Kulit Putih Mata Sipit

Kulit Putih Mata Sipit

“Siapa dia? muslim juga bukan, berani-beraninya sok tahu ajaran agama orang. Aku benar-benar tak menyangka kalimat seperti itu yang akan keluar dari mulutnya. Terus terang aku cukup malu. Malu sebagai perempuan dan malu sebagai orang Islam. Dan itulah percakapan pertama kami yang akan kuingat seumur hidup.”


Oleh. Sulastri Abduh
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-“Kamu punya pacar?” tanya anak lelaki berkulit putih bermata sipit di hadapanku.

“Hah?” alisku naik sebelah.

“Katanya kamu pacaran sama Rudi anak IPA satu, ya?” ulangnya lagi dengan wajah penuh selidik.

“I-iya, kenapa memang? ada apa, ya?” akhirnya kujawab meski tidak begitu mengerti maksud pertanyaannya.

Ah! Tiba-tiba aku teringat perkataan Mita. Belakangan ini ada anak laki-laki dari kelas sebelah yang sering bertanya perihal tentangku. Kulit putih mata sipit, anak pemilik toko bangunan berdarah Tionghoa. Menurut Mita, kemungkinan anak itu ada hati padaku.

Tersadar, segera diriku memperbaiki posisi seelegan mungkin dan memasang wajah tenang penuh pesona.
“Ehm. Iya benar. Aku pacaran sama Rudi.” kali ini nada suaraku kubuat lebih percaya diri.

“Kenapa?” tanyaku balik, meski kini sudah tahu apa maksud dari pertanyaannya. Kalau tidak akan menyatakan perasaan cintanya, kemungkinan mengungkapkan rasa kecewa dan patah hatinya. Ya Allah, aku tidak tahu kalau aku sepopuler ini.

“Bukannya . . . .” anak lelaki itu kemudian sengaja menggantung kalimatnya.

“Bukannya apa?”

“Bukannya dalam agamamu dilarang pacaran?”

Deg!

“Maaf aku salah bicara. Tapi dari yang kupelajari, pergaulan seperti pacaran bukannya dikatakan ‘haram’ dalam Islam?”

Aku membuang tatapan. Sejauh mungkin. Jantungku berdetak kencang. Aku tersinggung berat. Namun, di antara semua perasaan yang berkecamuk, perasaan angkuhlah yang justru keluar dari mulutku.

“Kamu belajar Islam?” tanyaku dingin.
“Iya.”
“Kalau begitu belajarlah lebih banyak lagi, karena masih banyak yang belum kamu ketahui.”
“Jadi, aku salah tentang hukum pacaran itu?”
“Ya.”
“Berarti boleh berpacaran?”
“Boleh ya, boleh tidak,” jawabku asal.
“Yang benar yang mana?”

Aku mendengus kesal ke arahnya. “Yang benar adalah . . . , pacaran tidak boleh, KALAU PACARNYA ORANG KULIT PUTIH MATA SIPIT SEPERTI KAMU!” jawabku ketus sembari pergi dengan langkah cepat. Lebih tepatnya ‘lari’. Lebih detailnya lagi melarikan diri.

Siapa dia? muslim juga bukan, berani-beraninya sok tahu ajaran agama orang. Aku benar-benar tak menyangka kalimat seperti itu yang akan keluar dari mulutnya. Terus terang aku cukup malu. Malu sebagai perempuan dan malu sebagai orang Islam. Dan itulah percakapan pertama kami yang akan kuingat seumur hidup.


“Malas sekali yaa Allah, ditempatkan di kelas ini,” sungutku di awal tahun ajaran baru.

“Kenapa?” tanya Mita. Anehnya dia juga sekelas lagi denganku.

“Malas harus belajar bareng sama si kulit putih mata sipit!”

“Maksudmu Aku?” tiba-tiba suara dari belakangku menimpali.

“Yap! Betul sekali!” jawabku ketus tanpa menoleh.
“Kamu rasis.”
“Terserah aku dong!”
“Apa sebaiknya namamu diganti saja menjadi ‘Rasis Purwanti’?”

Aku mendelik memejamkan mata menahan emosi. Apalagi Mita juga ikut tertawa.
“Namaku Ratih Purwanti, hei kulit putih mata sipit!”

“Namaku juga bukan ‘kulit putih mata sipit’. Namaku…”

“Tidak perlu. Aku tidak butuh namamu.”

“Kau butuh namanya, Ratih,” potong Mita sembari menyodorkan selembar kertas. “Wali kelas memintamu mencatat semua nama teman kelas dan nomor teleponnya.”

“Bbuh…” suara tawa tertahan terdengar dari belakang.

“Tertawa saja. Tidak usah ditahan,” kataku sambil berbalik menyerahkan selembar kertas. “Tulis namamu sendiri!”

Dia menerimanya tanpa protes. Sedetik kemudian memiringkan kepalanya.
“Harusnya kau menyerahkannya dengan tangan kanan. Bukankah dalam agamamu semua selalu didahului dari yang kanan? Makan pakai tangan kanan, masuk masjid pakai kaki kanan. Aku curiga ‘hormat kanan’ itu juga bermula dari Islam.”

What? Anak ini belajar Islam dari mana, sih?

“Kenapa kau begitu peduli pada hal kecil seperti itu?” tanyaku tak mengerti.

Dia lalu menatapku antusias. “Ada Tuhan di setiap detail kehidupan. Konsep yang luar biasa. Karena itulah aku menyukai agamamu.”

“Bukan menyukai Ratih?” Mita bersuara lagi. Anak ini sekali bicara, rasanya langsung ingin menarik bibirnya, ya Allah.

“Aku memang menyukainya, “ suara itu lembut menyentuh telinga. “Menyukai kekonsistenannya dengan kerudung panjangnya.”

Deg! Aku meremas ujung kerudungku. Kerudung besar menutupi dada yang kupakai semata karena disuruh ibu.

“Aku kagum melihatnya beribadah sendiri di mushala sekolah, saat semua anak-anak berkumpul di kantin.”

Deg! Deg! Itu ketika aku sedang salat Duhaa untuk mencuri perhatian Rudi yang kini menjadi pacarku.

“Aku juga pernah mendengarmu membaca isi kitab suci di halaman belakang sekolah. Terjemahannya menjawab semua keraguanku selama ini tentang sifat Tuhan.”

Astaga. Itu saat aku harus menyetor hafalan surat pendek dan terjemahannya ke guru agama. Sering menunda, akhirnya kelabakan menghafal di sekolah.

“Semua hampir sesuai dengan ekspektasiku pada Islam. Sampai kudengar kau akhirnya pacaran. . . “

“Stop! Jangan bahas itu, kulit putih mata sipit,” potongku masih tak menoleh ke arah belakang.

“Dan bahwa ternyata kau rasis.”
“Aku Ratih!”
“Kau juga gampang marah.”
“Aku baik pada siapa saja, kecuali padamu!”
“Terima kasih aku merasa istimewa dan beda.”
“Kamu memang beda. Makhluk dari planet Pluto sana!”
“Pluto sudah tidak memenuhi syarat untuk dikatakan planet. Selain karena ukuran, ada juga . . . “
“Tidak usah dijelaskan!” aku mulai stress.

Di sampingku Mita tertawa cekikikan. Baru saja aku hendak melanjutkan perdebatan tak berguna ini dengan face to face, tiba-tiba ia malah tersenyum. Lembut sekali. Terlalu damai, sampai aku tak bisa berkata-kata, spontan kembali membalik badan, lalu pergi meninggalkan ruangan. Kali ini jantungku berpacu lebih cepat.


“Sepertinya dia benar-benar serius belajar Islam, ya?” tetiba saja Mita sudah duduk di sampingku.

“Siapa?”
“Itu.” mata Mita melirik ke arah bangku kosong persis di belakangku.
“Oh, si kulit putih mata sipit.” Aku menoleh. “Ke mana dia?”
“Tuh di mushala. Kupikir ada apa ramai-ramai di sana jam seperti ini. Ternyata Rudi sedang mengajarkan Islam padanya.”

Apa?!

Aku berdiri dan bergegas keluar.

“Lo? Kenapa, Tih?” Mita mengejarku di belakang.

“Perasaanku tak enak.”

Perasaan tak enakku bukan tanpa alasan. Terlintas bagaimana perkataan Rudi kemarin, “Cina itu PDKT sama kamu, ya? Mita bilang kalian sering ribut.”

“Bukan ribut seperti yang kamu bayangkan,” jawabku tenang.

“Modus saja dia pura-pura mau belajar Islam.”

Waktu itu aku tak menjawab. Mulai risih dengan sifat Rudi yang di luar tampak agamis, tapi aslinya sama juga kebanyakan anak lain. Tidak jauh beda denganku. Dan benar saja. Saat tiba di musala, apa yang kukhawatirkan benar terjadi.

“Wiiih, inilah ustaz kita yang jago kungfuuu . . . !” sorak Rudi diikuti gelak tawa anak-anak lain.

Di tengah kerumunan itu, tampak si kulit putih mata sipit kebingungan dengan situasi. Entah kebohongan apa yang dikatakan Rudi padanya hingga ia rela didandani dengan penampilan aneh seperti itu. Sajadah yang dijadikan sorban di kepala, celana yang dilipat hingga lutut, juga badan yang hampir basah kuyup.

Perlahan anak lelaki berkulit putih bermata sipit itu sadar telah dibodohi. Satu per satu tampilan konyol di badannya ia lepas, tanpa suara tanpa amarah.

Begitu melihatku, ia tersenyum dan berkata, “Aku hanya mau belajar salat seperti mereka. Dan mereka berhasil meyakinkanku bahwa seperti inilah caranya. Bodohnya aku yang langsung percaya.”

Senyumnya getir. Aku melihat semburat kecewa. Cahaya yang kulihat di wajahnya saat-saat menceritakan Islam yang seperti remaja dilanda cinta, kini berubah layaknya remaja yang sedang patah hati.

Mematung aku membiarkannya berlalu pergi. Beralih ke Rudi, kudorong tubuhnya cukup kuat hingga ia terjatuh. Heran saja apa yang membuatku tertarik padanya kemarin.


Lima belas tahun berlalu setelah kejadian itu. Apa kabar dia yang jatuh hati pada Islam?

Aku yang telah lahir sebagai muslim sejak lahir justru baru benar-benar mengenal agamaku sejak beberapa waktu yang lalu. Entah tiba-tiba, begitu besar keinginan dan kerinduanku bertemu kembali dengan orang itu.

Kuparkir mobil di pinggir jalan, melepas sabuk pengamanku dan sabuk pengaman seorang bocah laki-laki lima tahun di sampingku.

“Ayo, Sayang, kita ketemu Abi.”

Lincah putraku satu-satunya itu berjalan mendahului menuju tempat abinya. Dia sudah begitu hapal dimana makam tempat peristirahatan terakhir laki-laki andalannya itu.

“Cepat ke sini, Mi….” teriaknya melambai. Matanya yang sipit dan kulitnya yang putih membuat seorang wanita paruh baya yang juga ada di pemakaman itu bertanya kurang yakin padaku. “Anaknya, Mbak?”

“Iya,” jawabku maklum. Kulitku sawo matang memang.

“Kok? Hehehe.”

Aku tersenyum sembari menunjuk nisan yang ada di depanku. Nisan bertuliskan sebuah nama Tiong Hoa. Lian Riswandi.

“Itu ayahnya,” jelasku.
“Ooh, ya Allah. Begitu toh.” wanita itu menatap iba padaku.

Anakku memang sangat mirip abinya. Tidak bisa kubayangkan jika remaja nanti, dia akan semakin mirip wajah teman kelas dulu yang selalu kupanggil ‘Kulit Putih Mata Sipit’.

Ah, Lian. Teringat lagi diriku. Berlari menghampirinya yang saat itu baru saja dikerjai Rudi.

“Untuk mengenal Islam jangan melihat diriku, jangan juga melihat mereka. Aku dan mereka memang muslim, tapi bukan Islam,” kataku bergetar. “Jika kau mau mengenal Islam, belajarlah dari Islam itu sendiri, Al-Qur’an. Akan kukenalkan kau pada ustaz kenalan ayahku.”

Seperti biasa, dia hanya tersenyum. Tidak bisa kutangkap maknanya. Yang tidak biasa adalah ketika sudah tak ada lagi keributan antara kami setelah itu. Bagiku waktu berlalu begitu hambar sampai saat kelulusan, kami berpisah tanpa kata dan dia bertindak begitu wajarnya. Hanya aku yang terbawa perasaan, terbawa gelisah, dan akhirnya sadar bahwa aku sebenarnya ingin seperti dia.

Beberapa tahun setelah lulus kuliah, pesannya masuk di nomorku dengan tiba-tiba.

“Aku Lian. Masih ingat? Maukah belajar Islam bersamaku?”

Saat itu penuh bahagia kujawab singkat, “Ya.”

Meski sekarang berpisah lagi, kelak jika Allah izinkan, aku ingin kami dipertemukan kembali. Di tempat kembalinya orang-orang suci.

Rindu kamu, si Kulit Putih Mata Sipitku.


SELESAI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *