Tak Perlu Risau dengan Prasangka

Tak Perlu Risau dengan Prasangka

“Ingatlah prasangka itu belum tentu benar. Jadi, mengapa juga hal ini menjadi beban dalam melangkah menjalani kehidupan?”


Oleh. Dewi Kusuma
(Pemerhati Umat dan Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Keki…
Yah kenapa juga keki? Setiap manusia silakan saja berprasangka apa pun itu. Apakah hal tersebut merugikan kita? Sepertinya…yah acuhkan saja, tak perlu dipusingkan dengan prasangka orang lain untuk diri ini.

Mereka berhak berprasangka apa pun itu menurut pribadi mereka. So… tak perlu menjadi ganjalan hati yang tak nyaman untuk diri dalam berbuat. Lakukan saja yang melegakan hati kita. Pastinya harus dengan standar hidup yang benar dan sahih ya.

Kadang kita sering terpengaruh dengan prasangka yang negatif terhadap diri. Tentunya ini membuat hati dan kiprah kita jadi terhenti. Ingatlah prasangka itu belum tentu benar. Jadi, mengapa juga hal ini menjadi beban dalam melangkah menjalani kehidupan?

Orang lain yang berprasangka itu tetap enjoy, bahkan mungkin lupa ataupun memang sengaja berbuat demikian agar diri ini terhenti dalam beraktivitas. Mengapa juga harus dipusingkan dengan prasangka? Hal ini ‘kan belum tentu kebenarannya. Biarlah semua berlalu hingga suatu saat ditunjukkan oleh Allah mana yang benar.

Sifat iri, dengki, marah, egois, kasih sayang, bahkan cinta itu ya manusiawi. Biar semua berjalan sesuai dengan kodratnya. Yang perlu menjadi sandaran tentunya harus sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan.

Kembalikanlah kepada tujuan awal dari kehidupan. Allah menciptakan kita umat manusia tak lain dan tak bukan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Selain itu tak perlu membuat hati kita kesal, risau ataupun galau maupun langkah jadi terhenti.

Santai sajalah…
Jika mereka berprasangka yang tidak sesuai dengan yang diri ini lakukan berarti itu hak dia, dan urusan dia nantinya ‘kan ada pertanggungjawabannya dihadapan Allah. Jika kita merasa membenarkan prasangka yang orang lain sampaikan untuk diri ini, maka hal tersebut tentunya menjadikan introspeksi diri, untuk langkah selanjutnya agar diri ini lebih baik lagi dalam bertindak.

Segala sesuatu akan menjadi positif bila kita menyikapi dengan ketulusan hati. Pikirkan dan lakukan yang menjadikan diri ini lebih baik. Suatu kesalahan itu ya wajar saja karena kita adalah manusia yang tercipta sebagai mahluk yang lemah. Tentunya membutuhkan yang lain untuk menopang kehidupan yang dijalani.

Banyaknya kekurangan yang kita miliki semestinya harus menjadikan diri untuk terus belajar. Tak satu pun manusia yang tidak pernah berbuat salah. Semua kesalahan mesti menjadi motivasi diri agar terus berusaha dan bangkit menjadi lebih baik. Teruslah melangkah menjadi fokus untuk menggapai rida Allah. Jangan teperdaya dengan prasangka. Bukankah Allah Swt sudah menyampaikan dalam Firman-Nya agar kita tidak boleh berprasangka?
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ

“‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.’‘(QS. Al Hujarat (49 ) ayat 12 )

Begitu juga Rasulullah saw mengingatkan dalam hadis Abu Hurairah :
إياكم والظنَّ فإنَّ الظن أكذَبُ الحديثِ

‘Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan.”

Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Tak perlu lelah dengan urusan dunia, lelah dan khawatirlah dengan urusan akhirat. Akhiratlah tempat tinggal kita yang abadi.

Ya Rabb jangan Engkau sibukkan aku dengan urusan dunia. Pantaskanlah aku untuk memperoleh rida-Mu ya Rabbana…

Sufyan ats-Tauri rahimahullaah berkata:
“Hendaklah sahabat dekatmu adalah orang yang bisa membuatmu zuhud terhadap dunia dan menanamkan kerinduanmu pada akhirat (surga). Jangan engkau  bersahabat dekat dengan para pecinta dunia yang terlalu banyak membincangkan urusan dunia. Sebab hal demikian bisa merusak agamamu dan hatimu. Perbanyaklah engkau mengingat mati. Perbanyaklah beristigfar atas dosa-dosamu yang telah lalu. Mohonlah kepada Allah keselamatan (dirimu dan agamamu) dalam menjalani sisa usiamu.” (Al-Asbahani, Hilyah al-Awliya’, 7/82)

Meski aku bukanlah wanita yang tanpa salah, namun diri ini hanya ingin menjadi yang terbaik. Aku abaikan segala prasangka yang bisa membuat sesak di hati serta merusak jalannya kehidupan. Diri ini hanya ingin bisa bermanfaat untuk yang lain.

Sobat…
Bantu aku untuk tidak salah langkah. Jiwaku tak ingin tergoda dengan buruknya sangka. Meski diri ini jauh dari sempurna. Aku hanya mau hidupku penuh manfaat. Seluruh lukaku, aku hanya berharap akan menjadi keridaan yang Engkau limpahkan.

Yuk jauhkan prasangka, raih keberkahan hidup demi Jannah yang kudamba.


Photo : Pinterest
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

3 thoughts on “Tak Perlu Risau dengan Prasangka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *