“Euforia muslimin atas pernak-pernik islami Piala Dunia Qatar menunjukkan bahwa muslimin rindu kemenangan. Hanya saja masih belum paham kemenangan sejati dan indikator untuk meraih kebangkitan itu seperti apa dan bagaimana?”


Oleh. Yana Sofia
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Jujur sih, opening ceremony FIFA World Cup 2022 di Al Bayt Stadium Qatar, keren! Apalagi saat ayat suci Al-Qur’an surah Al-Hujarat dibacakan. Pilihan ayatnya ‘dalam’ banget, mengusung tema persatuan dunia. Ditambah dengan penampilan Jungkook dengan Dreamers-nya yang memantik semangat semakin bergelora.

Ya, senada dengan lagunya member BTS “We are the dreamers!” Kita memang para pemimpi, yang always memimpikan Islam kembali jaya. Menyatukan berbagai perbedaan, demi menciptakan perdamaian dunia. Lalu, mampukah ajang yang identik dengan fanatisme suporternya itu menyatukan perbedaan dan mewujudkan persatuan bagi dunia? Bukankah olahraga ini hanya bisnis para kapital meraup cuan?

Jangan Terbuai!

Enggak berlebihan, ya, jika kita memimpikan perdamaian dunia. Islamisasi pada perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar ini menunjukkan betapa umat sangat berharap persatuan bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Wajar, jika banyak kalangan nih, mengapresiasi Piala Dunia di Qatar kali ini. Tentu saja, karena kebijakan dan pernak-pernik islami yang diberlakukan. Dikutip dari tempo.co, Senin (21/11/2022) pemerintah Qatar menetapkan beberapa kebijakan selama Piala Dunia ini berlangsung, loh. Di antaranya, larangan alkohol, berpakaian terbuka, hingga seks bebas termasuk LGBT.

Jelas, dong! Kebijakan pemerintah Qatar diaminkan muslim dunia. Apalagi saat Morgan Freeman dan Ghanim YouTuber asal Qatar berdialog tentang persamaan. Sang aktor Amerika itu bertanya kepada Ghanim, “Bagaimana bisa begitu banyak negara, bahasa, budaya bisa bersama jika hanya dengan satu jalan yang diterima?” Lalu Ghanim menjawab dengan bacaan surah Al-Hujarat ayat 13,

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Senang pastinya, sebagai muslim kita patut bangga ayat Allah dibacakan di ajang dunia. Tapi, Guys, tetap saja! Kita tidak boleh terbuai dan berpuas diri dengan euforia islamisasi ritual opening acara yang sesaat. Jangan lupakan bahwa olahraga bola erat kaitannya dengan bisnis kapitalisme yang berorientasikan materi. Ajang Piala Dunia ini tidak terlepas dari misi para pemilik modal dalam meraup cuan. Tentu saja, hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana mungkin ajang yang erat kaitannya dengan fanatisme golongan ini mampu membawa persatuan dunia?

Enggak Related!

Tentu, Guys! Kita bukan sedang julid dan gagal melihat hal positif di tengah euforia yang dibanggakan dunia ini, loh. Big no! Ayolah, kita sedang bicara fakta! Sejak Piala Dunia ini dimulai pada tahun 1930, olahraga mengejar bola ini sudah banyak menelan korban. Seperti yang terjadi di Peru (1964) 318 hingga 500 suporter tewas. Di Skotlandia (1971) 66 suporter termasuk anak-anak tewas. Di Rusia (1982) jumlah korban 66 hingga 340 orang tewas. Di Inggris (1985) 56 tewas dan 200 orang luka-luka. Di Belgia (1985) 35 orang tewas. Di Nepal (1988) 93 tewas. Di Mesir (2012) 73 tewas dan ratusan luka-luka. Masih banyak lagi tentunya dan yang paling segar di benak kita adalah kisruh di Stadion Kanjuruhan Malang pada tahun 2022 ini, menelan korban 130 tewas dan 180 luka-luka.

Jadi, Guys! Mau diislamisasikan bagaimanapun juga olahraga bola tidak akan mampu membungkam fakta fanatisme golongan yang menoreh sejarah berdarah, perpecahan dan sikap antiklub. Rasa fanatik yang hanya berlandaskan emosional sesaat, lemah, dan mudah berubah-ubah ini telah menghasilkan berbagai tragedi yang merugikan bangsa dan dunia.

Makanya, mustahil lewat ikatan rapuh ini persatuan dunia tercipta. Ingat, fanatisme ini hanya menghasilkan emosi sesaat! Persis sebagaimana euforia islamisasi saat opening ceremony yang berlangsung sebentar. Setelah acara bubar, emosi pun lenyap. So, nggak related banget dengan tema persatuan dan agungnya cita-cita Al-Hujarat ayat 13.

Hanya Bisnis!

Islam mengajarkan kita berpikir sebelum berbuat, Guys. Syariat Allah menjadi landasan, halal dan haram sebagai standar perbuatan. Jangan sampai kacamata Islam ini ‘buram’ karena rasa puas dan takjub sesaat. Jangan lupa, olahraga sepak bola ini erat kaitannya dengan bisnis, yang melibatkan arus pertukaran uang jutaan euro dan pound sterling di dunia.

Ya, sebagaimana bisnis berbasis kapitalisme lainnya, bisnis di balik benda bundar ini pun mematok target dan pencapaiannya yang tidak main-main. Investor asal UEA Sheikh Mansour, misalnya. Ia menjadi pemilik klub terkaya di dunia. Semenjak mengambil alih Manchester City senilai 81,6 juta pound sterling, di bawah kekuasaannya ia berhasil membawa The Citizens pada kejayaan lebih dari satu dekade. Hingga Maret 2022 tercatat Manchester City menjadi Klub terkaya di dunia, yang berhasil meraup 644,9 juta euro di awal tahun ini.

Tentu saja The Citizens bukan satu-satunya. Paska musim 2021/2022 setidaknya ada 15 klub dengan pendapatan/surplus di atas 250 juta euro. Di antaranya Real Madrid dengan pendapatannya sebesar 640,7 juta euro dan MU di angka 558 juta euro. Dikutip cnbcindonesia.com (23/3/2022)

Jelas, Guys! Pundi-pundi inilah yang dikejar para pemilik modal. Ada aliran dana segar di balik olahraga tersebut yang melibatkan pasar modal dan investasi yang memengaruhi pertukaran uang. Cuan ini biasanya mengalir dari sponsor, tiket pertandingan, iklan, hingga perolehan hak siar. Pundi-pundi inilah yang menggemukkan kantong-kantong para kapital. Tentu, ini lebih menggoda dari sekadar merumput di lapangan hijau di tengah sorakan penonton dan jargon fanatisme golongan oleh fans club masing-masing.

Ya, namanya juga kapitalisme. Ini bisnis, Man! Di saat kita tengah terbuai oleh euforia islamisasi pembukaan acara yang sesaat, mereka para kapitalis itu malah sibuk menghitung pundi-pundi yang tengah masuk ke rekening mereka. Ya, begitulah faktanya, selama sistem sekularisme dan kapitalisme masih bercokol dalam kehidupan, maka selama itu pula umat ini akan terus dibayang-bayangi oleh sistem yang memberikan keuntungan hanya pada segelintir orang.

Persatuan Hakiki

Euforia muslimin atas pernak-pernik Islami Piala Dunia Qatar menunjukkan bahwa muslimin rindu kemenangan. Hanya saja masih belum paham kemenangan sejati dan indikator untuk meraih kebangkitan itu bagaimana.

Islam adalah agama manusia, yang mampu menyatukan bangsa, bahasa, warna kulit, hingga agama. Ya, dalam Islam ada kebebasan bagi pemeluk agama lain berakidah dan beribadah sesuai keyakinan. Islam takkan memaksakan agama lain memeluk Islam, sebagaimana firman Allah di surah Al-Kafirun ayat 6,

“Untukmu agamamu, dan bagiku agamaku.”

Persatuan seperti inilah yang pernah dicontohkan Islam pada masa tegaknya Khilafah, yang berlangsung selama 13 abad, di mulai sejak Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islam di Madinah, hingga masa Utsmaniyah yang terbentang antara Semenanjung Anatolia dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Pada rentang sejarah itulah terjadi berbagai peristiwa bersejarah di mana kaum Nasrani dan umat Islam saling bahu-membahu membangun dan menjaga Kekhilafan Islam sebagai negara persatuan yang menyatukan berbagai perbedaan suku, ras, bangsa, bahkan agama.

Islam adalah agama manusia. Setiap hukum syarak yang ditetapkan sesuai fitrah, masuk akal, dan membawa ketenteraman saat direalisasikan dalam kehidupan manusia. Aspek inilah yang menjadikan bangsa lain yang berbeda suku, ras, agama bisa hidup rukun di bawah naungan khilafah Islamiah. Pastinya, semua hanya terwujud jika Islam diterapkan secara kaffah dalam sebuah institusi negara. Penerapan Islam yang secara total inilah yang mampu mewujudkan gambaran utuh rahmatan lil’alamin dan sekaligus mewujudkan persatuan umat dunia.

Hanya saja, Guys! Kita tidak dalam posisi mampu mewujudkan cita-cita persatuan umat itu terealisasi. Saat ini kita diatur oleh kebijakan sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan dan kapitalisme yang melahirkan sikap egois dan fanatisme golongan. Hanya pihak kuat yang berkuasa, yang lemah tertindas.

Khatimah

Karena itulah, Guys! Ikatan persepakbolaan ini pada dasarnya hanya ajang meraup cuan, fanatisme golongan para suporter itu rentan menimbulkan perpecahan. Hanya Islam yang mampu memberangus perbedaan dan menyatukan berbagai keberagaman. Karenanya, mari sungguh-sungguh memperjuangkan Islam tegak kembali, agar umat ini kembali meraih kemuliaan dan kemenangannya. Wallahu a’lam bishawab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

2 thoughts on “Islamisasi Piala Dunia Qatar, Demi Persatuan atau Cuan?

  1. MaasyaAllaah jadi ngeh deh ternyata euphoria di piala dunia itu memang sebuah fakta yang menggembirakan, namun kaum muslim tidak boleh sekadar happy dengan itu, justru harus menyadari bahwa jalan persatuan bagi seluruh dunia hanyalah dengan menerapkan islam secara sempurna dalam kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *