”Perbuatan membantu orang lain memiliki nilai kemanusiaan. Nilai ini hilang dalam ideologi kapitalisme. Salah satunya jasa sleep call talent ini.”


Oleh. Keni Rahayu
(Kontributor NarasiPost.Com dan Penulis Buku Sebab Perasaan Bukan Tuhan)

NarasiPost.Com-Kamu pernah gak merasa kesepian? Sama. Aku juga pernah. It’s ok, Guys. Itu tandanya kita manusia. Ada masa kita lagi ingin sendiri, tapi ada juga momen kita malah sedih karena sendiri.

Ternyata Guys, di mata orang kapitalis, ini jadi jalan mengais rezeki lo. Ada yang namanya jasa teleponan pengantar bobok. Memang ada? Iya, ada! Bahkan ada agensinya.

Agensi sleep call talent menyediakan talent dan berbagai menu pilihan untuk mereka yang kesepian. Ada opsi dibacakan cerita, ditemani ngobrol sampai kita tidur, bahkan menu diingatkan makan sehari 3 kali juga ada. Nominalnya variatif. Harga mulai lima ribu sampai dua ratus ribu. Customer bisa pilih sesuai keinginan. Satu lagi yang gak kalah penting, ada jaminan rahasia aman. (Kompas.com, 27/11/22).

Hehe… ya begitulah mabda kapitalisme. Apa-apa bisa jadi cuan. Orang buang air, cuan. Orang kesepian, cuan. Orang sedih, cuan. Orang butuh telinga, cuan. Apa-apa disandarkan ke cuan. Kapan-kapan, bersin aja bisa jadi cuan. Gak tahu deh bagaimana caranya. Tapi ya sekali lagi, itulah mabda Kapitalisme.

Hawa Sekularisme Mengikis Rasa Bahagia

Hari ini, sebagian pemudi tak begitu memegang simpul agama. Agama punya peran di waktu tertentu. Di luar itu, manusia bebas menuhankan hawa nafsu. Ketika hati manusia tidak sesuai fitrahnya, ia haus dan kering dari rasa tenteram menjalani kehidupan. Bahagia dicari sampai ke ujung dunia. Parahnya, tetap tak didapat juga.

Tidakkah kita mengenal Allah Swt. Yang Maha Mendengar? Atau sebenarnya kita yang salah karena tidak kenal? Tak muncul rasa puas ketika kita berdoa menangis sembari menengadah memohon rasa bahagia diselipkan ke dalam hati. Sudahkah kebodohan menyelimuti hati, bahwa sesungguhnya bahagia hanyalah Allah yang beri?

Islam Adalah Kunci

Allah berfirman dalam Qur’an surat Al-Fath ayat 4.
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke hati orang-orang beriman untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Begitulah sejatinya bahagia. Ia muncul hanya ketika kita beriman pada Allah. Tidak hanya basah di bibir dan mantap di jiwa, tapi ia juga terpatri dalam raga. Mazjul maddah birruh, adanya penyatuan materi dengan kesadaran interaksi dengan Allah. Maksudnya, setiap beramal manusia memastikan apakah yang ia lakukan sesuai dengan yang Allah syariatkan.

Sejatinya, setiap aktivitas manusia beriman pastilah bertujuan untuk menggapai rida Allah. Itulah ghayatul ghayah (tujuan dari segala tujuan). Namun, setiap aktivitas manusia jika dirinci akan menjadi empat nilai. Penjelasannya adalah sebagai berikut.

  1. Nilai Materi
    Setiap aktivitas yang ditujukan untuk mendapat manfaat, keuntungan (ar-ribhu), atau materi digolongkan dalam nilai materi. Bedanya, muslim tidak semata-mata mengejar keuntungan, melainkan juga rida Allah. Sehingga, rambu halal haram tidak diterjang ketika mendapatinya. Setiap muamalah jual beli pasti bernilai pahala asalkan sesuai rel Ilahi.
  2. Nilai Spiritual
    Setiap aktivitas ibadah kepada Allah, selama sesuai ketentuan-Nya dan telah dicontohkan nabi Muhammad bernilai spiritual. Nilai ini mulai hilang di era kapitalisme seperti ini. Sebab, manusia mulai meninggalkan agamanya. Nilai ruhiah terkikis, rasa iman dan ketenangan goyah. Banyak masalah mental melanda manusia abad 20 ini.
  3. Nilai Kemanusiaan
    Perbuatan membantu orang lain memiliki nilai kemanusiaan. Nilai ini hilang dalam ideologi kapitalisme. Salah satunya jasa sleep call talent ini. Jika saja manusia memiliki kesadaran interaksi dengan Allah, adanya pahala pada setiap amal baik, maka menolong orang meski tanpa imbalan (dalam bentuk materi) adalah sesuatu yang ’menguntungkan’. Tapi tidak bagi pengemban mabda kapitalisme. Membantu orang akan dilakukan hanya jika itu mendatangkan keuntungan (materi). Itulah mengapa banyak jasa yang ’disajikan’ dengan nominal imbalan.

Selain itu, individualisme sangat kental dalam mabda kapitalisme. Buktinya, orang lebih nyaman curhat dengan yang ia tidak kenal. Ia lebih memilih membayar jasa orang untuk mengungkapkan gejolak di hati daripada ke kerabat sendiri. Di sisi lain, kerabatnya juga tercetak egois. Ia sampai tak mengerti beban yang dipikul saudaranya sampai harus ’dikeluarkan’ ke penyedia jasa.

  1. Nilai Akhlak
    Adalah perbuatan yang tujuannya adalah moralitas yang baik. Contohnya adalah jujur, tersenyum, berkata sopan, dan sebagainya. Kamu pernah lihat betapa ramahnya pegawai supermarket atau customer service di bank? Jika ia hanya ramah saat bekerja, tapi tidak di luar itu, tandanya seseorang mencampur nilai akhlak dalam ranah nilai materi. Seharusnya muslim berakhlak baik kapan pun di mana pun, saat bekerja mau pun tidak.

Dalam ideologi kapitalisme, semua nilai di atas bertransformasi menjadi satu nilai saja. Nilai ruhiah, kemanusiaan, dan akhlak berubah menjadi nilai materi. Sebuah aktivitas baru akan dilakukan hanya jika mendatangkan keuntungan. Parah, Guys. Parah.

Khatimah

Betapa rendah kapitalisme, memandang segala hal hanya dari kaca mata untung dan rugi. Bahkan membantu orang lain saja diuangkan. Inilah gambaran hinanya mabda kapitalisme karena memandang kehidupan hanya sebatas materi. Hidup ini seolah terpisah dengan penciptaan Allah dan hisab nanti. Apakah kita masih mau berkubang di dalamnya, atau segera mentas dan menyeru semua orang keluar dari sana? Wallahu a’lam bishowab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *