Bola jadi Pemersatu Keberagaman? Ah, Enggak juga, Tuh!

Bola jadi Pemersatu Keberagaman? Ah, Enggak juga, Tuh!

“Sobat, di antara ikatan yang mengikat manusia, ada satu ikatan yang dapat menyebabkan suatu kebangkitan dan pemersatu keberagaman, yaitu ikatan ideologi. Ikatan ini terdiri dari fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode) yang dapat melahirkan berbagai aturan dalam sistem kehidupan manusia.”


Oleh. Firda Umayah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sobat, tahukah kamu, bahwa piala dunia sudah digelar sejak Minggu 20 November 2022? Acara yang diadakan di Doha, Qatar ini telah menjadi sorotan dunia. Ini merupakan ajang kompetisi olahraga terbesar di dunia.

Ajang yang katanya menjadi representasi dari pemersatu keberagaman antarbangsa itu, sayangnya mendapat sorotan buruk. Sebab, sempat terjadi kerusuhan saat tuan rumah Qatar sedang bertanding melawan Ekuador. Nah, kalau sudah seperti ini, apakah benar piala dunia pemersatu keberagaman?

Piala Dunia = Fanatisme Berbalut Olahraga

Sobat, kalian masih ingat dengan kejadian yang ada di Kanjuruhan Malang tempo lalu? Ya, kasus kerusuhan yang memakan ratusan korban jiwa. Nah, hal itu diawali adanya fanatisme suporter Arema terhadap klub sepak bola daerahnya yang tidak menerima kekalahan. Lalu para suporter turun ke lapangan dan membuat kerusuhan. Ditambah lagi, adanya tindakan represivitas aparat menjadikan tragedi Kanjuruhan memakan korban jiwa.

Sama dengan kerusuhan yang terjadi di Doha, Qatar, Minggu kemarin. Kerusuhan muncul ketika ribuan pengunjung mencoba masuk kawasan fun zone untuk menyaksikan pertandingan sepak bola. Meski kerusuhan yang terjadi tidak separah yang di Kanjuruhan, namun itu sudah cukup membuktikan bahwa kerusuhan disebabkan juga oleh fanatisme pendukung negara yang sedang berlaga di lapangan.

Sobat, fanatisme yang muncul dari para suporter sejatinya merupakan ikatan yang ada di dalam masyarakat, yang sifatnya lemah dan rendah. Kenapa? Karena ikatan ini muncul dari naluri semata, yaitu naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’).

Di mana ikatan ini hanya muncul ketika seseorang mendapatkan rangsangan dari luar tubuhnya. Selain itu, fanatisme golongan juga selalu dikuasai hawa nafsu untuk terus membela golongannya. Sehingga, ikatan ini cenderung menimbulkan perselisihan dengan kelompok lain.

Kalau fanatisme golongan menimbulkan perselisihan, bagaimana dengan nasionalisme? Bukankah nasionalisme yang ada pada diri setiap bangsa telah mampu menyatukan masyarakat bangsa tersebut?

Hm…, kalimat di atas sekilas mungkin benar. Tapi pada hakikatnya sama seperti fanatisme golongan. Kenapa? Simak lebih lanjut penjelasan berikut.

Ilusi Nasionalisme dalam Menyatukan Keberagaman

Sobat, harus dipahami bahwa nasionalisme pada hakikatnya juga merupakan ikatan yang lemah dan rusak. Kenapa? Karena, pertama, ikatan ini bersifat emosional. Artinya, ikatan ini muncul secara tiba-tiba dari perasaan ketika ada rangsangan dari luar yang membuatnya untuk membela diri dan bangsanya, seperti piala dunia. Masyarakat akan terpacu membela negaranya ketika perwakilan negaranya ditandingi oleh negara lain. Ikatan ini sifatnya juga berubah-ubah tergantung kondisi emosi seseorang.

Kedua, ikatan nasionalisme, bersifat temporal. Artinya ia hanya muncul ketika bangsa atau negaranya merasa terancam dengan bangsa lain. Ketika sudah tidak terancam, misalnya dalam piala dunia ada negara yang sudah tidak bertanding atau kalah, maka hilanglah perasaan untuk membela ini.

Ketiga, ikatan nasionalisme memiliki mutu yang rendah. Karena ikatan ini tidak bisa membawa kepada kebangkitan umat. Ikatan ini tidak memiliki aturan yang lengkap dan dapat mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Terus, adakah ikatan hakiki yang mampu menyatukan umat? Tentu saja ada. Apa itu?

Ikatan Ideologi Islam Pemersatu Keberagaman

Sobat, di antara ikatan yang mengikat manusia, ada satu ikatan yang dapat menyebabkan suatu kebangkitan dan pemersatu keberagaman, yaitu ikatan ideologi. Ikatan ini terdiri dari fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode) yang dapat melahirkan berbagai aturan dalam sistem kehidupan manusia.

Ideologi yang ada di dunia saat ini ada tiga, yaitu ideologi sosialisme, kapitalisme, dan Islam. Ideologi sosialisme dan kapitalisme tidak mampu membawa manusia kepada ketenteraman hidup. Karena, dua ideologi ini berasal dari akal manusia yang bersifat lemah dan terbatas.

Sedangkan ideologi Islam adalah ikatan yang mampu membawa ketenteraman hidup, karena ideologi ini berasal dari Allah Swt. Yang Maha Menciptakan dan Mengatur. Ideologi inilah yang benar.

Ideologi Islam sendiri faktanya pernah diterapkan di dunia lho, Sobat. Ideologi ini telah diterapkan sejak Rasulullah saw. mendirikan Daulah Islam di Madinah dan dilanjutkan dengan kepemimpinan khulafaurasyidin dan para khalifah hingga berakhirnya Kekhilafahan Utsmaniyah pada tahun 1924.

Khilafah yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, dan ras, faktanya dapat bersatu dalam satu institusi selama lebih dari 13 abad. Keren banget ‘kan? Ini artinya Khilafah sebagai negara Islam yang menerapkan seluruh hukum syarak, telah mampu melebur dan menyatukan bangsa-bangsa tanpa memberangus keberagaman. Kok bisa?

Iya, karena ikatan yang melandasi manusia yang satu dengan yang lain adalah ikatan akidah Islam. Di mana ikatan ini memandang setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt.

Selain itu, ada beberapa hal lain yang membuat Khilafah mampu menjadi pemersatu bangsa dan keberagaman. Pertama, adanya perintah syariat Islam yang membuat masyarakat saling menerima satu sama lain tak pandang suku, ras, maupun agama mereka.

Kedua, adanya pembauran antara masyarakat muslim melakukan pembebasan dengan masyarakat yang dibebaskan. Keduanya lalu tinggal bersama di wilayah yang sama dengan peraturan hidup yang sama, yaitu aturan Islam.

Ketiga, masuknya masyarakat yang dibebaskan ke dalam agama Islam. Hal ini turut memperkuat ikatan di antara masyarakat pada pemerintahan Khilafah.

Keempat, adanya proses perubahan yang sifatnya revolutif dari masyarakat yang telah memeluk Islam. Mereka lantas berusaha menyesuaikan diri untuk beralih dari kondisi tanpa aturan Islam, menjadi kondisi dengan syariat Islam.

Penutup

Sobat, keempat hal di atas ditambah ikatan akidah Islam yang kuat inilah, yang telah membuat masyarakat di dalam negara Khilafah menjadi ummatan wahidatan atau umat yang satu. Mereka bersatu meski tetap saja ada keberagaman bahasa, agama, suku, dan kebiasaan yang mereka lakukan. Selama mereka tunduk kepada aturan Islam, maka selama itu pula Khilafah menjamin hak-hak mereka sebagai warga negara.

Ini semua membuktikan bahwa hanya Khilafah yang mampu mempersatukan umat. Oleh karena itu, ketika umat Islam saat ini terpisahkan dalam berbagai bangsa, maka tak ada jalan lain untuk menyatukannya, kecuali dengan menegakkan kembali Khilafah.

Sebab, tanpa Khilafah umat Islam akan selalu terpisahkan dengan sekat nasionalisme. Sehingga, membuat umat Islam di dalam suatu negeri tidak mampu menolong umat Islam di negeri yang lain. Karena, tidak adanya kekuatan dan persatuan di antara negeri-negeri muslim saat ini.

Wallahu a’lam bishawab.[]


Photo : Canva
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *