Premarital Sex Membudaya, Betapa Liberalnya Indonesia!

Premarital Sex Membudaya, Betapa Liberalnya Indonesia!

“Bangsa yang ‘katanya’ paling pancasila dan senantiasa menjunjung tinggi norma-norma budaya dan agamanya telah gagal melindungi generasinya dari ancaman liberalisasi budaya dan segala propaganda paham-paham kebebasan Barat. Kepribadian bangsa keok di hadapan ideologi Barat. Lihatlah, betapa liberalnya Indonesia hari ini!”


Oleh. Ana Nazahah
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.com-Bestie! Bisa enggak kamu bayangkan jika saat berkunjung ke rumah temanmu, tiba-tiba kamu haus, terus temanmu meminta kamu ambil minuman sendiri di kulkasnya. Namun, betapa kagetnya kamu saat tiba-tiba menemukan tangan manusia di lemari pendinginnya. Ya Allah, serem banget bukan?

Penulis membayangkan hal itu loh, saat pertama kali mendengar berita tentang 7 janin aborsi yang disimpan di wadah makanan di Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagaimana dikutip Kompas.Com Kamis (9/6/2022). Muncul rasa heran, sekaligus ngeri dengan kelakuan generasi sekarang. Bayangkan saja! Itu janin manusia loh, anaknya sendiri, dibunuh pada usia kandungan masih 5 bulan, lalu disimpan dalam wadah makanan. Siapa yang akan beranggapan ini normal? Sungguhlah, budaya liberal ini, lahirkan generasi asusila, hilang nuraninya pula.

Budaya Premarital Sex

Bestie, Kamu pastinya tidak asing lagi dengan istilah premarital sex, atau lebih dikenal dengan istilah sex before marriage. Kalau bahasa kita sih, ini zina! Perilaku tercela ini sebenarnya adalah budaya Barat yang pastinya bertentangan dengan nilai serta norma susila bangsa kita. Selain itu, seks di luar nikah alias zina ini merupakan dosa yang teramat besar dalam Islam. Jadi, sudah sepantasnya perilaku hina dina ini kita jauhkan dari kehidupan.

Namun sayangnya, kasus pergaulan bebas di negara kita sudah sangat mengkhawatirkan. Menurut survei yang dilakukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010, di kota-kota besar di Indonesia, di mana sekitar 51% remaja di wilayah Jakarta sudah kehilangan keperawanan, 16% menyatakan sudah melakukan hubungan seks pranikah tersebut sekitar usia 13-15 tahun. Kemudian data yang ditemukan oleh Komisis Nasional Perlindungan Anak (KPAI) juga tak kalah mencengangkan, di mana 62,7% remaja usia SMP sudah tidak perawan, 21,2% remaja SMK pernah aborsi, 97% remaja pernah menonton film porno, dan 97,3% usia SMP pernah ciuman, hingga oral seks. (http//ejournal.unsrat.ac.id)

Nauzubillahi mindzalik, semoga Allah jauhkan kita dari perilaku tercela ini! Sungguh, kenyataan ini bikin kita syok dan frustasi. Kita mengkhawatirkan masa depan bangsa ini, jika generasi kita ternyata hidup dalam setumpuk masalah, imbas dari seks bebas. Ancaman terpapar penyakit menular HIV/AIDS, aborsi yang berujung infeksi. Selain itu, perilaku menyimpang ini juga memengaruhi kesehatan mental dan psikis si pelaku loh! Karenanya, kita melihat maraknya dekadensi moral yang diakibatkan oleh pergaulan bebas, kian tak terkendali.

Inilah wajah bangsa kita hari ini. Bangsa yang ‘katanya’ paling pancasila dan senantiasa menjunjung tinggi norma-norma budaya dan agamanya telah gagal melindungi generasinya dari ancaman liberalisasi budaya dan segala propaganda paham-paham kebebasan Barat. Kepribadian bangsa keok di hadapan ideologi Barat yang menghegemoni. Maka lihatlah, betapa liberalnya Indonesia hari ini!

Liberalisme Biangnya!

Liberalnya pergaulan generasi bangsa hari ini, tidak terjadi secara tiba-tiba, Bestie! Semua berkat sumbangsih ide sekularisme yang bercokol dalam kehidupan. Segala kemerosotan dan tindakan yang melahirkan sikap dekadensi moral yang dialami oleh generasi kita, ide sekuler ini loh, pelopornya.

Jika kita telaah dengan saksama, segala kerusakan yang dialami generasi, baik itu seks bebas hingga kehamilan yang berujung aborsi, pun penyimpangan seksual LGBT hingga tertular HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya, semua tak lepas dari pengaruh ide liberalisme dari Barat yang mereka propagandakan. Barat sengaja meliberalisasikan pergaulan kita yang tadinya sarat dengan norma dan agama, menjadi liar dan berperilaku permisif (serba boleh), persis sebagaimana perilaku mereka.

Bagi Barat yang sekuler, agama itu bukanlah standar hidup mereka. Tidak pula menjadi ukuran benar dan salah dalam menentukan sikap serta pilihan-pilihan kesenangan yang hendak dicapai dalam kehidupan. Mereka yang mengadopsi pola sikap yang serba bebas itu mengatakan, “Ini tubuh gue! Mau buat dosa atau enggak, itu hak gue!” Karena itulah, terkadang perilaku remaja yang mencontoh Barat ini terkesan ‘liar’ karena lahir dari keputusan-keputusan yang berlandaskan kesenangan, mengikuti nafsu biadab, hilanglah akal!

Tak salah jika kita menyebutnya liar, Karena ideologi sekuler yang melahirkan segala sikap permisif tersebut, diciptakan oleh para pembenci hukum-hukum Tuhan. Mereka menafikan keberadaan agama sebagai aturan dan landasan dalam kehidupan. Jadi, jangan heran Bestie! Jika kita mendapati sekularisme sangat bertentangan dengan agama, terutama Islam. Karena Islam senantiasa mengedepankan iman dan takwa sebagai landasan perbuatan, sementara sekularisme menjadikan kesenangan duniawi (hawa nafsu) sebagai tujuan perbuatan, walaupun dengan menghalalkan hal-hal yang diharamkan dalam agama.

Pergaulan dalam Islam

Islam adalah agama kemanusiaan, sehingga senantiasa merealisasikan nilai kemanusiaan tersebut dalam segenap aturan demi terjaganya kehormatan dan kesucian manusia. Misalnya, Islam melarang khalwat yakni berdua-duaan dengan yang bukan mahram, agar terhindar dari zina, baik itu zina mata, hati, tangan hingga berujung hubungan seks di luar nikah. Selain itu, Islam juga melarang ikhtilat yakni campur baur dengan yang bukan mahram tanpa ada keperluan syar’i, berbicara dengan lawan jenis sesuai kebutuhan, serta menundukkan pandangan. Semua ini dilakukan untuk melindungi manusia dari perbuatan melawan fitrah, hingga berujung zina.

Aturan ini tentu saja bukan berarti Islam mengekang atau membatasi ruang gerak dan menghambat kreativitas dalam berkarya. Sekali lagi, bukan! Justru sebaliknya, Islam bermaksud untuk menjaga, sehingga laki-laki atau perempuan bisa berkarya dan berkreativitas tanpa kendala, menghindarkan generasi berbudaya asusila yang merusak akal dan jiwa. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan faahisah dan seburuk-buruk jalan.”

Remaja Islam masih bisa berinteraksi dengan lawan jenisnya. Dengan syarat perempuan mengenakan hijab saat ke luar rumah, berkomunikasi seperlunya saja, tidak berbicara dibuat-buat untuk menggoda. Semua wajib dilakukan dalam ranah kehidupan sosial saja, seperti dalam bermuamalah, pendidikan, dan sosial. Di mana aktivitas tersebut membutuhkan laki-laki dan perempuan untuk bekerja sama di dalamnya dan tentu saja demi kemaslahatan bangsa dan agama.

So, hubungan laki-laki dan perempuan di dalam Islam, sangatlah terjaga. Tidak ada istilahnya pacaran, premarital sex alias sex before marriage, lalu merried by accident. Pun tidak ada istilahnya TTM-an, singkatan dari teman tapi mesra, lalu berujung memberi ‘jatah’ pada mantan. Tidak akan pernah ada! Karenanya, tidak ada pula tragedi kehamilan yang tak diinginkan yang berujung aborsi, hingga berujung pembunuhan pada bayi-bayi dan kerusakan pada organ reproduksi karena aborsi ilegal.

Sungguh, segala masalah yang lahir dari pergaulan liberal ini, Islam solusi hakikinya. Mengubah tatanan masyarakat dengan menghadirkan solusi mabdai adalah satu-satunya pilihan. Tentu saja dengan menjadikan Islam sebagai landasan dalam aturan bernegara. Itulah solusi tuntas untuk menyolusi masalah yang dialami generasi hari ini.

Khatimah

Mungkin di antara kita masih ada yang berpikir, “Terlalu muluk jika Islam harus dijadikan aturan bernegara,” karenanya masih banyak yang beranggapan cita-cita ini terlalu utopia. Sebenarnya hal ini sederhana, jika kita mampu menangkap arah dan tujuan kalimat dilontarkan. Cukup memberikan perbandingan, “Jika ideologi rusak bin gagal sekularisme yang datang dari penjajah dan didesain untuk menjajah bisa dan mau diterima bangsa ini, maka bagaimana dengan ideologi langit, sumbernya dari Allah Tuhan mayoritas bangsa ini?” Islam turun membawa rahmat, menghapus penjajahan, lalu pantaskah ide Islam kaffah ditolak dengan alasan mengada-ada?

Ayo kita merefleksikan diri, sudah saatnya kaum muda berkontemplasi! Jika iman masih di kandung badan, sudah saatnya kita bertanya pada hati kecil kita. “Adakah solusi lain selain Islam untuk mengakhiri liberalisme pergaulan yang kian menggila ini?” Ayo tanyakan pada diri, sekaligus pada mereka yang menentang Islam tegak berdiri. Adakah? Wallahu ‘alam bishawab.[]


Photo : Google
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirm tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.