“Shofyah mengambil ponselnya, berselancar di sosial media, hampir semua memberitakan hal yang sama. Tangisnya tak terbendung, tangannya semakin bergetar. Diliriknya jam, sekarang pukul 03.00, Shofyah berlari mengambil wudu lalu membentangkan sajadah dan memulai salat malam. Di sepertiga malam ini dipanjatkannya doa dengan tangis dan penuh harap, meminta pada-Nya semoga semua ini benar-benar nyata.”


Oleh. Novia Darwati
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Wakil perdana menteri itu mulai gusar. Ia yang saat ini sedang berada di lantai tiga memandang ke arah luar pagar gedung. Dilihatnya rakyatnya di luar, salah satu dari mereka membawa spanduk besar bertuliskan, “Apa lagi yang kautunggu? Kami semua telah setuju bahwa Khilafah pemersatu”, yang lainnya juga ada yang membawa spanduk dengan tulisan berbeda “Duduk dan dengarkanlah firman-Nya, kau akan dapat hidayah pengetahuan tentang indahnya Islam kaffah”.

Seseorang mendekati wakil perdana menteri tersebut. “Apa yang ingin kau sampaikan?” tanya wakil perdana menteri tanpa mengalihkan pandangannya dari spanduk-spanduk tersebut.

“Perdana Menteri sedang menerima tamu Syekh Syamsuddin untuk membahas tentang Khilafah.” tangan wakil perdana menteri pun tergenggam karena geram. Segera ia bergegas menuju istana negara.

Suara sepatu wakil perdana menteri menggema ke seluruh penjuru ruangan yang ia lewati. Kakinya berhenti tepat di depan ruang perdana menteri yang dijaga oleh dua orang bodyguard. “Buka pintunya, katakan pada Perdana Menteri, bahwa aku ada di sini dan mau menemuinya.”

“Mohon maaf, Perdana Menteri sedang melakukan diskusi dengan tamunya dan berpesan tidak berkenan untuk diganggu siapa pun.”
Wakil perdana menteri menggeram, siap melontarkan sumpah serapahnya. Namun, sebelum sempat terlontar satu kata pun, seorang laki-laki berjenggot dengan gamis putih melekat di tubuhnya datang menghampirinya.

“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, salam untukmu dan semoga Allah Swt. memberikan rahmat dan berkah-Nya kepadamu, wahai Wakil Perdana Menteri,” ucapnya.

“Saya adik dari Syekh Syamsuddin. Jika Anda ingin berdiskusi tentang Khilafah juga, tentu kami akan dengan senang hati melakukannya.”

Wajah wakil perdana menteri semakin merengut marah, “Aku tak sudi membicarakan Khilafah dengan kalian. Aku ke sini untuk menemui Perdana Menteri, bukan berbincang dengan kadal gurun!” Wakil perdana menteri pun pergi meninggalkannya.


Wakil perdana menteri masuk ke ruangan perdana menteri dengan raut muka marah, langkah-langkah lebar dan tergesa, “Apa yang Anda inginkan? Anda ingin negara kita diserang Amerika? Dibombardir Korea Utara? Diboikot Inggris? Apa yang Anda inginkan? Khilafah hanya akan membuat Anda kehilangan jabatan, ditekan banyak negara lain, dan masih banyak hal buruk lainnya.”

Perdana menteri mengerutkan keningnya, “Jadi, kau masuk ke sini tanpa permisi hanya untuk mengomel tidak jelas?”

“Untuk kali ini saya tidak lagi berbasa-basi. Hentikan tindakan Anda. Jangan jadikan negara kita menjadi Khilafah karena itu hanya akan menyulut amarah negara lain dan membuat negara kita dalam bahaya! Jika Anda mencintai negeri ini, jika Anda mencintai rakyat ini, Anda tidak akan membiarkan mereka dalam bahaya. Kalau sampai negeri kita diserang, tak akan mampu tentara kita melawannya!” wakil perdana menteri pun berbalik arah dan menuju ke pintu dengan langkah lebar.

“Tunggu!” seru perdana menteri, “Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjawab semua keluh kesahmu. Perlu kau ketahui, tentara kita tidak selemah itu. Selama ini tentara kita telah berlatih dengan keras, bahkan negara lain pun terpukau dengan gaya latihan mereka. Apa kau lupa bagaimana Australia pernah memuji kehebatan tentara kita saat melakukan latihan bersama dua tahun yang lalu? Yang menjadi penyebab lemahnya tentara kita sebenarnya adalah aku sendiri. Kebijakan-kebijakanku yang membiarkan mereka melakukan latihan bersama dengan negara lain, kebijakanku yang mengiyakan begitu saja saat menteri pertahanan membeli alutsista bekas seadanya, dan masih banyak lagi. Dan perlu kau tau, semua yang kau sebutkan tadi, Amerika menyerang, Korea Utara membombardir, Inggris memboikot, dan lain-lainnya, tenang saja, aku sudah memikirkannya masak-masak. Jika Khilafah tegak, ada Allah Swt. yang rida, jika Allah Swt. rida, maka Allah akan lebih bermurah hati untuk menolong hamba-Nya.” serunya dengan wajah serius.

“Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu, wahai Wakilku. Aku akan terus memantau orang-orangku yang terindikasi menjadi tangan panjang dan mata-mata negara-negara kapitalis. Jadi, berhati-hatilah!” wajah wakil perdana menteri merah padam, “Anda benar-benar telah melampaui batas. Tak ada satu rakyat pun yang menginginkan peperangan.”

Perdana menteri mengernyitkan kening, “Memang benar. Siapa juga yang bilang kita berharap ada perang? Yang aku dan rakyatku harapkan adalah tegaknya Khilafah. Kutekankan lagi, yang telah tercerahkan bahwa ternyata syariat Allah Swt. memang harus diterapkan di bumi ini bukanlah aku seorang, aku justru tergerak untuk mempelajari dan mendiskusikan hal ini karena permintaan dari rakyatku. Khilafah hanya akan bisa sukses tegak berdiri jika mayoritas penduduk di suatu negara menginginkannya, baik mereka muslim maupun nonmuslim. Aku tidak akan berusaha memaksakan diriku untuk mendeklarasikan tegaknya Khilafah, jika mayoritas rakyatku belum menginginkannya. Tapi tampaknya pemandangan di luar sudah memberikan jawaban untukmu tentang perkara berada di pihak mana rakyat saat ini.” perdana menteri pun tersenyum.

**

Berita tentang kondisi negara tetangga terus-menerus berseliweran di televisi. Mereka bilang hampir semua penduduk di sana menginginkan Khilafah tegak berdiri di tanah mereka. Shofyah terus mengikuti beritanya melalui media sosial. Televisi rumahnya yang selama ini jarang dihidupkan pun sudah tiga hari ini terus menyala menyiarkannya. Sepanjang berita disiarkan tampak panji Rasulullah saw. yakni al-liwa’ dan ar-rayah yang dibawa masyarakat di sana terus berkibar di layar kaca.
Detik demi detik hati Shofyah selalu dag dig dug, berdegup bahkan lebih kencang dari saat kedatangan seorang lelaki yang menyatakan diri hendak melamarnya dulu. Ia begitu cemas, gelisah, sekaligus penuh harap. Bagaimana tidak, Khilafah yang telah diperjuangkan puluhan tahun kini seolah berada di depan mata. Namun, di sisi lain ia juga cemas, khawatir terjadi lagi kejadian yang telah lalu saat dikabarkan bahwa Khilafah akan segera tegak di bumi Suriah, ternyata Khilafah tak jadi tegak disebabkan isu ISIS tiba-tiba menguasai negeri mereka.

Lelah memantau perkembangan negara sebelah, Shofyah pun tertidur lelap masih dengan ponsel yang tergenggam di tangan. Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ponselnya pun berdering nyaring hingga ia hampir terjungkal karena terkejut. Ternyata salah seorang temannya menelepon, “Halo, ada apa, Mbak?”

“Yahhh, kok diangkat sih… Aku kan cuma misscall. Cepat buka WA, ada pesan penting.”

Tut tut tut… panggilan telepon telah ditutup. Dengan mata yang masih sembap, ia mencoba menfokuskan pandangannya pada ponsel dan membuka pesan WA. “Mohon ibu-ibu nanti jam 05.30 WIB berkumpul di musala At-Taqwa, ada pengumuman penting. Terima kasih.” setelah melihat pesan itu, Shofyah pun langsung berjingkrak menuju ruang keluarga. Ia mencari-cari remote televisi dan setelah menemukannya di atas sofa, langsung dihidupkannya televisi di depannya.

“Breaking News! Khilafah Telah Tegak” begitu tulisan yang terpampang di salah satu channel TV. Hati Shofyah berdegup kencang, tangannya gemetar, dan air matanya sedikit lagi tumpah. Ia masih berusaha menahan diri untuk tidak benar-benar percaya, karena ia khawatir akan kecewa. Ia mencoba berpindah ke channel yang lain, ternyata semua sama, breaking news tegaknya khilafah.

Shofyah mengambil ponselnya, berselancar di sosial media, hampir semua memberitakan hal yang sama. Tangisnya tak terbendung, tangannya semakin bergetar. Diliriknya jam, sekarang pukul 03.00, Shofyah berlari mengambil wudu lalu membentangkan sajadah dan memulai salat malam. Di sepertiga malam ini dipanjatkannya doa dengan tangis dan penuh harap, meminta pada-Nya semoga semua ini benar-benar nyata.
Tak terasa matahari mulai menyingsing, Shofyah bergegas menuju musala At-Taqwa sebelum jam 05.30.

Sesampainya di sana, segera ia parkirkan motor bututnya di antara motor-motor yang lain. Saat ia masuk, semua orang yang telah datang fokus dengan obrolannya sendiri-sendiri, sempat terdengar kalimat mereka, “Ya Allah, Alhamdulillah, ternyata ini hari yang kita nanti ya, Ukh..” seru salah satu dari mereka sambil berlinang air mata.

Tak berapa lama kemudian forum pun dikondisikan dan salah seorang Ibu-ibu berbicara di depan, “Assalamu’alaikum wr wb. Ibu-Ibu, tanpa berbasa-basi lagi, saya mau menyampaikan inti dari apa yang harus saya sampaikan. Tentu Ibu-Ibu sudah mendengar berita tentang tegaknya Khilafah dan akan diterapkannya syariat Islam di negara tetangga mulai hari ini. Kita pernah de javu mengalami hal yang mirip dengan kondisi ini meski tidak seramai sekarang, yakni saat penduduk Suriah sekitar tahun 2011-2012 meminta ditumbangkannya demokrasi dan didirikannya kekhilafahan dan juga saat Brunai Darussalam mengeklaim negaranya akan menerapkan hukum-hukum syariat Islam. Kita semua berharap Khilafah benar-benar tegak, namun nyatanya tidak demikian. Kondisi, situasi, dan fakta pada masa itu tidak menunjukkan terpenuhinya syarat-syarat tegaknya Khilafah.” seru beliau dengan tenang.

“Namun Ibu-Ibu, kondisi pada hari ini berbeda dengan yang telah lalu. Berita yang Ibu-Ibu dengar beberapa hari ini, terutama dini hari tadi tentang tegaknya Khilafah sudah kami konfirmasi pada teman-teman yang berada di negara sebelah, dan memang begitulah adanya. Khilafah telah tegak dan syariat Allah akan segera diterapkan secara kaffah.” riuh rendah suara ibu-ibu yang hadir di forum itu pun langsung pecah. Terdengar pula tangis haru di mana-mana. Shofyah masih terkesiap dengan berita yang didengar. Tak terasa sedetik berikutnya ia meneteskan air mata. Namun, sayangnya dadanya bukannya semakin tenang, malah tambah berdegup kencang, ia masih dalam keterkejutan yang sangat, tangannya gemetar, napasnya naik turun dan akhirnya.. bruukk!

“Eh, Ukhti… Ukhti, apa kau tidak apa-apa?” Shofyah pun pingsan.

“Mbak.. Mbak..” suara lembut itu terdengar jelas, Shofyah membuka matanya perlahan. “Dik Dita?” Ia melihat sekelilingnya, bukan musala At-Taqwa, tapi kamar 2×2 miliknya, “Siapa yang mengantarkan aku pulang, Dik Dit?”

“Ha? Mengantar pulang? Dari tadi Mbak sudah di sini tidak ke mana-mana. Ayo Mbak segera bangun, salat Isya’ dulu sebelum tidur. Tumben tadi jam tujuh sudah ketiduran?” Shofyah terkejut mendengar penuturan adiknya.

“Bukannya mbak tadi ke musala At-Taqwa? Bukannya sekarang sudah pagi?”

“Mbak Shofy ngelantur,” jawab adiknya dengan senyuman. Shofyah masih mencoba bertanya, “Bukannya barusan Khilafah sudah tegak di negara sebelah? Pak Perdana Menterinya sudah setuju.”

Adikku terkejut mendengar penuturanku lalu tersenyum, “Mbak ini gimana sih, kan Khilafah tegak di negara kita, kok malah di negara sebelah? Sebelah mana? Negara Konoha?” ia terkikik.

“Hah? Serius?”

“Serius, dong… tapi bukan sekarang hehehe…. Perjuangan belum berakhir, Mbak. Tuh coba liat ke jendela luar.”

Aku beranjak ke jendela luar dan melihat pemandangan yang miris, sekian banyak laki-laki sedang berjudi dan menenggak miras. Sudah menjadi adat kebiasaan warga desa kami jika ada yang menikah dan memiliki anggota keluarga yang biasa berjudi atau minum miras, maka tengah malam setelah acara hajatan resepsi pernikahan berakhir, mereka akan berpesta judi dan miras. Melihat hal itu, aku menjadi lemas, “Ya Allah, masih jauhkah panggang dari api? Mungkinkah ini salahku yang belum bermaksimal diri?” tak terasa air mata sudah membasahi pipi.[]


Photo: Pinterest
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayagkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *