Surga di Telapak Kaki Ibu

Surga di Telapak Kaki Ibu

“Mungkin ini rasanya akan mati.” sedikit pemikiran itu melintas di benak Zahra. Zahra sudah tak peduli ia hidup atau mati. Ia hanya ingin agar semuanya cepat selesai. Ia hanya ingin agar buah hatinya cepat beralih ke alam dunia dari alam rahim.”


Oleh. Arina Sera Atkia
(Kontributor NarasiPost.Com
)

NarasiPost.Com-Wahai Ibu, bagaimanakah rasanya memiliki surga di telapak kakimu? Wahai Ibu, bagaimanakah rasanya menjadi sosok yang Rasulullah sebut 3 kali berturut-turut dibanding ayah? Bagaimana rasanya disebut-sebut dalam Al-Qur’an? Bagaimana rasanya Allah muliakan dengan perintah agar jangan berkata “ah” padamu? Wahai Ibu, bagaimanakah rasanya? Apakah seberat memikul gunung atau seringan meniup bulu berterbangan?”

Zahra memeluk perutnya. Mulas menyapa di ujung sepertiga malam. Ia tahu benar yang dirasakannya bukan mulas ingin buang air besar, melainkan kontraksi awal melahirkan. Mencoba kembali menutup mata, namun mulas terus membuatnya terjaga. Tidak sering, namun cukup untuk merenggut kantuk dari matanya.

Waktu adalah tapal kuda yang ditunggangi manusia. Melesat cepat laksana cahaya. Saking cepatnya si penunggang kuda tak sadar sudah sejauh apa ia berlari, apa yang telah terlewati, serta seberapa sisa detik yang masih ia miliki. Begitu pun pada Zahra. Sembilan bulan telah ia telan dan HPL kini telah datang ke hadapan matanya. Sudah puaslah Zahra merasakan mual dan pusing di tiga bulan pertama. Puas juga ia merasakan perut yang kian membesar di trimester ke-2. Puas juga ia merasakan sakit pinggang dan perut yang kian berat di trimester ke-3. Tampaknya di pertengahan Agustus ini hari untuk bertempur bagi Zahra telah tiba. Inilah hari untuk bertaruh nyawa.

Ujung malam telah usai. Fajar berganti siang dan siang berganti petang. Mulas masih merengkuh teguh datang sebentar-sebentar. Kini waktu bak kura-kura. Begitu lambat menyambut kelahiran sang bayi. Sabar Zahra jadikan pegangan sambil terus bermunajat pada Yang Maha Memudahkan hajat.

Senja telah pergi. Gelap kini kembali menyapa. Jarum detik tak lelah berdetak memaksa jarum lainnya bergerak. Sampai tiba di pertengahan malam. Gemercik air langit memenuhi atap Ciamis. Mulas kian sering menyapa perut Zahra. Seperti dililit tali yang kian ditarik ujungnya, kian kuat, kian sakit, dan kian tak karuan harus berbuat apa. Zahra bersama suaminya segera memecah hujan. Menaiki roda empat menuju tempat ibu bidan.

“Sudah pembukaan 2.” ucap ibu bidan. “Insyaallah, Subuh nanti lengkap pembukaannya.” sambung ibu bidan.

Zahra berbaring menyamping. Sakit yang ia rasakan memang tak bisa digambarkan oleh kata. Hanya ibu yang pernah melahirkan yang tahu benar bagaimana rasanya. Kurang lebih seperti ditusuk belati di bagian bawah perut atau dililit rantai besi di bagian tulang belakang. Makin lama makin kuat, bayi kecil mendorong ingin segera bertemu ibunya.

Zahra genggam erat-erat jemari suaminya. Sang suami terus menguatkan dengan kata-kata motivasi dan ajakan agar berzikir. Dengan begitu rasa sakit berkurang sedikit. Zikir tak pernah mangkir dari bibir Zahra. Allahlah sebagai tempat berpegang teguh. Zahra bertawakal sambil terus memohon kekuatan. Maha Baik Allah yang tidak membebani makhluk-Nya di luar kesanggupan. Allah telah menjadikan Zahra dan wanita mana pun kuat dan sanggup untuk melahirkan insan yang baru.

Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB saat pembukaan Zahra telah lengkap. Ibu bidan bersiap menyambut bayi kecil sambil terus menguatkan Zahra untuk mengejan. Rasanya tak lagi sakit laksana mulas ingin buang air besar yang sudah tak tahan. Satu, dua, tiga kali Zahra mengejan sambil terus mengatur napas. Peluh penuhi tubuh Zahra dan doa terus ia panjatkan. Bayi kecil baru terlihat rambutnya. Empat, lima, enam kali dan seterusnya sampai 45 menit waktu berlalu bayi kecil masih belum tampak wajahnya.

“Mungkin ini rasanya akan mati.” sedikit pemikiran itu melintas di benak Zahra. Zahra sudah tak peduli ia hidup atau mati. Ia hanya ingin agar semuanya cepat selesai. Ia hanya ingin agar buah hatinya cepat beralih ke alam dunia dari alam rahim. Sabar, Zahra kuat-kuat memegang sabar di hatinya.
Rasanya sudah terlalu lama Zahra mengejan. Ibu bidan mulai mengambil gunting, memotong jalan lahir agar bayi cepat keluar. Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, Zahra mendorong bayi kecil keluar.

“Alhamdulillah.” ucap semua orang, lalu disahut tangisan sang bayi. Sigap, Bu bidan membersihkan sisa darah dari tubuh sang bayi lalu membedongnya agar tak dimakan dingin malam.

Tak beraturan rasanya. Namun, Zahra telah merasa lega. Ia dan bayinya selamat. Setelah sang bayi dan ari-ari keluar, Bu bidan mengambil jarum dan benang. Zahra mengerang, rasanya lebih sakit saat ujung jarum menusuk dan benang mengikat jalan lahirnya. Satu, dua, hingga15 jahitan. Hanya sebentar, sekarang tinggal menyisakan ngilu yang tak karuan. Bayi tertidur, Zahra pun tertidur. Sebab letih dan lesu menggempur tubuhnya. Menyisakan kantuk yang menusuk matanya.

Matahari mulai merangkak di sisi timur bumi. Kala itu Ibu Aning, ibu dari Zahra pun datang mengunjungi putrinya. Ia segera membelai anak dan cucunya sembari berurai air mata bahagia. Hamdallah terus mengalir dari buah bibirnya. Zahra turut menangis lantas meminta maaf pada ibundanya.
Cerita belum lagi selesai. Saat luka belum lagi sembuh dan tubuh masih berpeluh lelah, Zahra harus mengurus bayi kecil yang butuh disusui 2 sampai 3 jam sekali. Malam tak lagi jadi tempat untuk berselimut dan siang tak lagi jadi tempat tuk bersantai. Hidup Zahra telah berubah. Tidur bukan lagi miliknya. Kantung mata hitam, rambut acak-acakan, dan penampilan yang tak karuan menjadi miliknya seutuhnya. Namun, Zahra masih bersyukur ada suami dan ibunya yang membantu ia merawat bayi kecil.

Di sela-sela itu semua, saat Ibu Aning menggendong cucunya, Zahra terenyuh. “Wahai Ibuku, begini kah rasanya untuk memiliki surga di kaki kita? Beginikah rasanya engkau dulu merawatku? Mengorbankan tidur untuk menyusuiku? Tak mengurus badan sendiri untuk mengurusku? Beginikah engkau dulu Ibu? Dan setelah semua lelah yang kau perbuat, aku begitu congkak, selama bertahun-tahun hidup sebagai anakmu. Menentang perintahmu, melawan nada suaramu, membuatmu menangis dengan kenakalanku. Sudah parah sakit yang kau rasakan atas melahirkanku, aku tambah dengan keangkuhanku. Duhai Ibu, maafkan aku. Maafkan aku Ibu, maafkan aku.” begitu ucap Zahra dalam hatinya. Ia tak berani mengungkapkan semua itu pada Ibu Aning. Ia malu untuk mengutarakannya.

Cerita masih belum lagi usai. Zahra harus kembali berjuang, menyusui selama dua tahun. Ia harus menjadi madrasah pertama bagi bayi kecil. Mengajarkan tauhid dan mendidik anaknya agar menjadi manusia yang bertakwa. Merawat anaknya kala sehat dan sakit, serta kala rewel dan tenang. Menjadi ibu yang kuat dan sabar di setiap keadaan.
Begitulah perjuangan seorang ibu bagi anaknya. Semoga dengan cerita Zahra membuat kita semakin sayang dan semakin berbakti kepada ibu, ibu, ibu, dan ayah kita.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (Q.S. Luqman Ayat 14)[]


Photo : Pinterest
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *