Menyiapkan Keluarga Menjadi Agen Perubahan

"Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran, ia adalah setan bisu (dari jenis manusia). Dan orang yang menyampaikan kebatilan, ia adalah setan yang berbicara (dari jenis manusia)." (HR. An-Nawawi)

Oleh. Firda Umayah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Keluarga adalah benteng pertama dan utama bagi umat Islam. Keluarga juga pembentuk karakter pertama bagi generasi. Keluarga adalah bagian penting dalam masyarakat. Generasi peradaban gemilang juga lahir dari hasil didikan keluarga yang memiliki visi dan misi sebagai pembangun dan agen perubahan.

Sayangnya, penerapan sistem sekular telah membuat banyak keluarga muslim kehilangan identitas sebagai keluarga muslim ideal. Yaitu keluarga yang senantiasa berada dalam suasana keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Sehingga tak heran jika tindakan kekerasan dan segala permasalahan dalam keluarga kerap terjadi di kehidupan masyarakat masa kini.

Oleh karena itu, perlu adanya perubahan di tengah-tengah masyarakat khususnya di dalam keluarga. Menyiapkan keluarga menjadi agen perubahan adalah suatu kebutuhan bagi muslim saat ini. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, menanamkan dan mengokohkan keimanan keluarga. Keluarga harus memahami hakikat iman dan tujuan hidup manusia. Keluarga juga harus mengetahui bahwa kehidupan dunia adalah untuk mencari bekal bagi kehidupan akhirat. Iman yang kuat dan kokoh akan membuat keluarga tidak mudah terbawa arus sistem sekularisme yang sarat akan memisahkan agama dari kehidupan.

Kedua, memahamkan keluarga akan kondisi masyarakat saat ini. Kerusakan yang terjadi akibat penerapan ideologi kapitalisme harus tergambar jelas oleh keluarga. Keluarga juga harus mampu mendalami fakta-fakta dan penyebab dari kerusakan yang terjadi. Hal ini merupakan modal agar keluarga mampu berinteraksi dengan anggota masyarakat sesuai dengan karakteristik masyarakat di sekitar.

Ketiga, memahamkan keluarga terhadap tsaqafah (pemikiran) dan syariat (hukum) Islam secara keseluruhan. Menjadi agen perubahan tentu harus menghadirkan solusi tuntas atas semua permasalahan. Hal ini tidak akan dapat dilakukan kecuali dengan pemahaman Islam kaffah dengan proses berpikir yang benar.

Memahami Islam kaffah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini telah tercantum jelas dalam kitab suci Al-Qur'an.

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh dia (setan) adalah musuh yang nyata bagi kalian." (TQS. Al Baqarah : 208).

Keempat, memahamkan keluarga terhadap urgensi perubahan. Keluarga harus sadar bahwa rusaknya kondisi masyarakat perlu diubah. Karena ini akan berdampak kepada nasib generasi muda di masa mendatang. Keluarga juga harus memahami bahwa Islam tidak membolehkan seorang muslim berdiam diri terhadap kemaksiatan yang sedang terjadi.

Islam dengan jelas mencela mereka yang melihat kemungkaran namun enggan mengingatkan. Dalam hadis Rasulullah saw. dijelaskan, "Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran, ia adalah setan bisu (dari jenis manusia). Dan orang yang menyampaikan kebatilan, ia adalah setan yang berbicara (dari jenis manusia)." (HR. An-Nawawi)

Kelima, memahamkan keluarga kepada arah perubahan yang benar. Sesungguhnya kerusakan yang terjadi hanya bisa diubah dengan arah perjuangan yang benar. Yakni berubah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. Perubahan ini dilakukan dengan cara mengubah pemikiran masyarakat agar menjadi pemikiran Islam. Tak hanya itu, keluarga juga harus memahami bahwa perubahan secara sistematik dengan menerapkan syariat Islam merupakan solusi tuntas atas segala permasalahan. Kemampuan analisis keluarga dalam memahami masalah dan perubahan dapat dilakukan dengan melakukan diskusi hingga terwujud pola pikir yang mendalam bahkan cemerlang.

Keenam, mengajak keluarga kepada aktifitas dakwah. Menjadi agen perubahan tentu tak lepas dari amar makruf nahi munkar. Oleh karena itu mengajak keluarga menjadi pengemban dakwah dan turut terjun ke tengah-tengah masyarakat bersama jemaah dakwah yang benar merupakan suatu keharusan. Jemaah dakwah ini harus sesuai dengan metode dakwah Rasulullah saw. sebagaimana yang sudah dilakukan saat beliau saw. mulai mendakwahkan Islam di Makkah hingga berdirinya Daulah Islam di Madinah.

Itulah keenam hal yang dapat dilakukan untuk menyiapkan keluarga menjadi agen perubahan. Sebuah tugas mulia yang akan membawa kebaikan bagi yang mengemban dan menjadi sasaran perubahannya. Sebuah amalan dengan balasan yang luar biasa. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah saw. "Demi Allah, sungguh Allah Swt memberikan hidayah kepada seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih baik bagimu daripada unta merah." (HR. Mutafaq Alaih).

Wallahu a'lam bishawab.[]


Photo : Freepik.com

Revive Your Dakwah, Bangkitkan Semangat Dakwahmu

"Membaca buku ini serasa diajak menapaktilasi perjalanan dakwah yang selama ini telah kita lakukan. Menelisik niat apakah masih lurus atau mulai menyelisihi rel? Bila malas mengintai, futur di depan mata dengan dalih ada uzur, di buku ini dipaparkan gamblang disertai dalil-dalilnya, agar tidak ada pemakluman atas kemalasan. Membacanya sampai akhir akan membuat diri tertampar-tampar."

Judul Buku: Revive Your Dakwah
Penulis: Ayu Paranitha
Penerbit: ImuNe Press
Tahun Terbit: Juni 2021
Cetakan: 1
Tebal halaman: xvi + 388
Ukuran Buku: 15,5 x 23 cm
ISBN: 978-623-97131-0-2
Peresensi: Haifa Eimaan
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com -"Aku telah meninggalkan bagi kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) kitab Allah dan sunah Rasul-Nya." (Al Hadis- sampul belakang Revive Your Dakwah)

Revive Your Dakwah, kalau terjemahan bebas versi saya (setelah membaca bukunya) adalah 'Ayo, Bangkitkan Semangat Dakwahmu!' Membaca judulnya dengan lantang, berapi-api, tangan mengepal, dan hati mengamini. Ya, begitulah kira-kira ekspresi saat membaca judulnya. Niscaya energi untuk menamatkan buku setebal 388 halaman ini mencapai puncaknya. Begitu kelar membaca, semangat dakwah akan terus menyala dan tidak akan pernah pudar hingga ajal menjemput. Insyaallah.

Revive Your Dakwah merupakan panggilan terbuka kepada para aktivis dakwah untuk senantiasa terus mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an dan sunah. Tidak cukup berhenti pada pengkajian Al-Qur'an dan sunah saja, kedua teks yang menjadi rujukan kaum muslimin itu harus selalu dikaitkan dengan problematik kehidupan umat, dikristalkan dengan diskusi dan tanya jawab dalam majelis ilmu yang landasannya keimanan. Tidak lain agar saat berinteraksi dengan umat, mereka pun tersinari dengan cahaya Al-Qur'an, meyakini kebenaran Islam, dan turut serta memperjuangkannya. Niscaya pundi-pundi pahala menanti kita di akhirat kelak. Insyaallah.

Buku ini tersusun dari artikel-artikel bernas yang menurut penulisnya berawal kumpulan catatan seputar dunia dakwahnya. Membaca buku ini serasa diajak menapaktilasi perjalanan dakwah yang selama ini telah kita lakukan. Menelisik niat apakah masih lurus atau mulai menyelisihi rel? Bila malas mengintai, futur di depan mata dengan dalih ada uzur, di buku ini dipaparkan gamblang disertai dalil-dalilnya, agar tidak ada pemakluman atas kemalasan. Membacanya sampai akhir akan membuat diri tertampar-tampar. Namun tak apa, karena itu hanya perasaan kita saja. Secara fisik kita baik-baik saja.

Goal setelah mengkhatamkan buku ini adalah perubahan mafhum dan gerak dakwah yang semakin kokoh. Apa pun halang rintangnya, usah peduli karena Jannah menanti. Sebagaimana generasi pertama Islam, mereka berhasil bertransformasi menjadi umat yang hidup dan memberikan kehidupan. Masyarakat yang berasal dari gurun pasir tandus dan terkenal sebagai penggembala domba berubah menjadi cikal bakal umat yang memimpin dunia. Selama 13 abad kaum muslimin memimpin peradaban dunia. Nah, buku keren dari kover hingga isinya ini bisa dipinang melalui website resmi ImuNe dan toko-toko online resminya di marketplace oranye dan hijau.

Layout Cantik dan Quote Inspiratif

Dengan jumlah 388 halaman, buku ini termasuk gemuk. Selain itu, cukup berat dibawa ke mana-mana, karena menggunakan kertas HVS yang gramatur-nya lebih tinggi dibanding book paper. Demikian pula dengan ukuran kertasnya yang memakai standar A2. Saat membacanya sebaiknya meletakkan buku di meja atau dipangku saja. Membaca sambil berbaring tidak direkomendasikan.
Namun, begitu lembar demi lembar buku ini dibuka, masyaallah, pembaca akan dimanjakan dengan layout-nya yang sangat cantik, ilustrasinya yang ciamik, dan penuh warna sejak halaman pengantar. Di sini saya baru menyadari tujuan pemilihan kertas HVS dibanding book paper. Kertas HVS yang putih terang dapat memaksimalkan tata letak dan ilustrasi. Sajian visual yang dihadirkan tidak perlu diragukan lagi kualitasnya.

Kelebihan lainnya dari buku ini adalah pembaca tidak perlu menandai kata, frasa, atau kalimat dengan highlighter. Untuk memudahkan menganotasi buku, bagian-bagian penting termasuk kata kunci telah diberi highlight dengan warna-warna pastel. Jadi, tidak ada ceritanya mata silau karena warna-warna stabilo. Yang tidak kalah pentingnya, buku akan tetap terjamin kebersihannya.

Quote-quote inspiratifnya pun berwarna-warni juga memberi kesan dinamis. Ya, sebagaimana dakwah yang selalu dinamis. Senantiasa bergerak dan berkembang ke arah perubahan yang signifikan seperti halnya bab penutup yang berjudul From Revelation to Revolution.
Tidak ada keberhasilan yang akan terwujud ketika itu menyimpang dari wahyu, dan yang menjadi keberhasilan revolusi tidak lain adalah konektivitas yang sempurna dengan apa-apa yang telah Allah wahyukan (hal. 386).

 Wallahu’alam[]


Photo : Koleksi pribadi

Saat Iman Dipengaruhi Teman

”Bahwa sosok teman akan memengaruhi kita. Karena itu, kita wajib memilih teman yang benar-benar membantu kita dekat dengan agama, sebaliknya meninggalkan teman yang membawa virus keburukan.”

Oleh. Yana Sofia
(Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Orang bilang agama seseorang bisa dinilai lewat temannya. Saat itu penulis menyangsikan. "Masa 'sih? Kan kita enggak bodoh-bodoh amat asal ikut kesalahan orang," begitu pendapat penulis sebelum memahami dahsyatnya pengaruh teman yang bisa memalingkan seseorang dari jalan kebenaran.

Penulis berpikir asal kita mampu jaga diri, punya komitmen, dan tidak mudah terbawa arus maka tidak akan ada yang mampu mengubah kita. Teman adalah teman, Tak ada hubungannya dengan pilihan dan keputusan yang kita emban. Sekalipun tinggal bersama, jalan bersama, jika kita tegas dan mengatakan ’tidak' pada sesuatu yang melanggar Islam, maka kita akan mampu jadi diri sendiri. Melakukan apa yang kita yakini benar, tanpa terpengaruh oleh kesesatan yang teman lakukan. Itu pemikiran penulis, tadinya.

Ternyata Salah

Siapa sangka, penulis akhirnya melihat dengan kedua mata sendiri. Seseorang yang berubah drastis karena dipengaruhi lingkungan dan tentu saja teman-temannya.

Alkisah, penulis punya teman yakni akhwat yang sudah hijrah, dan dia memiliki adik yang bernama Anto (nama samaran) yang pada saat itu masih SMA. Si Anto ini anaknya sangat mendukung apa pun yang berkaitan dengan Islam, kajian, pun dakwah.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian penulis kembali bertemu dengan si Anto ini, tepatnya di kampus tempat penulis menimba ilmu. Kebetulan dia masuk ke perguruan tinggi yang sama dengan penulis. Ia masih ramah, masih mendukung dakwah, namun sayangnya ia telah mengubah kodratnya dari dulu yang cowok banget menjadi feminin dan manja.

Kenapa ini bisa terjadi? Tidak lain karena pengaruh teman. Lingkungan telah mengubahnya dari laki-laki tulen menjadi cewek manja dengan make-up dan lipstik merah menyala mewarnai bibirnya. Sungguh penampilan ini tidak asing di netra kita. Laki-laki berwujud wanita, atau wanita yang berpenampilan laki-laki.

Hanya saja, karena penulis sendiri tahu bagaimana transformasi Anto yang tadinya cowok tegap menjadi feminin dan manja ini, merasa sangat menyayangkan. Entah apa yang dirasakan orang tuanya? Penulis menebak pasti kecewa dan sangat terluka.

Dari kakaknya penulis tahu bahwa teman dan lingkungan telah memengaruhi adiknya itu. Begitulah, sosok teman mampu mengubah iman seseorang. Teman mampu memengaruhi pemikiran kita, tingkah laku, bahkan menjadi pribadi paling buruk sekali pun.

Ah, pantas saja Rasulullah saw. mengingatkan kita melalui sabdanya, “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Dalil di atas adalah perumpamaan yang disampaikan Rasulullah untuk mengingatkan kita, bahwa sosok teman akan memengaruhi kita. Karena itu, kita wajib memilih teman yang benar-benar membantu kita dekat dengan agama, sebaliknya meninggalkan teman yang membawa virus keburukan.

Bukan Parno!

Di era digital, wasilah berteman ada banyak. Kemudahan teknologi informasi membuat kita bisa menjalin persahabatan dengan banyak orang, bahkan yang berjarak antarnegara. Positifnya kita bisa tahu budaya dan adat orang lain, menambah ilmu, serta wawasan yang kita butuhkan dalam kehidupan kita.

Sayangnya, bergaul dengan banyak teman, tak luput dari sisi negatifnya. Jika kita tidak hati-hati, bisa-bisa mengadopsi pemikiran dan budaya yang bukan berasal dari moral bangsa dan agama. Sebut saja budaya pacaran, seks bebas, pornografi, pun LGBT yang begitu cepat penyebarannya akhir-akhir ini. Semua ini adalah budaya dan tingkah laku yang bertentangan dengan moral bangsa kita, dan bertentangan dengan agama Islam pastinya.

Tentu saja, sikap hati-hati memilih teman bukan karena kita parno. Ketakutan berlebihan sehingga mematikan potensi kita yang seharusnya bisa berkiprah di tengah umat, dengan bantuan teman dan luasnya wawasan. Bukan itu pokok pembahasan kita!

Kita boleh berteman dengan siapa saja, dengan orang mana pun, bahkan dari negara jauh sekalipun. Tak masalah! Hanya saja, yang perlu kita perhatikan layakkah kita berteman dengan seseorang yang bisa dipastikan mendatangkan kerugian bagi kita? Atau sebaliknya memilih teman yang mampu mendekatkan kita dengan ilmu, pengetahuan, dan kebangkitan Islam? Pilih mana?

Jangan sampai seperti Anto yang tiba-tiba berubah jadi Anti. Dari cowok tulen berubah menjadi perempuan jadi-jadian. Terlebih keberadaan kaum penyuka sesama jenis ini sudah sangat mengkhawatirkan. Penyumbang berbagai masalah dalam masyarakat seperti ancaman moral, penyakit mental, ancaman depopulasi, hingga menjadi sumber penyebaran penyakit HIV. Karenanya, Islam memandang aktivitas LGBT ini sebagai kriminal, di mana pelakunya wajib dikenai sanksi tegas.

Jaga Pergaulan

Dari hasil pengamatan penulis, tentang seberapa suka seseorang memiliki teman 'belok' atau teridentifikasi gay dan lesbi. Kebanyakan jawabnya senang, mereka menganggap hal itu sebagai warna baru bagi dunia pertemanan mereka. Itu karena mereka yakin bahwa prinsip hidup kaum melambai itu tak akan mampu mengubah karakter mereka, karena itu mereka beranggapan lumrah saja memiliki teman dari jenis LGBT ini. "Toh, mereka juga manusia." Begitu anggapan orang-orang.

Penulis melihat, bahwa mayoritas kita tidak menyadari apa yang menjadi pokok masalah LGBT. Di mana keberadaannya saja sudah sangat mengancam, apalagi jika mereka diterima masyarakat. Mungkin kita berpikir prinsip hidup yang kita miliki tak akan bisa diubah oleh kaum minoritas itu. Namun sadarkah kita, pemikiran dan pandangan hidup telah berubah seiring pengakuan kita terhadap eksistensi mereka? Kita baru akan menyesal jika keluarga, adik, atau bahkan anak kita yang menjadi korbannya. Persis seperti yang dialami keluarga teman saya di atas.

Karena itu, sebelum semua itu terjadi alangkah baiknya jika kita membatasi diri bersahabat dengan mereka yang mengancam akidah kita. Masih banyak teman yang layak untuk diajak bersahabat dan berkarya demi kebaikan dan kemajuan diri. Tentu saja, akan lebih baik lagi jika memiliki teman yang membawa misi kebangkitan umat, yang senantiasa mendekatkan kita dengan jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Khatimah

Satu hal yang wajib kita pahami, bahwa memilih teman bukan satu-satunya solusi untuk mengakhiri penyebaran ide sesat, LGBT. Kita butuh dukungan masyarakat yang memiliki kesadaran Islam, agar bersama-sama membentengi umat dari penyakit sosial yang dilaknat Allah Swt., ini. Terlebih jika negara mampu menegakkan aturan dan kebijakan untuk menghapus segala kemungkinan kaum LGBT muncul di tengah umat. Tentu hal ini akan sangat melegakan.

Namun, mungkinkah segenap elemen masyarakat bisa bersatu dalam tujuan yang sama jika ideologi sekularisme yang dijadikan landasan berhukum dan menetapkan kebijakan? Tentu saja mustahil! Karena itu, yuk semakin gencar berdakwah mengajak umat memahami Islam kaffah. Agar umat bisa bersatu dalam satu kepemimpinan Islam. Karena hanya hukum yang bersumber dari Sang Penciptalah yang mampu menghapus kezaliman dan seluruh aktivitas menyimpang, menciptakan lingkungan sehat yang melahirkan generasi terbaik peradaban. Wallahu'alam. []

Di Balik Fenomena Generasi Sandwich

"Fenomena generasi sandwich ini menjadikan ketakutan bagi sebagian pemuda untuk menikah dan punya anak. Tentu ini menjadi problem sosial baru, yaitu terancamnya lost generation. Inilah potret generasi yang dibesarkan oleh sistem sekuler-kapitalisme."

Oleh. Erdiya Indrarini
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Bagaikan roti sandwich, kehidupan generasi kian terjepit. Beban terus menekan seolah tak berkesudahan. Mengapa generasi sandwich terus bermunculan?

Dilansir dari mediaindonesia.com, istilah sandwich generation alias generasi sandwich diperkenalkan pertama kali pada tahun 1981 oleh seorang profesor sekaligus direktur praktikum University Kentucky, Lexington, Amerika Serikat bernama Dorothy A.Miller. Generasi sandwich adalah orang dewasa yang harus menanggung beban hidup tiga generasi sekaligus, yakni orang tua mereka, mereka sendiri, dan generasi anak-anaknya. Generasi sandwich ini akan mengalami berbagai tekanan, sebab mereka menjadi sumber utama penyokong hidup orang sekitarnya.

Drajat Tri Kartono selaku Sosiolog dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) mengatakan bahwa hal ini lahir karena pergeseran sosial. Cepatnya perubahan ke arah digital menimbulkan kesenjangan generasi lama dan baru. Ketika generasi lama sulit beradaptasi, otomatis menjadi tidak produktif. Akibatnya, generasi baru yang harus menanggungnya. Banyak dari mereka yang menjauhkan diri dari tanggung jawab. Atau, mencari solusi dengan pinjaman online yang justru menambah beban. Tekanan hidup seperti inilah yang memunculkan sandwich generation pada generasi muda, yaitu generasi yang terjepit, layaknya roti sandwich. (kumparanNEWS, 3/12/2022)

Antara Kewajiban dan Beban

Sungguh berat, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri saja terasa susah, namun masih harus menanggung keluarga orang tua, mertua, juga anak-anaknya. Memang, tanggung jawab seperti ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap individu. Yakni meriayah keluarganya sendiri, keluarga orang tuanya juga berbakti pada mereka dengan memenuhi segala kebutuhannya. Namun ketika semua itu dihadapi sendirian, tentu akan menimbulkan kelelahan, bahkan stres berkepanjangan. Ketika tulang punggung keluarga mengalami stres, niscaya akan berdampak pada psikologi seluruh anggota keluarganya. Jika sudah begitu, tentu akan melahirkan generasi-generasi yang stres pula.

Menghadapi keadaan pelik seperti itu, meninggalkan dan lari dari tanggung jawab adalah tindakan keliru. Mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan pinjaman online pun justru menimbulkan masalah baru. Apalagi pinjaman online termasuk tindakan riba yang dilarang syariat agama. Dengan melakukan dosa riba, tentu pertolongan Allah akan semakin sirna.

Keadaan seperti ini menjadi lebih berat dengan berkembangnya budaya konsumtif masyarakat. Setiap orang berlomba-lomba menikmati dan bersaing untuk memiliki barang-barang keluaran terbaru. Merasa tidak percaya diri jika belum punya barang yang up to date. Pun merasa bosan ketika tidak berganti-ganti barang walau ternyata fungsinya sama. Padahal, barang-barang itu tidak terlalu dibutuhkan. Tak ayal, kebiasaan konsumtif ini makin menambah berat beban ekonomi dan sosial mereka.

Budaya konsumtif masyarakat ini tak lepas dari pengaruh budaya asing yang terus membanjiri generasi, baik melalui tontonan, makanan, maupun melalui fashion. Apalagi, pemerintah melakukan pembiaran. Bahkan memosisikan dan menawarkan diri menjadi sasaran empuk bagi negara-negara produsen atau industri dengan dalih investasi. Akibatnya, rakyat terbentuk menjadi generasi yang konsumtif. Sikap ini menjadikan beban mereka semakin berat.

Di Mana Peran Negara ?

Inilah potret bahwa negara tidak pernah hadir untuk problematik rakyatnya. Maka, apa gunanya pemerintah jika rakyat harus berjibaku sendirian menanggung segala kebutuhan hidupnya. Rakyat hanya dituntut kerja, kerja, dan kerja lebih keras lagi tanpa diperhatikan kesejahteraannya. Apalagi masih dibebani dengan berbagai pungutan seperti pajak. Faktanya kebutuhan hidup saat ini bukanlah sekadar sandang, pangan, papan, tapi juga kesehatan, pendidikan, keamanan. Ketika semua kebutuhan itu dibebankan pada individu, pasti akan kewalahan.

Bagi ibu rumah tangga, beban ini tentu akan terasa lebih berat lagi. Karena sesuai fitrahnya, seorang perempuan memiliki rasa kepedulian lebih terhadap keluarga. Ia tidak akan membiarkan begitu saja tugas-tugasnya untuk mendidik dan merawat anak-anak, suami maupun orang tuanya yang tak lagi berdaya. Pikiran dan hatinya akan tergerak untuk memberikan pelayanan maupun memenuhi kebutuhan anak-anak dan orang tuanya baik berupa materi maupun kasih sayang.

Bernaung pada Ideologi Penjajah

Namun, itulah risiko kehidupan manusia yang bernaung dalam aturan sistem yang berasal dari penjajah yaitu ideologi kapitalisme. Memang, negeri ini disebut sebagai negara yang berideologi Pancasila. Namun kenyataannya, justru menerapkan sistem pemerintahan dari ideologi kapitalisme. Dalam ideologi kapitalisme, negara diharuskan penerapan sistem demokrasi, yakni suara rakyat disamakan dengan suara Tuhan. Liberalisme, yaitu kebebasan berkehendak tak peduli halal haram. Juga sekularisme, yaitu syariat Islam dilarang mencampuri urusan politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Serta paham-paham lain seperti feminisme, pluralisme dan semacamnya.

Dalam sistem ideologi kapitalisme ini, negara hanya berperan sebagai regulator saja, yaitu membuat peraturan-peraturan yang sehaluan dengan kepentingan kaum kapitalis atau korporat. Sementara, terhadap rakyat bersikap layaknya pedagang, dan rakyat dipaksa untuk membeli. Sama sekali tak ada periayahan terhadap rakyat. Karena yang dianggap rakyat bagi ideologi ini adalah para kapitalis, yaitu para pemilik modal, seperti cukong, pejabat, maupun publik figur. Sementara, rakyat jelata hanya disuruh mencari solusi sendiri atas segala permasalahan hidupnya.

Maka tak heran, ketika rakyat mengalami yang disebut sebagai sandwich generation alias generasi yang tertekan beban hidup, mereka hanya memberi saran yang sifatnya individual. Yaitu berupa anjuran bahwa setiap orang harus cermat mengelola keuangan. Atau, setiap orang harus menabung untuk hari tua. Padahal, apanya yang akan ditabung ketika pendapatan pun tak mencukupi untuk segala kebutuhan? Sementara negara yang harusnya menjadi pengayom justru lepas tangan.

Mirisnya, fenomena generasi sandwich ini menjadikan ketakutan bagi sebagian pemuda untuk menikah dan punya anak. Tentu ini menjadi problem sosial baru, yaitu terancamnya lost generation. Inilah potret generasi yang dibesarkan oleh sistem sekuler-kapitalisme. Sistem ini telah gagal dalam menjalankan tanggung jawab terhadap rakyatnya.

Bernaung pada Syariat Islam

Keadaan ini sangat jauh berbeda kala rakyat hidup di bawah naungan Islam. Di mana, syariat Islam diterapkan dalam mengatur pemerintahan. Perlu kita ketahui, Islam tidak sekadar agama ritual semata. Namun, Islam adalah sebuah sistem kehidupan yang di dalamnya ada peraturan dan hukum-hukum. Ketika sistem Islam diterapkan secara keseluruhan, niscaya akan menyejahterakan seluruh rakyatnya baik muslim maupun nonmuslim, bahkan pada seluruh alam. Inilah janji Allah Swt..

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-A'raf : 96)

Dalam perekonomian Islam, terbagi menjadi dua kebutuhan pokok, yaitu pertama, yang bersifat individu seperti sandang, pangan, papan. Pada kebutuhan ini, negara akan menjamin secara tidak langsung dengan memberikan lapangan kerja bagi siapa pun yang membutuhkan. Sehingga, setiap kepala keluarga mampu memberikan nafkah yang cukup untuk keluarganya. Negara juga akan menjaga kestabilan ekonomi sehingga tidak terus menerus terjadi inflasi, dan harga-harga barang tetap terjangkau oleh rakyat.

Kedua, kebutuhan pokok yang bersifat publik, seperti pendidikan, kesehatan, juga keamanan. Pada kebutuhan publik ini, negara wajib menyediakan dengan jumlah dan kualitas yang terbaik. Semua kebutuhan publik ini, rakyat bisa menikmatinya tanpa mengeluarkan biaya alias gratis. Para perempuan pun tidak dituntut untuk bekerja mencari materi. Karena sampai kapan pun, kebutuhan perempuan akan ditanggung oleh walinya. Ketika walinya tidak ada, maka ditanggung oleh negara.

Dengan demikian, tak akan ada generasi penuh beban dan terjepit layaknya generasi sandwich seperti saat ini. Karena, sistem Islam memberikan kemudahan dan keringanan. Sehingga tidak perlu ada beban yang berlebihan. Setiap orang akan memiliki waktu lebih banyak yang bisa digunakan untuk beribadah, melakukan amar makruf nahi mungkar guna mempersiapkan kehidupan akhiratnya. Pun dengan senang menjalankan tugas mendidik anak-anaknya, sekaligus menjalankan kewajiban terhadap orang tua. Sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya yg artinya :

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…." (QS. Al-Isra : 23)

Dengan demikian jelaslah bahwa kala negara menerapkan sistem Islam, maka tak akan lahir generasi yang hidupnya terjepit layaknya roti sandwich. Maka, masih akankah mempertahankan sistem pemerintahan yang diadopsi dari penjajah ?

Wallahua'lam bisshowab[]


Photo : Canva

Demi Investasi Jangan Lupakan Harga Diri Negeri

”Polemik revisi UU IKN ini makin menunjukkan bahwa undang-undang buatan manusia akan selalu berbenturan dengan pemilik kepentingan, oleh karenanya akan selalu berubah-ubah.”

Oleh. Isty Da’iyah
(Kontributor NarasiPost.Com Mutiara Umat Institute)

NarasiPost.Com-Keinginan memiliki ibu kota negara yang modern, maju, tertata, tertib dan rapi adalah hal yang wajar. Apalagi jika pembangunannya akan memberi manfaat dan keuntungan bagi seluruh rakyat. Karena sejatinya, dalam Islam pemindahan ibu kota adalah sesuatu yang boleh-boleh saja selama negara mampu dan memiliki kas bagi pemindahan tersebut. Sebagaimana diketahui, pusat ibu kota Islam juga beberapa kali berpindah.

Namun, jika pemindahannya itu dilakukan pada saat yang tidak tepat, misalnya kas negara dalam keadaan kosong, dan menimbulkan menumpuknya utang, maka lain lagi perkaranya. Karena hal ini justru akan mengancam kedaulatan negara, dan bisa menyengsarakan rakyat. Terlebih jika pemindahan ibu kota negara justru akan menimbulkan masalah baru dalam hal ekosistem dan lingkungan serta dalam hal pendanaannya. Maka hal ini justru tidak boleh dilakukan.

Sebagaimana pada proyek IKN, yang hingga saat ini masih menuai pro dan kontra dari banyak pihak. Meskipun pembangunannya sudah dimulai, banyak pihak yang menilai proyek ini terkesan tergesa-gesa. Karena proyek besar IKN jelas perlu banyak persiapan dan perencanaan. Sehingga, butuh waktu yang tepat. Apalagi negeri ini masih harus bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19 dan berbagai permasalahan sosial ekonomi lainnya. Karena sejatinya setelah pandemi berlalu, urusan yang tidak kalah penting bagi seluruh rakyat adalah pulihnya ekonomi dan tercukupi kebutuhan pokok dan kebutuhan dasarnya.

Pemindahan ibu kota negara (IKN) bukanlah masalah yang sederhana. Namun, begitu cepatnya UU IKN disahkan. Terkesan bak kejar setoran, pemerintah dan DPR begitu cepatnya mengesahkan UU IKN, yang pada akhirnya ada usulan undang -undang harus direvisi ulang. Sehingga jika ditelisik lebih jauh, akan menimbulkan sebuah pertanyaan, untuk siapakah sesungguhnya pembangunan IKN baru ini?

Revisi UU IKN

Di tengah mulainya pembangunan proyek IKN yang belum genap setahun, kini Presiden Jokowi mengusulkan untuk merevisi UU IKN. Revisi ini berkaitan dengan masalah hak lahan yang akan diberikan kepada investor. Urgensinya untuk mempercepat proses persiapan pemindahan IKN serta penyelenggaraan pemerintahan daerah khusus IKN (25/11).

Dilansir dari Tempo.com yang mewartakan bahwa Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan, alasan revisi UU IKN adalah untuk mengakomodasi keinginan investor tentang status hak pengelolaan tanah. Ia juga menjelaskan jika revisi UU IKN ini tidak cacat hukum. Karena jika UU IKN tetap jalan tanpa ada revisi, maka akan ada benturan aturan turunan dengan UU yang lain. Menurut Suharso, revisi ini juga membahas mengenai struktur organisasi, kewenangan, soal pertanahan, struktur pembiayaan, dan kewenangan kementerian/lembaga yang bisa dimandatkan sebagai otoritas selaku pengelola IKN (1/12).

Sementara itu menurut salah satu anggota fraksi PKS mengatakan, revisi UU IKN justru menunjukkan praktik ketatanegaraan yang tidak baik. Karena UU IKN tergolong baru, sehingga UU IKN cacat, ada catatan, tidak sempurna, terburu-buru, malah bikin malu. Karena dari awal PKS sudah memberikan pendapatnya jika pindah IKN saat ini, momen maupun anggarannya tidak tepat. Karena saat ini mestinya fokus kepada rakyat yang baru pulih dari pandemi, rawan resesi, dan akan pemilu (Tempo.com, 1/12/22).

Polemik revisi UU IKN ini makin menunjukkan bahwa undang-undang buatan manusia akan selalu berbenturan dengan pemilik kepentingan, oleh karenanya akan selalu berubah-ubah. Demikian juga adanya kesepakatan persoalan tanah dengan pihak asing, dengan alasan apa pun hal ini bisa berbahaya bagi kedaulatan bangsa dan kelangsungan generasi yang akan datang.

Ada Apa di Balik Investasi

Dengan menjadikan investasi sebagai alasan kepemilikan lahan, maka hal ini perlu untuk ditinjau ulang. Karena jika tanah atau lahan diserahkan dalam jangka waktu tertentu kepada pihak asing, bisa jadi ini menjadi penjajahan berkedok investasi. Lalu bagaimana nasib anak negeri di masa yang akan datang? Jika tanah airnya dimiliki oleh asing dengan alasan investasi?

Menurut pemerintah, adanya usulan kebijakan revisi UU IKN adalah sebagai langkah untuk memberikan tawaran yang menarik bagi investor. Sehingga, investor lokal maupun asing mau berinvestasi di IKN.

Jika ditelisik lebih jauh, alasan ini menunjukkan adanya dugaan jika IKN sepi peminat (investor). Sehingga pemerintah harus banting harga dengan memberikan kemudahan kepemilikan lahan. Proyek IKN seakan dilelang, siapa saja boleh menjadi investor.

Hak lahan 180 tahun dianggap sebagai strategi pemanis agar investor mau masuk ke IKN. Indonesia meniru kebijakan ini karena banyak dilakukan negara lain untuk mengembangkan investasinya. Insentif hak lahan yang lama untuk investor menunjukkan betapa tidak mampunya negara untuk membiayai proyeknya (CNN Indonesia, 2/12).

Ibarat kata, kalau dulu para penjajah asing mulai dari Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang harus berdarah-darah, perang melawan penduduk pribumi untuk menguasai sejengkal tanah di bumi Pertiwi. Saat ini cukup dengan berinvestasi sudah bisa menguasai (baca menjajah), hingga 180 tahun.

Lelang yang dilegalkan undang-undang dilakukan. Bertransformasi sebagai bentuk investasi. Padahal, sejatinya hal ini sama saja dengan menggadaikan masa depan anak negeri. Ini menunjukkan ambisiusnya atas proyek IKN, karena sejatinya proyek ini bukanlah proyek yang mendesak mengingat rakyat sedang dalam kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Merujuk pada usaha pemerintah untuk memberikan kemudahan kepada investor, maka penting untuk menganalisis lebih mendalam siapa sejatinya yang paling diuntungkan dalam proyek ini. Para oligarki yang punya modal dan para kapital akan mengambil kesempatan ini.

Proyek IKN yang akan didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan dukungan BUMN dan BUMD, sisanya dari investor swasta jelas membutuhkan dana yang banyak. Dengan sisa waktu masa jabatan presiden yang kurang dari dua tahun, maka bisa dikatakan kalau pemerintah saat ini harus segera berhasil mendapatkan investor. Karena kalau tidak maka akan ada beberapa kemungkinan terhadap proyek ini. Pertama, proyek ini akan terhambat atau mangkrak. Kedua, proyek ini akan menjadi beban APBN. Jika hal ini terjadi maka rakyat yang akan ikut menanggung bebannya.

Pembangunan Ibu Kota dalam Sistem Islam

Dalam sistem Islam, pembangunan diorientasikan untuk kepentingan rakyat, bukan demi pencitraan pejabat. Apalagi demi keuntungan swasta, baik dalam negeri maupun asing, demikian juga dalam pembangunan atau pindah ibu kota negara.

Adanya pembangunan difungsikan untuk mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan kegiatan sosial ekonomi suatu masyarakat. Sehingga keberadaan pembangunan infrastruktur akan sangat menunjang kemajuan sosial dan ekonomi suatu masyarakat.

Dari sisi jangka waktu pengadaannya pembangunan dalam Islam dibagi menjadi dua jenis:

Pertama, pembangunan yang sangat dibutuhkan oleh rakyat dan tidak boleh ditunda. Misalnya fasilitas umum seperti saluran air minum, rumah sakit, sekolah, jalan umum dan sejenisnya.

Kedua, pembangunan yang dibutuhkan namun masih bisa ditunda. Pembangunan pada kategori yang kedua ini tidak boleh dibangun, jika negara tidak memiliki dana sehingga tidak dibolehkan membangun dengan jalan utang dan memungut pajak dari rakyat. Sehingga, pembangunan dalam kategori yang kedua ini boleh dilakukan jika dana APBN atau Baitulmal mencukupi.

Dalam sistem Islam, sumber dana yang digunakan untuk pembangunan ada beberapa, di antaranya dengan memproteksi kategori kepemilikan umum, seperti minyak, gas dan tambang. Pemimpin negara Islam yang disebut khalifah bisa menetapkan kilang minyak, gas dan sumber tambang tertentu, seperti fosfat, emas, tembaga dan sejenisnya untuk membiayai pembangunan yang digunakan untuk kepentingan seluruh rakyat.

Dasar kebolehan khalifah untuk memproteksi dan mengelola kepemilikan umum ini adalah sabda dari Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. “Tidak ada hak untuk memproteksi, kecuali milik Allah dan Rasul-Nya.”

Sebagaimana sejarah telah mencatat, contoh pembangunan dan pemindahan ibu kota negara yang terjadi pada masa Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Pada masa ini, ibu kota negara yang semula berada di al-Hasyimiyah, pindah ke kota Baghdad.

Tujuan kepindahan ini adalah untuk memantapkan dan menjaga stabilitas negara Abbasiyah. Kota yang dibangun oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur sangat memenuhi semua aspek kelayakan. Aspek perencanaan, pertimbangan politik, pertahanan, keamanan, arsitek dan tata ruang kota, ekonomi, dan maslahatkan rakyat sangat diperhatikan.

Sejarah telah membuktikan bagaimana sistem Islam mampu mendanai pembangunan kota Baghdad tanpa melibatkan investor swasta maupun asing. Terlebih menambah utang dan melelang lahan untuk para investor. Dengan sistem pengelolaan harta yang sesuai dengan hukum syarak, Khilafah Abbasiyah mampu membangun ibu kota baru. Kekuatan finansial yang didukung oleh kebijakan yang bersumber dari wahyu Allah Swt., telah mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya.

Demikianlah, jika Islam dijadikan rujukan dalam kehidupan manusia. Aturannya digunakan dalam segala lini kehidupan. Maka yang terjadi adalah keselarasan antara aturan satu dengan aturan yang lainnya. Tidak ada benturan apalagi politik kepentingan. Wallahu’alam bi shawab.[]

Lika-liku Menulis Tema Ekonomi

"Sederhanakan pembahasan. Jika tulisan kita untuk konsumsi umum, butuh adanya penyederhanaan pembahasan agar 'daging' tulisan kita lebih mudah dikunyah'."

Oleh. Ragil Rahayu
(Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Bagaimana kabarnya Sobat Konapost sekalian? Semoga semuanya selalu dalam perlindungan Allah Swt. Dikaruniakan nikmat iman, kesehatan, dan keistikamahan dalam menyampaikan kebenaran. Aamiin.

Salam hormat untuk Mom Andrea, semoga sehat selalu.
Salam sayang untuk seluruh kru NarasiPost.Com yang makin glowing saja.

Mohon izin, malam ini saya akan menyampaikan sharing "Lika-liku Menulis Tema Ekonomi" Semoga bermanfaat.

Teman-teman…
Adakah yang suka baca atau menulis tema ekonomi?
Sepertinya, ekonomi merupakan jenis tema yang "benci tapi butuh" Wk wk…

Ya, kebanyakan dari kita sulit memahami pembahasan ekonomi. Karena penuh dengan data berupa angka dan istilah yang asing dan rumit. Tapi … Tema ekonomi hadir setiap hari dalam kehidupan kita. Setiap hari, berita diisi tema ekonomi. Jadi, mau nggak mau, kita butuh menulis tema ini. TOR mingguan yang sering dirilis NP juga sering berisi tema ekonomi.

Nah, berarti kita nggak bisa menghindar dari tema ekonomi. Kalau berita ekonominya seperti ini:

"Layakkah KA Argo Parahyangan 'Ditumbalkan' Demi Kereta Cepat?"

Insyaallah kita masih bisa menganalisis. Topik ini lagi hot-hotnya.

Tapi … Kalau seperti ini:

"Impor Naik 30,74% Neracara Dagang RI Surplus US$ 2,9 Miliar"

"BI Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI 5,5 Persen pada 2024"

Rada pusing, ya? Apalagi kalau sudah ketemu kata-kata: ekonomi makro, mikro, fiskal, moneter, dll. Auto puyeng ya. Lebih puyeng kalo istilahnya pake bahasa linggis, eh, Inggris. Misalnya: yoy, trickle down effect, sunset policy, right money policy, supply, demand, dll

Saya sendiri kesulitan untuk memahami berita-berita ekonomi sehingga tidak bisa sekali baca, tetapi butuh diulang-ulang. Memang saya background-_nya ekonomi, tetapi jurusan saya akuntansi. Jadi kurang mendapatkan materi teori ekonomi makro maupun mikro. Kalau yang _full belajar teori ekonomi ya jurusan ekonomi pembangunan. Tapi, terlepas dari itu, sebagai pejuang pena, kita harus mengakrabi tema ekonomi. Ya, karena kita butuh untuk mendekonstruksi pemikiran kapitalisme yang batil, ygy. Jadi, meski sulit, yuk taklukkan.

Berikut sedikit tip dari saya untuk nulis tema ekonomi:

  1. Baca dan pahami fakta sampai paham. Jika kita sebagai penulis belum paham, bisa dipastikan pembaca juga nggak akan paham. Bisa jadi tulisan kita isinya cuma copas dari sana sini. Agar bisa sampai paham, memang tidak cukup baca satu dua artikel. Sebaiknya, bacalah tulisan terkait. Biasanya di bawah artikel kan ada link berita terkait. Nah, itu bisa kita telusuri. Selain membaca, biasakan diskusi juga. Kalo ada yang gelarnya SE, ajakin diskusi. Ayo, siapa yang ada di sini, cung.
  2. Jika ada istilah yang sulit dipahami, gunakan jalan ninja, yaitu tanya mbah google. Ya, gimana lagi, mbahnya memang pinter, sih. Meski nggak selalu bener.
  3. Pastikan data yang kita sodorkan valid. Jika ada data yang bombastis, crosscheck di media yang bisa dipercaya, atau di website pemerintah, seperti BPS, BI, dll.
  4. Untuk analisis, jika kesulitan, kita bisa ngintip analisis para ekonomi. Baik ekonom umum, maupun ekonom Islam ideologis. Setelah itu, baru kita olahraga dengan bahasa kita sendiri.
  5. Sederhanakan pembahasan. Jika tulisan kita untuk konsumsi umum, butuh adanya penyederhanaan pembahasan agar "daging" tulisan kita lebih mudah "dikunyah".
  6. Pastikan solusi Islam yang kita sodorkan nyambung dengan permasalahan yang ada secara detail. Jadi nggak global. Biasanya yang paling famous ya pembahasan tiga jenis kepemilikan itu, ya? Sebenarnya banyak yang bisa kita sodorkan ke umat sebagai solusi, nggak itu-itu saja.
  7. Agar solusinya nggak itu-itu saja, kita perbanyak referensi. Dari buku-buku ekonomi, salah satunya "Politik Ekonomi Islam".

Dah, itu saja sedikit tip dari saya. Semoga bermanfaat ygy. Ini beberapa tulisan saya, kali aja ada yang mau baca

https://narasipost.com/2022/11/20/gelombang-phk-saat-ekonomi-baik-baik-saja-anomali-atau-watak-asli-kapitalisme/

Demikian sharing dari saya. Maaf kalau hanya seuprit. Semoga bermanfaat.

Wa afuminkum. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tanya Jawab

Firda Umayah

  1. Maaf, Mbak. Izin tanya apakah Mbak Ragil Rahayu punya referensi yang biasa dijadikan rujukan untuk memahami sistem ekonomi Islam dan kapitalisme dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti selain politik ekonomi Islam? Karena kalau merujuk kepada kitab Nizam Iqtishadi juga tidak mudah dipahami. Susah di baca bolak-balik dan diskusi juga kadang suka lupa

Jawaban:

Pengantar Sistem Ekonomi Islam karya UIY
Al Amwal, ada yang Syekh Zalum, ada yang abu Ubaid.
Bisnis Islami dan Kritik atas Praktik Bisnis ala Kapitalisme karya Yusuf Assabatin.
Bantahan atas Kebohongan-kebohongan Seputar Hukum Riba dan Bank karya M. Ahmad Ad-Da'ur.
Kamus Pintar Ekonomi Islam karya Dr. Arim Nasim, Akt. dan Budi Upayarto, S.E, M.Si., Akt.

  1. Dalam masalah ekonomi biasanya penyebabnya kan bercabang. Lah kalau dikupas satu-satu jadi terlalu panjang untuk
    ditulis. Bagaimana tips melihat suatu masalah ekonomi yang langsung kepada poin penting atau mungkin tips cara menuliskan _entry poin-_nya saja?

Jawaban:

Ambil satu angle. Jangan lebih dari satu. Jika mengupas pertumbuhan ekonomi, ya sudah itu saja. Kemiskinan ya kemiskinan saja. Walaupun kita greget pengin mengkritik semua, tetapi harap sabar, kapasitas otak pembaca dan penulis terbatas

  1. Saya masih kesulitan meringkas bahasa ekonomi yang mudah di pahami yang menjadi "daging" saja. Biasanya jadi lebih panjang dan tidak semua orang suka dengan tulisan yang panjang. Bagaimana cara membuat bahasa "daging" yang mudah dipahami atau tips membuat orang tertarik membaca opini ekonomi?

Jawaban:

Bikin kerangka tulisan. Konsisten dengan kerangka tersebut. Batasi jumlah karakter, misalnya 800 kata. Self editing, buang lemak-lemak yang menggelambir dalam tulisan. Minta tolong orang untuk baca tulisan kita. Orang yang objektif, yang nggak sungkan mengkritik kita.

Nur Hajrah

  1. Jadi kalau mengambil referensi dari MU dan Al-Wa'ie bisakan ya mbak?

Jawaban:

Bisa banget. Tapi diolah dengan bahasa sendiri ya.

Irma Sari Rahayu

  1. Saya termasuk penulis yang agak menghindari membahas ekonomi wkwkwk (ngaku aja dah ) buat saya, begitu syulit untuk mengupas ekonomi apalagi dengan bahasa yang mudah. Kalau mau dibahas dengan gaya teen bagaimana mbak? Masih PR banget, karena anak muda juga layakmelek ekonomi juga 'kan meskipun ruwet.

Jawaban:

Ambil tema kekinian yang relate sama teens. Misal investasi, krisis perumahan, pengangguran. Ambil sudut pandang remaja sebagai pelaku.

Mariyatul Qibtiyah

  1. Mengapa ya, bahasan ekonomi ini sulit dicerna, padahal ini berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari?

Jawaban:

Ini terkait taraf berpikir umat yang rendah dan tugas kita untuk menyederhanakan pembahasan dan sekaligus meningkatkan taraf berpikir umat.
Tau nggak, sosok seperti Maudy Ayunda saja sejak remaja bacaannya the economist? Semoga kita nggak ngantuk baca alwaie. Hehe

Erni Susanti

  1. Pertanyaan saya cukup sederhana mbak Ragil Rahayu, bagaimana agar terbiasa dengan bacaan seputar ekonomi… Biar bisa kayak makan keripik aja gitu … Saya pribadi seperti kurang akrab…? 😆

Jawaban:

Bacalah tulisan yang kita butuh. Biasanya karena butuh jadi nyantol. Karena usahanya lebih keras. Bagaimana agar merasa butuh?
Bikin tulisan atau isi forum atau bikin konten dakwah. Pasti auto ngelembur belajar.[]


Photo : Pribadi

Merebaknya HIV/AIDS dalam Sistem Sekuler

"Alih-alih untuk menghentikan penyebarannya, kampanye kondom untuk melakukan seks secara aman justru menjadi senjata yang semakin menyebarluaskan virus. Terbukti sejak dikampanyekannya, virus semakin berkembang pesat sehingga jumlah penderita semakin meningkat fantastis."

Oleh. Jamilah al Mujahidah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-“Tidaklah tampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya." (HR. Ibnu Majah)

Hadis di atas menjelaskan tentang akan munculnya suatu penyakit ganas (tha’un) yang tidak pernah ada sebelumnya akibat dari perbuatan keji, yaitu zina. Tampaknya sabda Rasulullah shallahu’alaihi wassalam tersebut terbukti pada zaman ini. HIV/AIDS adalah salah satu virus mematikan yang saat ini tumbuh subur di tengah-tengah manusia.
AIDS adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus HIV, virus mematikan yang menyerang daya tahan tubuh. Pezina yang suka bergonta-ganti pasangan seks menjadi pemicu menularnya virus mematikan ini. Tidak hanya pada pelaku maksiat, virus ini dapat menular pada pasangan pengidap virus, dan anak-anak yang dilahirkan dari pengidap virus tersebut. Selain itu, penularan virus yang menalami percepatan berkali lipat ini juga dapat menular melalui jarum suntik, infus dan sebagainya. Dan anehnya, sampai saat ini virus ini tak ditemukan penawarnya.

Dilansir sebuah media elektronik SindoNews.Com (28/11/2022) data epidemiologi UNAIDS menyebutkan peningkatan penderita HIV/AIDS hingga tahun 2021 mencapai 38,4 juta jiwa. Estimasi kasus infeksi baru tahun 2021 sebanyak 27 ribu kasus. Kondisi ini sangat memprihatinkan dimana 40% terjadi pada wanita, 51% tejadi pada kelompok remaja (15-21 tahun) dan 12% terjadi pada anak-anak.

Di Batam, (Liputan6.com, 2/12/2022) tahun 2022 tercatat kenaikan yang fantastis mencapai 446 kasus. Dan penyimpangan perilaku seksual pasangan sejenis mendominasi peningkatan kasus penyebaran HIV. Dari 2594 orang yang dites, 446 orang diketahui terjangkit HIV meliputi 333 pria dan 113 wanita. Sehingga total keseluruhan penderita HIV di Batam yang terdeteksi sejak tahun 1992-2022 mencapai 8800 orang dan meninggal dunia 57 orang. Miris.

Saat fakta berbicara, dapat diketahui betapa moral generasi saat ini sudah rusak parah. Belum lagi solusi yang ditawarkan oleh pihak berwenang sama sekali tidak bisa menyelesaikan permasalahan yang ada. Program yang dicanangkan pemerintah dan aktivis kemanusiaan sudah banyak, namun tak banyak memberikan dampak. Contohnya, sejak tahun 1990 kondom telah dikampanyekan untuk seks aman dan kembali digencarkan sejak tahun 2007 hingga sekarang.

Alih-alih untuk menghentikan penyebarannya, kampanye kondom untuk melakukan seks secara aman justru menjadi senjata yang semakin menyebarluaskan virus. Terbukti sejak dikampanyekannya, virus semakin berkembang pesat sehingga jumlah penderita semakin meningkat fantastis. Dengan adanya program tersebut semakin memudahkan masyarakat untuk melakukan seks bebas karena menganggap penggunaan kondom akan menjadikan aktivitas seksnya aman.Na’udzubillahimindzlik.

Sebenarnya sumber utama dari penyakit ini adalah free love, free sex, pergaulan bebas, prostitusi, baik yang dilokalisasi, maupun yang liar. Penerapan sistem sekuler menjadikan sistem pergaulan yang salah. Solusi yang dibutuhkan sebenarnya adalah sebuah sistem yang benar-benar dapat menjadi solusi sampai ke akarnya. Bak sebuah pohon yang sakit, maka yang harus diobati adalah akarnya. Bukan hanya tangkai atau daunnya saja, karena akan percuma jika akar pohon tidak dipulihkan, maka tangkai dan daun bahkan buah yang dihasilkan akan jelek dan tidak sehat. Dan sistem yang dapat digunakan untuk menyembuhkan segala permasalahan dari akarnya termasuk menghentikan penyebaran virus ini adalah menerapkan sistem Islam secara utuh dan menyeluruh. Bukankah umat muslim harusnya meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan?

Dalam Islam kehidupan pria dan wanita diatur, dilarang berkhalwat, berikhtilat jika tidak ada uzur syar’i, atau bahkan berpacaran karena aktivitas tersebut mendekati zina. Islam juga mengatur cara berpakaian masing-masing laki-laki dan perempuan, karena dalam Islam dikenal istilah aurat, yaitu batasan tubuh yang boleh terlihat oleh nonmahram. Sehingga jika sistem ini benar-benar diterapkan, maka setiap insan dapat menjaga pandangannya.

Dalam penanggulangan virus pun Islam memiliki cara bagi mereka yang mengidap HIV/AIDS bagi pelaku zina, baik yang muhshon maupun ghairu muhshon dan atau yang tertular karena suatu sebab. Bagi penderita HIV/AIDS yang muhshon maka akan diterapkan sanksi rajam sehingga secara otomatis akan mengurangi penderita HIV dan mencegah penularannya, selain itu bagi pelaku dapat mengugurkan dosa zinanya. Sementara bagi penderita virus yang ghairu muhshon akan diberi sanksi jilid 100x, kemudian diperlakukan dengan cara yang khas sebagai penderita HIV.

Perlakuan yang khusus juga diberikan kepada penderita lain yang bukan pelaku zina. Contohnya, istri dari pelaku zina yang tertular ataupun anak-anak dari penderita HIV. Bahkan termasuk orang-orang yang tidak bersalah yang terinfeksi virus HIV dari orang-orang tersebut. Negara akan memberikan pelayanan dan pengobatan terbaik bagi seluruh penderita, dan akan mendanai riset untuk menemukan penawar dari virus memtikan ini. Sebagai penanggulangan penyakit mematikan maka mereka akan dikarantina di tempat rehabilitasi terbaik untuk disembuhkan fisik dan mentalnya untuk semakin mendekat pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Begitupun masyarakat akan diberikan penyuluhan agar dapat berhati-hati, selalu berpikir positif, dan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sehingga masyarakat dan penderita sama-sama berpikir positif dan semakin bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Begitulah Islam mampu memberikan solusi terbaik dalam setiap permasalahan, bukankah Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan?[]