Nestapa Anak Rantau

Nestapa Anak Rantau

“Empat puluh hari tanpa bekal yang cukup, itu ibarat berbulan-bulan lamanya. Bahkan, pernah suatu pagi aku dan teman-teman hanya makan nasi putih tanpa sayur atau lauk apa pun. Air mataku rasanya mau tumpah, tetapi tetap kutahan. Bahkan, bukan sekali aku dan teman-teman sering kekurangan makanan. Kadang ketika hendak tidur, kami pun sering dalam keadaan lapar. Maklumlah, hidup di rantau tanpa keluarga dan saudara memang terasa menyedihkan untukku.”


Oleh. Tina El Haq
(Tim Kontributor Tetap Narasipost.Com)

NarasiPost.Com- Saat itu aku masih mengenyam pendidikan di salah satu kampus swasta di Kota Kendari. Ya, meski hanya sebagai mahasiswa ala-ala setingkat D1, aku tetaplah bersyukur. Maklum, kala itu orang tua tak mampu menyekolahkanku karena terbentur biaya. Kejamnya kapitalisme membuatku tak mampu mendapatkan pendidikan yang terbaik.

Saat itu, menjelang kelulusan. Maka, menjadi keharusan bagi setiap mahasiswa untuk mencari tempat magang, termasuk aku. Semula kuputuskan untuk magang di Kendari karena berhitung efisiensi. Tak disangka, seorang sahabat yang satu kampus denganku tiba-tiba menawarkan untuk magang bersamanya di Kota Makassar. Kebetulan, Makassar adalah kampung halaman sahabatku itu. Jadilah kuterima tawaran tersebut tanpa pikir panjang.

Namun, pergi ke Makassar dengan kondisi ekonomi yang sulit kala itu, membuatku bingung. Semula akan kubatalkan, tetapi rasa penasaran untuk menjejakkan kaki di Kota Angin Mamiri itu kian memuncak. Akhirnya kuputuskan untuk tetap pergi dengan bekal seadanya tanpa meminta pada orang tuaku. Satu hal yang sedikit membuatku tenang, sahabatku menjanjikan akan membantu biaya akomodasi ke Makassar. Dengan berbekal kepercayaan itu, aku bersama tiga orang lainnya, termasuk sahabatku, segera bertolak ke Makassar.

Satu hal yang membuatku tak pernah melupakan peristiwa itu adalah saat berada di laut. Ombak membuatku terombang-ambing karena kapal yang kutumpangi tidaklah terlalu besar. Ditambah lagi, saat itu adalah kali pertama aku menaiki kapal, bahkan kali pertama pula pergi ke Makassar. Entah karena aku ketakutan atau belum terbiasa naik kapal, tak sedetik pun mataku bisa terpejam malam itu. Sudah kupaksakan terpejam, namun tak juga bisa terlelap. Hanya sesekali kualihkan pandanganku ke lautan yang membentang sejauh mata memandang. Namun, tak ada yang terlihat, kecuali kegelapan.

Ombak yang menerjang saat itu lumayan kencang, hingga membuatku tak henti-hentinya beristigfar dan memohon perlindungan pada sang pemilik hidup, Allah Swt. “Andai kapal ini tenggelam, bagaimana nasibku?” begitu gumamku saat itu. Seketika terbayang ibu, ayah, kakak, dan adik-adikku di rumah. Padahal kulihat penumpang lain tetap terlelap, mungkin tengah bermimpi di tengah kencangnya ombak.

Ketakutanku akhirnya berakhir saat subuh menjelang. Aku dan sahabatku tiba di pelabuhan Bone, salah satu kabupaten di Makassar. Kemudian kulanjutkan perjalanan menuju Makassar yang memang masih cukup jauh. Setiba di Makassar, aku dan tiga teman lainnya segera menuju ke tempat tujuan magang kami. Namun ternyata … kami telat! Tempat itu sudah diisi oleh mahasiswa lain dari Makassar. Kami akhirnya mencari tempat alternatif lain untuk magang.

Seorang kakak yang kukenal dan merupakan mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI), akhirnya berbaik hati mencarikan kami tempat magang. Dan beralihlah tempat magangku ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) Makassar. Waktuku magang sebenarnya hanya satu bulan. Namun, karena satu dan lain hal menjadi molor sekitar empat puluh hari di Makassar.

Empat puluh hari tanpa bekal yang cukup, itu ibarat berbulan-bulan lamanya. Bahkan, pernah suatu pagi aku dan teman-teman hanya makan nasi putih tanpa sayur atau lauk apa pun. Air mataku rasanya mau tumpah, tetapi tetap kutahan. Bahkan, bukan sekali aku dan teman-teman sering kekurangan makanan. Kadang ketika hendak tidur, kami pun sering dalam keadaan lapar. Maklumlah, hidup di rantau tanpa keluarga dan saudara memang terasa menyedihkan untukku. Namun, semua harus kujalani dengan sabar hingga selesainya waktu magang.

Tiba juga saatnya aku pulang ke habitat asal, yakni Kendari. Sebelum pulang, kutelepon ibu untuk meminta uang biaya kepulanganku. Beberapa hari kemudian ibu memberi kabar bahwa uangnya telah ditransfer. Oh, ya, … aku meminjam rekening sahabat yang membawaku ke Makassar. Maklum, aku tidak punya rekening saat itu. Keesokan harinya seorang teman yang juga mahasiswa UMI, menawarkan diri pergi ke bank untuk menarik uang yang sudah ditransfer ibuku.

Astagfirullah, astagfirullah … berkali-kali kuucap istigfar saat temanku pulang dari bank. Dia menunjukkan buku rekening itu di depanku. Tertera dengan jelas dalam buku tabungan itu, uang yang dikirim ibuku sudah ada yang menariknya lebih dahulu. Entah siapa. Seketika tubuhku langsung lemas sembari bergumam, “Bagaimana aku akan pulang?” Kehebohan pun melanda kami sambil saling bertanya-tanya, siapa gerangan yang telah mengambil uangku? Sejenak muncul bermacam prasangka dalam benakku.

Akh … kembali kuucap istigfar ke sekian kali untuk menenangkan hati. Tak seharusnya aku berprasangka buruk kepada siapa pun, apatah lagi kepada sahabatku. Sebab, aku teringat firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain ….(QS. Al-Hujurat: 12)

Ya, sudahlah! Aku berusaha pasrah sembari terus bertanya-tanya, bagaimana mungkin uang itu bisa hilang padahal tidak ada yang merasa mengambilnya? Uang itu memang tidak banyak. Bagi orang yang memiliki banyak uang, jumlah tersebut tidaklah berarti apa pun. Tetapi bagiku, itu seperti harta karun yang sangat berharga saat itu. Sejatinya uang itu akan kupakai membeli tiket kami untuk bertiga. Maklum, dua temanku yang tersisa pun kehabisan uang untuk pulang. Sementara sahabatku yang asli Makassar telah lebih dahulu pulang ke Kendari dan meninggalkan kami. Karena iba, teman-teman yang kukenal di Makassar akhirnya berpatungan untuk membelikan kami tiket.

Aku mencoba berprasangka baik, kuanggap uang itu bukan rezekiku. Kuhibur diri dengan mengingat Allah Swt. Sebab, Allah Swt. sudah menjanjikan bahwa rezeki manusia tidak akan tertukar. Setiap makhluk pun sudah ditetapkan rezekinya masing-masing. Aku tidak akan memakan rezeki orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika itu bukan ditetapkan sebagai milikku, niscaya aku takkan pernah memilikinya.

Hal itu pun sudah Allah Swt. nyatakan dalam Al-Qur’an surah Fatir ayat 2, “Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Mahabijaksana.”

Demikianlah … akan selalu ada kisah yang menyertai perjalanan hidupku dan hidupmu. Entah kisah bahagia, sedih, suka, maupun duka. Namun, sebagai orang beriman, seperti apa pun kisah yang hadir sepanjang hidup kita, tetaplah menjadi hamba Allah yang bersyukur. Sebab, rezeki tak melulu berupa harta. Apa pun yang bisa mendatangkan kemanfaatan buat kita sejatinya juga rezeki.

Aku juga seharusnya tetap bersyukur. Meski uang pemberian orang tuaku hilang, tetapi Allah memberiku rezeki lewat jalan yang lain. Dengan uang patungan itu, aku pulang ke Kendari membawa sejuta kisah. Kisah hilangnya uang itu dan sedihnya menjadi anak rantau yang tidak memiliki uang, tak pernah kuceritakan sekali pun kepada orang tuaku. Biarlah mereka tahu bahwa uang itu telah diterima dan digunakan oleh putrinya.
Wallahu a’lam[]


Photo : pinterest
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirm tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

One thought on “Nestapa Anak Rantau

  1. Kisahnya sungguh mengharu-biru, Mbak Tina. InsyaAllah pengalaman itu menjadi pijakan berharga di masa depan, ya?!

Leave a Reply

Your email address will not be published.