Islamisasi Piala Dunia Qatar, Demi Persatuan atau Cuan?

"Euforia muslimin atas pernak-pernik islami Piala Dunia Qatar menunjukkan bahwa muslimin rindu kemenangan. Hanya saja masih belum paham kemenangan sejati dan indikator untuk meraih kebangkitan itu seperti apa dan bagaimana?"

Oleh. Yana Sofia
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Jujur sih, opening ceremony FIFA World Cup 2022 di Al Bayt Stadium Qatar, keren! Apalagi saat ayat suci Al-Qur'an surah Al-Hujarat dibacakan. Pilihan ayatnya 'dalam' banget, mengusung tema persatuan dunia. Ditambah dengan penampilan Jungkook dengan Dreamers-nya yang memantik semangat semakin bergelora.

Ya, senada dengan lagunya member BTS "We are the dreamers!" Kita memang para pemimpi, yang always memimpikan Islam kembali jaya. Menyatukan berbagai perbedaan, demi menciptakan perdamaian dunia. Lalu, mampukah ajang yang identik dengan fanatisme suporternya itu menyatukan perbedaan dan mewujudkan persatuan bagi dunia? Bukankah olahraga ini hanya bisnis para kapital meraup cuan?

Jangan Terbuai!

Enggak berlebihan, ya, jika kita memimpikan perdamaian dunia. Islamisasi pada perhelatan Piala Dunia 2022 di Qatar ini menunjukkan betapa umat sangat berharap persatuan bisa direalisasikan dalam kehidupan nyata. Wajar, jika banyak kalangan nih, mengapresiasi Piala Dunia di Qatar kali ini. Tentu saja, karena kebijakan dan pernak-pernik islami yang diberlakukan. Dikutip dari tempo.co, Senin (21/11/2022) pemerintah Qatar menetapkan beberapa kebijakan selama Piala Dunia ini berlangsung, loh. Di antaranya, larangan alkohol, berpakaian terbuka, hingga seks bebas termasuk LGBT.

Jelas, dong! Kebijakan pemerintah Qatar diaminkan muslim dunia. Apalagi saat Morgan Freeman dan Ghanim YouTuber asal Qatar berdialog tentang persamaan. Sang aktor Amerika itu bertanya kepada Ghanim, "Bagaimana bisa begitu banyak negara, bahasa, budaya bisa bersama jika hanya dengan satu jalan yang diterima?" Lalu Ghanim menjawab dengan bacaan surah Al-Hujarat ayat 13,

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal."

Senang pastinya, sebagai muslim kita patut bangga ayat Allah dibacakan di ajang dunia. Tapi, Guys, tetap saja! Kita tidak boleh terbuai dan berpuas diri dengan euforia islamisasi ritual opening acara yang sesaat. Jangan lupakan bahwa olahraga bola erat kaitannya dengan bisnis kapitalisme yang berorientasikan materi. Ajang Piala Dunia ini tidak terlepas dari misi para pemilik modal dalam meraup cuan. Tentu saja, hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana mungkin ajang yang erat kaitannya dengan fanatisme golongan ini mampu membawa persatuan dunia?

Enggak Related!

Tentu, Guys! Kita bukan sedang julid dan gagal melihat hal positif di tengah euforia yang dibanggakan dunia ini, loh. Big no! Ayolah, kita sedang bicara fakta! Sejak Piala Dunia ini dimulai pada tahun 1930, olahraga mengejar bola ini sudah banyak menelan korban. Seperti yang terjadi di Peru (1964) 318 hingga 500 suporter tewas. Di Skotlandia (1971) 66 suporter termasuk anak-anak tewas. Di Rusia (1982) jumlah korban 66 hingga 340 orang tewas. Di Inggris (1985) 56 tewas dan 200 orang luka-luka. Di Belgia (1985) 35 orang tewas. Di Nepal (1988) 93 tewas. Di Mesir (2012) 73 tewas dan ratusan luka-luka. Masih banyak lagi tentunya dan yang paling segar di benak kita adalah kisruh di Stadion Kanjuruhan Malang pada tahun 2022 ini, menelan korban 130 tewas dan 180 luka-luka.

Jadi, Guys! Mau diislamisasikan bagaimanapun juga olahraga bola tidak akan mampu membungkam fakta fanatisme golongan yang menoreh sejarah berdarah, perpecahan dan sikap antiklub. Rasa fanatik yang hanya berlandaskan emosional sesaat, lemah, dan mudah berubah-ubah ini telah menghasilkan berbagai tragedi yang merugikan bangsa dan dunia.

Makanya, mustahil lewat ikatan rapuh ini persatuan dunia tercipta. Ingat, fanatisme ini hanya menghasilkan emosi sesaat! Persis sebagaimana euforia islamisasi saat opening ceremony yang berlangsung sebentar. Setelah acara bubar, emosi pun lenyap. So, nggak related banget dengan tema persatuan dan agungnya cita-cita Al-Hujarat ayat 13.

Hanya Bisnis!

Islam mengajarkan kita berpikir sebelum berbuat, Guys. Syariat Allah menjadi landasan, halal dan haram sebagai standar perbuatan. Jangan sampai kacamata Islam ini 'buram' karena rasa puas dan takjub sesaat. Jangan lupa, olahraga sepak bola ini erat kaitannya dengan bisnis, yang melibatkan arus pertukaran uang jutaan euro dan pound sterling di dunia.

Ya, sebagaimana bisnis berbasis kapitalisme lainnya, bisnis di balik benda bundar ini pun mematok target dan pencapaiannya yang tidak main-main. Investor asal UEA Sheikh Mansour, misalnya. Ia menjadi pemilik klub terkaya di dunia. Semenjak mengambil alih Manchester City senilai 81,6 juta pound sterling, di bawah kekuasaannya ia berhasil membawa The Citizens pada kejayaan lebih dari satu dekade. Hingga Maret 2022 tercatat Manchester City menjadi Klub terkaya di dunia, yang berhasil meraup 644,9 juta euro di awal tahun ini.

Tentu saja The Citizens bukan satu-satunya. Paska musim 2021/2022 setidaknya ada 15 klub dengan pendapatan/surplus di atas 250 juta euro. Di antaranya Real Madrid dengan pendapatannya sebesar 640,7 juta euro dan MU di angka 558 juta euro. Dikutip cnbcindonesia.com (23/3/2022)

Jelas, Guys! Pundi-pundi inilah yang dikejar para pemilik modal. Ada aliran dana segar di balik olahraga tersebut yang melibatkan pasar modal dan investasi yang memengaruhi pertukaran uang. Cuan ini biasanya mengalir dari sponsor, tiket pertandingan, iklan, hingga perolehan hak siar. Pundi-pundi inilah yang menggemukkan kantong-kantong para kapital. Tentu, ini lebih menggoda dari sekadar merumput di lapangan hijau di tengah sorakan penonton dan jargon fanatisme golongan oleh fans club masing-masing.

Ya, namanya juga kapitalisme. Ini bisnis, Man! Di saat kita tengah terbuai oleh euforia islamisasi pembukaan acara yang sesaat, mereka para kapitalis itu malah sibuk menghitung pundi-pundi yang tengah masuk ke rekening mereka. Ya, begitulah faktanya, selama sistem sekularisme dan kapitalisme masih bercokol dalam kehidupan, maka selama itu pula umat ini akan terus dibayang-bayangi oleh sistem yang memberikan keuntungan hanya pada segelintir orang.

Persatuan Hakiki

Euforia muslimin atas pernak-pernik Islami Piala Dunia Qatar menunjukkan bahwa muslimin rindu kemenangan. Hanya saja masih belum paham kemenangan sejati dan indikator untuk meraih kebangkitan itu bagaimana.

Islam adalah agama manusia, yang mampu menyatukan bangsa, bahasa, warna kulit, hingga agama. Ya, dalam Islam ada kebebasan bagi pemeluk agama lain berakidah dan beribadah sesuai keyakinan. Islam takkan memaksakan agama lain memeluk Islam, sebagaimana firman Allah di surah Al-Kafirun ayat 6,

"Untukmu agamamu, dan bagiku agamaku."

Persatuan seperti inilah yang pernah dicontohkan Islam pada masa tegaknya Khilafah, yang berlangsung selama 13 abad, di mulai sejak Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islam di Madinah, hingga masa Utsmaniyah yang terbentang antara Semenanjung Anatolia dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Pada rentang sejarah itulah terjadi berbagai peristiwa bersejarah di mana kaum Nasrani dan umat Islam saling bahu-membahu membangun dan menjaga Kekhilafan Islam sebagai negara persatuan yang menyatukan berbagai perbedaan suku, ras, bangsa, bahkan agama.

Islam adalah agama manusia. Setiap hukum syarak yang ditetapkan sesuai fitrah, masuk akal, dan membawa ketenteraman saat direalisasikan dalam kehidupan manusia. Aspek inilah yang menjadikan bangsa lain yang berbeda suku, ras, agama bisa hidup rukun di bawah naungan khilafah Islamiah. Pastinya, semua hanya terwujud jika Islam diterapkan secara kaffah dalam sebuah institusi negara. Penerapan Islam yang secara total inilah yang mampu mewujudkan gambaran utuh rahmatan lil'alamin dan sekaligus mewujudkan persatuan umat dunia.

Hanya saja, Guys! Kita tidak dalam posisi mampu mewujudkan cita-cita persatuan umat itu terealisasi. Saat ini kita diatur oleh kebijakan sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan dan kapitalisme yang melahirkan sikap egois dan fanatisme golongan. Hanya pihak kuat yang berkuasa, yang lemah tertindas.

Khatimah

Karena itulah, Guys! Ikatan persepakbolaan ini pada dasarnya hanya ajang meraup cuan, fanatisme golongan para suporter itu rentan menimbulkan perpecahan. Hanya Islam yang mampu memberangus perbedaan dan menyatukan berbagai keberagaman. Karenanya, mari sungguh-sungguh memperjuangkan Islam tegak kembali, agar umat ini kembali meraih kemuliaan dan kemenangannya. Wallahu a'lam bishawab.[]

Mahasiswa Terjerat Pinjol, Potensi Agent of Change Jebol?

"Saatnya generasi muda dikembalikan pada hakikatnya sebagai agent of change, bukan mereka yang lemah dan mudah ikut arus. Mengembalikan fungsi pendidikan yang mampu menjadikan mereka unggul, idealis, berpikir kritis, bertindak logis, dan peduli dengan kondisi negerinya."

Oleh. Muthiah Al Fath
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Tampaknya, jebakan pinjol (pinjaman online ) sudah menyasar ke segalah arah, termasuk ke kalangan mahasiswa. Beratnya beban hidup, circle pergaulan sekuler, dan keinginan hidup serba instan, menjadikan pinjol sebagai pilihan menggiurkan karena proses pencairan dananya yang cepat dan mudah. Alhasil, generasi muda yang seharusnya menjadi agent of change, malah kalah dan terwarnai oleh sampah peradaban yang diusung para penjajah.

Berdasarkan keterangan dari Rektor IPB University, Prof. Arif Satria menyatakan bahwa mahasiswa IPB yang menjadi korban pinjol ilegal sebanyak 166 dari 300 mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi lain, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. (Detikcom, 16/11/2022)

Anehnya, meskipun fenomena pinjol ini telah banyak memakan korban, mengapa ratusan mahasiswa sebagai kaum intelektual masih tergiur dan terjebak? Realitas ini menjadi bukti bahwa sistem pendidikan hari ini tidak mampu melahirkan generasi yang sanggup membentengi diri dari syahwat kapitalisme, malah semakin merusak iman dan rasionalitas mereka.

Akar Masalah Secara Umum

Berdasarkan keterangan dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), tercatat 15,2 juta orang berutang di pinjol resmi, per Juni 2022, dengan total sebesar Rp44,3 triliun. (Bisnis.com, 19/08/2022)

Fenomena banyaknya masyarakat yang terpaksa berutang adalah indikator rendahnya tingkat kesejahteraan dan rentan terhadap kemiskinan. Alih-alih ingin menyejahterakan rakyat untuk memberantas riba, pemerintah justru  melegalkan riba demi memungut pajak atas bunga pinjol legal (Peraturan Menteri Keuangan/PMK nomor 69 Tahun 2022 tentang PPh dan PPN, berlaku per 1 Mei 2022). Bukankah ini merupakan kezaliman di atas kezaliman?

Padahal, pinjaman berbasis ribawi baik legal maupun ilegal telah menimbulkan keresahan sosial akibat bunganya yang mencekik. Bagaimana tanggung jawab negara mampu menghapus tuntas penyebab orang-orang sampai terjerat transaksi tersebut? Sedangkan sistem ekonomi negara saat ini, telah menjadikan beban utang negara makin tinggi, dan kondisi ekonomi makin ambruk akibat ketergantungan pada asing.

Alhasil, kemiskinan, kebutuhan hidup yang tinggi, gaya hidup konsumtif, hingga masifnya pinjol berbasis ribawi bertebaran di media sosial dan menjadi pemicu semua ini. Tidak bisa dimungkiri, kemajuan teknologi semakin memudahkan orang mendapat pinjam dalam waktu singkat.

Ditambah lagi, arus global transformasi digital sangat memungkinkan para fintech (Financial technologi) asing untuk masuk ke pasar Indonesia yang makin menyuburkan transaksi ribawi. Akhirnya, banyak orang termasuk mahasiswa, semakin terjerumus pada pelanggaran syariat yang dapat merusak potensi mereka sebagai agent of change yang intelektual.

Meskipun faktanya, pinjol ilegal membuat masyarakat semakin tercekik karena cara penagihan utangnya terkadang mengandung kekerasan dan tak jarang membuat orang stres bahkan ada yang sampai bunuh diri. Anehnya, semua ini tidak memberikan efek jera pada masyarakat untuk tetap meminjam kepada pinjol ilegal. Sehingga sangat disayangkan, jika pemerintah menganggap fenomena ini hanya sekadar kasus penipuan biasa dan seolah masalah akan selesai ketika pelaku penipuan sudah tertangkap.

Dampak Pendidikan Sekuler

Sistem kapitalisme menjadikan layanan pendidikan sebagai lahan bisnis, sehingga rakyat harus membayar mahal untuk sekolah. Terutama biaya saat di perguruan tinggi yang membuat orang tua terpaksa harus merogoh kocek lebih besar jika ingin anak-anaknya kuliah.

Sistem pendidikan sekuler memiliki kurikulum yang berorientasi materialis dan pragmatis yang bertujuan membentuk perilaku yang jauh dari agama, sehingga mengabaikan halal haram sebagai standar hidup. Melalui program MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) yang ditetapkan tahun 2020 lalu, sebagai terobosan kurikulum yang fokus menyiapkan mahasiswa siap bekerja dan mengembangkan entrepreunership untuk bertahan hidup.

Kehidupan sekuler yang mewarnai dunia pendidikan saat ini menyebabkan beberapa hal, antara lain:

Pertama, gaya hidup hedonis. Indonesia adalah negara ketiga yang menjadi pasar dunia terbaik para kapitalis. Semua produk ditawarkan di sini dan mudah diakses di berbagai media sosial. Tanpa sadar, gaya hidup mulai tinggi tak terkendali. Alhasil, banyak mahasiswa yang menginginkan gaya hidup mewah, seperti yang ditunjukkan dunia luar. Mereka pun disibukkan dengan gaya hidup yang penuh kepalsuan.

Kedua, terjebak circle pergaulan sekuler. Terkadang, saat melihat teman yang “sukses”, ego pun terpancing agar tidak mau kalah dari temannya. Akhirnya, persaingan tidak sehat pun dilakukan dan mereka mudah terjebak investasi bodong meskipun modal awalnya harus melalui utang ribawi.

Ketiga, gaya hidup instan. Semakin canggihnya teknologi, semua hal menjadi mudah. Tak perlu membaca berlama-lama di perpustakaan untuk mencari literatur, cukup dengan searching saja di Google maka semua beres. Bahkan, cari cuan juga maunya instan, misalnya dengan membuat video Youtube, TikTok, dan lain sebagainya.

Begitulah realitas hidup saat ini, banyak menawarkan kemudahan. Tampak gaya hidup instan sangat membekas dalam diri pelajar. Akibatnya, banyak yang tergiur mencari jalan pintas untuk meraih cuan, sehingga mudah ditipu oleh pinjol ilegal.

Pemuda Sebagai Agent Of Change

Saatnya generasi muda dikembalikan pada hakikatnya sebagai agent of change, bukan mereka yang lemah dan mudah ikut arus. Mengembalikan fungsi pendidikan yang mampu menjadikan mereka unggul, idealis, berpikir kritis, bertindak logis, dan peduli dengan kondisi negerinya.

Generasi agent of change seharusnya berperan untuk mengubah keadaan menjadi baik dan benar. Peran ini menuntut para pemuda untuk mampu membentengi diri dari bejatnya syahwat kapitalisme yang merusak iman dan rasionalitas mereka.

Terutama bagi pemuda muslim yang harus menjadikan Islam sebagai landasan berpikir dalam menyelesaikan segala masalah kehidupan, sehingga yang perlu dilakukan, antara lain:

Pertama, membekali mereka dengan akidah yang kuat. Hal ini agar mereka mampu menangkal setiap serangan pemikiran-pemikiran kufur dari para penjajah, sekaligus untuk memperkuat posisinya sebagai agent of change.

Kedua, memberikan pemahaman tentang muamalah syar’i. Pemahaman yang benar tentang ekonomi Islam akan membuat mereka mustahil terlibat dalam investasi digital maupun pinjol yang jelas-jelas berbasis riba. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 275,

“…Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Tidak bisa dimungkiri, jerat pinjol mahasiswa jelas akibat minimnya literasi sistem ekonomi Islam. Sehingga, upaya menanamkan ilmu agama pada generasi muda akan membentuk pola sikap Islami yang mengharuskan mereka untuk bersikap hati-hati (warak) dalam setiap perbuatan.

Ketiga, senantiasa melibatkan dan mengajak para generasi muda untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial dan politik, untuk menumbuhkan jiwa empati mereka secara alami. Peran strategis inilah yang mengharuskan para pemuda harus berpikir secara mendasar dan menyeluruh untuk mendesain ulang tatanan kehidupan dunia yang telah rusak akibat kapitalisme yang tamak.

Pemuda harus bergerak dengan visi yang benar dan satu, yakni membangun peradaban terbaik berdasarkan ideologi Islam. Menggenggam visi ini dengan erat agar perjuangan pemuda tidak kandas, serta tidak menjadi generasi berwatak pragmatis yang kalah dengan realitas sistem yang bobrok.

Potret Perguruan Tinggi dalam Islam

Sistem pendidikan Islam memiliki strategi yang dirancang untuk menanamkan akidah, tsaqafah Islam, pola pikir, dan perilaku yang Islami ke dalam akal dan jiwa peserta didik. Sehingga, kurikulum pendidikan di dalam Daulah Islam harus disusun dan dilaksanakan untuk merealisasikan tujuan tersebut.

Rasulullah saw. bersabda,

“Dua golongan manusia yang jika keduanya baik maka akan baik manusia atau masyarakat dan jika keduanya rusak maka akan rusak pula manusia atau masyarakat; yaitu ulama dan para pemimpin.”

Berdasarkan hadis di atas, sistem pendidikan Islam khususnya perguruan tinggi akan dituntut untuk melahirkan ulama, politikus, para pakar ilmu pengetahuan, serta generasi muda agar mampu menjadi pemimpin ideal di masa yang akan datang, dengan memberikan pengajaran dan ide-ide yang ditujukan khusus untuk mengurus kemaslahatan hidup umat.

Dalam sistem pemerintahan Islam, negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai). Oleh karena itu, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok publik yang pemenuhannya dijamin negara. Sehingga negara wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai, seperti gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, serta tenaga pengajar yang kompeten. Terutama memberikan gaji yang cukup bagi pegawai dan guru yang bekerja di kantor pendidikan.

Seluruh biaya tersebut diambil dari baitulmal yang sebagian besar bersumber dari kekayaan alam yang sepenuhnya dikelola oleh negara, tanpa adanya intervensi asing. Alhasil, para mahasiswa bisa terus konsentrasi dalam pendidikan mereka tanpa terbebani beban hidup untuk mencari uang tambahan. Mahasiswa juga tidak terjebak gaya hidup hedonis, karena negara akan terus menjaga kemurnian tsaqafah generasi muda.

Oleh karena itu, hanya Khilafah yang mampu menciptakan situasi kondusif untuk membangun pemuda dengan visi mulia sebagai agent of change, menuju peradaban agung dan mulia. Sebab, pemuda yang memiliki akidah Islam akan mendorong generasi muda untuk terus berkarya memakmurkan dunia sebagai khairu ummah untuk meraih rida-Nya.

Khatimah

Sistem pendidikan sekuler berhasil menjadikan generasi muda menjadi tabu untuk menyatukan antara iman, ilmu, dan amal. Perguruan tinggi sekuler tidak ubahnya hanya sebagai institusi yang berorientasi pada materi, demi sejalan dengan semangat entrepreneur university. Alhasil, jerat pinjol justru menjerat insan kampus. Padahal, terkait bahaya pinjol, investasi bodong, dan semua transaksi berbasis ribawi, Islam sudah memiliki solusinya sejak lama. Namun, solusi tuntas yang praktis ini selalu dipinggirkan dan diabaikan oleh para pemangku kebijakan di negeri ini.

Sikap negara yang harusnya melepaskan ideologi sekuler kapitalisme yang telah gagal menyejahterakan rakyat, malah justru mengembangkan model rentenir baru atas nama transformasi digital. Katanya ingin memberantas pinjol ilegal, namun mendukung pinjol legal. Berbeda dengan syariat Islam yang mengharamkan segala bentuk bahaya termasuk akibat dari transaksi riba, sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Tidak boleh menimpakan bahaya bagi diri sendiri (dharar) maupun bahaya bagi orang lain (dhirar).”

Wallahu a’lam bishawab.[]

Rusia Resmi Resesi, Indonesia harus Hati-Hati!

"Maha Benar Allah Swt. yang telah membolehkan umat Islam tinggal di berbagai penjuru bumi, tetapi mereka harus bersatu di bawah naungan satu institusi, yaitu Khilafah. Dengan bersatu, umat Islam saling memiliki dan mendukung dalam menghadapi sebuah masalah ekonomi."

Oleh. Ragil Rahayu, S.E.
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Setelah berjibaku dalam peperangan dengan Ukraina sekian lama, kini Rusia terjerembab dalam jurang resesi. Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Beruang Merah ini telah turun sebesar 4% pada kuartal III tahun ini. Padahal, pada kuartal II, PDB Rusia juga telah mengalami kontraksi sebesar 4%. Penyebab resesi Rusia adalah sanksi ekonomi oleh negara-negara Eropa pada Rusia karena menyerang Ukraina. Eropa dan Amerika menahan dana Rusia di luar negeri.

Akibat sanksi Eropa tersebut, ekspor dan impor Rusia terganggu, termasuk bahan baku manufaktur dan suku cadang. Akibatnya, produksi di dalam negeri pun terhambat atau bahkan macet. Selain itu, produksi juga tidak bisa berjalan karena ban perusahaan mengalami kekurangan karyawan karena masyarakat banyak melakukan eksodus ke luar negeri. Rusia akhirnya kehilangan ratusan ribu orang angkatan kerja. Tingkat pengangguran Rusia pun makin parah. Selain itu, dampaknya, ketergantungan Rusia terhadap sektor energi makin besar. Akibatnya, perdagangan grosir turun sebesar 22,6%, sedangkan perdagangan eceran turun 9,1%.

Pelajaran bagi Indonesia

Resesi yang Rusia alami bisa saja menular ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. Tahun depan, ekonomi global diprediksi suram dan gelap. Saat ini saja Indonesia sudah mengalami badai PHK. Tahun depan kondisinya bisa lebih buruk. Oleh karena itu, Indonesia harus hati-hati. Indonesia tidak boleh jatuh ke lubang resesi seperti yang Rusia alami.

Untuk itu, Indonesia harus mencegah munculnya faktor-faktor penyebab resesi. Dalam kasus Rusia, penyebabnya adalah perang Rusia-Ukraina yang telah menghambat ekonomi, juga adanya gangguan rantai pasok pangan dan energi pascapandemi. Ditambah lagi suku bunga yang makin tinggi akibat kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan. Dengan demikian, Indonesia harus bertumpu pada kekuatan ekonomi riil dan mengurangi ketergantungan terhadap asing, utamanya pada sektor energi dan pangan.

Rusia merupakan negara besar, bahkan dulu ketika masih berbentuk Uni Soviet mampu menyaingi Amerika. Namun, kini negara adidaya itu terkena resesi juga. Hal ini disebabkan sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan Rusia memang rapuh sejak akarnya.

Penyebabnya adalah dominasi sektor nonriil dalam ekonomi kapitalisme. Sektor ini mudah sekali kolaps karena isu yang diembuskan. Namun, jika Indonesia bertumpu pada ekonomi riil, tidak akan terpengaruh oleh sentimen yang diembuskan di pasar.

Solusi Sistem Ekonomi Islam

Maha Benar Allah Swt. yang telah membolehkan umat Islam tinggal di berbagai penjuru bumi, tetapi mereka harus bersatu di bawah naungan satu institusi, yaitu Khilafah. Dengan bersatu, umat Islam saling memiliki dan mendukung dalam menghadapi sebuah masalah ekonomi.

Ketika ada satu wilayah yang mengalami kesulitan ekonomi, wilayah lain akan memberi bantuan ekonomi. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Makkah dan Madinah mengalami paceklik, Khalifah Umar ra. lantas mendatangkan pangan dari Mesir. Selesailah masalah paceklik tersebut.

Allah Swt. berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS Al-Hujurat: 10)

Sistem ekonomi Islam juga mencegah resesi dengan hanya bertumpu pada sektor ekonomi riil. Tidak boleh ada aktivitas riba, spekulasi, judi, dan semua aktivitas bisnis yang menyebabkan ekonomi gelembung sehingga mudah pecah menjadi krisis. Allah Swt. berfirman,

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ

"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila." (QS. Al-Baqarah: 275)

Ketika riba dilarang, potensi terjadinya krisis bisa dicegah. Walhasil, manusia selamat dari resesi. Selain itu, Khilafah juga akan mengelola sumber daya alam milik semua rakyat. Lantas hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan demikian, tidak terjadi kapitalisasi ekonomi yang menyebabkan harta negara dikuasai asing.

Yang paling penting adalah prinsip kedaulatan ekonomi. Khilafah akan mewujudkan swasembada pangan dan juga energi sehingga tidak mudah ditekan negara lain. Dengan demikian, meski musuh memboikot secara ekonomi, Khilafah akan tetap tegak dan menyejahterakan rakyatnya. Wallahu a'lam bishawab.

Keberanian dan Ketegasan Sa’ad bin Mu’adz

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar dia menghukumi di antara mereka adalah ucapan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. An-Nur: 51)

Oleh. Deena Noor
(Tim Redaksi NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Dua hal yang penting dimiliki oleh seorang pengemban dakwah adalah keberanian dan ketegasan. Jalan dakwah adalah jalan yang tak mudah, bahkan penuh dengan cobaan dan rintangan. Karena itulah dibutuhkan sikap berani dan tegas agar tak tergilas oleh beragam tantangan yang hilir mudik tiada henti. Dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah akan selalu melindungi setiap hamba yang istikamah berada di jalan-Nya seperti yang termaktub dalam surah An-Nisa’ ayat 45: “Dan Allah lebih mengetahui daripada kamu tentang musuh-musuhmu; dan cukuplah Allah menjadi pelindung, dan cukuplah Allah menjadi penolong bagimu.”

Sikap berani dan tegas dalam berdakwah ini juga telah dicontohkan oleh salah seorang sahabat Rasululullah yang bernama Sa’ad bin Mu’adz. Ia adalah seorang pemimpin dari Bani Asyhal di Madinah. Sa’ad memiliki julukan Abu Amr. Sa’ad bin Mu’adz merupakan putra dari Mu’adz bin Nu’man dan Kabsyah binti Rafi’. Ia masuk Islam setahun sebelum hijrahnya Rasulullah ke Madinah.

Sebagai seorang tokoh, Sa’ad bin Mu’adz memiliki pengaruh yang sangat besar di tengah-tengah kaumnya. Ia sangat dihormati oleh kaum Bani Asyhal.

Keberanian

Sa’ad bin Mu’adz juga terkenal sebagai sosok pemuda yang jago menunggang kuda dan pemberani. Keberaniannya tampak tatkala ia yang waktu itu baru saja memeluk Islam berani menunjukkan keislamannya. Setelah mengucap syahadat dengan dibimbing oleh Mush’ab bin Umair, Sa’ad lalu mendatangi kaumnya dan berkata, “Wahai, Bani Asyhal, bagaimana kedudukanku di tengah-tengah kalian?” Mereka lantas menjawabnya, “Engkau adalah orang yang kami hormati.”

Sa’ad kemudian mengatakan, “Ketahuilah oleh kalian, mulai hari ini, aku tidak akan mau bercakap-cakap dengan kalian, baik lelaki maupun perempuan, sebelum kalian memeluk Islam seperti diriku.”

Mendengar hal itu, seluruh anggota keluarga Bani Asyhal pun memeluk Islam.

Sikap berani dan terang-terangan Sa’ad bin Mu’adz dalam menunjukkan keislamannya mampu membawa kaumnya mengikuti langkahnya menjadikan Islam sebagai akidah. Ia tak takut kehilangan jabatan dan kedudukannya di tengah manusia karena memperlihatkan identitasnya sebagai muslim. Ini juga sebagai salah satu bentuk dukungannya terhadap perjuangan dakwah Islam.

Sa’ad bin Mu’adz tak ragu sama sekali dengan Islam yang baru dipeluknya saat itu. Ia meyakini bahwa Islam sebagai yang benar. Karena itulah, ia kemudian mengajak kaumnya untuk memasuki Islam sebagai jalan kehidupan yang membawa keselamatan.

Sikap berani dan terbuka Sa’ad akan Islam yang menjadi akidahnya sangat patut dicontoh oleh kaum muslim, khususnya para pemimpin dan tokoh masyarakat. Mereka yang memiliki kedudukan dan status tinggi di tengah masyarakat harusnya tak ragu menunjukkan identitas keislaman dan dukungannya terhadap perjuangan Islam. Justru, dengan kelebihan yang dipunyai, mereka bisa menggunakannya untuk kemajuan dakwah Islam. Manfaatkanlah kekuasaan yang dimiliki untuk membantu perjuangan Islam. Bukan malah sebaliknya, malu mengakui sebagai muslim karena terpapar sekularisme akut. Bahkan, sampai benci dengan agamanya sendiri karena terkena racun islamofobia sehingga ikut-ikutan menghalangi dakwah Islam di tengah masyarakat.

Dari Sa’ad bin Mu’adz, kita belajar untuk tidak menjadikan kedudukan sebagai penghalang dalam dakwah Islam. Tak perlu takut kehilangan jabatan saat kita memperjuangkan Islam. Walau banyak cemoohan, gangguan, ancaman, godaan, dan bermacam intrik, dakwah Islam harus terus melaju. Posisi duniawi tak boleh menghambat langkah-langkah dakwah yang kita tempuh.

Ketegasan

Satu lagi sikap yang patu diteladani dari Sa’ad bin Mu’adz adalah ketegasannya dalam menegakkan hukum Allah. Saat itu, Perang Khandaq baru saja usai. Rasulullah dan kaum muslimin hendak kembali pulang, ketika datang perintah melalui malaikat Jibril untuk melanjutkan perjalanan menuju Bani Quraidzah dan memerangi mereka. Salah satu suku Yahudi itu telah berkhianat dengan sengaja melanggar Piagam Madinah. Mereka bersekongkol dengan pasukan Ahzab untuk menyerang kaum muslim, padahal sebelumnya telah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah.

Sesampainya di benteng milik Bani Quraidzah, tempat kaum Yahudi bersembunyi, pasukan kaum muslimin melakukan pengepungan selama 25 hari. Kaum Yahudi pun akhirnya menyerah. Mereka meminta agar urusan mereka diputuskan oleh Sa’ad bin Mu’adz. Mereka beranggapan bahwa Sa’ad yang berasal dari Kabilah Aus yang merupakan sekutu mereka di masa sebelum kedatangan Islam di Madinah akan cenderung terhadap Yahudi Quraidzah.

Sa’ad bin Mu’adz yang saat itu tengah terluka akibat pertempuran Khandaq dan masih dalam masa perawatan, lalu mendatangi Rasulullah. Melihat Sa'ad, Rasulullah kemudian berkata, “Sambutlah pemimpin kalian.”

Orang-orang Anshar berkata kepada Sa’ad, “ Wahai, Abu Amr, sesungguhnya Rasulullah saw. telah memberikanmu otoritas dalam perkara ini untuk menetapkan hukumnya.”

Dalam rasa sakitnya yang terus memburuk, Sa’ad memanjatkan doa, “Ya, Allah, janganlah Engkau cabut nyawaku sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Bani Quraidzah.”

Lalu, dengan penuh ketegasan, Sa’ad berkata, “Sesungguhnya aku menghukum mereka, yaitu laki-lakinya dibunuh, harta mereka diambil dan dibagi-bagi; sedangkan wanita dan anak-anak mereka dijadikan sahaya.”

Mendengar keputusan Sa’ad, Rasulullah berkata, “Engkau telah menetapkan hukum berdasarkan hukum Allah yang berada di atas langit ketujuh.”

Sejak itu, kaum Yahudi tidak lagi berada di sekitar Kota Madinah. Selanjutnya mereka berpencar ke arah utara Jazirah, di Khaibar maupun perbatasan Syam. Berkat ketegasan Sa'ad, kaum Yahudi itu tidak berani lagi mengusik Islam.

Apa yang dilakukan Sa’ad harus menjadi teladan bagi seluruh kaum muslim. Ketegasannya dalam menerapkan hukum Allah menjadikan Islam tetap tegak dan tidak ada yang berani meremehkannya. Sikap tegas itu sangat dibutuhkan agar eksistensi Daulah Islamiah yang melindungi seluruh kaum muslim bisa terus berdiri untuk menerapkan syariat-Nya secara kaffah. Sikap tegas Sa’ad yang menghukumi perkara sesuai dengan perintah Allah merupakan gambaran bagaimana sikap muslim seharusnya. Ini seperti yang telah dinyatakan dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 51: “Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar dia menghukumi di antara mereka adalah ucapan: ‘Kami dengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Wafat

Setelah peristiwa itu, sakit Sa’ad bin Mu’adz makin menjadi-jadi. Sa’ad lalu berdoa, “Ya, Allah, sungguh Engkau mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kusukai untuk kuperangi selain daripada kaum yang mendustakan Rasul-Mu dan mengusirnya. Ya, Allah, sesungguhnya aku yakin bahwa Engkau telah mengakhiri pertentangan antara kami dan mereka. Jika masih ada peperangan melawan orang-orang Quraisy, maka berikanlah kepadaku kesempatan untuk berjihad melawan mereka di jalan-Mu. Jika Engkau telah mengakhiri peperangan, maka parahkanlah lukaku ini dan jadikanlah itu menjadi kematianku.”

Hari-hari berikutnya adalah penantian bagi Sa’ad sampai ajal menghampirinya. Ketika sakitnya bertambah parah, Rasulullah mendatanginya. Sa’ad tentu sangat bergembira didatangi oleh manusia yang sangat dicintainya itu. Sa’ad lalu mengucap salam untuk Rasulullah dan menegaskan kembali keimanannya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah kemudian menjawabnya, “Kebahagiaan atasmu, wahai, Abu Amr.”

Maka, Sa’ad pun meninggal dengan Rasulullah yang berada di sisinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi orang yang terakhir kali dilihat Sa’ad sebelum ia wafat seperti keinginannya selama ini. Inilah Sa’ad bin Mu’adz radhiallahu ‘anhu yang penuh dengan keteladanan. Dialah sahabat yang kematiannya mengguncang arasy, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Singgasana Allah Azza wa Jalla bergoncang karena wafatnya Sa’ad bin Mu’adz.” (HR. Bukhari)
Wallahu a'lam bishshawwab[]

Muhasabah dan Doa untuk Cianjur

"Bencana yang terjadi bukan semata fenomena alam. Sebagai muslim tentu kita harus mampu memaknai setiap peristiwa, tentang bagaimana gempa bumi ini bisa terjadi dan bagaimana Rasulullah saw. memberikan arahan dan teladan dalam menyikapinya."

Oleh. Muthi Idris
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Innalillahi wainnailaihi rojiun. Turut berduka cita atas musibah gempa bumi yang berpusat di Darat 10 km Barat Daya Kabupaten Cianjur.

Gempa terasa hingga di beberapa wilayah di Jawa Barat, di antaranya: Garut, Sukabumi, Cimahi, Lembang, Kota Bandung, Cikalong Wetan, Rangkasbitung, Bayah, Rancaekek, dan Jabodetabek.

Gempa dirasakan Mag:5.6, 21-Nov-22 13:21:10 WIB, Lok:6.84 LS, 107.05 BT (Pusat gempa berada di Darat 10 km Barat Daya Kab. Cianjur), Kedalaman:10 km. BMKG dalam situs webnya, memberikan perhatian untuk berhati-hati akan adanya gempa bumi susulan yang mungkin terjadi (warning.bmkg.go.id, 21/11/2022).

Data sementara dari proses pendataan di lapangan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 14 orang korban meninggal dan 17 orang luka-luka di Kabupaten Cianjur. Menurut data sementara dari RSUD Cianjur tercatat 100 orang luka-luka dan 20 orang meninggal.

Kerusakan bangunan juga banyak terjadi, di antaranya banyak rumah warga, tempat usaha, fasilitas pendidikan, gedung pemerintahan, hingga bangunan gedung RSUD Cianjur (cnnindonesia.com, 21/11/2022).

Sebagai warga yang tidak terkena dampak langsung, tentu besar rasa empati kita rasakan dan curahkan khususnya bagi para warga Kabupaten Cianjur, termasuk korban jiwa, korban luka-luka hingga korban kerusakan bangunan.

Kehidupan manusia memang tidak bisa lepas dari persoalan, ujian dan cobaan, termasuk terjadinya gempa bumi ini adalah bagian dari musibah, ujian bagi manusia. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 155.

"Dan sungguh akan Kami uji (iman) kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 156, memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan kabar gembira bagi mereka yang sabar apabila ditimpa musibah.

"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata 'Innalillahi wainna ilaihi rojiun' (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."

Setiap ujian dan musibah yang Allah Swt. turunkan adalah agar kita kembali kepada-Nya, dengan selalu berbuat taat, bertobat dari semua maksiat, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.

Gempa bumi pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Saat terjadi, beliau saw. meletakkan tangannya di atas bumi dan bersabda, "Tenanglah! Belum tiba saatnya bagimu."

Kemudian beliau saw. mengarahkan wajah kepada para sahabat, seraya bersabda, "Allah ingin agar kalian melakukan sesuatu yang membuat-Nya rida kepada kalian!" (Ibnu Qayyim dalam al-Da'a wa al-Dawa'a, mengutip hadis yang diriwayatkan Ibn Abi al-Dunya)

Gema bumi kembali terjadi di madinah pada masa Umar bin Khattab. Dalam riwayat yang sama, Umar menyeru penduduk, "Wahai manusia, gempa ini tidak terjadi kecuali karena perbuatan kalian! Demi Zat yang menggenggam jiwaku, jikalau ini terjadi lagi, aku tidak akan tinggal di sini bersama kalian."

Gempa bumi juga pernah terjadi di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menyerukan seluruh penduduk untuk bermunajat kepada Allah Swt. dan memohon ampunan-Nya. Kemudian beliau mengirimkan surat kepada seluruh walinya.

"Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini merupakan teguran dari Allah kepada seluruh hamba-Nya. Aku perintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barang siapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah."

Bencana alam bukan semata fenomena alam. Sebagai muslim tentu kita harus mampu memaknai setiap peristiwa, tentang bagaimana bencana gempa bumi ini bisa terjadi dan bagaimana Rasulullah saw. memberikan arahan dan teladan dalam menyikapinya. Bencana alam ini terjadi tentu tak lepas dari sebab ulah tangan manusia sendiri, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad r.a., dari Ummu Salamah r.a., beliau berkata, aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda,

"Apabila terjadi kemaksiatan pada umatku, pasti Allah Swt. mengirimkan azab dari sisi-Nya kepada mereka semua."

Ummu Salamah r.a. bertanya: "Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada orang baik di antara mereka saat itu?"

Rasulullah saw. bersabda: "Ya, ada."

Ummu Salamah r.a. kembali bertanya: "Bagaimana dengan mereka?"

Beliau saw. bersabda: "Mereka tertimpa sebagaimana manusia lain, kemudian mereka mendapat ampunan dan keridaan Allah Swt."

Bencana gempa bumi adalah wujud kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. sebagai ujian sekaligus teguran bagi manusia yang beriman atas perilaku dosa dan maksiat yang dilakukan.

Hikmah di balik itu semua, sungguh tidak ada hal yang lebih berharga dari hidup ini kecuali bisa sabar atas ujian, syukur atas nikmat. Kemudian semakin taat kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan sehingga, Allah Swt. rida dan memberikan ampunan-Nya kepada kita. Wallahu a'lam bishawab.[]

KLB Polio Ditetapkan, Bagaimana Ketahanan Sistem Kesehatan Khilafah?

"Data tersebut menyebutkan dari 1 anak yang positif terkena virus polio, maka terdapat 200 anak yang sudah terinfeksi. Sebab, penyebaran virus polio sangatlah cepat, pun virus ini juga dapat menimbulkan kelumpuhan dan kematian bagi anak-anak."

Oleh. Dia Dwi Arista
(Tim Redaksi NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan status KLB untuk kasus polio tipe 2 yang terjadi di daerah Pidie, Aceh. Seorang anak berusia 7 tahun mulai bergejala pada 6 Oktober 2022 dengan keluhan demam dan serangan lumpuh. Padahal, Indonesia telah mendapat sertifikat resmi bebas polio pada tahun 2014 oleh WHO. Namun, disinyalir rendahnya tingkat vaksinasi polio dan buruknya sanitasi di lingkungan sekitar menjadi penyebab munculnya kembali virus tersebut.

Menurut analisis WHO (World Health Organization), terdapat 30 daerah di Indonesia yang berisiko tinggi terjadi penularan virus polio. Oleh karena itu, pemerintah berencana melakukan genjot vaksinasi massal pada 28 November di daerah-daerah tersebut secara serentak.

Penetapan KLB, Benarkah Ketergesaan?

Satu kasus polio yang terjadi di Pidie, kemudian membuat pemerintah dengan sigap menetapkan statusnya menjadi KLB, akhirnya memunculkan pertanyaan tersendiri. Sebab, penetapan status KLB harus memenuhi syarat dan kriteria sesuai Permenkes RI No. 1501 Tahun 2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya.

Pada pasal 6 disebutkan beberapa kriteria dalam penetapan sebuah penyakit menjadi KLB, seperti:

  1. Munculnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah.
  2. Peningkatan kejadian penyakit terus-menerus selama 3 kurun waktu dalam jam, hari, atau minggu menurut jenis penyakitnya.
  3. Peningkatan kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu. menurut jenis penyakitnya.
  4. Jumlah penderita baru dalam periode satu bulan menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
  5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama satu tahun menunjukan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kesakitan perbulan pada tahun sebelumnya.
  6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam satu kurun waktu menunjukan kenaikan kenaikan 50 persen atau lebih.
  7. Angka proporsi penyakit (proportional rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Berdasarkan kriteria di atas, kasus virus polio di Pidie belumlah memenuhi kriteria penetapan KLB. Namun, ternyata dalam kasus polio, data statistik yang dikeluarkan oleh CDC.gov/polio berkata lain. Data tersebut menyebutkan dari 1 anak yang positif terkena virus polio, maka terdapat 200 anak yang sudah terinfeksi. Sebab, penyebaran virus polio sangatlah cepat, pun virus ini juga dapat menimbulkan kelumpuhan dan kematian bagi anak-anak. Oleh karena itu, penetapannya sebagai KLB adalah sesuatu yang wajar.

Belum lagi, dari 200 anak yang sudah terinfeksi tersebut, 8 anak akan mengalami infeksi di radang selaput otak (viral meningitis). Dan 191 sisanya adalah anak-anak yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala, akan tetapi masih bisa menularkan virus polio pada anak lainnya. Oleh karena itu pemerintah menetapkan vaksinasi massal di 30 daerah risiko tinggi. Namun, yang menjadi sorotan dalam pengadaan vaksin tersebut, siapa yang paling diuntungkan?

Siapa yang Diuntungkan?

Dalam setiap kasus penyakit, tentu saja semua pihak harusnya tidak ada yang merasa diuntungkan. Namun, kita harus menolak lupa jika kita hidup dalam aturan kapitalisme. Aturan ini memiliki asas manfaat yang begitu kental di setiap kebijakannya. Saking kentalnya, terkadang sisi humanismenya tergerus karena adanya kepentingan berbagai pihak.

Pun belajar dari kasus wabah Covid-19 lalu, dunia berlomba-lomba membuat vaksin Covid, yang tentu pada saat itu mencapai high demand, sebab hampir setiap orang di dunia membutuhkannya. Yang bisa membuat vaksin tercepat dan terampuh dapat meraup keuntungan luar biasa. Pun, kasus ginjal akut yang baru-baru ini merebak di beberapa negara, obatnya pun sudah tersedia. Padahal, penyebabnya dapat dikatakan masih simpang-siur.

Oleh karena itu, ketika KLB ditetapkan namun standar kriteria belum terpenuhi, bahkan sudah ancang-ancang melakukan vaksinasi serentak di 30 kota yang dianggap high risk tentu akan menyerap vaksin polio dengan jumlah yang tak sedikit. Dan lagi, siapa yang diuntungkan? Tentu para pengusaha vaksin. Sebab dalam sistem ini kesehatan bukanlah bagian dari riayah pemerintah. Namun, individu secara mandiri. Pengadaan obat-obatan, termasuk alat kesehatan, dan vaksin yang dibutuhkan masyarakat pun harus dibayar mahal secara mandiri oleh rakyat.

Dari sini pun, sebagai warga dan pemerhati, kita wajib mempertanyakan bagaimana negara ini mengurusi ketahanan kesehatannya di masa ini dan mendatang? Akankah penyakit terus berulang dan selesai dengan impor vaksin? Begitu pula, sampai kapan rakyat membeli kesehatan mereka dengan harga mahal?

Khilafah dengan Ketahanan Sistem Kesehatannya

Islam beranggapan bahwa pemenuhan kesehatan adalah jaminan negara. Oleh karena itu, Khilafah akan memenuhi seluruh kebutuhan mulai dari infrastruktur, sarana, dan prasarana penunjang demi mencukupi kebutuhan kesehatan seluruh rakyat tanpa pandang bulu, baik miskin atau kaya. Tentu dengan kualitas yang sama juga tanpa ada kelas tertentu sesuai budget layaknya saat ini.

Paradigma bahwa negara adalah pelayan rakyat, menjadikan layanan kesehatan oleh negara sebagai sarana kewajiban pemenuhan, bukan layanan jual beli. Oleh karena itu, negara tidak boleh mengomersialkan layanan kesehatan kepada rakyatnya sendiri. Khalifah sebagai raa'in bertanggung jawab secara penuh dalam pemenuhan kebutuhan ini. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Imam Al-Bukhari:
"Imam adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya"

Dalam pelayanan kebutuhan rakyat, negara harus mandiri dan tidak boleh bergantung pada swasta atau asing. Khilafah akan menempatkan rumah sakit di seluruh pelosok negeri dengan kualitas dan tenaga medis yang mumpuni. Hal ini agar dapat memaksimalkan pelayanan terhadap masyarakat.

Adanya pelayanan kesehatan juga merupakan hal darurat, sebab jika tidak ada pelayanan kesehatan maka akan menimbulkan dharar (bahaya). Tugas negaralah untuk menghilangkan bahaya tersebut pada warganya.

"Tidak boleh menimbulkan madarat (bahaya) bagi diri sendiri maupun madarat (bahaya) bagi orang lain di dalam Islam" (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Namun, bukan berarti seorang dokter tidak boleh membuka praktiknya secara mandiri, pun dengan apotek juga diperbolehkan berdiri. Mereka juga berhak mendapat bayaran dari jasa yang mereka keluarkan. Yang tidak diperkenankan adalah jika layanan dari negara mengambil pungutan. Adanya pelayanan gratis ini, mengharuskan Khilafah mengalokasikan dana tersendiri untuk pos kesehatan dari baitulmal.

Terkait dengan riset, pembuatan vaksin, dan sebagainya, Khilafah juga akan secara mandiri membangun lembaga penelitian. Dengan mempekerjakan orang-orang ahli di dalamnya. Dan berupaya agar seluruh masyarakat mendapat haknya dalam masalah ini. Pun dengan mengadakan upaya preventif agar virus atau wabah tidak dapat masuk ke dalam negara. Andai terlanjur masuk, maka negara akan melakukan karantina wilayah. Usaha preventif lain juga dengan menggalakkan sunah menjaga kebersihan dengan membangun sanitasi yang baik, perumahan yang layak, dan makanan yang bergizi bagi rakyatnya.

Demikianlah bagaimana Khilafah membangun ketahanan sistem kesehatannya. Dengan segala upaya tersebut diharapkan akan membawa warga Khilafah pada kesehatan yang sempurna. Allahu a'lam[]

Gawat Darurat Tata Kelola Pertanian

"Problem utama dari ruwetnya masalah pertanian terletak pada buruknya tata kelola ala kapitalis liberal. Tata kelola tersebut mengakibatkan minimnya kepemilikan lahan, lemahnya pengawasan teknologi, keterbatasan modal, hingga lemahnya posisi tawar dalam penjualan hasil panen para petani."

Oleh. Sartinah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Badan Urusan Logistik (Bulog) kembali menjadi sorotan. Perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang logistik pangan tersebut, disinyalir gagal menyerap hasil panen petani. Target cadangan beras pemerintah (CBP) yang sebanyak 1,2 juta ton, kemungkinan besar tak bisa tercapai di akhir tahun ini. Saling lempar alasan di antara kementerian pun mewarnai karut-marutnya persoalan logistik.

Lantas, apa sejatinya alasan Bulog hingga tak mampu menyerap hasil panen petani dengan maksimal? Mengapa masalah serapan beras minim, anjloknya harga gabah, mahalnya pupuk, dan lainnya selalu menjadi problem di negeri ini? Bagaimana pula gambaran sahih perhatian negara terhadap sektor pertanian?

Tersandera Kebijakan

Terkait rendahnya serapan beras, Kementerian Pertanian pun buka suara. Direktur Serealia Kementerian Pertanian, Ismail Wahab menjelaskan, kesulitan Bulog dalam menyerap beras langsung dari petani disebabkan adanya perbedaan antara harga yang ditawarkan oleh Bulog dengan harga pasar. Ismail menyebut, rara-rata penggilingan memberikan harga berasnya sebesar Rp10.300, tetapi Bulog hanya mampu menerima dengan harga Rp9.700 per kilogram. (Cnnindonesia.com, 18/11/2022)

Tak hanya soal beras yang sulit diserap, Bulog pun mengaku kesulitan menyerap gabah kering panen (GKP) dari petani karena terbentur peraturan harga pembelian pemerintah (HPP). Saat ini, HPP untuk GKP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp4.450 per kilogram. Sementara fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga komoditas tersebut sudah di atas itu. Akhirnya, Bulog kembali gagal menyerap GKP karena petani lebih memilih menjualnya kepada swasta dengan harga yang lebih tinggi.

Saat ini cadangan beras pemerintah yang tersimpan di Bulog memasuki masa kritis, yakni hanya 651.437 ton (per 13 November 2022). Padahal, cadangan beras yang seharusnya dimiliki oleh Bulog adalah sebesar 1,2 juta ton. Demi menambal kekurangan cadangan beras pemerintah, lagi-lagi sinyal impor pun diberikan oleh Bulog. Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso mengatakan, selain stok yang sudah dikuasai Bulog di dalam negeri, pemerintah juga akan melakukan kerja sama dengan mancanegara sebanyak 500.000 ton beras komersial. Menurutnya, jika jumlah stok tersebut digabung maka pemerintah dapat mempertahankan stabilitas harga dalam enam bulan ke depan. (Wartaekonomi.co.id, 21/11/2022)

Gagal Mewujudkan Swasembada

Ketidakmampuan Bulog dalam menyerap hasil panen petani patut dipertanyakan. Pasalnya, Bulog sebelumnya menyebut tidak mampu menyerap hasil panen petani karena perbedaan harga pemerintah dengan harga pasar. Kini, Bulog menyatakan telah menyiapkan dana berapa pun untuk menyerap hasil panen petani. Hanya saja, stok beras di lapanganlah yang diklaim tidak mencukupi. Terkait permasalahan tersebut, ada beberapa hal yang perlu menjadi sorotan.

Pertama, pemerintah berdalih tidak mampu menyerap beras petani karena minimnya stok di lapangan. Padahal terdapat 11 provinsi yang ada untuk menyerap cadangan beras pemerintah (CBP). Seharusnya pemerintah bisa memaksimalkan penyerapan tersebut tanpa harus memilih jalur impor. Lagi pula, panen raya akan terjadi di bulan Januari dan Februari mendatang.

Di sisi lain, berdasarkan laporan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Aries Prasetyo Adi, sulitnya Bulog menyerap beras/gabah karena bersaing dengan perusahaan swasta lainnya. Silang pendapat di antara kementerian juga menunjukkan kegagalan pejabat dan penguasa dalam pengelolaan sektor pertanian.

Kedua, belum maksimalnya kinerja Badan Pangan Nasional (Bapanas). Badan ini belum menjadi pengambil otoritas dalam urusan cadangan pangan di negeri ini. Padahal, sesuai mandat yang ada, Bapanas seharusnya yang menentukan kebijakan tentang cukup atau kurangnya pangan, impor atau tidak, dan bukan berada di tangan Bulog. Di sisi lain, para petani sudah bekerja keras untuk memproduksi beras, tetapi Bulog dan Bapanas justru tidak maksimal dalam menyerap hasil panen tersebut.

Ketiga, tentang dalih minimnya stok di lapangan tampaknya tidak masuk akal. Pasalnya, beberapa waktu lalu Presiden Joko Widodo sempat mengapresiasi pertumbuhan kinerja sektor pertanian. Di mana sektor ini telah berhasil mewujudkan swasembada beras selama tiga tahun berturut-turut, yakni sejak 2019 hingga 2021.

Jokowi pun menyebut, pencapaian tersebut disebabkan oleh perencanaan yang matang terkait pembangunan infrastruktur, seperti embung dan jaringan irigasi. Pemerintah pun mengeklaim telah berhasil membangun 1,1 juta hektare irigasi hingga mendapatkan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI). Jika Presiden mengeklaim bahwa Indonesia telah berhasil mewujudkan swasembada pangan selama tiga tahun berturut-turut, lantas mengapa Bulog masih kesulitan menyerap beras petani? Benarkah karena tidak ada barang di lapangan atau justru pemerintah enggan membeli beras petani dengan harga komersial?

Sebagaimana diketahui, harga beras akhir-akhir ini memang melonjak yang disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya saja, karena kenaikan harga produksi sebagai akibat dari melonjaknya harga pupuk dan BBM. Banyak petani yang akhirnya menggunakan pupuk nonsubsidi karena terbatasnya pupuk bersubsidi. Konsekuensinya adalah petani harus menaikkan harga beras demi menutup biaya produksi yang makin mahal. Dalam kondisi seperti ini, negara seharusnya mampu menyerap seluruh hasil panen petani meski harus membeli dengan harga komersial. Pemerintah seharusnya jangan hanya mampu menaikkan harga BBM, tetapi juga harus berupaya menaikkan tingkat kesejahteraan petani.

Salah Tata Kelola

Permasalahan yang terjadi di sektor pertanian, baik tentang rendahnya serapan beras oleh Bulog, anjloknya harga gabah, mahalnya pupuk, "tradisi" impor, dan sebagainya, sejatinya hanyalah masalah cabang. Problem utama dari ruwetnya masalah pertanian terletak pada buruknya tata kelola ala kapitalis liberal. Tata kelola tersebut mengakibatkan minimnya kepemilikan lahan, lemahnya pengawasan teknologi, keterbatasan modal, hingga lemahnya posisi tawar dalam penjualan hasil panen para petani.

Selain itu, sistem kapitalisme telah nyata meminggirkan peran negara sebagai pengurus rakyat. Negara hanya diposisikan sebagai regulator, sementara operatornya diserahkan kepada korporasi. Salah satu kebobrokan sistem ekonomi kapitalisme adalah mengizinkan kebebasan pemilikan secara mutlak. Kebebasan ini akhirnya menciptakan kapitalisasi korporasi pangan yang terus menyebar di setiap sudut negeri ini. Tata kelola ala kapitalis inilah yang mengakibatkan terjadinya ketimpangan kepemilikan aset, pengawasan rantai produksi, distribusi pangan, hingga kendali harga pangan oleh para korporasi.

Sementara pemerintah yang seharusnya berperan sebagai pengendali, justru ibarat wasit yang tetap condong pada korporasi. Contohnya, saat ini petani masih sebatas berangan-angan untuk memperoleh akses terhadap sarana produksi pertanian (saprotan) yang murah dan berkualitas. Sementara terkait pengadaan benih, pupuk, pestisida, serta lainnya masih dalam dominasi korporasi. Paradigma dan konsep batil kapitalisme harusnya dicampakkan jika ingin menyelesaikan sengkarut pertanian. Kemudian menggantinya dengan paradigma Islam.

Solusi Islam

Islam datang menjadi solusi atas setiap permasalahan yang menimpa manusia, termasuk dalam sektor pertanian. Sistem sahih ini memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh sistem kapitalisme. Dalam prinsip ekonomi Islam, produktivitas seluruh kegiatan pertanian yang legal atau sesuai syariat telah diakui oleh Islam, baik produk barang maupun jasa.

Dalam Islam, kebijakan apa pun yang terkait dengan sektor pertanian wajib berada dalam tanggung jawab negara, mulai dari hulu hingga hilir. Sebab, negara adalah penanggung jawab dan pelindung seluruh rakyat. Sebagaimana termuat dalam hadis riwayat Ahmad dan Bukhari, "Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya."

Makna hadis tersebut menunjukkan bahwa negara adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap seluruh urusan rakyat. Karenanya beban tersebut tidak boleh dialihkan kepada pihak lain, apalagi korporasi. Di sisi lain, prinsip pengurusan rakyat dalam Islam adalah terwujudnya kemaslahatan. Karenanya, negara tidak boleh membisniskan semua layanan yang diberikan kepada rakyat.

Perhatian Khilafah terhadap Pertanian

Sektor pertanian wajib dikelola berdasarkan prinsip syariat Islam. Di bawah prinsip tersebut pertanian akan mewujudkan dua hal sekaligus, yakni ketahanan pangan dan kesejahteraan para petani. Beberapa kebijakan Khilafah dalam aspek produksi, di antaranya:

Pertama, negara akan menjalankan hukum pertanahan Islam. Dalam Islam, asas pertanian adalah lahan. Ketika lahan dikelola dengan hukum yang sahih, maka semua permasalahan tentang tanah dapat diselesaikan dengan baik. Selain itu, Islam menetapkan bahwa kepemilikan atas tanah pertanian berkelindan dengan pengelolaannya. Artinya, siapa saja yang mampu mengelolanya, maka berhak memiliki tanah pertanian seluas apa pun.

Sebaliknya bagi siapa saja yang tidak mampu atau lemah dalam memproduktifkannya, maka kepemilikannya secara otomatis akan hilang. Hal ini berdasarkan pada hukum tentang lahan, yakni hukum menghidupkan lahan mati, larangan menelantarkan lahan selama tiga tahun berturut-turut, serta larangan menyewakan lahan pertanian. Dengan diterapkannya hukum tersebut, maka distribusi lahan pada orang yang mengelolanya akan terjamin. Selain itu, hukum tersebut akan meminimalisasi banyaknya lahan yang menganggur.

Kedua, Khilafah akan memberikan berbagai bantuan pada petani seperti saprotan, modal, infrastruktur penunjang, teknologi, dan sebagainya untuk memaksimalkan pengelolaan lahan. Bantuan tersebut diberikan karena lahan pertanian tidak boleh ditelantarkan. Hal ini merupakan bentuk dukungan penuh negara dalam upayanya memaksimalkan pengelolaan lahan.

Ketiga, mendorong pelaksanaan riset untuk menghasilkan bibit unggul dan berbagai teknologi yang dibutuhkan oleh para petani. Riset tersebut seluruhnya diatur oleh Khilafah yang anggarannya diperoleh dari baitulmal. Semua produk yang dihasilkan dari riset tersebut ditujukan bagi kemaslahatan rakyat.

Salah satu bukti perhatian Khilafah terhadap sektor pertanian terjadi di masa Khalifah Umar ra. Sang khalifah selalu memotivasi rakyat untuk mengaktifkan lahan pertanian dan mengembangkannya. Khalifah Umar memang memiliki perhatian secara pribadi terhadap kegiatan pertanian. Bahkan, pertanian dijadikan sebagai kegiatan ekonomi yang utama. Bukti atas hal itu adalah sebuah riwayat yang mengatakan bahwa warisan Umar yang dibagi oleh ahli warisnya sebanyak 70 ribu lahan pertanian.

Khalifah Umar juga memiliki beberapa hamba sahaya yang mengerjakan lahan pertaniannya. Bahkan, ketika sudah menjadi khalifah pun, beliau tidak mengabaikan lahan pertaniannya. Selain sebagai kegiatan individu, Umar ra. juga menilai kegiatan pertanian sebagai salah satu kegiatan terpenting bagi baitulmal. Karena itu Umar ra. sangat antusias dalam memotivasi produktivitas lahan pertanian.

Khatimah

Dengan pengaturan berdasarkan syariat Islam, produk pertanian dalam negeri akan mencukupi kebutuhan seluruh rakyat. Para petani pun tidak perlu khawatir akan anjloknya hasil pertanian karena negara bertanggung jawab penuh terhadap nasib mereka. Lebih dari itu, pengaturan pertanian berdasarkan syariat Islam di bawah sistem politik Khilafah, akan mewujudkan ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan rakyat.
Wallahu a'lam[]

Rapuhnya Ketahanan Keluarga, Islam Datang untuk Menjaga

“Dan jika kamu mengkhawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS An-Nisa’: 35)

Oleh. Lilis Sumyati
(Kontributor NarasiPost.Com dan Pegiat Dakwah)

NarasiPost.Com-Angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat. Tahun 2021 saja kasus perceraian mencapai lebih dari 580 ribu (Republika.co.id, 14/07/2022). Hal ini sudah menjadi perhatian khusus bagaimana cara mengatasi pergolakan perceraian yang sudah banyak terjadi.

Salah satu cara yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung adalah menginisiasi pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Pembangunan Ketahanan Keluarga. Hal ini dalam upaya menekan angka perceraian yang tinggi dan meningkatkan ketahanan keluarga di Kabupaten Bandung. (JabarEkspres.com, 19/10/2022)

Menurut laman resmi Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung, pada tahun 2020, perkara yang diterima Pengadilan Agama Soreang sebanyak 9.119. Ada peningkatan sebanyak 1,25 persen dibanding tahun 2019 yakni 9.006 perkara. Oleh karena itu, Perda Ketahanan Keluarga ini telah resmi disetujui dan disahkan pada Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung pada 29 September 2022 lalu.

Selain itu, berbagai ormas pun ikut terlibat dalam menangani banyaknya kasus perceraian yang terjadi. Seperti yang dilakukan Nahdatul Ulama dalam bidang ekonomi. Mereka membuat program pemberdayaan ekonomi melalui sistem koperasi, investasi pendidikan, dan lain-lain yang bekerja sama dengan lembaga perekonomian pemerintah dan swasta. Dalam bidang kesehatan pun ada program dan kegiatan pencegahan stunting dan kesehatan reproduksi perempuan. Hal ini dalam rangka mewujudkan perempuan sehat dan anak sehat sehingga ketenteraman dan kesejahteraan keluarga dapat tercapai. (Republika.co.id, 13/07/2022)

Lantas, Apakah yang Menjadi Penyebab Mendasar Banyaknya Perceraian Saat Ini?

Banyak pihak menuding bahwa pernikahan dini yang menjadi penyebabnya. Di lain pihak, ada yang menyatakan penyebabnya karena ketimpangan peran ekonomi antara suami dan istri sehingga ketahanan keluarga menjadi rapuh. Menurut Komnas Perempuan, penyebab tertinggi perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus sehingga ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Perlu kita pahami bahwa untuk menemukan solusi tuntas dari masalah perceraian adalah dengan menelusuri akar masalahnya. Penyebab-penyebab di atas hanyalah cabang saja. Namun, ada hal lain yang menjadi dasar penyebabnya. Yaitu diterapkannya kapitalisme sebagai sistem kehidupan saat ini.

Sistem kapitalisme menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan. Seseorang merasa bahagia ketika mampu memenuhi semua kebutuhannya, baik primer, sekunder, atau tersier. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka terjadilah konflik keluarga. Padahal, sejatinya standar kebahagiaan kaum muslim adalah mencapai rida Allah Swt.

Di sisi lain, sistem ekonomi kapitalisme menjadikan sumber daya hanya bisa dimiliki oleh kaum yang bermodal. Muncullah kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Selain itu, kapitalisme menjadikan kebutuhan rakyat sebagai ladang bisnis. Pendidikan dan kesehatan menjadi sangat mahal. Tidak heran dengan makin meningkatnya kebutuhan hidup keluarga, maka akan makin membebani para suami sebagai pencari nafkah. Bahkan, karena nafkah suami kurang memenuhi kebutuhan keluarga, akhirnya memaksa para istri ikut bekerja.

Melihat akar permasalahan saat ini, maka Perda atau aturan serupa tidak akan mampu menjadi solusi selama sistemnya masih sama. Selain hanya menjadi solusi tambal sulam, hal ini juga akan memunculkan permasalahan baru. Ketika para ibu sibuk bekerja, anak-anak akan terabaikan. Padahal, saat ini banyak sekali PR untuk seorang ibu karena perannya yang sangat strategis sebagai ummu wa rabbatul bayt (pengurus rumah tangga) dan ummu ajyal (pencetak generasi). Lewat rahim sang ibulah, pemimpin itu lahir dan tercetaknya generasi peradaban masa depan. Rumah merupakan pendidikan awal (madrasatul ula) dari seorang ibu.

Kondisi ini sangat jauh berbeda ketika sistem Islam diterapkan. Islam adalah agama yang sempurna. Semua permasalahan pasti dapat diselesaikan dengan Islam. Begitu pun dengan permasalahan mengenai banyaknya perceraian saat ini.

Dengan aturan Islam, kemuliaan dan ketakwaan individu, keluarga dan masyarakat akan terjaga. Suami-istri menyadari hak dan kewajibannya. Sebelum menikah, mereka juga tahu bahwa pernikahannya adalah dalam rangka beribadah dan mengabdi kepada Allah Swt. Ketika terjadi permasalahan, mereka akan merujuk pada solusi Islam. Selain itu, masyarakat juga akan saling menasihati jika terjadi percekcokan di antara suami dan istri.

Peran negara paling dominan dengan penerapan sistem ekonomi Islam. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang luas agar para suami dapat bekerja dan menafkahi keluarganya. Dengan begitu, tidak ada kepala keluarga yang menganggur.

Dalam Islam, semua sumber daya alam adalah milik umat yang dikelola oleh negara. Negara dapat menciptakan lapangan kerja yang luas dan menjamin kebutuhan warga negaranya dari hasil pemasukan yang besar semisal tambang, perairan, hutan, dan sumber daya alam lainnya. Dengan cara seperti ini, maka penyebab perceraian dari faktor ekonomi akan terhindarkan. Dengan penerapan aturan Islam, kelangsungan rumah tangga dapat terjaga. Islam telah memberikan seperangkat aturan agar hubungan suami-istri berjalan harmonis dan penuh ketenangan.
Allah Swt. berfirman,
“Dan jika kamu mengkhawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS An-Nisa’: 35)

Demikianlah, melalui penerapan syariat Islam secara kaffah, seluruh problem manusia, termasuk dalam berumah tangga, akan menemukan solusi tuntas. Dengan cara seperti inilah ketahanan keluarga yang hakiki akan terwujud sehingga kebahagiaan dan kesejahteraan bukan lagi impian yang sulit diraih.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab[]


Photo : Canva