“… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat ayat 13)


Oleh. Deena Noor
(Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Kita, manusia, sering kali memandang remeh atau rendah kepada seseorang atau sesuatu hal. Menganggap orang lain kecil atau tidak begitu penting hingga mengabaikannya. Bisa jadi karena orang tersebut tidak masuk dalam perhitungan dan perhatian kita. Merasa keberadaannya tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan kita. Dalam pandangan kita, orang tersebut berada di level bawah.

Meremehkan Sesama

Penampilan luar sering menjadi dasar dalam penilaian. Padahal, apa yang dilihat oleh mata kita sering kali tak begitu adanya. Ada orang yang tampak biasa saja dari penampilan, ternyata ia bukan orang sembarangan. Ia memiliki kemampuan atau kelebihan di atas rata-rata atau tidak sebanding dengan tampilan luarnya. Seorang yang terlihat polos dan lugu, nyatanya dia seorang suhu. Seseorang yang tampak lemah fisiknya, ternyata mampu melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar dari tubuhnya.

Tak cukup membuat penilaian dan kesimpulan dari apa yang kita lihat saja. Apalagi jika itu hanya dalam sekali atau beberapa kali kesempatan saja. Hal seperti itu bisa membuat kita memandang remeh terhadapnya.

Sungguh tidak layak bagi kita meremehkan orang lain. Sebab, kita sendiri pun tak punya apa-apa sejatinya. Kekuatan, kepandaian, kecantikan, kekayaan, kedudukan, dan kebanggaan yang kita miliki adalah kepunyaan Allah. Kita hanya dititipi sebentar saja. Meremehkan orang lain adalah suatu bentuk kesombongan yang dibenci oleh Sang Maha Kuasa, sebagaimana sabda Rasulullah: “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Tak pantas bagi kita menganggap kerdil orang lain karena bisa jadi orang tersebut lebih mulia dari kita. Ingatlah firman Allah yang tertuang dalam surah Al-Hujurat ayat 13: “… Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Meremehkan Kewajiban Berujung Dosa

Pandangan remeh juga biasa ditujukan terhadap sesuatu hal. Menganggap enteng suatu perkara hingga tak merasa penting ia ada atau tidak. Bukan masalah besar bila perkara tersebut tidak dilakukan atau diwujudkan. Keberadaannya bukan menjadi fokus utama sehingga mengupayakannya mungkin tidak dengan sungguh-sungguh.

Pandangan remeh terjadi karena ketidaktahuan tentang seseorang atau sesuatu. Bekal informasi yang sedikit, bahkan sangat minim, menjadikan pandangan kita keliru. Ini berbahaya jika berkaitan dengan aturan agama. Kewajiban yang harusnya dikerjakan malah tak dianggap karena tak memahaminya. Larangan yang mestinya ditinggalkan malah dianggap biasa saja dan tak masalah. Akibatnya, kita tidak sadar telah melakukan dosa. Ini jelas berbahaya.

Bisa juga telah mengetahui ada aturan tersebut, tetapi tidak memahaminya dengan benar. Telah sering dijelaskan bahwa riba adalah haram, tetapi orang-orang masih saja mengambilnya. Telah disampaikan bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam, tetapi masih banyak remaja yang melakukan aktivitas tersebut. Sejak kecil kita telah diajarkan bahwa salat adalah tiang agama, tetapi masih saja bolong-bolong dalam mengerjakannya. Semua itu bukan karena tidak tahu, melainkan karena pemahaman kita yang belum tepat.

Penerapan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan membuat agama hanya berlaku di ranah pribadi. Agama hanya diterapkan secara parsial. Urusan akidah sama sekali tidak menjadi perhatian. Tidak ada pengawasan terhadap keimanan dan ketakwaan masyarakat. Pemahaman manusia tentang aturan syariat pun menjadi kabur.

Dalam sistem yang sekuler, aturan agama diberlakukan sesuai kepentingan manusia. Agama hanya diambil ketika mendatangkan manfaat atau keuntungan secara materi. Aturan dipilih-pilih mana yang lebih menguntungkan atau mana yang lebih mudah dilakukan. Jika sesuai keinginannya, maka aturan agama akan dijalankannya. Satu sisi menjalankan salat, tetapi riba jalan terus. Menutup aurat, tetapi pacaran tetap tak berhenti.

Inilah bentuk meremehkan syariat Sang Pencipta. Kebodohan manusia membuat aturan yang mulia itu dipandang sebelah mata. Akibatnya, aturan tersebut diperlakukan suka-suka manusia.

Mengira tak mengapa melakukan dosa kecil karena nanti akan ‘ditebus’ dengan amalan lainnya. Menyepelekan pelanggaran syariat yang dipandangnya ringan karena merasa bisa ‘diganti’ dengan memperbanyak ibadah yang lain. Tak masalah mengambil riba karena bunganya kecil. Tak apa-apa pacaran karena dilakukan secara sehat dan tak kebablasan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah jebakan setan yang amat menjerumuskan.

Bila syariat telah menetapkan suatu hal itu salah, maka berarti memang salah. Tak peduli besar atau kecilnya. Walau tampaknya kesalahan itu ringan di mata kita, tetap saja namanya salah. Dosa tetaplah dosa. Haram dan halal adalah sesuatu yang jelas. Tak ada area abu-abu di antara keduanya. Pelanggaran terhadap syariat memiliki konsekuensi yang berat. Selama tidak dihentikan dengan pertobatan, maka bersiaplah dengan balasannya nanti.

Jangan dikira dosa kecil itu tak dicatat oleh malaikat-Nya. Meskipun manusia berupaya menutupinya dengan amalan lainnya, Allah tidak akan keliru dalam memperhitungkannya. Setiap kesalahan, walau sebesar biji sawi, tetap akan dicatat dan mendapatkan ganjaran dari-Nya nanti. Demikian pula dengan amalan baik, sekecil apa pun itu, akan diterima oleh Allah dan dibalas dengan cermat. Allah tidak pernah salah dalam menilai hamba-hamba-Nya.

Jangan meremehkan dosa karena ia bisa memberi noda dalam catatan amal kita. Jangan pula merasa aman dengan melakukan dosa karena menganggapnya ‘hanya’ dosa yang kecil. Dosa-dosa kecil itu jika dibiarkan akan bertumpuk-tumpuk. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dosa-dosa yang dilakukan telah menjadi segunung tanpa disadari dan akan menimpakan bahaya bagi manusia, sebagaimana sabda Rasulullah yang memperingatkan bahwa: “Jauhilah dosa-dosa kecil karena bila berkumpul pada seseorang akan menghancurkan dirinya.” ( HR. Ahmad)

Dosa-dosa kecil itu akan berdampak pada keimanan. Bila terus dibiarkan, keimanan bisa rusak, seperti yang pernah dikatakan oleh Imam Ghazali dalam kitab Faidhul Qadir bahwa: “Dosa-dosa kecil saling menarik sehingga pada akhirnya orang mukmin bisa menghancurkan pokok keimanannya.”

Akan menjadi sebuah penyesalan teramat besar bila kita terlambat menyadari kesalahan karena telah meremehkan dosa atau kesalahan kecil. Saat sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang yang telah terjadi. Ingatlah, kaki biasanya tersandung karena kerikil dan bukan karena batu besar yang tampak di depan mata. Sesuatu yang kecil dan sepele justru sering membuat manusia jatuh dan tergelincir. Begitu pula dosa kecil yang diabaikan, ia bisa menjadi sandungan dalam meraih surga-Nya. So, don’t underestimate the sin because it can destroy you.
Wallahu a’lam bishshawwab[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

2 thoughts on “Underestimate

  1. Masyallah. Tabarakallah. Adem baca nasehat ini sebagai pengingat diri yg sedang berproses meraih rida-Nya. Jazakillah khoyron mb Dina dan NP. Sukses dunia akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *