis sebagai cita-cita tertingginya. Kiblat pertama umat Islam yang kala itu berada dalam cengkeraman Pasukan Salib. Cita-cita tinggi menaklukkan Baitulmaqdis adalah opini besar di zaman itu. Tersebar di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga keilmuan serta pemerintahan. Para ulama dan penguasa muslim berlomba-lomba mencetak dan mengkader generasi-generasi penakluk. Perasaan dan pemikiran masyarakat tertuju sepenuhnya pada pengambil alihan kembali Kiblat pertama umat Islam tersebut.

Maka demikianlah Sitkhotun, cita-citanya bersanding dengan laki-laki yang mampu menaklukkan Baitulmaqdis dipertemukan Allah dengan Najmuddin Al-Ayyubi. Laki-laki saleh dari kalangan keluarga khalifah yang punya cita-cita sama. Keponakan Nuruddin Zanki-Panglima besar Islam yang telah mempersiapkan penaklukan besar-besaran Baitulmaqdis. Najmuddin Al-Ayyubi berikut cita-cita besarnya kala itu, memimpikan beroleh istri yang dari rahimnya lahir generasi penakluk Baitulmaqdis. Dari dua pasangan mulia inilah lahir sosok Shalahuddin Al-Ayyubi.

Kita menyaksikan bahwa ide dan gagasan kebangkitan menjadi kekuatan besar sebuah peradaban. Pemikiran menjadi poros bagi materi dan individu. Napas masyarakat bergerak oleh pemikiran yang menjadi oksigen kebangkitan. Pemikiran jualah yang menginspirasi masyarakat untuk bergerak ke arah tujuan yang hendak dicapai. Namun, pemikiran seperti apa yang mampu membangkitkan umat Islam hari ini? Pemikiran semacam apa yang mampu menyatukan cara pandang masyarakat yang sudah sangat terpuruk dan jumud?

Imam Taqiyyuddin An-Nabhani dalam Muqaddimah Nidhamul Iqtishadi menyampaikan bahwa pemikiran merupakan kekayaan terbesar sebuah bangsa. Semua kekayaan serta kesuksesan sebuah peradaban ditentukan oleh seberapa hebat pemikiran yang diusung masyarakat. Meski kekayaan material sebuah bangsa hancur tak bersisa, mereka akan segera mampu bangkit dengan cepat selama pemikiran masih terpelihara dalam benak mereka. Allah Swt. berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d ayat 11).

Pengkajian mendalam terhadap fakta serta sejarah kebangkitan Islam, bahwa mesin-mesin perubahan hanya diproduksi oleh jiwa-jiwa yang tidak kosong dari pemikiran Islam. Untuk itu, membumikan ide kebangkitan, tidak bisa dilakukan kecuali dengan memasukkan sebanyak mungkin pemikiran tsaqafah Islam ke dalam diri umat. Umat harus mengenali kembali tsaqafahnya yang kini terasa asing bagi mereka. Umat harus dibuat rindu pada penerapan pemikiran Islam itu. Tidak sekadar mereka melihat ada keuntungan dari diterapkannya pemikiran Islam atas kehidupan mereka. Namun, memahami bahwa menerapkan fikrah Islam adalah sebuah kewajiban. Inilah kunci kebangkitan. Inilah pekerjaan rumah hari ini. Wallahu’alam.[]