Being Childfree, Will You be Happy?

Being Childfree, Will You be Happy?

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahami?” (QS. Al-An’am: 32)


Oleh. Rizki Sahana
(Kontributor NarasiPost.Com dan Pegiat Media)

NarasiPost.Com-Bagi sebagian orang, tidak punya anak itu menyenangkan, bahkan anugerah yang patut dikomitmenkan dengan pasangan sejak awal menikah. Lho? Iya, sebab menurut mereka, childfree aka berakad untuk tak memiliki anak akan membawa kepada hidup yang lebih sehat, bebas dari beban pengasuhan dan pendidikan, dan juga lepas dari beragam stres berkepanjangan. Suami-istri akan memiliki banyak waktu bersama, menekuni pekerjaan maupun hobi dengan all out tanpa gangguan, dan juga bisa travelling keliling dunia dengan bahagia.

Ada pula yang menganut childfree karena trauma. Khawatir jika anak yang dilahirkan kelak mendapat perlakuan buruk dari lingkungan sebagaimana pengalaman yang dialami. Mereka galau dengan kehidupan anak di masa yang akan datang, apakah anak-anak akan hidup sejahtera dan sentosa atau malah sebaliknya. Walhasil, mereka tak mau ambil risiko punya anak. Apa lagi setelah melihat kecenderungan kehidupan hari ini yang kian berat dan penuh dengan kebejatan.

Sebagian yang lain punya alasan yang kelihatannya keren. Katanya, childfree bisa menekan populasi dunia yang terus melonjak. Mereka bilang, populasi yang direm pada akhirnya akan berkontribusi pada upaya meminimalisasi dampak lingkungan maupun sosial yang hari ini kian tak terkendali. Kita lihat bagaimana pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan, perumahan terus bertambah tanpa memedulikan dampak terhadap alam, dan meningkatnya kriminalitas secara signifikan akibat manusia terlibat konflik maupun berebut sumber daya.

Akhirnya, childfree makin tampak sebagai solusi yang realistis dan masuk akal. Ditambah, childfree disebut-sebut sebagai salah satu upaya paling mudah lagi murah untuk melindungi bumi. Ini juga bisa dilakukan semua orang tanpa prosedural khusus yang berbelit.

So, apa iya menjadi childfree bisa meraih bahagia? Apa iya dengan banyaknya penganut childfree membuat bumi bersukacita?

Kalau kebahagiaan itu diukur dengan banyaknya materi, berlimpahnya harta, kemudahan dalam hidup, santai, tak pakai ribet menjalani berbagai aktivitas yang diinginkan, dan merdeka dari berbagai keruwetan, maka childfree mungkin bisa jadi pilihan untuk merealisasikan kebahagiaan model ini. Namun, jika kebahagiaan distandarkan kepada ridanya Allah melalui pemenuhan tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan untuk melahirkan keturunan, maka childfree jelas menyelisihi fitrah dan akan menyebabkan kegelisahan dalam jiwa.

Coba, berapa banyak orang dengan angka kekayaan fantastis yang benar-benar bahagia? Faktanya, memiliki kekayaan yang menggunung dan popularitas yang melambung tak pernah menjamin seseorang bisa meraih bahagia. Justru sebaliknya, tak terhitung yang kemudian berujung tragis seperti bunuh diri atau overdosis. Sementara ada yang cuma hidup pas-pasan, tetapi mampu meraih ketenteraman hidup sebab memiliki keikhlasan dan ketaatan kepada Rabb nya.

Bahagia yang bersifat materi (fisik) itu sesungguhnya semu belaka, fatamorgana dan menipu. Sementara bahagia hakiki adalah bahagia yang dibangun di atas keimanan.

Allah berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. al-Hadîd: 20)

وَ مَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ؕ وَلَـلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ ؕ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahami?” (QS. Al-An’am: 32)

Maka, memilih childfree sesungguhnya akan menjauhkan pelakunya dari bahagia. Meski dirinya merasa terbebas dari berbagai tanggung jawab atas anak, tetapi jiwanya tak akan pernah tenang sebab pilihannya menyelisihi fitrah dan menyimpang dari tujuan penciptaan manusia yang Allah tetapkan. Kebahagiaan yang diklaimnya hanyalah palsu, sebab kodrat yang disematkan Allah dalam dirinya tak ter- cover.

Lagi pula, lelahnya mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak seharusnya justru menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Sebab, aktivitas itu diposisikan mulia dan strategis dalam melahirkan penerus peradaban cemerlang. Bahkan Allah menjanjikan pahala yang besar dan keridaan-Nya bagi ayah dan ibu yang ikhlas dan sabar menjalankan amanahnya. Masyaallah, kebahagiaan inilah yang seharusnya dikejar oleh setiap pasangan menikah.

Sementara itu, trauma pada lingkungan yang tak kondusif bagi tumbuh kembang anak, kehidupan yang semakin sulit lagi sempit, isu ledakan populasi, dan dampak lingkungan dan sosial hanya dijadikan alasan sebagian kalangan penganut childfree. Semua itu muncul dari tatanan kehidupan yang sekuler dan kapitalistik. Tatanan ini bersifat toxic dan merusak kehidupan manusia.

Jika saja negara menjadi garda terdepan dalam mengemban amanah, mengelola segala urusan umat yang vital seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, dan kebutuhan BBM, mengatur penyelenggaraan tayangan media, mengatur kehidupan sosial dengan baik, menyediakan lapangan kerja yang mencukupi, dan seterusnya, maka kita tidak akan pernah galau memikirkan nasib anak-anak kelak. Populasi manusia pun sesungguhnya telah Allah seimbangkan jumlahnya dengan sumber daya yang ada melalui fenomena kematian dan bencana alam, misalnya. Pun terkait masalah konflik antarmanusia, problem lingkungan dan sosial, jika diterapkan aturan yang benar lagi sahih, maka masalah ini akan mudah teratasi. Pembukaan lahan akan diatur dengan baik, pembangunan perumahan yang memperhatikan sanitasi dan saluran air yang memadai sehingga terhindar dari banjir, muamalah maupun pergaulan di antara manusia diatur sedemikian rupa sehingga melahirkan kemaslahatan dan keberkahan. Bencana demi bencana yang sangat telak menyengsarakan umat dapat dihindarkan.

Nah, satu-satunya aturan yang mampu melahirkan kemaslahatan, keberkahan, dan keselamatan di dunia maupun di akhirat, sebagaimana harapan dan cita-cita kita semua, hanyalah Islam. Sebab, Islam diturunkan oleh Allah Yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui kebaikan dan kebahagiaan hakiki bagi manusia.

Aturan Islam ini pernah tegak membentang dari daratan Eropa, Afrika, hingga Asia selama belasan abad. Sebuah peradaban cemerlang yang belum pernah ada yang menyamainya hingga sekarang. Ini membuktikan bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya karena memang berasal dari Zat Yang Maha Tinggi.

So, memilih childfree tak akan pernah mengantarkan kepada kebahagiaan dan solusi hakiki. Menaati dan menerapkan aturan Allah sajalah yang akan membawa kita kepada bahagia yang sesungguhnya, baik sebagai individu, sebagai bagian dari keluarga, maupun sebagai bagian dari komunitas manusia di seluruh dunia.[]


Photo: Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *