Meneropong Narasi Radikalisme di Balik Konvoi Khilafah

Meneropong Narasi Radikalisme di Balik Konvoi Khilafah

“Sungguh, masifnya narasi radikalime yang dikaitkan dengan Khilafah tersebut telah sukses melahirkan sikap islamofobia di tengah masyarakat. Bahkan tak sedikit umat Islam yang memilih menjadi muslim moderat demi dianggap toleran dan cinta damai, ketimbang muslim kaffah yang mendekap ajaran Islam secara sempurna.”


Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
(RedPel NarasiPost.com)

NarasiPost.com- Narasi radikalisme tak pernah berhenti diembuskan. Berbagai momentum seolah menjadi panggung empuk untuk kembali memutar lagu radikalisme di tengah masyarakat. Sebagaimana yang terjadi belum lama ini, yakni selebaran berisi ajakan konvoi motor “Kebangkitan Khilafah” tersebar di beberapa wilayah di Jawa Barat, seperti Cimahi, Sukabumi, dan Cianjur. Diketahui bahwa pelaku penyebaran adalah kelompok Khilafatul Muslimim yang berpusat di Bandar Lampung. (CNNIndonesia.com/02-06-2022)

Sontak saja selebaran tersebut berbuntut pada bergeraknya aparat kepolisian demi mengamankan kelompok tersebut. Menyusul, narasi radikalisme dan terorisme yang kembali diangkat ke permukaan.

Dunia kampus adalah salah satu yang dibidik untuk lebih waspada terhadap rasikalisme ini. Sebelumnya, beberapa kampus dituding sebagai target utama kelompok radikal, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Menurut Muhammad A.S Hikam, Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, menyatakan bahwa mahasiswa adalah target paling besar bagi kelompok radikal, karena jumlahnya banyak dan perannya stategis sebagai pembawa aspirasi ke tengah masyarakat. Bahkan, mahasiswa sering ditarget menjadi aktor utama radikalisme. (Suara Islam.com/05-06-2022)

Menyusul hal tersebut, seorang akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Weda Kupita, menyatakan perlunya ada regulasi yang mampu menindak tegas penyebar radikalisme di kampus. Bahkan ia juga mengatakan agar pihak kampus mampu memetakan mahasiswa mana yang sudah terpapar radikalisme dan mana yang rentan terpapar. (Merdeka.com/05-06-2022)

Demikianlah gambaran betapa kencangnya narasi radikalisme ditiupkan di tengah umat. Dibuat seolah-oleh sebagai topik urgent dan prioritas untuk segera ditanggulangi. Ironis!

Meluruskan Stigma Negatif antara Khilafah dan Radikalisme

Selama ini, opini yang senantiasa diciptakan di tengah masyarakat adalah Khilafah merupakan ajaran radikal. Walhasil, orang akan akan takut bicara tentang Khilafah, bahkan di kalangan kaum muslimin sendiri. Sungguh, masifnya narasi radikalime yang dikaitkan dengan Khilafah tersebut telah sukses melahirkan sikap islamofobia di tengah masyarakat. Bahkan tak sedikit umat Islam yang memilih menjadi muslim moderat demi dianggap toleran dan cinta damai, ketimbang muslim kaffah yang mendekap ajaran Islam secara sempurna.

Sesungguhnya memang demikianlah target utama dari penyebaran opini bahwa Khilafah lekat dengan gerakan radikal. Umat Islam menjadi takut terhadap agamanya sendiri, akhirnya membuat mereka mengamputasi beberapa ajaran agama yang dianggap ‘keras’ dan bersebrangan dengan penguasa, seperti Khilafah, jihad, dan lain-lain. Dari situlah kemudian muncul proyek deradikalisasi dalam rangka mengadang arus gerakan radikal yang dianggap mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Benarkah Khilafah adalah ancaman? Dan tepatkah menyebut Khilafah sebagai ajaran radikal?

Padahal sejatinya Khilafah adalah ajaran Islam. Amat banyak nash syarak yang mengatakan akan kewajiban adanya Khilafah, termasuk menyiratkan juga kewajiban bagi umat Islam memperjuangkan penegakkannya. Di antara hadis Rasulullah saw tersebut adalah yang menjelaskan terkait fase-fase kepemimpinan di muka bumi, yakni dari Hudzaifah, Rasulullah bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung atas kehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung atas kehendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada kepemimpinan yang lalim yang berlangsung atas kehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada kepemimpinan yang diktator berlangsung atas kehendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Khilafah berdasarkan manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi saw) diam.” (HR. Ahmad, No. 18406)

Hadis tersebut sekaligus menjadi kabar gembira (bisyarah) dari Rasulullah saw terkait akan kembalinya Khilafah yang kedua di tengah kaum muslimin. Tak hanya itu, dalil tentang wajibnya keberadaan seorang pemimpin kaum muslimin, yakni Khalifah, tampak pada hadis berikut:

“Barangsiapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa hujjah yang membelanya. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada bai’at di pundaknya, maka ia mati dengan cara mati jahiliah.” (HR. Muslim No. 1851)

Hadis ini menyiratkan tentang kewajiban adanya pemimpin kaum muslimin yang kepadanya kita berbai’at untuk taat. Hakikatnya, pemimpin kaum muslimin yang dikenal dengan sebutan Khalifah ini merupakan wakil bagi kaum muslimin untuk menerapkan aturan Islam kaffah secara praktis dalam institusi Khilafah.

Sejatinya Khilafah dan Khalifah adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Khalifah secara bahasa artinya pemimpin, sedangkan Khilafah adalah kepemimpinan sebagai pengganti. Maksudnya adalah pengganti Rasulullah saw dalam rangka menegakkan syariat Islam di bumi, bukan pengganti dalam hal kenabian. Khilafah juga seringkali disebut dengan imamah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Mawardi bahwasannya “Imamah adalah maudhu’(peristilahan yang dibuat) bagi khilafah nubuwah dalam menjaga agama dan menata dunia.”

Sungguh amat jelas bahwa Khilafah bukanlah hal yang asing dalam khasanah fikih Islam, melainkan sesuatu yang telah disepakati sebagai sebuah kewajiban untuk ditegakkan di tengah umat. Bahkan empat Imam Mazhab sepakat akan wajibnya Khilafah. Sebab tanpa Khilafah, umat Islam tercerai berai meski jumlahnya banyak, persis buih di lautan. Umat Islam juga tak mampu menjalankan agamanya secara utuh, sebab banyak syariat Islam yang tak bisa dijalankan kecuali oleh komando seorang Khalifah, misalnya jihad offensif, qishas, rajam/jilid, potong tangan, dan lain-lain.

Lantas, jika hari ini narasi Khilafah sebagai ajaran radikal begitu masif diembuskan, maka sungguh mengherankan, dan semakin mengukuhkan bahwa sistem hari ini benar-benar berupaya menjauhkan umat terhadap habitatnya yang hakiki. Ya, umat Islam dipaksa tetap berkubang dalam lumpur sekularisme dan liberalisme. Mereka diadang untuk mengenal institusi warisan Rasulullah saw yang notabenenya akan menjamin kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Sebaliknya, umat dicekoki dengan narasi buruk soal Khilafah, agar pemikiran umat tetap tersandera dalam paradigma sistem buatan manusia. Sungguh ironis!

Dengan demikian, umat mesti waspada akan narasi sesat yang terus menerus diembuskan demi mengadang kebangkitan Islam. Umat juga perlu memahami akan konsep Khilafah yang hak sesuai dengan metode kenabian, bukan Khilafah yang menyimpang buatan Barat yang sengaja diciptakan untuk mencederai ajaran Islam. Untuk itulah, umat perlu mengkaji Islam kaffah secara benar, sehingga mampu menilai fakta dengan pemikiran cemerlang (mustanir), bukan malah menjadikan fakta sebagai hukum syarak. Dengan pemikiran cemerlang itu pulalah, kita tidak akan mudah terbawa arus narasi sesat yang sengaja diembuskan. Oleh karena itu, merapatnya kita ke dalam jemaah dakwah ideologis adalah sebuah keharusan, agar kita terbina dengan pemikiran Islam yang lurus, serta tercetak menjadi pribadi pejuang yang tak luntur terbawa arus narasi radikalisme. Wallahu’alam bishawab[]


Photo : Pinterest
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirm tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

2 thoughts on “Meneropong Narasi Radikalisme di Balik Konvoi Khilafah

Leave a Reply

Your email address will not be published.