Mengadang Banjir bersama sang Pencipta

Pembangunan dalam sistem kapitalisme sekuler menyelesaikan masalah dengan masalah. Tujuannya demi pertumbuhan ekonomi, tetapi lingkungan hidup menjadi korban. Ketika sesuatu dinilai menghasilkan materi, berbagai cara akan ditempuh tanpa memedulikan bagaimana Allah Swt, Sang Pencipta, menentukan cara untuk mengelola alam.

Oleh. Ummu Wildan

NarasiPost.Com-Suasana mencekam mulai terasa di beberapa wilayah di Indonesia. Belum lagi berganti tahun, bencana banjir yang terjadi di awal tahun ini kembali mengancam di bulan November. Sintang, Kalimantan Barat bahkan sudah terkena banjir di pekan terakhir Oktober.

BMKG memperkirakan puncak musim penghujan pada Desember 2021 hingga Februari 2022. Namun sebelum mencapai puncak, banjir sudah dirasakan lintas pulau. Pada 4 November 2021 banjir bandang terjadi di Malang, Jawa Timur. Berselang dua hari, banjir bandang terjadi di Garut, Jawa Barat. 16 November 2021 banjir merendam ratusan rumah di Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Penduduk Kabupaten Hulu Sungai Tengah sudah mulai bersiaga. Banjir terbesar yang pernah dialami selama 50 tahun pada Januari lalu menyisakan kenangan tak terlupakan. Sembilan orang meninggal, 264 rumah hilang, 8000 jiwa mengungsi, dan 68.000 jiwa terdampak bukanlah angka yang kecil.

Di antara penyebab terjadinya banjir pada tahun ini adalah tingginya curah hujan dan curah izin pengelolaan lahan yang harusnya menjadi daerah resapan air. Tingginya curah hujan tentu di luar kuasa manusia. Ada pahala atas kesabaran menerima ketentuan-Nya.

Di sisi lain, adanya izin pengelolaan lahan adalah perkara yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Berdasarkan data Greenpeace Indonesia, sekitar 304.225 hektare tutupan hutan di Kalimantan Selatan telah berubah. Sebagian besar menjadi perkebunan kelapa sawit dan tambang. Tingginya konsesi lahan, menjadikan DAS Sungai Barito dan Maluka yang berada di area pegunungan Meratus mengalami penurunan daya tampung air secara drastis pula. Ancaman banjir pun di depan mata.

Demikianlah pembangunan dalam sistem kapitalisme sekuler menyelesaikan masalah dengan masalah. Tujuannya demi pertumbuhan ekonomi, tetapi lingkungan hidup menjadi korban. Ketika sesuatu dinilai menghasilkan materi, berbagai cara akan ditempuh tanpa memedulikan bagaimana Allah Swt, Sang Pencipta, menentukan cara untuk mengelola alam.

Dalam Islam, segala aktivitas, baik oleh individu, masyarakat, maupun negara dikaitkan dengan maqashid syariah. Lima maqashid syariah yang disepakati jumhur ulama yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta.
Hutan dan barang tambang adalah hak umat yang dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat.

"Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput dan api." (HR. Abu Dawud)

Hal ini berbeda dari sistem kapitalisme sekuler yang memberi kesempatan kepada swasta dan asing untuk menguasainya demi kepentingan mereka, sedangkan rakyat hanya mendapatkan bagian kecilnya. Padahal dengan keuntungan maksimal diperoleh rakyat, maka kebutuhan pokok hidup berupa makanan, pakaian, perumahan, kesehatan dan pendidikan dapat dinikmati oleh rakyat tanpa memandang kelas ekonomi mereka.

Begitupun tentang cara pengelolaan akan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya bencana yang bisa menelan korban jiwa. Hutan yang berfungsi sebagai daerah resapan air tidak boleh dialihfungsikan secara serampangan. Tebang pilih harus dijalankan. Daerah galian tambang harus direboisasi secara benar, bukan sekadar formalitas di bagian atasnya saja. Lahan gambut yang berfungsi menahan 30% karbon dunia, mencegah perubahan iklim dan bencana alam tidak boleh diubah menjadi persawahan.

Dengan kondisi kebutuhan pokok rakyat terpenuhi, maka pengelolaan sumber daya alam bisa disesuaikan dengan kondisi alam agar tetap lestari. Allah Swt menciptakan bumi ini cukup untuk seluruh makhluk-Nya. Namun bumi ini tidak akan cukup untuk para kapitalis serakah. Hal ini karena kebutuhan manusia terbatas, sedangkan keinginan manusia tidak terbatas.

Dalam Islam, seorang pemimpin laksana penggembala yang wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Maka, pengaturan Allah Swt menjamin kesejahteraan rakyat dan membatasi orang-orang bermodal besar mengeruk keuntungan sebesar besarnya dari hak rakyat. Pengaturan ini diterapkan secara tegas oleh pemimpin demi terjaganya jiwa juga harta.

Untuk mengakhiri banjir yang terus berulang, sudah seharusnya kita meninggalkan sistem kapitalisme sekuler yang saat ini diterapkan. Islam sudah menyediakan aturan yang lengkap untuk mengatasinya. Tidaklah Rasulullah saw diutus kecuali membawa aturan yang menjadi rahmat bagi semesta. Tugas kita adalah memperjuangkannya.

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS Ar-Rum:41)[]

Pariwisata, Devisa, dan Minol

"Jika sudah jelas bahwa khamar, minol, miras, atau apa pun namanya itu diharamkan, mengapa kita masih melegalkannya? Jika sudah tampak jelas keburukan yang diakibatkannya, mengapa kita menggunakannya untuk menarik wisatawan mancanegara? Padahal, pariwisata dapat dikembangkan tanpa bantuan minol."

Oleh. Mariyatul Qibtiyah, S.Pd.

NarasiPost.Com-"Sia-sia jika kita memegang omongan orang yang sedang jatuh cinta, mabuk, atau berkampanye." (Shirley MacLaine)

Pernyataan Shirley MacLaine itu cukup menarik. Bisa jadi, aktris berkebangsaan Amerika Serikat pemenang Academy Award for Best Actress tahun 1983 itu sering menyaksikan hal itu. Faktanya, orang yang sedang mabuk, akan kehilangan akal sehatnya. Sebab, saat seseorang mabuk, akalnya tidak lagi berfungsi dengan baik. Maka, omongannya menjadi ngelantur sehingga tidak dapat dipegang.

Hal itu terjadi karena kandungan etanol pada minol memang dapat memicu kerusakan otak. Akibatnya, penyaluran informasi pada saraf akan terlambat. Karena itu, pecandu alkohol akan mengalami gangguan perilaku, mood swings (perubahan suasana hati secara ekstrem) halusinasi, hilang ingatan, bahkan kejang. Meski dampak negatif yang ditimbulkannya cukup besar, masih banyak orang yang mengonsumsi minol. Mereka beralasan bahwa mengonsumsi minol membuat mereka merasa lebih relaks setelah bekerja seharian. Banyak juga yang mengonsumsinya karena menghilangkan stres akibat beban hidup yang berat, terlebih pada masa pandemi ini.

Berdasarkan hasil studi FKUI-RSCM, konsumsi minol di masa pandemi mengalami peningkatan. Sebanyak 25,7% responden mengaku mengonsumsi alkohol lebih banyak selama pandemi. Sebab, pandemi semakin menambah beratnya beban psikologis pada mereka.

Di negeri ini, minol termasuk komoditas yang dibatasi peredarannya. Ada batas minimal usia bagi yang mengonsumsi, yaitu 21 tahun. Kemudian, ada aturan terkait kandungan etanol pada minuman yang boleh beredar. Di samping itu, ada batasan jumlah impor.

Baru-baru ini Kemendag telah mengubah aturan terkait minol. Melalui Permendag Nomor 20 Tahun 2021 tentang Kebijakan Pengaturan Impor, pemerintah menambah kuota minol yang boleh dibawa dari luar negeri. Peraturan baru tersebut, secara otomatis telah mengubah peraturan lama yang tertuang dalam Permendag Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 mengenai Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol. (cnnindonesia.com, 08/11/2021)

Dalam aturan yang lama, masyarakat hanya diizinkan untuk membawa minol sebanyak 1 liter, sedangkan dalam peraturan yang baru, mereka diizinkan membawa 2,25 liter minol dari luar negeri. Aturan bagi penumpang dari luar negeri ini akan diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2022.

Pemerintah berharap, perubahan peraturan ini akan meningkatkan jumlah wisatawan dari luar negeri. Sebab, mereka yang fanatik dengan minol dapat membawanya sendiri saat berkunjung ke Indonesia. Tentu, kebijakan baru ini mengundang reaksi dari masyarakat. Salah satunya dari Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH. Muhammad Cholil Nafis. Beliau beranggapan bahwa penambahan kuota minol yang boleh dibawa masuk ke tanah air ini akan merugikan anak bangsa, mengurangi pendapatan negara, dan cenderung memihak kepada wisatawan asing.

Saat ini, banyak negara yang menggantungkan pendapatannya dari pariwisata, termasuk Indonesia. Sebab, negara-negara berkembang ini tidak memiliki penghasilan lain. Padahal, banyak sumber daya alam yang dimiliki.

Indonesia misalnya, mempunyai sumber daya alam yang sangat besar, baik berupa barang tambang, hutan, kekayaan laut, dan sebagainya. Sayangnya, sebagian besar tidak dikelola sendiri. Yang mengelola justru pihak swasta, baik swasta pribumi maupun asing. Negara hanya mendapatkan bagi hasil yang jumlahnya sangat sedikit.

Karena itulah, pemerintah berupaya untuk mencari pendapatan lain. Di samping menggenjot pajak, pemerintah berusaha untuk menaikkan devisa melalui pariwisata. Pada tahun 2018, Indonesia berhasil meraup devisa sebesar Rp229,5 triliun. Namun, keuntungan yang diperoleh tidaklah sepadan dengan kerugian yang dialami. Meskipun sudah mencanangkan program sustainable tourism (pariwisata yang berkelanjutan), fakta di lapangan belum mencerminkan hal itu.

Banyak kerusakan alam, budaya, bahkan moral pada masyarakat sebagai akibat dari pariwisata. Misalnya, rusaknya padang rumput Gililawa di Nusa Tenggara Timur akibat kebakaran yang diduga berasal dari puntung rokok. Rusaknya puncak Rinjani karena penumpukan sampah para pengunjung. Rusaknya kawasan hutan mangrove di Nusa Penida, Bali, rusaknya terumbu karang di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain.

Dampak lain dari pariwisata adalah rusaknya moral masyarakat di sekitar tempat wisata. Wisatawan yang datang, terutama wisatawan asing, membawa pengaruh yang sangat besar. Kebebasan mereka dalam pergaulan, minum-minuman keras pun diadopsi oleh penduduk sekitar.

Pandemi yang terjadi telah menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Akibat pandemi, Indonesia diperkirakan kehilangan lebih dari Rp10 triliun pada tahun 2020 dari sektor pariwisata. Karena itulah, pemerintah berharap dapat menaikkan kembali devisa melalui pariwisata. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melonggarkan aturan terkait minol yang boleh dibawa oleh para wisatawan.

Dalam Islam, minol sangat jelas keharamannya. Ada banyak ayat maupun hadis yang menyatakan hal ini. Misalnya, dalam Al-Qur'an Surat al-Baqarah [2]: 219 disebutkan bahwa khamar (minuman keras) mengandung banyak mudarat dibandingkan manfaatnya. Bahkan, dalam Surat al-Maidah [5]: 90 Allah Swt. juga mengingatkan bahwa meminum khamar termasuk perbuatan setan. Karena itu, kita diperintahkan untuk menjauhinya.

Rasulullah saw. juga mengingatkan kita dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani. Dari Abdullah bin Amru bin 'Ash, Rasulullah saw. bersabda,

الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَاىِٔثِ فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلَاتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِي بَطْنِهِ مَاتَ ميْتَةً جَاهِلِيَّةً

"Khamar adalah induk dari berbagai perbuatan keji. Maka, siapa saja yang meminumnya tidak diterima salatnya selama 40 hari. Jika ia mati, sedangkan terdapat khamar di dalam perutnya, maka matinya adalah mati jahiliah."

Pengharaman terhadap minol ini juga disertai dengan sanksi bagi pelakunya. Dalam kitabnya, Nidhaam al-'Uqubaat, Abdurrahman al-Maliki menyebutkan bahwa hukuman bagi para peminum khamar adalah hukuman cambuk sebanyak 40 atau 80 kali.

Jika sudah jelas bahwa khamar, minol, miras, atau apa pun namanya itu diharamkan, mengapa kita masih melegalkannya? Jika sudah tampak jelas keburukan yang diakibatkannya, mengapa kita menggunakannya untuk menarik wisatawan mancanegara? Padahal, pariwisata dapat dikembangkan tanpa bantuan minol.

Berwisata merupakan salah salah satu cara kita dalam mentadabburi alam. Melalui ayat-ayat kauniyah-Nya, kita akan semakin merasakan kebesaran Sang Pencipta. Dengan memperhatikan berbagai keindahan alam ciptaan-Nya, akan semakin kuatlah iman kita kepada-Nya. Semestinya, konsep inilah yang dijadikan sebagai landasan dalam mengembangkan destinasi wisata. Bukan sekadar mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Terlebih, keuntungan ekonomi bagi para pemilik modal.
Wallaahu a'lam bishshawaab.[]

Gundah Gulana

Aku tersesat.
Aku larut dalam kubangan maksiat.
Terus kumerasa manusia taat.
Namun mudah tertipu dunia sesaat.

Oleh. Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Gundah gulana
Hatiku resah tak terkira
Semua salah dirasa
Tak ada benarnya

Kulihat temanku semua sama
Mereka tak ada yang beda
Namun, di keramaian kumerasa sendiri
Mungkin benar hatiku perlu disirami

Aku tersesat
Dalam terang yang teramat sangat
Namun seakan gulita di mata
Hitam pekat tanpa cahaya

Ada apa dengan diriku
Masalah apa dengan hatiku
Apa kabar keimananku
Mengapa berat laksana dihimpit batu

Kucoba bercermin diri
Mengapa bahagia menjauhi
Kutelusuri lorong kalbu
Mengapa dunia terasa sempit bagiku

Dan hatiku gundah gulana
Karena dosa yang tak terkira
Terus sombong merasa diri paling suci
Padahal Allah maha tahu siapa diri ini

Aku tersesat
Aku larut dalam kubangan maksiat
Terus kumerasa manusia taat
Namun mudah tertipu dunia sesaat

Hatiku mudah hasad
Mulutku ringan melaknat
Tak senang jika teman mendapat nikmat
Merasa diri paling hebat

Maka di banyak malam aku bermunajat
Mencoba merayu pemilik jagat
Mengapa hatiku seakan sekarat
Begitu sulitnya menggapai hidayah yang begitu dekat

Kuperbaiki kualitas amalanku
Mulai kubenahi setiap niatku
Tak ingin lagi aku tertipu
Penyakit hati mematikan kalbu

Aku tak ingin gundah lagi
Mulai kudekati Dia sang pemilik hati
Mulai kubasuh debu-debu yang mengotori
Semoga Allah berkenan memandang diri ini[]

Bersatu, Bergerak, Lepaskan Dependensi Ekonomi ala Kapitalisme!

"Impor, utang, perbankan ribawi, dan lain sebagainya sejatinya adalah konsekuensi langsung bagi siapa pun yang mengikatkan perekonomiannya di bawah payung kapitalisme. Gali lubang tutup lubang menjadi hal yang lumrah. Kedaulatan negeri bisa dibayar dengan murah."

Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
(Kontributor Tetap NarasiPost.com)

NarasiPost.Com-Selama ini ketergantungan yang dianggap cukup membahayakan adalah ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang, mengingat berbagai dampak buruk yang dapat ditimbulkan kepada pemakainya. Namun nyatanya, ada ketergantungan lain yang tak kalah berbahaya yang justru luput dari penginderaan publik, tidak lain dan tidak bukan adalah ketergantungan ekonomi, yang merupakan ciri khas dalam status quo di sistem kapitalisme modern.

Berbagai negara saat ini didominasi penganut sistem negara-bangsa, yang dianggap sebagai bentuk paling pas dalam mengakomodasi kemerdekaan dan kedaulatan berbagai bangsa, memang secara aspek geografis dipisah dan disekat oleh batas-batas antarnegara. Tetapi secara hubungan dan interaksi, negara-negara itu sejatinya terikat dan bergantung satu sama lain. Mulai dari terikat dengan perjanjian dan kesepakatan internasional, yang hal ini akan sangat mungkin memberikan pengaruh kepada pihak-pihak yang terlibat.

Ketergantungan ekonomi atau dependensi ekonomi sebetulnya adalah sebuah teori yang masyhur dalam ilmu politik. Teori ini memosisikan negara-negara di dunia ke dalam dua strata, yakni negara dunia pertama dan negara dunia ketiga. Perekonomian dari berbagai negara maju yang terkategori ke dalam negara dunia pertama dapat berkembang dengan dieksploitasinya negara dunia ketiga atau yang sering disebut sebagai negara berkembang dan juga negara miskin. Di sisi lain, kondisi negara dunia ketiga bergantung pada investasi dari luar negeri serta permintaan pasar.

Impor yang hari ini masih gencar di Indonesia juga sebenarnya menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia dependen atau bergantung pada pihak lain. Salah satunya adalah Cina yang masih menjadi primadona tumpuan impor bahan baku bagi Indonesia. (CNBC Indonesia, 20/11/2021)

Melihat fakta yang demikian, ada pertanyaan yang boleh jadi muncul di benak banyak orang, apakah Indonesia sama sekali tidak mampu untuk menghadirkan bahan baku untuk produksi sendiri sehingga mengharuskannya impor dari negara lain? Untuk menjawab pertanyaan itu, tentu ada sudut pandang idealistis dan sudut pandang realistis.

Jawaban idealisnya tentu Indonesia sangat mampu, karena sumber daya yang terhampar di tanah Indonesia dan yang tersebar di luasnya lautan negeri, dengan pengelolaan dan pengolahan yang baik secara sistemis, sesungguhnya dapat memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Adapun jawaban realistisnya, berbagai kekayaan dan keberagaman sumber daya yang ada, pada nyatanya tidak bisa sepenuhnya digunakan sebagai bahan baku produksi, karena sumber daya tersebut, meski ada di tanah kita, namun tak semuanya adalah murni milik kita. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa opsi untuk impor bahan baku masih tetap tampak sebagai gagasan yang brilian bagi penguasa.

Ketergantungan terhadap impor dan sokongan dari negara lain juga pada dasarnya adalah satu dari sekian banyak “keberhasilan” debt trap atau jebakan utang yang selama ini menjerat negeri. Merasa tak memiliki pos pemasukan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, maka mencari piutang dari pihak yang dengan senang hati menjadi pengutang, mengharuskan kita membuka pintu yang lebar bagi barang atau bahan yang diproduksi oleh pengutang tersebut. Membayar utang yang beribu triliun pun tampak tak mungkin, impor pun terus berlanjut, sungguh sebuah lingkaran setan yang sempurna! Alih-alih mampu berdiri di atas kaki sendiri, justru kaki harus tertekuk di hadapan pemilik modal yang haus harta.

Batilnya Menggantungkan Ekonomi pada Kapitalisme

Impor, utang, perbankan ribawi, dan lain sebagainya sejatinya adalah konsekuensi langsung bagi siapa pun yang mengikatkan perekonomiannya di bawah payung kapitalisme. Gali lubang tutup lubang menjadi hal yang lumrah. Kedaulatan negeri bisa dibayar dengan murah. Meskipun efek yang dirasakan oleh rakyat sangatlah parah. Belum lagi jika melihat fakta keterikatan negeri dengan skema pasar bebas, tak segan para adikuasa dunia memberikan sanksi atas ketidakpatuhan kita terhadap cara main mereka.

Inilah yang sebetulnya menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara, yang sayangnya belum juga disadari oleh para puan dan tuan di singgasananya di atas sana. Islam sejak awal sudah menggariskan sistem ekonomi yang adil untuk semua pihak dan tentu diridai oleh Allah swt. sebagai satu-satunya Zat yang Maha Mengatur kehidupan manusia. Bila ekonomi bergantung pada pihak lain, apalagi kepada kafir harbi fi’lan yang secara nyata memusuhi Islam dan umatnya, maka agama ini melarang kita untuk bertransaksi dengannya. Ditambah lagi bila justru kapitalisme dengan segenap derivat fasadnya yang dijadikan sebagai landasan berekonomi, maka bersiap-siaplah menghadapi kehancuran secara perlahan.
Islam yang diemban dalam sebuah entitas negara akan menitikberatkan pada kedaulatan negeri dalam mengatur interaksinya dengan pihak lain, bukan menjadi pihak yang diatur dan malah dijadikan sebagai pelayan kepentingan mereka.

Ekonomi adalah salah satu aspek penting yang harus benar-benar diperhatikan oleh penguasa, karena ekonomi berkaitan langsung dengan tercukupinya kebutuhan rakyat dan merupakan bagian dari pengurusan penguasa atas rakyatnya. Maka para penguasa seyogyanya menjadikan kepentingan rakyat sebagai kepentingan utama untuk dipenuhi, tidak seperti kapitalisme yang menempatkan para kapitalis, investor, dan pemilik modal sebagai pihak yang harus dipenuhi kepentingannya. Bila kapitalisme kian nyata kerusakannya dan kaum muslimin kian berat ketertindasannya di bawah sistem ini, maka bukanlah hal yang naif bila umat Muhammad saw. mulai mencari, memahami dan menerapkan sistem alternatif lain untuk menyubstitusi kapitalisme yang membuat kita bergantung pada pihak yang justru memusuhi Allah Swt. Dan sebagai umat dari seorang Rasul yang telah membawa segenap risalah menjalani kehidupan dan telah terbukti mengemban kepemimpinan politik dan ekonomi akan rakyatnya, maka menjadikan sistem Islam yang dengannya Al-Qur’an dan Sunnah dijadikan sebagai landasan mengatur urusan umat adalah suatu hal yang niscaya. Sistem Islamlah yang membuat kita bergantung hanya kepada Allah as-Shamad yang akan mampu melepas berbagai belenggu ribawi yang kita rasakan di bawah kehidupan kapitalistik hari ini. Wallahu a’lam bisshawwab.[]

Diplopia, di Kala Satu Terlihat Dua

Penglihatan adalah nikmat, maka syukurilah. Mata adalah kunci penglihatan manusia yang harus selalu kita syukuri. Mata adalah nikmat Allah yang bahkan di dalam Al-Qur'an, Allah sandingkan nikmat penglihatan ini dengan hati, namun sayangnya jarang disyukuri oleh manusia.

Oleh. Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-"What's up, Bro? Kok buang napas kasar sekali? Muka kusut, mirip baju yang belum disetrika." Tanyaku pada adik laki-lakiku yang terlihat uring-uringan.

"Aku tuh lagi bad mood nih kak." Jawabnya.

"Wiiih.. Boleh tahu kenapa kamu bad mood?" Tanyaku penasaran.

"Itu..pembalap jagoanku kena sakit mata, jadi tidak bisa balapan lagi…" Balasnya lagi.

"Ya Allah, Bro. Kakak kira kenapa, kirain kamu kelewat salat subuh atau telat kajian, tak tahunya hanya karena pembalap jagoannya kena sakit mata." Selorohku.

"Ih kasihan tahu, sakit matanya itu parah, dia batal balapan, padahal aku sudah menjagokan dia! Namanya penyakitnya apa ya? Di.. Di.. Diplopia! Iya Diplopia!" Jawabnya tak terima.

"Mmm, kamu tahu tidak apa itu diplopia?" Tanyaku padanya.

"Nah itu, aku tak tahu." Jawab adikku.

"Oke, yuk kita cari tahu"

Aku pun mulai berselancar di kanal pencarian berita, ahaa..ternyata memang benar berita terkait Marc Marquez, salah satu pembalap MotoGP dari Tim Repsol Honda memenuhi laman pencarian beberapa hari ini. Diberitakan ia harus absen pada seri penutup balapan musim ini pada 12-14 November 2021 lalu, di Valencia, Spanyol. Karena juara dunia enam kali itu mengonfirmasi bahwa ia mempunyai masalah mata diplopia, sama seperti yang pernah ia alami pada tahun 2011 silam.

Apa itu Diplopia? Diplopia adalah suatu gangguan pada penglihatan. Yang mengakibatkan pasien akan melihat dua objek dari satu objek yang berdekatan. Diplopia juga disebut penglihatan ganda atau satu objek terlihat dua. Diplopia tak boleh dianggap remeh, ia memerlukan beberapa diagnosis dan juga penanganan segera. Wah, tentu berbahaya ya bagi seorang pembalap.

Memang ada sebagian kasus, di mana penglihatan pasien bisa membaik jika pasien tersebut menjauhkan pandangannya atau mendekati objek, juga ketika ia menyipitkan mata serta menambah pencahayaan ruangan. Namun sebagian kasus lain, diplopia ini tak dapat disembuhkan. Diplopia terbagi menjadi dua jenis. Ditentukan oleh faktor penyebabnya, diplopia dapat bersifat permanen maupun sementara.

Penyebab diplopia monocular, di antaranya:

Pertama, keratoconus, yaitu kondisi kornea secara bertahap menipis dan membentuk kerucut. Kondisi diplopia ini biasanya bisa diatasi dengan lensa kontak atau obat tetes mata. Kedua, astigmatisme, yaitu kondisi kelengkungan abnormal pada permukaan depan kornea. Ketiga, pterygium, yaitu kondisi tumbuhnya selaput lendir tipis yang menutupi bagian putih pada bola mata. Ini dapat terjadi pada salah satu maupun sekaligus pada kedua mata. Apabila hal ini tidak segera ditangani, maka penebalan dapat meluas hingga ke bagian kornea mata, yang dapat mengganggu penglihatan si pasien. Keempat, katarak yaitu kondisi di mana lensa secara bertahap menjadi tidak transparan atau nampak berawan.

Kelima, kelopak mata bengkak. Kondisi ini dapat menekan bagian depan mata yang mengakibatkan penglihatan menjadi tidak nyaman. Keenam, mata kering, yaitu kondisi mata tidak dapat menghasilkan air mata yang cukup. Ketujuh, adanya gangguan pada bagian retina. Kedelapan, dislokasi lensa, yaitu kondisi ketika lensa mata bergerak, bergeser, atau berubah tidak pada tempatnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh trauma yang dialami oleh mata, dan lebih dikenal dengan sindrom Marfan.

Penyebab diplopia binocular, di antaranya:

  1. Mata Juling
    Mata juling ini sering terjadi pada anak-anak. Mata juling terjadi ketika otot mata yang terhubung dengan otak tidak bekerja dengan efektif, sehingga mengakibatkan gerakan kedua mata berlainan, padahal semestinya gerakan kedua mata sama arahnya.
  2. Diabetes
    Penyakit diabetes menjadi salah satu faktor yang dapat mengakibatkan masalah pada saraf pengendali gerakan otot mata, hal ini terkadang terjadi pada penderita diabetes yang belum sadar akan penyakitnya.
  3. Trauma pada otot mata
    Trauma pada otot mata disinyalisasi dapat menyebabkan otot rongga mata terluka.

Tindakan pencegahan:

"Nah Bro, secara medis memang tidak ada cara pasti untuk mencegah diplopia ini. Selain dikarenakan faktor penyebabnya yang banyak, baik faktor kelainan sejak lahir, juga kondisi yang dialami, seperti cedera pada kepala, mata, serta penyakit diabetes yang diidap. Namun sebagai usaha kita dalam mencegah diplopia, bisa dengan berhati-hati dalam berkendara atau terapkan safety procedure untuk menghindari cedera, serta menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit stroke dan diabetes. Nah tuh, hindari kebut-kebutan, apalagi ikut balapan liar yang bisa membahayakan tidak cuma mata, namun juga nyawa."

Penglihatan adalah nikmat, maka syukurilah.

"Bro, harus selalu kita ingat, mata adalah kunci penglihatan manusia yang harus selalu kita syukuri. Mata adalah nikmat Allah yang bahkan di dalam Al-Qur'an, Allah sandingkan nikmat penglihatan ini dengan hati, namun sayangnya jarang disyukuri oleh manusia. Firman-Nya dalam surah Al Mulk ayat 23: "Katakanlah, “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. Tetapi, amat sedikit kamu bersyukur. "

Ada beberapa bentuk syukur kepada Allah atas nikmat penglihatan, di antaranya:

Pertama, ucapkan hamdalah.
Hamdalah atau segala puji bagi Allah, adalah ungkapan syukur pertama yang dapat diucapkan sebagai pengakuan. Hamdalah mempunyai berbagai keutamaan. Di antaranya, dapat mendatangkan pahala, ia adalah kalimat yang dicintai Allah, mengucapkannya bernilai sedekah, bagi yang mengucapkannya Allah akan menambah nikmat-Nya dan tentunya dapat menambah keberkahan.

Kedua, gunakan mata untuk tilawah. Gunakanlah mata kita untuk membaca Al-Qur’an. Semakin banyak kita membaca Al-Qur’an maka akan semakin baik. Sebab, tiap-tiap satu hurufnya akan dibalas satu kebaikan oleh Allah, bahkan dilipatgandakan 10 kali kebaikan. Dikisahkan, para ulama lebih menyukai tilawah dengan membaca Al-Qur’an daripada membacanya dengan hafalan. Sebab dengan tilawah, lisan akan mendapat pahala karena melantunkan bacaan Al-Qur’an, tangan juga akan mendapat pahala karena menyentuh dan membolak-balikkan mushaf, sedang mata akan mendapat pahala karena memandang mushaf.

Ketiga, gunakan mata untuk mempelajari hadis. Meski membaca hadis tidak berpahala per huruf layaknya membaca Al-Qur’an. Akan tetapi, bukankah setiap aktivitas menuntut ilmu itu berpahala? Terlebih lagi itu adalah hadis, sumber hukum Islam kedua, serta kalam suci Rasulu shalallahu 'alaihi wasallam. Begitu mulianya hadis Rasulullah, bahkan Imam Malik rahimahullah akanllah mempersiapkan diri dengan merapikan pakaiannya, memakai wangi-wangian, tatkala akan membacakan hadis, beliau begitu antusias dan memantaskan diri seakan-akan berjumpa langsung dengan baginda nabi.

Keempat, gunakan mata untuk beribadah. Jika penglihatanmu baik, tentu kau akan mudah menuju masjid untuk salat berjamaah bukan? Begitu juga ibadah-ibadah yang lainnya, seperti haji dan umrah, serta ibadah fisik lainnya.

Kelima, menuntut ilmu. Salah satu cara mensyukuri nikmat penglihatan adalah dengan memanfaatkannya untuk menuntut ilmu, Bro. Dengan mata, kamu bisa melihat gurumu, melihat apa yang gurumu tulis, kamu dapat membaca kitab-kitabmu, menulis pelajarannmu, dan tentunya meneliti ulang kajianmu.

Keenam, perbanyak kebaikan. Gunakan mata kita untuk memperbanyak amal saleh dan memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Dengan begitu, kita mengharap kedudukan kita akan semakin baik dalam pandangan Allah. Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dalam hadis hasan riwayat Thabrani dan Daruqutni, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. "

Ketujuh, hindari maksiat mata. Jangan gunakan mata kita untuk bermaksiat kepada Allah. Jangan kita gunakan mata untuk melihat pada apa yang Allah haramkan. Termasuk di dalamnya adalah jangan gunakan mata kita untuk zina mata. Sesuai sabda Rasulullah riwayat Imam Muslim, no. 6925, "Setiap bani Adam ditakdirkan untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua matanya adalah dengan melihat."

Kedelapan, hindari pandangan dengki. Bro, jangan gunakan mata kita untuk melihat orang lain dengan pandangan dengki. Jangan umbar keinginan kita terhadap dunia yang mengakibatkan timbulnya iri hati, sifat tamak, hingga hasad dalam diri kita. Jauhi sifat tidak senang ketika melihat orang lain bahagia, tidak rela jika melihat saudaranya mendapat nikmat. Kemudian muncul keinginan dan harapan nikmat orang lain tersebut sirna atau bahkan beralih padanya. Na'uzubillah.

"So, jangan bad mood lagi ya, Bro! Syukuri nikmat penglihatan ini, ganti idolamu dengan para pahlawan Islam, lebih semangat lagi dalam mengkaji Islam, dan persiapkan diri kita untuk ikut andil dalam perjuangan kebangkitan Islam!"

Wallahu a'lam.[]

Modal Dakwah

"Tanpa kesabaran yang terus dipupuk, tak mungkin kita mampu istikamah dalam ketaatan. Kesabaran dalam ketakwaan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Kesabaran memudahkan diri dalam menerima setiap ketetapan."

Oleh. Deena Noor
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah acara bincang-bincang yang diadakan oleh NarasiPost.Com dengan tajuk “Membangun Keluarga Ideologis Bervisi Dakwah.” Bincang Mesra NarasiPost.Com ini menghadirkan Ustaz Ismail Yusanto dan Ustazah Zulia Ilmawati, sepasang pengemban dakwah ideologis yang sangat menginspirasi.

Di antara taburan kalimat bermakna yang disampaikan dalam acara ini, saya terngiang dengan sebuah kalimat yang disampaikan Ustaz Ismail. Beliau mengatakan bahwa modal dakwah itu ada tiga, yakni sabar, sabar, dan sabar. Saya tertegun mendengarnya. Dalam hati membenarkan sekali apa yang beliau sampaikan. Sebuah sifat yang sering kali hilang dalam banyak kesempatan. Sebuah sifat yang sering kali mudah diucapkan, namun berat di pelaksanaan.

Memang benar apa yang beliau katakan bahwa kita butuh sabar, sabar, dan sabar dalam berdakwah. Sabar dalam menghadapi perselisihan dengan sejawat dakwah. Sabar bila ada perbedaan dengan rekan-rekan perjuangan. Sabar bila hasil yang didapat tak sesuai dengan harapan. Sabar bila menemui kesulitan. Sabar dalam menghadapi orang yang didakwahi. Sabar bila mendapatkan pertentangan. Sabar dalam menjalankan amanah. Sabar dalam mengikuti perintah amir. Sabar menghadapi segala lika-liku perjalanan dakwah. Sabar dalam istikamah. Sabar, sabar, dan sabar dalam segala hal.

Kesabaran yang dicontohkan oleh uswah kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana beliau bersabar dalam menjalani dakwah sekian lama di kota Makkah, dengan segala ujian dan tantangannya. Beliau tetap bersabar kala orang-orang kafir Quraisy menentang dakwah beliau, termasuk paman beliau sendiri.

Berbagai celaan, fitnahan, kekerasan, bahkan ancaman pembunuhan dari orang-orang kafir tersebut sama sekali tak menyurutkan beliau dalam mendakwahkan Islam. Beliau tidak marah dan membalas segala perlakuan buruk mereka. Beliau tetap yakin pada perintah dan pertolongan Allah Swt. Rasulullah tidak berkecil hati meski pengikut beliau kala itu hanya sedikit. Beliau tetap bersabar mengikuti wahyu Allah dan menjalankannya sebaik mungkin.

Pun ketika beliau hijrah bersama para sahabat dan kaum mukmin Makkah ke Madinah, beliau laksanakan dengan taat dan sabar sesuai perintah-Nya. Hingga kemudian di kota inilah negara Islam pertama kali berdiri dan mampu menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia. Melalui jihad fii sabilillah, agama mulia ini bisa diimani oleh manusia dari berbagai latar belakangnya.

Peperangan demi peperangan umat Islam yang dilandasi semangat menegakkan kalimat Allah mampu membuka hati banyak manusia yang sebelumnya terkunci dalam kegelapan. Sampai di masa kini, kita bisa mengecap indahnya iman Islam. Semua berkat kesabaran yang ditanamkan dalam setiap langkah mengemban dakwah.

Betapa pentingnya kesabaran dalam menjalani setiap aktivitas dakwah. Andai ia tiada, mungkin kita tak akan pernah sampai di titik ini. Andai tiada kesabaran, bisa jadi kita mudah merasa lelah dan menyerah. Andai sabar tak mengiringi, sangat mungkin para pengemban dakwah tergoda oleh iming-iming dunia, hingga akhirnya undur diri darinya. Andai sabar hilang, mungkin kita akan memilih jalan pintas yang justru mencelakakan.

Andai tiada kesabaran dalam mengikuti tahapannya, mungkin dakwah ini sudah lama berhenti. Andai tak mau bersabar dalam menghadapi dinamika di antara pengemban dakwah, mungkin dakwah ini akan tercerai-berai. Bukannya mempersatukan dan menguatkan, namun justru memisahkan dan melemahkan ikatan karena akidah. Tanpa kesabaran, tak mungkin bagi pengemban dakwah mampu mencari titik temu permasalahan dan perbedaan di antara mereka. Memahami bahwa perbedaan adalah pasti dan diterima selama bukan berkaitan dengan hal yang mendasar, yakni akidah.

Dengan kesabaran, para pengemban dakwah dengan setia menjalani setiap prosesnya. Sabar ketika mendakwahi sesama. Bersabar menghadapi setiap ujian dan cobaan yang mendera. Tak mudah berputus asa. Tak kecewa bila dakwah tak diterima. Tak jumawa kala dakwah mendapatkan keberhasilannya hingga merasa diri paling berjasa.

Dengan kesabaran, kita mampu melunakkan hati yang sekeras baja. Pun, kesabaran itu akan menguatkan jiwa yang lemah kembali berdaya.

Tanpa kesabaran yang terus dipupuk, tak mungkin kita mampu istikamah dalam ketaatan. Kesabaran dalam ketakwaan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Kesabaran memudahkan diri dalam menerima setiap ketetapan.

Sungguh, bila tiada kesabaran dalam dakwah, maka tak akan mampu membuat musuh-musuh Allah gentar. Begitu takut dan terancamnya mereka dengan dakwah ini, mereka membuat makar keji. Mereka bersusah payah mengatur strategi untuk menjatuhkan Islam dan umatnya. Menyematkan berbagai macam label negatif pada Islam. Merekayasa bermacam peristiwa agar Islam dibenci dan ditinggalkan. Mengembuskan Islamofobia di seluruh dunia supaya Islam dianggap sebagai ideologi setan.

Musuh-musuh Allah melakukan berbagai cara untuk membungkam dakwah Islam kaffah. Apa yang mereka lakukan dari dulu hingga kini tak berhasil mematikan dakwah lillah. Yang ada justru dakwah terus berkembang dan mengetuk setiap pintu rumah. Sebagian membuka diri terhadapnya, sebagian lagi masih kukuh menolaknya. Namun, itu hanya masalah waktu. Cepat atau lambat, dakwah ini pasti akan mencapai tujuannya. Di mana setiap sisi akan tersinari oleh cahaya-Nya.

Sabar adalah kunci kemenangan. Kesabaran akan memberikan keberuntungan. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Terkecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr)

Wallahu a’lam bish-shawwab[]

Alam Berontak Akibat Sistem Rusak

"Alam diperlakukan secara tidak adil. Dieksploitasi sesuka hati, tanpa diperhatikan keseimbangan ekosistemnya. Maka wajar jika alam pun ‘berontak'."

Oleh. Pahriati, S.Si.
(Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah)

NarasiPost.Com-Hujan menerpa lalu banjir melanda. Fenomena ini seakan sudah biasa terjadi di negeri kita. Dulu hanya di Jakarta dan sekitarnya. Tapi kini hampir merata di seluruh Indonesia. Daerah Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera tak luput dari berbagai bencana.

Pada awal November ini saja ada puluhan banjir besar yang terjadi. Seperti yang dilansir dalam Kompas.com (12/11/2021), bencana banjir terjadi di Tangerang, Banten, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Gorontalo. Itu semua tersebar di beberapa kabupaten.

Tak hanya banjir, bencana lain juga kerap melanda Indonesia, terutama di musim hujan. Tanah longsor dan angin kencang seakan menjadi langganan untuk bertandang. Sebaliknya di musim kemarau, bencana kekeringan, angin kering, dan kabut asap juga tak pernah absen menyapa. Belum lagi bencana seperti tsunami, gempa bumi, dan gunung meletus, turut serta membayangi.

Apakah ini fenomena alam biasa? Apakah terjadi secara alamiah? Tentunya tidak. Kita harus mengakui ini terjadi karena ada campur tangan manusia.

Pembangunan Kapitalistik Pemicu Bencana

Beragam bencana yang terjadi tak bisa dilepaskan dari pembangunan kapitalistik yang tak memperhatikan keseimbangan alam. Pembangunan besar-besaran gedung bertingkat, bandara, jalan tol, dan lain sebagainya telah banyak mengalihfungsikan lahan. Di bagian hilir, lahan yang semula merupakan daerah serapan air, kini telah di beton. Ditambah masalah sampah yang tak teratasi, menyumbat banyak saluran air. Maka saat hujan turun, banjir pun tak terhindarkan.

Adapun di daerah hulu, yakni hutan dan pegunungan, juga telah mengalami kerusakan parah. Penambangan eksploitatif telah mengupas hutan dan meruntuhkan gunung. Hujan lebat akan mengisi lubang-lubang yang menganga lebar. Tanggul yang tak mampu menahan air akan jebol hingga terjadilah banjir bandang. Tak hanya aktivitas penambangan, perkebunan kelapa sawit juga berkontribusi dalam alih fungsi lahan besar-besaran.

Itulah beberapa faktor yang memicu terjadinya beragam bencana. Alam diperlakukan secara tidak adil. Dieksploitasi sesuka hati, tanpa diperhatikan keseimbangan ekosistemnya. Maka wajar jika alam pun ‘berontak'.

Hal tersebut telah diingatkan oleh Allah dalam QS. Ar-Rum: 41 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan yang disebabkan oleh tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Bagi segelintir orang, yakni para kapitalis (pemilik modal), pembangunan dan eksploitasi alam tersebut sangatlah menguntungkan. Tapi bagi masyarakat lainnya, bukannya untung, melainkan nasib buntung yang didapatkan. Banyak manusia yang kehilangan harta, bahkan nyawa. Beragam bencana menimbulkan kesengsaraan jutaan umat manusia.

Sifat konsumerisme masyarakat yang dibangun oleh kapitalisme mengarahkan pada konsumsi dan produksi yang tinggi. Hal ini memicu eksploitasi alam besar-besaran. Gaya hidup hedonisme membuat masyarakat berlomba meraih kesenangan pribadi tanpa peduli kepentingan orang lain, juga tak memperhatikan keseimbangan alam. Demikianlah, keserakahan kapitalisme telah merusak segalanya.

Sayangnya, ketika berbicara kerusakan alam, kebanyakan orang melihat hanya dari masalah cabang. Maka solusi yang diberikan pun hanya di tingkat cabang, belum menyentuh akar permasalahan. Bersifat individual, tidak menyentuh sistem yang mengatur kehidupan.

Begitu pula kebijakan yang dikeluarkan penguasa, kadang diskriminatif dan kontradiktif. Masyarakat dilarang melakukan penebangan liar (illegal logging), tapi deforestasi (perusakan hutan) oleh aktivitas tambang maupun pembangunan terus diizinkan, bahkan dilegislasi dengan undang-undang. Masyarakat dilarang membakar lahan saat kemarau, tapi kasus pembakaran lahan oleh perusahaan sawit dibiarkan.

Hal ini persis seperti yang disampaikan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 11-12 yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tapi mereka tidak merasa.”

Islam Pancarkan Rahmat bagi Semesta

Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak merupakan hak kepemilikan umum. Tidak boleh dikuasai secara individu atau golongan tertentu. Begitu pun negara tidak punya hak menyerahkannya pada swasta. Negara bertanggung jawab mengelolanya untuk sebesar-besar kepentingan masyarakat. Negara menjaganya agar membawa kemanfaatan untuk semua, bukan malah menimbulkan kemudaratan.

Konsep pembangunan di dalam Islam berbeda jauh dari konsep yang dijalankan oleh kapitalisme. Islam sangat memperhatikan nilai spiritual, kemanusiaan, moral, dan materi. Semua nilai tersebut diatur berdasarkan syariat agar tercipta sebuah harmoni dalam masyarakat.

Dalam Islam, tujuan dari pembangunan berorientasi pada penyelamatan dan kesejahteraan publik, bukan keuntungan segelintir orang saja. Pembangunan tersebut juga harus memperhatikan keseimbangan alam. Allah telah memberikan amanah kepada manusia sebagai pengelola bumi, bukan penguasa yang bisa berbuat sekehendaknya. Allah membolehkan manusia menikmati apa yang ada di bumi, namun dilarang bersikap berlebihan termasuk sifat serakah dalam mengeksploitasi alam.

Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf: 56 yang artinya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Inilah sedikit gambaran konsep Islam terkait pembangunan dan pengelolaan alam. Konsep ini tak bisa lepas dari sistem Islam yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Ketika sistem ini diterapkan, maka kebaikan (rahmat) akan terpancar untuk semua. Tak hanya manusia, tapi juga seluruh alam semesta. Masihkah kita ragu untuk mengambilnya? []

Wallahu a’lam.[]

Ganasnya Jebakan Pinjol, di Mana Fungsi Negara?

"Permasalahan jeratan pinjaman online tentu tidak akan dialami oleh rakyat, jika mereka paham akan haramnya riba. Apalagi ketika segala kebutuhan pokoknya dipenuhi oleh negara."

Oleh. Rahmiani Tiflen, Skep
(Voice of Muslimah Malang)

NarasiPost.Com-Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, begitulah hidup seorang manusia di dunia. Manusia tidak pernah tahu seperti apa akhir kehidupan yang akan ditemuinya. Namun tentu saja sebagai orang beriman, kita senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Swt., untuk mendapatkan akhir hidup yang husnul khotimah serta terbebas dari jeratan utang. Sebab begitu berbahaya kedudukan utang bagi amal-amal yang lainnya, bahkan sejak dulu Rasulullah senantiasa melantunkan doa agar terbebas dari bahaya berutang; “Allahumma inni a’uudzu bika min al-ma’tsami wa al-maghram. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan lilitan utang.”

Demikian dahsyatnya lilitan utang, hingga bisa menyebabkan seseorang menghabisi diri sendiri dengan jalan bunuh diri. Seperti yang dialami seorang pria berinisial S. Ia ditemukan terbujur kaku di dekat kantin kolam renang Stadion Gajayana sekitar pukul 06.45 WIB. Tepatnya di dalam ruang pompa kolam renang, dan ditemukan oleh petugas parkir di sekitar TKP.

Dari berbagai keterangan yang disampaikan oleh keluarga korban pada pihak kepolisian, Kapolsek Klojen AKP Dominggus FE Ximenes menyebut bila korban nekat bunuh diri lantaran terjerat masalah ekonomi. Senada dengan penuturan salah satu saksi mata yang juga merupakan penjaga di Stadion Gajayan. Dikatakannya bahwa korban memang sering mengeluh soal ekonomi. Sementara itu dari penyelidikan yang dilakukan ditemukan pula fakta bahwa kejadian tersebut adalah murni sebagai bunuh diri (Radar Malang, 19/10/21)

Kasus serupa pun dialami oleh pria berinisial MEM. Menurut dugaan kuat, korban nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri karena tidak tahan terhadap teror dari penagih utang pinjaman online. Hal tersebut disampaikan oleh Kapolsek Pakis AKP M. Lutfi.

Kedua kasus di atas hanya sebagian kecil di antara kasus pinjaman online yang akhirnya mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang. Terlebih bagi mereka yang terdesak akan tuntutan ekonomi. Sayangnya lilitan pinjol kian hari semakin menggila, bahkan tak tanggung-tanggung melakukan teror atas si peminjam. Lebih parah lagi pihak pinjol dapat melakukan tagihan dengan mengakses semua kontak yang terdapat di telepon genggam si peminjam termasuk teman-teman dan juga tetangga korban (Okezone.com, 23/10/21).

Sekelumit Problematika Umat

Sepanjang bulan Januari hingga Juli 2021 saja, Kominfo telah mencatat serta menangani 447 kasus pinjaman online atau fintech ilegal. Semua diakibatkan iming-iming proses mudah dan cepat, tanpa syarat, survei, dan juga tanpa agunan. Semudah itu seseorang mendapatkan dana, sehingga mengakibatkan banyak pula yang terjebak dalam aktivitas pinjol tanpa menyadari apa efek yang akan ditanggung di kemudian hari.

Maraknya kasus pinjaman online yang menimpa masyarakat, semata-mata bukan diakibatkan faktor individu semata, namun disebabkan pula oleh kondisi negara yang kian sulit. Terlebih di masa pandemi saat ini, di mana situasi perekonomian Indonesia semakin terpuruk hingga berujung resesi. Di samping itu sempitnya lapangan pekerjaan turut serta mempersulit kondisi perekonomian rakyat, ditambah lagi dengan tingginya harga kebutuhan bahan pokok. Semua itu semakin mendorong rakyat untuk menempuh jalan pintas meski berisiko tinggi.

Sementara itu kondisi individu saat ini yang begitu jauh dari syariat Islam, menjadikannya tak peduli akan praktik riba dalam setiap aktivitas pinjaman online. Akhirnya ketika seseorang tak mampu lagi melunasi utang-utangnya, maka bunuh diri menjadi pilihan yang ditempuh sebagai sebuah solusi guna menghindari teror dari para penagih pinjol.

Di sisi lain, negara seolah berlepas tangan dan hilang kepedulian atas situasi memprihatinkan yang tengah dialami oleh rakyatnya. Permasalahan ekonomi dan juga keterpurukan hidup harus ditanggung sendiri oleh tiap-tiap individu. Pemimpin dalam sistem hari ini tidak dapat bertindak sebagai pengurus kebutuhan rakyat. Alih-alih membantu rakyat dari jerat kemiskinan, malah pemerintah semakin memberatkan rakyat dengan berbagai beban pajak.
Tentu semuanya terjadi akibat dari ditinggalkannya syariat Islam dalam kehidupan (sekularisme) serta menggantikannya dengan sistem buatan manusia yaitu kapitalisme. Permasalahan jeratan pinjaman online tentu tidak akan dialami oleh rakyat, jika mereka paham akan haramnya riba. Apalagi, ketika segala kebutuhan pokoknya dipenuhi oleh negara.

Khilafah adalah Solusi Jitu

Oleh sebab itu, hingga kapan pun jeratan pinjaman online akan terus menjadi momok bagi rakyat. Terlebih, jika upaya penanganannya hanya bersifat parsial. Sebab, permasalahan tersebut merupakan tanggung jawab negara. Untuk mengatasi persoalan pinjol negara wajib menyelesaikannya dari akar permasalahan, yaitu sistem kapitalisme yang kini mengimpit kehidupan setiap manusia. Saat ini umat membutuhkan sistem pemerintahan yang dapat menjadi pelindung serta mengatasi dan juga mengurus kehidupan mereka, sistem yang hanya dimiliki oleh Islam yaitu Khilafah Islamiyah.

Di mana Khilafah akan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) serta melarang segala aktivitas riba beserta lembaganya baik itu fintech, perbankan, leasing, dan lain sebagainya. Sementara itu Khilafah pun akan terus memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi serta, mengatasi segala permasalahan ekonomi setiap warga dengan pemerataan kesejahteraan.

Terbukanya lapangan pekerjaan dengan mudah, sehingga para lelaki yang notabene merupakan pemimpin dalam keluarganya tidak akan kesulitan dalam mencari nafkah. Khilafah pun diperkuat oleh lembaga Baitul Mal yang mana ketika seseorang kesulitan dalam masalah finansial maka mereka dapat meminta bantuan kepada negara. Bantuan tersebut dapat berupa zakat, santunan, hibah, hingga pinjaman tanpa riba.

Begitu pun umat Islam, mereka akan senantiasa terdorong untuk membantu kesulitan saudaranya sesama muslim yang tertimpa masalah ekonomi dengan tanpa memberikan pinjaman riba. Untuk itu segala permasalahan yang kini dialami oleh seluruh umat manusia, tak akan pernah selesai jika Islam belum dijadikan sebagai sistem kehidupan dan juga bernegara.

Demikianlah Islam, ia hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21] ayat 107).

Wallahu'alam bi ash-showwab.[]

Wajah Generasi dalam Pelukan Liberalisasi

"Tawuran, narkoba, miras, hingga pergaulan bebas adalah masalah-masalah yang mengitari generasi muda dalam pelukan sistem liberal hari ini. Jika hal tersebut dimaklumi sebagai bagian dari kehidupan modern khas pemuda masa kini, tentu kehancuran masa depan peradaban menanti di depan mata. Perlu ada upaya sistematis untuk mengembalikan generasi muda kepada jati diri penciptaannya, yakni sebagai seorang hamba yang kuat mendekap taat kepada Rabbnya."

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
(Redpel NarasiPost.com)

NarasiPost.Com-Negeri ini patut berbangga sebab memiliki banyak SDM berusia muda. Namun sayangnya, kuantitas tak berbanding lurus dengan kualitas. Generasi muda hari ini justru seringkali tersandung beragam kasus kejahatan hingga perbuatan amoral.

Sebagaimana yang baru-baru ini terjadi di Jatinegara, Jakarta Timur. Antarpemuda terlibat tawuran dengan menggunakan senjata tajam. (Kompas.com/22-11-2021)

Sebelumnya, di Pancoran Mas, Depok Tim Jaguar berhasil mengamankan lima pemuda yang diduga akan melakukan tawuran. Dalam pengamanan tersebut, didapati tiga buah celurit, sebilah pedang, dan satu buah stik golf. Menurut Ketua Tim Jaguar Polrestro Depok, Iptu Winam, rencana aksi mereka telah terendus lewat media sosial. (Kompas.com/17-11-2021)

Sungguh ironis, sebagian generasi muda hari ini sungguh jauh dari profil pemuda intelek, berakhlak mulia dan bertakwa. Sebaliknya, mereka justru banyak menjadi pelaku kejahatan bahkan terlibat dengan aneka penyimpangan.

Liberalisasi Mengikis Jati Diri

Masifnya propaganda liberalisasi di negeri-negeri kaum muslimin, termasuk Indonesia, telah sukses melepaskan generasi muda dari ikatan ketaatan terhadap ajaran agamanya. Mereka digiring menjadi sosok pemuja hawa nafsu dan kebebasan dalam berpikir serta bersikap. Maka, jamak ditemui di sistem hari ini, generasi muda yang telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim.

Ketika dihadapkan pada masalah, kekerasan kerap diambil sebagai solusi. Amarah mudah bangkit hanya karena terpantik oleh hal yang teramat sepele. Begitulah, sosok generasi dalam didikan sistem liberal hari ini. Mudah tersulut amarah, mudah rapuh jiwanya, serta labil pendiriannya.

Sejatinya liberalisasi merupakan agenda Barat dalam menumbangkan potensi generasi muda muslim sebagai pembangun peradaban Islam. Dengan serangan liberalisme, generasi muslim dikikis jati dirinya, sehingga mereka tumbuh bersama beragam masalah di dalam dirinya sendiri. Alih-alih memikirkan urusan umat dan masa depan peradaban, menjadi problem solver atas dirinya sendiri saja kerap menemukan jalan buntu.

Tawuran, narkoba, miras, hingga pergaulan bebas adalah masalah-masalah yang mengitari generasi muda dalam pelukan sistem liberal hari ini. Jika hal tersebut dimaklumi sebagai bagian dari kehidupan modern khas pemuda masa kini, tentu kehancuran masa depan peradaban menanti di depan mata. Perlu ada upaya sistematis untuk mengembalikan generasi muda kepada jati diri penciptaannya, yakni sebagai seorang hamba yang kuat mendekap taat kepada Rabbnya.

Sistem Islam Menyelamatkan Generasi

Jika dalam pelukan liberalisme, generasi muda menjadi sosok yang diselimuti problematika, maka dalam dekapan sistem Islam generasi muda mampu tampil sebagai sosok pencerah di tengah-tengah umat. Betapa tidak, sistem Islam membentuk pola pikir dan pola sikap islami sehingga menjadikan generasi muda memiliki kekhasan dalam bersikap dengan akidah Islam sebagai asasnya. Lihat saja, bagaimana profil generasi muda yang hidup di masa Rasulullah dan kekhilafahan Islam, sangat patut menjadi teladan. Usia muda tidak membuat mereka terlena dan terlarut dalam hura-hura, akan tetapi justru mereka memanfaatkan masa muda untuk sebaik-baiknya beramal salih dan berjuang menegakkan kalimatullah.

Kepribadian mereka sangat agung, cermin dari ketakwaan yang menghujam di dada-dada mereka. Sebut saja, Zaid bin Haritsah, Mush'ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al-Fatih, adalah sosok-sosok pemuda yang namanya harum dalam perjuangan menegakkan dienul Islam. Jelaslah, bahwa sistem Islam mampu menyelamatkan generasi muda dari pemikiran dan pemahaman yang merusak. Adapun upaya sistemis dalam mewujudkan generasi muda berkepribadian Islam adalah dengan menjadikan keluarga sebagai madrasatul'ula (sekolah pertama) dalam proses penancapan akidah dan pengenalan syariat Islam bagi generasi. Selanjutnya, sistem Islam akan menetapkan sistem pendidikan Islam bagi lembaga-lembaga pendidikan formal, yakni kurikulum dan metode pengajarannya berasaskan pada akidah Islam. Sebab output pendidikan yang diharapkan adalah generasi intelektual yang memiliki skill mumpuni serta syahksiyyah Islam (kepribadian Islam) yang kokoh. Kemudian, secara kuratif, sistem Islam memiliki mekanisme sanksi yang tegas bagi pelaku kriminalitas dan penyimpangan terhadap syariat. Sistem Islam tidak akan menganulir sebuah sanksi hanya karena menganggap pelakunya masih di bawah umur. Sebab dalam pandangan Islam, setiap anak yang sudah mencapai baligh ia terhitung bukan lagi anak-anak, melainkan sudah terkena taklif (beban) hukum syara. Segala perbuatan mereka, selayaknya orang dewasa, sudah diperhitungkan dan dikenai sanksi tegas oleh negara.

Jadi, jelaslah bahwa sistem Islam menawarkan kesempurnaan bagi pembentukan generasi beradab, jauh dari tindakan biadab. Adapun sistem. Islam tersebut termanifestasi dalam sebuah institusi yang disebut Khilafah Islamiyah. Di bawah naungannya, generasi emas akan terwujud. Sungguh, penerapan sistem Islam merupakan sesuatu yang tak bisa ditawar lagi. Wallahu'alam[]

Tolak Permen PPKS! Islam Solusi Tuntas Mengatasi Kekerasan Seksual

"Akar persoalan dari kekerasan seksual yang semakin marak terjadi adalah akibat penerapan ideologi kapitalisme. Kapitalisme melahirkan akidah sekuler sehingga terbentuk pemikiran dan perilaku yang serba bebas tanpa aturan (liberal) di negeri ini."

Oleh. Sri Puji Hidayati, M.Pd.

NarasiPost.Com-Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim telah menerbitkan Peraturan Menteri No.30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Pengamanan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi yang selanjutnya menjadi Permen PPKS. Pertimbangan ditetapkannya Permen PPKS adalah semakin maraknya kekerasan seksual yang terjadi, termasuk lingkungan kampus. Tentunya, masalah kekerasan seksual ini begitu meresahkan bagi masyarakat, khususnya umat Islam. Tidak dipungkiri, kekerasan seksual memang kian marak terjadi di berbagai tempat, termasuk di lingkungan kampus.

Tampaknya, fakta kasus kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi kian merebak dan begitu susah untuk mengatasinya secara tepat. Wajar adanya jika perkara ini membutuhkan upaya dan solusi yang tuntas untuk menyelesaikannya, seperti Permen PPKS tersebut. Sayangnya peraturan yang dikeluarkan ini justru menuai kontroversi. Pro dan kontra terus bergulir, PDIP dan Kementerian Agama mendukung akan Permen PPKS ini. Sementara, beberapa kalangan, tokoh dan pejabat meminta pak Menteri Nadiem untuk mengkaji ulang dan merevisi peraturan yang baru saja ditetapkannya itu. Bahkan, Majelis Ormas Islam secara terang-terangan menolak Permen PPKS ini.

Sebenarnya, masalah kekerasan seksual bukan suatu persoalan baru. Kasusnya yang tampak hanya terlihat pada permukaannya saja, bagaikan fenomena gunung es, jumlah kasus yang tidak terlaporkan jauh lebih banyak daripada yang terdeteksi. Kondisi tersebut semestinya menjadi alarm bersama, untuk menelisik akar persoalannya, bukan sibuk dengan menerbitkan peraturan yang justru malah menimbulkan kontroversi. Pihak kontra mempunyai alasan kuat atas penolakan Permen PPKS ini, karena disinyalir Permen PPKS ini malah menjadi gerbang legalisasi zina di lingkungan kampus.

Frasa consent atau persetujuan korban yang terdapat dalam pasal 5 pada Permen PPKS inilah hal yang menuai kontroversi dari berbagai pihak, karena menimbulkan multitafsir. Kata consent ini diulang-ulang beberapa kali dalam peraturan tersebut. Definisi dari ‘tanpa persetujuan korban’ adalah apabila ada persetujuan korban alias suka sama suka, maka tidak termasuk dalam pelanggaran Permen PPKS dan perbuatan ini tidak akan dikenakan sanksi. Lantas, aktivitas seksual dengan adanya persetujuan dari korban berarti diizinkan terjadi di lingkungan kampus yang notabenenya, kampus merupakan sarang lahirnya generasi penerus bangsa ini? Menjadi suatu hal yang wajar jika masyarakat menilai bahwa peraturan ini menjadi pintu gerbang legalisasi zina di kampus.

Akar persoalan dari kekerasan seksual yang semakin marak terjadi adalah akibat penerapan ideologi kapitalisme. Kapitalisme melahirkan akidah sekuler sehingga terbentuk pemikiran dan perilaku yang serba bebas tanpa aturan atau liberal di negeri ini. Agama hanya boleh mengatur ranah urusan ibadah individu saja dan meminggirkan peran agama dalam urusan kehidupannya. Selain itu sanksi yang diberikan tidak memberikan efek jera. Dengan demikian, yang seharusnya diberantas tuntas adalah sistem kapitalisme sekularisme yang diterapkan saat ini.

Islam merupakan solusi tuntas untuk mengatasi kekerasan seksual baik secara kuratif (penanggulangan) maupun preventif (pencegahan). Mekanisme Islam dalam memberantas kekerasan seksual adalah dengan menerapkan sistem pergaulan Islam yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan, baik dalam ranah individu maupun sosial. Islam akan menutup berbagai kegiatan yang bisa menimbulkan kekerasan seksual, seperti mengumbar aurat dan sensualitas di tempat umum, situs porno, dan lainnya. Islam akan memberikan pembinaan akidah yang kuat serta menjaga akal, jiwa, dan juga kehormatan warganya. Sehingga, akan membentuk masyarakat yang senantiasa melakukan amar makruf nahi mungkar. Sanksi tegas juga akan ditegakkan bagi para pelaku, apabila belum menikah dijilid (dicambuk) di tempat umum, jika pelakunya sudah menikah dia sampai mati. Hukuman yang seperti itu akan menimbulkan efek jera bagi yang lain dan juga sebagai penebus dosa bagi pelaku yang telah dilakukannya jika sampai pada waktunya di hari perhitungan nanti.

Jelas sudah, bahwa Permen PPKS bukanlah solusi atas kasus kekerasan seksual yang semakin merebak di kampus. Alih-alih memberantasnya, yang terjadi malah membuka lebar gerbang legalisasi zina di lingkungan kampus. Tanpa adanya Permen PPKS saja, kondisi kehidupan kampus sudah tidak karuan, apalagi dengan diterapkan aturan tersebut, generasi penerus menjadi taruhannya. Tentunya keadaan seperti ini sangat meresahkan, oleh karena itu Permen PPKS harus ditolak dan itu bukanlah solusi atas kasus kekerasan seksual yang kian marak. Islamlah solusi atas seluruh persoalan yang melanda negeri ini, termasuk kekerasan seksual. Seluruh mekanisme yang dimiliki Islam untuk memberantas kekerasan seksual dapat terlaksana, ketika seluruh aturan Islam diterapkan secara menyeluruh dan totalitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wallahu a'lam bi ash-shawab[]

Bila Rambutku Mulai Memutih

"Wahai Rabb-ku, kini rambutku mulai memutih, maka anugerahkanlah kepadaku kemuliaan dan kewibawaan. Tambahkanlah rasa takutku pada-Mu, jauhkan diriku dari kecintaanku yang berlebihan terhadap dunia."

Oleh. Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Tua adalah keniscayaan. Walaupun tua bukan syarat untuk mati, namun ketika usia mulai menua, maka kematian pun seakan melambai di depan mata. Menjadi tua adalah anugerah dari Allah. Ia pasti akan datang, tak peduli kita cegah dengan berbagai macam operasi yang menyakitkan maupun suntikan kolagen yang mahal dan merepotkan.

Usia tua, biasanya ditandai dengan mulai tumbuhnya uban di kepala. Ya, meskipun di akhir zaman ini tidak sedikit orang muda pun sudah beruban, dikarenakan makanan yang tak sehat serta stres pikiran memikirkan pekerjaan. Namun, alaminya uban memang menjadi penanda bahwa kita tak lagi muda. Bahwa kita sudah saatnya tahu diri, dan mulai memperbanyak perbekalan menuju kampung akhirat.

Allah menciptakan segala sesuatu tentu tak ada yang sia-sia. Akan selalu ada hikmah bagi manusia di baliknya, begitu pun dengan uban. Uban memiliki banyak arti bagi manusia.

Pertama, menjadi pengingat akan semakin dekatnya ajal. Dalam Al-Qur'an surat Fathir ayat 37 Allah berfirman,"Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah olehmu azab Kami dan tidak ada bagi orang yang zalim seorang penolong pun"

Dalam kitab tafsirnya pada jilid 6, halaman 542, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa, para ulama tafsir seperti Ibnu Abbas, Ikrimah, Qatadan, Ibnu ‘Uyainah dan yang lainnya, menyebutkan sang pemberi peringatan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah uban. Karena memang lazimnya uban datang pada usia senja. Mengingatkan manusia bahwa ia telah sampai di penghujung jalan kehidupan, waswas menunggu tamu bernama ajal itu datang. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam pun bersabda dalam hadis riwayat Imam At Tirmidzi,"Umur umatku di antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit yang melebihi itu."

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata dalam kitabnya Lathaiful Ma'arif, jilid 1, halaman 346, "Siapa saja yang telah beruban, maka kedudukannya laksana seorang wanita hamil, yang telah genap bulan kehamilannya (yaitu 9 bulan). Maka tidak ada lagi hal yang dia nanti-nantikan melainkan persalinan. Begitu pula keadaan orang yang telah beruban. Tak ada lagi yang ia tunggu kecuali kematian. Maka betapa buruknya ia jika terus menerus melakukan perbuatan dosa." Sedangkan, Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya,“Uban, demam, dan kematian bagi manusia, merupakan peringatan akan kematian."

Kedua, uban haruslah menjadikan seseorang tak lagi tamak terhadap dunia. Tumbuhnya uban haruslah menyadarkan manusia, bahwa ia tidaklah selamanya berada di dunia ini. Keberadaannya di dunia ini hanyalah sekejap saja dibandingkan dengan keberadaannya kelak di akhirat. Uban haruslah dapat mencegah kita dalam membangun harapan kosong pada dunia, dan menjadi lebih giat lagi dalam upaya mengumpulkan bekal akhirat. Sufyan Ats-Tsauri berkata,"Zuhud terhadap dunia akan memupuskan harapan semu. Ia tidak akan lagi berlebihan dalam perkara makanan juga pakaian."

Ketiga, uban yang tumbuh di rambut kita akan bersinar di hari kiamat kelak. Maka jangan mencabutnya, karena artinya kita akan kehilangan cahaya pada hari kiamat nanti. Diceritakan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadis riwayat Abu Daud no. 4204. Hadis ini telah disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib wa Tarhib no. 2091,"Janganlah kamu mencabut uban. Tidaklah seorang muslim yang memiliki sehelai uban, kecuali uban itu akan menyinarinya kelak pada hari kiamat."

Ka’b bin Murroh radhiallahu’anhu berkata "Saya pernah mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa telah beruban dalam keadaan Islam, maka dia akan memperoleh cahaya di hari kiamat nanti" Hadis ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 1634, dan dishahihkan oleh Syaikh A-Albani dalam Shahih Tirmidzi.

Keempat, uban haruslah menjadi faktor yang mendorong seorang untuk lebih giat beramal saleh. Orang-orang yang menggunakan akalnya haruslah menjadi lebih giat lagi dalam melakukan kebajikan dengan telah tumbuhnya uban di kepalanya. Dia akan menjadi lebih peka dan bersemangat menunaikan hak-hak Tuhannya juga sesamanya. Ia akan lebih teliti lagi dalam beramal dan berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya. Dalam sanadnya Ibnu Abi Dunya telah meriwayatkan, bahwa Bakr bin Abdillah Al-Muzani pernah berkata,"Bila Anda ingin memperoleh manfaat dari salat yang Anda kerjakan, maka katakanlah pada diri Anda sendiri, bisa jadi setelah ini aku tidak akan sempat salat lagi."

Kelima, sikap tabah dan wibawa akan terpancar karena tumbuhnya uban. Uban, menjadi penanda bahwa usia kita tak lagi muda. Telah banyak asam garam yang kita temui. Telah banyak ujian hidup yang telah kita lalui. Maka itu haruslah cukup menjadikan kita lebih matang dalam menyikapi hidup, sehingga kita akan lebih tabah dalam segala cobaan dan akan lebih berwibawa dalam menyelesaikan setiap tantangan. Maka benarlah dalam Islam orang yang umurnya lebih tua mereka berhak untuk dimuliakan dan dihormati.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda dalam hadis Hasan riwayat Abu Dawud. Dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu, dia berkata,”,"Sesungguhnya termasuk dari pengagungan kepada Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah beruban (orang tua)."

Dalam kitab Syarh Sunan Abu Dawud, 'Aunul Ma’buud 13/192 karya Abi Tayyib Muhammad Syamsul Haqq Al'dzim Abadi Thaliq, disebutkan memuliakan orang yang lebih tua dengan bersikap sopan kepadanya ketika berkumpul dengan kita, menjadi pendengar yang baik baginya, serta mengambil hikmah atas pengalaman kehidupan yang telah dilaluinya.

Dijelaskan pula Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadis riwayat Bukhori dalam Al-Adabul Mufrad 120, Imam Malik dalam Al-Muwatta’ 9/58, bahwa Sa’id bin Musayyib berkata, "Ibrahim merupakan orang pertama yang menjamu tamu, berkhitan, memotong kumis, dan orang pertama yang saat melihat uban kemudian ia berkata; Apakah ini duhai Tuhanku? Maka Allah berfirman; kewibawaan wahai Ibrahim. Ibrahim berkata: Duhai Tuhanku, tambahkan kewibawaan itu padaku."

Dari sinilah kemudian jumhur ulama menyimpulkan hukum dan kemudian dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, bahwa hukum mencabut uban adalah makruh. Bahkan, ada sebagian kecil ulama yang mengharamkannya. Contohnya Al-Baghawi rahimahullah , dalam pernyataannya yang dinukil oleh Imam An Nawawi dalam kitab Al-Majmu', “Andai mau dikatakan haram karena adanya larangan yang tegas mengenai ini (mencabut uban), maka tidak mustahil. Adalah sama halnya antara mencabut uban pada rambut kepala maupun jenggot.”

Maka wahai Rabb -ku, kini rambutku mulai memutih, maka anugerahkanlah kepadaku kemuliaan dan kewibawaan. Tambahkanlah rasa takutku pada-Mu, jauhkan diriku dari kecintaanku yang berlebihan terhadap dunia. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersemangat dalam melaksanakan amal saleh dan bersegera dalam bertobat. Jadikanlah diriku siap jika maut itu datang setiap saat tanpa diduga, perbaikilah akhir kehidupanku, dan jadikanlah surga tempat kembaliku.

Wallahu 'alam.[]

Kilang Minyak Kebakaran Lagi: Saatnya Ganti Sistem Tata Kelola

"Dalam sistem kapitalistik peluang negara untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya tampak setengah hati, alias tak banyak. Peran yang dominan adalah sebagai regulator, yakni pihak yang mengantarkan para pengusaha swasta bertransaksi dengan lembaga negara."

Oleh. Ina Agustiani, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

NarasiPost.Com-Nyatanya, sulit dipercaya jika faktor alam penyebab utama kebakaran kilang minyak di Cilacap. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar itu bisa kebakaran dua kali dalam satu tahun di tempat yang sama. Entahlah, karena faktor kesalahan mesin atau human error, yang pasti mudah-mudahan bukanlah suatu alasan korporasi yang sengaja diciptakan. Jika itu benar adanya, maka tamatlah nurani manusia, demi untung besar mengorbankan rakyat.

Pada hari Sabtu 13 November kilang minyak Cilacap, Jawa Tengah terbakar sekitar pukul 20.00 WIB, keesokan harinya api baru benar-benar bisa dipadamkan secara total. Hal ini dibenarkan oleh Nicke Widyawati selalu direktur utama PT Pertamina, api pertama bisa dipadamkan sekitar 80 menit, dan api kedua terjadi di tangki 36T102 karena form terbuka lalu dilakukan fire fighting hingga esok pagi (14/11/2021). Selama sebelas bulan terakhir, ada tiga kali kebakaran di kilang minyak milik Pertamina yang terjadi saat hujan disertai petir, dua kali di Kilang Cilacap dan satu kali di Kilang Balongan.

Peluang Impor Terbuka Lebar

Fahmi Radhi selaku pengamat Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai bahwa kebakaran yang terjadi dalam setahun ini ada faktor kesengajaan, bisa jadi untuk meningkatkan kuota impor minyak. Indikasi dari pihak tertentu untuk meningkatkan volume impor pasca kebakaran lahan basah untuk pemburuan rente. Kejadian berulang ini mengindikasikan abainya Pertamina dalam pengamanan kilang, selain menghabiskan berton-ton minyak juga terancamnya keselamatan warga sekitar dekat area kilang.

Masih ada kilang saja impor nasional sudah besar, apalagi sesudah kebakaran. Melansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) impor minyak Indonesia sebesar 10,57 juta barel kurun waktu Januari-Juli 2021, tahun 2020 tidak jauh beda sebesar 10,33 juta barel. Jika dikonversi dalam bentuk uang mencapai 6,18 miliar dolar AS, dan itu masih meningkat 48 persen yang sebelumnya 4,18 miliar, lagi-lagi karena lonjakan harga minyak dunia yang naik. Jelas ini memperburuk kinerja Pertamina pada bagian keuangan.

Pertamina sendiri mengklaim telah melakukan berbagai pengamanan dan pencegahan, di antaranya pemasangan penangkal petir di area tangki, pemasangan fire gas detektor, sampai inspeksi las secara rutin.

Tata Kelola Kapitalistik

Dalam sistem kapitalistik peluang negara untuk menyediakan kebutuhan rakyatnya tampak setengah hati, alias tak banyak. Peran yang dominan adalah sebagai regulator, yakni pihak yang mengantarkan para pengusaha swasta bertransaksi dengan lembaga negara. Selanjutnya, terserah kedua belah pihak mau bagaimana, yang penting dapat keuntungan, nasib rakyat tidak terlalu dipedulikan. Privatisasi BUMN dengan menjual semua aset, berujunglah kerugian dan impor solusi terakhir dan praktis tetapi mematikan.

Pengelolaan Minyak dalam Islam

Islam punya solusi, maka dalam penanganannya negara Khilafah punya cara dalam pengelolaannya, termasuk barang tambang khususnya minyak. Aturan ini datang dari Allah untuk menghapus pengurusan hidup umat manusia, dan menutup celah kerusakan yang ditimbulkan baik itu yang disengaja atau tidak. Islam membagi kepemilikan harta menjadi tiga, individu, umum, dan negara. Untuk umum adalah SDA yang kepemilikannya untuk rakyat, individu tidak boleh memilikinya.

Dalam kepemilikan umum harta yang diperoleh ada tiga jenis yaitu barang kebutuhan umum, barang tambang besar, dan SDA yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dikuasai individu. Minyak ini merupakan barang yang melimpah, maka jelas haram dimiliki individu dan menjadi kepemilikan bersama. Negara berhak mengelola dengan sistem politik Islam, memberikan penguasa dengan amanah tertinggi ‘pelayan rakyat', yang hidupnya digunakan untuk mengabdi pada Allah.

Negara bisa saja memperkerjakan swasta asing dalam pengembangan kilang minyak, tetapi hanya sebagai pekerja, bukan sebagai pemain dan pengelola. Dengan orang-orang pilihan yang dedikasi hidupnya taat pada hukum syarak, kecanggihan teknologi, sarana memadai, potensi-potensi kerusakan yang ada dapat tertangani dengan baik, dengan itulah tata kelola harus berdasarkan syariat Islam. []


Photo : Pinterest

Mewaspadai Arah Tujuan Moderasi Agama

"Seolah sumber perpecahan itu terletak pada Islam dan umat muslim. Sehingga, harus ditata dan diarahkan agar bermetamorfosis menjadi muslim moderat."

Oleh. Sarie Rahman
(Komunitas Ibu Bahagia)

NarasiPost.Com-Di negeri ini intoleran seakan tak ada habisnya diperbincangkan. Berbagai upaya terus digalakkan di masyarakat tentang moderasi beragama. Sampai pada dunia pendidikan pun menjadi sasaran, kurikulum moderasi agama ditetapkan untuk membentuk karakter generasi agar bisa lebih toleran. Itu artinya moderasi agama mulai ditanamkan dalam kurikulum pendidikan.

Seperti diungkap Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, yang mengategorikan intoleransi sebagai salah satu dosa dalam sistem pendidikan kita. Hingga dirasa perlu merancang kurikulum moderasi beragama untuk menghapus intoleransi. (detikNews.com,23/9/2021).

Bahkan, di bidang seni pun tak luput dari incaran moderasi beragama. Balitbang Diklat Kemenag RI yang bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) telah meluncurkan komik Madani di Solo Jawa Tengah, berupaya mengedukasi masyarakat tentang moderasi beragama melalui seni (dikutip dari antaranews.com,08/11/2021).

Sedangkan Kemenag sendiri telah merilis empat standar moderasi beragama sebagai pedoman teknis pelaksanaannya. Pertama, standar pendidikan karakter melalui moderasi beragama. Kedua, standar penguatan wawasan moderasi beragama. Ketiga standar peleburan moderasi beragama pada pendidikan Islam. Keempat standar pengembangan dan pengelolaan kegiatan moderasi beragama bagi siswa (republika.co.id,23/9/2021).

Moderasi agama secara istilah tidak bisa dimungkiri, bukan lahir dari ajaran Islam. Namun, di Indonesia istilah ini terus disuarakan dalam dunia pendidikan, seiring bergulirnya opini tentang munculnya bibit-bibit radikalisme dominan yang terdapat di dunia pendidikan.

Dalam kerangka politik masa kini, menurut penggagasnya di Indonesia, moderasi agama ditandai empat indikator. Pertama, adanya keterikatan nasionalisme, yaitu menerima asas kebangsaan dalam UUD 1945 dan berbagai konstitusi di bawahnya. Kedua, terdapat toleransi dalam bentuk menghormati perbedaan dengan memberi celah bagi orang lain berkeyakinan, mengaktualkan keyakinan dan menyampaikan pendapatnya. Ketiga, bersikap anti kekerasan yaitu menolak cara-cara kekerasan yang dilakukan seseorang atau kelompok tertentu baik fisik ataupun verbal dalam mengusung perubahan yang diinginkannya. Keempat, ramah terhadap kultur budaya lokal dalam integritas keagamaan, sepanjang tidak bertentangan dengan substansi ajaran Islam.

Empat indikator moderasi agama di atas secara konsep terlihat baik. Namun dalam pengamatan, faktanya moderasi agama sangatlah berbahaya dan pada pelaksanaannya sangat tidak adil jika hanya difokuskan pada agama Islam saja. Seolah sumber perpecahan itu terletak pada Islam dan umat muslim. Sehingga, harus ditata dan diarahkan agar bermetamorfosis menjadi muslim moderat. Bahkan, tanpa disadari pluralisme menancap kuat pada anak didik hingga memiliki pemahaman semua agama sama, hanya tata cara beribadahnya yang berbeda. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi keimanan generasi muslim, dan berbahaya pula terhadap cara pandang serta perbuatan dalam kehidupannya sehari-hari di masa mendatang.

Islam Agama Sempurna

Sebagaimana Allah Swt. berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.“ (QS. Al-Maidah : 3)

Sebagai muslim sudah sepatutnya kita meyakini sepenuh hati agama yang dianut adalah akidah sekaligus ideologi yang memiliki aturan hidup lengkap. Sudah selayaknya kita menjalankan Islam dengan kekhusyukan serta menyebarkannya sebagai media dakwah.

Lantas, pantaskah dikatakan intoleran jika umat Islam menjalankan apa-apa yang diyakininya, hanya karena umat Islam menolak untuk mengucap selamat pada agama lain yang sedang merayakan hari rayanya atau menilai L68T sebagai sebuah kemaksiatan, atau tidak mau masuk ke dalam rumah ibadah agama lain atau apa pun terkait keyakinan agama lain? Sungguh sesuatu yang sangat tidak wajar dan tak beralasan tentunya.

Islam memiliki standar toleransi yaitu yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai rujukannya. Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap agama lain, apa-apa yang dianggap tidak toleransi dalam Al-Qur’an dan As-Sunah layak ditinggalkan. Arus moderasi beragama patut diwaspadai sampai pada batasan menghargai apa-apa yang pada dasarnya Allah telah haramkan, jangan sampai tanpa disadari ideologi dibikin mandul dan suasana dakwah pun perlahan hilang sama sekali. Artinya tidak ada lagi kepedulian terhadap kemaksiatan, umat tak lagi tergerak untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, bersikap acuh manakala kemaksiatan dan kemungkaran terjadi di depan mata. Bahkan, tak akan ada lagi yang berdakwah menyampaikan Islam. Na’udzubillah mindzalik.[]

Remaja dalam Gurita Prostitusi

"Dalam sistem kapitalisme, prostitusi dijadikan sebagai ajang bisnis. Tangan-tangan jahil para pemburu rente dari bisnis haram tersebut, telah nyata mengeksploitasi dan memperdagangkan kaum hawa dengan harga murah."

Oleh. Sartinah
(Pemerhati Masalah Publik)

NarasiPost.Com-Remaja merupakan harapan bangsa yang akan mengubah peradaban. Di pundaknya, harapan perubahan hakiki diletakkan. Namun, ekspektasi tersebut tampaknya jauh dari realitas. Generasi muda justru kian kehilangan muruahnya. Hingga berubah menjadi generasi 'rebahan' yang rentan jatuh dalam pergaulan bebas, bahkan rawan terjerat jebakan prostitusi.

Sebagaimana yang terjadi di Tegal, Jawa Tengah. Tempat karaoke yang berhasil digerebek pihak kepolisian, turut menyerat anak-anak di bawah umur. Dalam kasus tersebut, Tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah berhasil mengamankan tiga orang yang diduga terlibat prostitusi ABG.

Selain menyuguhkan gadis-gadis remaja sebagai pemandu lagu, tempat hiburan yang bernama Pink tersebut juga menyediakan kamar bagi tamu yang ingin melakukan kegiatan prostitusi. Tarif yang dipatok pelaku pun bervariasi, mulai dari Rp5 juta, Rp10 juta, hingga Rp60 juta. Pelaku berinisial ES, SHT, dan SHN, yang masing-masing berperan sebagai pemilik karaoke, manajer operasional, dan muncikari. Para pelaku dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana di atas 15 tahun penjara. (cnnindonesia, 13/9/2021)

Miris. Gurita prostitusi terus menyebar. Bahkan, dewasa ini, para PSK dan pemakai jasanya pun sama-sama berasal dari kalangan remaja. Sebuah fakta pilu, tetapi lazim terjadi di tengah kehidupan yang sekuler. Fakta ini kemudian memunculkan sebuah tanya, mengapa prostitusi terus menggurita dan muskil diberantas?

Pemicu Jebakan Prostitusi Remaja

Dikutip dari KBBI, prostitusi merupakan pertukaran hubungan seksual dengan uang sebagai suatu transaksi perdagangan. Menurut psikolog anak Ghianina Yasira Armand, BSc Psychology, MSc Child development, jumlah anak Indonesia yang diperdagangkan dan dilacurkan untuk tujuan seksual berjumlah sekitar 150.000 orang. (kompas.com, 6/2/2020)

Mengutip pendapat beberapa pakar, ada berbagai faktor yang menyebabkan banyaknya remaja terjerat dalam jaringan prostitusi. Pertama, faktor ekonomi menjadi salah satu alasan banyaknya remaja terjun ke dunia prostitusi. Tingkat kemiskinan yang tinggi juga menyebabkan banyak orang tua rela 'menjual' anak-anak mereka demi membantu kebutuhan ekonomi atau sekadar melunasi utang.

Kedua, rendahnya pendidikan dan minimnya tingkat edukasi di tengah masyarakat, menyebabkan para pelaku tidak memahami bahwa tindakannya adalah keliru. Kurangnya edukasi juga mengakibatkan anak-anak remaja mudah dieksploitasi oleh orang lain.

Ketiga, lingkungan memberi peran penting dalam membentuk kebiasaan di masyarakat. Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang banyak terpapar prostitusi, berpotensi mencontoh apa yang disaksikannya. Demikian juga terhadap korban seksual, sangat berpeluang untuk melakukan hal serupa. Terlebih jika minim bimbingan orang tua.

Keempat, pola hidup hedonis di tengah impitan ekonomi. Kondisi ini membuat banyak remaja menghalalkan segala cara demi meraih tujuan. Prostitusi pun akhirnya dipilih sebagai 'pekerjaan sampingan' karena menjadi jalan pintas untuk memperoleh materi secara instan.

Kelima, rapuhnya iman menjadi faktor tak terelakkan yang mudah menyeret remaja dalam kemaksiatan. Mereka akhirnya tidak lagi memperhatikan rambu-rambu agama dalam beraktivitas, termasuk saat memilih pekerjaan. Perbuatan menjajakan diri pun akhirnya dimaklumi dan dianggap biasa.

Keenam, lemahnya penegakan hukum dan ringannya hukuman yang tidak membuat jera. Hukum pidana negeri ini pun tidak menjerat para PSK dan konsumen atau pemakai jasanya. Pasal-pasal yang ada hanya menjerat muncikari, itu pun dengan ancaman hukuman rendah.

Sekularisme Melanggengkan Prostitusi

Dalam sistem hidup yang serba bebas seperti saat ini, prostitusi tak pernah mati. Kendati hukuman ditegakkan, tetapi bibit-bibit prostitusi terus tumbuh dan menggurita. Tak ada kata jera bagi pelaku, meski telah merasakan pengapnya ruang penjara. Inilah buah penerapan sistem kapitalisme-sekuler yang nyata-nyata melegalkan kemaksiatan.

Apalagi dalam sistem kapitalisme, prostitusi dijadikan sebagai ajang bisnis. Tangan-tangan jahil para pemburu rente dari bisnis haram tersebut, telah nyata mengeksploitasi dan memperdagangkan kaum hawa dengan harga murah. Perempuan akhirnya hanya diposisikan sebagai pemuas nafsu para pemburu syahwat. Tak dihargai, bahkan kehilangan kemuliaan.

Semua ini terjadi karena roh sekularisme masih diadopsi negeri ini. Sekularisme terang-terangan mengesampingkan agama dalam mengatur manusia. Akhirnya akal manusia yang lemah dijadikan neraca untuk menimbang standar benar dan salah. Kebebasan berperilaku pun diaminkan sebagai jaminan dari hak asasi manusia. Kebebasan ini pula yang membuat manusia menabrak rambu-rambu Sang Pencipta.

Selama roh sekularisme masih diemban, prostitusi akan tetap menggurita. Keberhasilan pemberantasannya pun ibarat mimpi di siang bolong. Negeri ini butuh solusi alternatif yang mampu memberantas jaringan prostitusi hingga tuntas. Pasalnya, solusi tambal sulam yang selama ini diterapkan telah terbukti gagal memberantas prostitusi.

Sistem Islam Memberangus Prostitusi

Tidak ada satu pun masalah tanpa solusi. Namun, solusi tuntas untuk memberantas prostitusi hanya lahir dari sistem sahih rancangan Ilahi, yakni sistem Islam. Dengan keunggulan ideologinya, Islam bahkan mampu menutup celah-celah yang berpotensi menumbuhkan bibit-bibit prostitusi.

Islam menetapkan lima langkah konkret. Pertama, penegakan hukum yang tegas kepada semua pelaku prostitusi, baik muncikari, pekerja seks komersial (PSK), maupun pengguna jasa PSK. Sanksi tegas dijamin akan membuat jera para pelaku.

Allah Swt. berfirman dalam surat An-Nur [24] ayat 2, yang artinya: "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman."

Kedua, penyediaan lapangan pekerjaan bagi setiap warga negara. Impitan ekonomi sering kali menjadi alasan utama seseorang terjun ke jurang prostitusi. Jika ada jaminan pemenuhan kebutuhan hidup dari negara, maka aktivitas menjajakan diri dengan dalih kemiskinan tak perlu terjadi. Selain pemenuhan kebutuhan dasar, negara juga wajib menyediakan lapangan pekerjaan, khususnya bagi laki-laki yang memang memiliki kewajiban mencari nafkah.

Ketiga, penyediaan pendidikan yang bermutu dan gratis. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberi bekal kepandaian dan keahlian kepada setiap individu rakyat. Bekal tersebut kemudian mendorong setiap orang untuk bekerja dengan cara yang baik dan halal. Pendidikan ini pula yang akan menanamkan pemahaman tentang standar hidup yang boleh diambil dan yang tidak.

Keempat, penyelesaian masalah sosial. Membentuk keluarga harmonis merupakan cara untuk menyelesaikan permasalahan sosial yang juga menjadi tanggung jawab negara. Termasuk membentuk masyarakat yang acuh pada merebaknya kemaksiatan. Sikap tidak permisif ini akan menjadi kontrol sosial di masyarakat.

Kelima, adanya upaya politik. Masalah prostitusi tidak akan selesai tanpa kebijakan yang disandarkan pada syariat Islam. Karena itu, negara wajib membuat undang-undang yang mengatur pelarangan aktivitas kemaksiatan apa pun, termasuk prostitusi.

Demikianlah solusi hakiki terhadap gurita prostitusi. Hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, segala bentuk kemaksiatan akan dienyahkan. Hanya di bawah naungan Islam pula, wanita mulia dan jauh dari berbagai bentuk eksploitasi.

Wallahu a'lam bishshawab[]

Keharusan Mengamalkan Ilmu

"Sebab, pada hakikatnya, tujuan dari mempelajari ilmu ada dua. Yakni, mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia."

Oleh. Mariyah Zawawi

"NarasiPost.Com-Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah."

Mungkin, perumpamaan Arab ini sudah sering kita dengar. Sebuah perumpamaan yang menggambarkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan itu tidak akan memberi manfaat. Seperti sebatang pohon yang tidak memiliki buah yang tidak mampu memberikan manfaat.

Ada banyak hadis yang mengingatkan kita tentang hal ini. Salah satunya adalah hadis dari Sulaik al-Ghathafani. Melalui hadis ini Rasulullah saw. menyampaikan,

إذا علم العالم فلم يعمل كان كالمصباح يضىٔ للناس ويحرق نفسه

"Apabila seorang alim yang mengetahui sesuatu kemudian ia tidak mengamalkannya, maka ia bagaikan lampu yang menerangi manusia dan membakar dirinya sendiri." (HR. Ibnu Qaani' dalam Mu'jam ash-Shahaabah)

Mengapa Rasulullah menyatakan hal ini? Sebab, pada hakikatnya, tujuan dari mempelajari ilmu ada dua. Yakni, mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia. Maka, saat seseorang mempelajari suatu ilmu, hendaknya ia mengamalkan ilmu tersebut. Tak cukup dengan hal itu, hendaknya ia juga mengajarkannya.

Dengan mengamalkan dan mengajarkannya, ilmu yang kita miliki akan terjaga. Bahkan, ilmu itu akan bertambah. Saat kita mengamalkan dan mengajarkan ilmu, kita akan mengetahui, mana yang belum kita pahami. Maka, kita akan berusaha untuk memperdalam pemahaman kita. Karena itu, Ibnu 'Abbad ra., seorang tokoh sufi dari Spanyol mengatakan, "Siapa saja yang mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Allah akan menunjukkan pada apa yang tidak diketahuinya."

Ada banyak nash yang mencela mereka yang berilmu dan mengajarkannya, tetapi ia sendiri enggan untuk mengamalkannya. Di dalam Al-Qur'an Surat Ash-Shaff [61]: 3 disebutkan,

كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون

"Amat besar kebencian Allah jika engkau mengatakan sesuatu yang tidak kau amalkan."

Jika ada orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, tetapi ia sendiri tidak mengamalkannya, ia akan mendapatkan azab dari Allah. Rasulullah saw. bersabda,

اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لا ينفعه الله بعلمه

"Orang yang mendapatkan azab paling berat pada hari kiamat adalah orang yang berilmu, yang Allah tidak memberi manfaat pada ilmunya."

Dalam sebuah hadis yang panjang dikisahkan, "Bahwa pada hari kiamat, ada seseorang yang didatangkan. Kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ususnya terburai. Orang itu berputar-putar seperti keledai memutari penggilingan yang diputarnya. Lalu, para penghuni neraka pun berkumpul di sekitar orang itu dan bertanya, "Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau dulu memerintahkan kepada kami untuk berbuat baik dan melarang kami berbuat mungkar?" Orang itu menjawab, "Memang benar. Aku dahulu memerintahkan kepada kalian untuk berbuat baik, tetapi tidak kukerjakan dan melarang kalian dari berbuat yang mungkar, tetapi aku sendiri melakukannya."

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalan Usamah bin Zaid ini mengingatkan kita betapa besar azab yang akan diterima oleh mereka yang menyampaikan ilmu tanpa mengamalkannya. Inilah salah satu tanda ilmu yang tidak bermanfaat.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabaair menyebutkan sebuah nasihat dari Ibnu Mas'ud ra. Ibnu Mas'ud ra. berkata, "Siapa saja yang mempelajari ilmu tanpa mengamalkannya, maka tidak menambah bagi dirinya kecuali kesombongan."

Nah, agar kita mengamalkan ilmu, maka kita harus melakukan dua hal ini. Yang pertama, kita harus mempelajari ilmu dengan metode talaqqiyan fikriyyan. Yaitu, metode belajar yang dilalui dengan proses berpikir. Dengan metode ini, ilmu yang kita pelajari tidak sekadar pengetahuan bagi kita. Namun, ilmu itu akan menjadi mafhum (pemahaman) di dalam benak kita. Dengan demikian, kita akan berusaha untuk mengamalkan ilmu tersebut.

Berbeda halnya jika ilmu itu hanya sebatas pengetahuan bagi kita. Kita tidak akan berusaha untuk menerapkannya. Sebab, kita tidak benar-benar meyakini kebenarannya.

Kedua, harus ada idrak sillah billaah. Yaitu, adanya keyakinan terhadap hubungan kita dengan Allah Swt. Dengan keyakinan tersebut, kita akan memahami bahwa di mana pun kita berada, Allah akan selalu mengawasi kita. Karena itu, kita akan berhati-hati dalam bertindak. Sebab, kita khawatir akan jatuh dalam kemaksiatan.

Di samping itu, kita juga harus senantiasa berdoa, memohon pertolongan dari Allah Swt. Rasulullah saw. telah mengajarkan kepada kita beberapa doa agar kita dihindarkan dari ilmu yang tidak bermanfaat.

اللهم إني أعوذبك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ومن نفس لا تشبه ومن دعوة لا يستجاب لها

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan."

Semoga kita dihindarkan dari hal ini.

ربنا انفعنا بما علمتنا وعلمنا الذي ينفعنا وزدنا علما

"Ya Tuhan kami, berikanlah manfaat kepada ilmu yang Engkau berikan kepada kami. Dan berikanlah kepada kami, ilmu yang bermanfaat, serta tambahkanlah ilmu kepada kami."
Aamiin.[]

You cannot copy content of this page